Menilik Pekerja Sosial dan Hubungannya dengan Islam

Menilik Pekerja Sosial dan Hubungannya dengan Islam

Reporter Laode M. Akbar; Editor Elsa Azzahraita

Bincang Hikmah Bersama Siti Napsiyah dengan tema “Islam dan Pekerjaan Sosial”,Kamis (10/06)

UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co menyelenggarakan Bincang Hikmah dengan tema “Islam dan Pekerjaan Sosial” melalui virtual Zoom Meeting dan disiarkan langsung di kanal YouTube Akuratco, pada Kamis (10/6).

Acara ini dimoderatori oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta Tantan Hermansyah dengan narasumbernya yaitu Wakil Dekan Bidang Akademik Fdikom UIN Jakarta Siti Napsiyah. Turut hadir Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UIN Jakarta Ahmad Zaky, Pimpinan Umum Akurat.co Afriadi, serta peserta dari berbagai kalangan.

Dalam pemaparannya, Siti Napsiyah menjelaskan terkait pekerja sosial atau social work. Pekerja sosial merupakan “both activity and profession” yang berarti pekerja sosial diartikan sebagai aktivitas dan profesi. Aktivitas yang dilakukan oleh pekerja sosial non profesional merupakan aktivitas pekerja sosial biasa yang dilakukan di dalam masyarakat.

Dalam pandemi Covid-19, pekerja sosial dapat berkontribusi di semua permasalahan sosial baik itu di tingkat mikro, mezzo, maupun makro. Misalnya pertolongan kepada klien terkait psiko-sosial, psiko-terapi, rehabilitasi, serta pekerjaan-pekerjaan yang bersifat pengarahan.

“Jadi  mind streaming-nya itu, raising awareness-nya itu peran kami (dalam protokol kesehatan), misalnya dukungan-dukungan psiko-sosial dengan poster-poster, dengan kampanye, dengan diskusi, bahkan ada teman saya banyak membuat tulisan-tulisan, bahkan membuat video yang sifatnya adalah tidak hanya berhenti di edukasi, tapi sudah refleksi dan kampanye untuk mind streaming,” ujarnya.

Siti Napsiyah dalam pemaparannya di Bincang Hikmah dengan Tema “Islam dan Pekerjaan Sosial”
Sumber: DNK TV_Laode

Dalam hubungannya dengan Islam, Siti Napsiyah mengatakan bahwa pekerja sosial atau kesejahteraan sosial bukan dianggap relasi lagi, tetapi merupakan dua hal yang sama. Nilai-nilai yang diajarkan dalam kesejahteraan sosial seperti menyantuni orang miskin dan anak yatim piatu, mewujudkan kemakmuran dan hidup layak, itu juga sejalan dengan nilai-nilai dalam Islam.

“Tinggal dalam praktek nyata kita kontekskan, kita bumikan keduanya dalam praktek yang lebih profesional,” tambahnya.

Terkait tantangan terbesar bagi pekerja sosial, ia menganggap tantangan sebagai peluang. Ia mengatakan bahwa profesi ini memiliki peluang banyak untuk hadir dengan profesi penolong lainnya. Seperti pada masa pandemi ini, di mana profesi tenaga kesehatan sangat diperlukan saat ini, namun pekerja sosial juga sangat berperan untuk mendukung tenaga kesehatan seperti di bidang psiko-sosial.

Tantangan selanjutnya yaitu di era digital 5.0, pekerja sosial harus memiliki kecepatan, ketepatan, dan kebenaran. Jika tidak bisa, maka pekerja sosial akan kesulitan dalam mengerjakan tugasnya sebagai penolong.

Kemudian, terkait pelayanan pekerja sosial, di era sekarang ini tidak hanya melalui panti dan rehabilitasi namun juga bisa dilakukan melalui online dengan catatan dan ketentuan berlaku.

Menilik Islam dalam Kehidupan Bernegara di Turki

Menilik Islam dalam Kehidupan Bernegara di Turki

Reporter Cut Raudhatul Zahbi; Editor Tiara de Silvanita

Bincang Hikmah yang diselenggarakan oleh Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co

Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta bekerja sama dengan Akurat.co menyelenggarakan Bincang Hikmah secara virtual melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal youtube Akurat.co pada Jum’at (28/5) pukul 10.00 WIB.

Topik perbincangannya mengenai “Islam di Turki” yang dipandu oleh Ketua Program Magister KPI, Tantan Hermansyah dan narasumber Dosen Fdikom UIN Jakarta, Deden Mauli Darajat.

Deden menjelaskan bahwa Turki merupakan negara berbentuk republik dimana sebelumnya berbentuk kesultanan. Negara Ini berpaham sekuler modern yaitu terdapat pemisahan antara pemerintahan dan agama.

Dengan adanya perubahan bentuk negara, Deden menjelaskan bahwa terdapat perubahan sosial budaya, seperti bahasa yang digunakan sebelumnya bahasa Arab menjadi bahasa Turki dan sebagainya.

“Dulu menggunakan peci sekarang berubah menjadi topi. Orang-orang dulu mengenakan jubah sekarang menjadi jas,” ujar Deden.

Karena berpaham sekuler, ekspresi keislaman di negara yang sebagian besar menganut agama Islam itu tidak boleh ditampakkan di area pemerintahan seperti pada tahun 2009, yaitu  para mahasiswa dan dosen harus melepas hijab jika sudah berada di lingkungan universitas dan mengenakannya kembali ketika sudah tidak berada di lingkungan universitas. Hal tersebut juga terjadi di tempat-tempat sakral pemerintah seperti gedung pemerintah dan lainnya.

Namun, pada tahun 2012 Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan merevisi aturan tersebut sehingga hijab boleh digunakan di lingkungan Universitas.

Deden Mauli Darajat sebagai pembicara memaparkan materinya.

Walaupun demikian, ekspresi tentang Islam di Turki tetap ada seperti gemar bersedekah,  menjamu  tamu atau organisasi relawan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Deden juga menjelaskan bahwa terdapat organisasi masyarakat (ormas) Islam di Turki walau tidak terlalu nampak.

“ormas-ormas Islam di sana tetap hadir meski diawasi oleh pemerintah. Namun , ketika Endorgan berkuasa Ormas islam sudah mulai terlihat”.

Tradisi Islam di Turki sangat berbeda di Indonesia melihat bahwa di Turki hanya berlaku satu mazhab saja yaitu mazhab hanafi, sedangkan di Indonesia mempunyai mazhab yang berbeda-beda.

Bincang Hikmah “Islam dan Peta Jalan Pendidikan”

Bincang Hikmah “Islam dan Peta Jalan Pendidikan”

Reporter Ariqah Alifia;  Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Bincang Hikmah dengan tema “Islam dan Peta Jalan Pendidikan” secara virtual (5/5).

Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) bekerja sama dengan Akurat.co kembali menggelar program Bincang Hikmah mengusung tema “Islam dan Peta Jalan Pendidikan” secara virtual melalui Zoom Meeting dan Streaming Youtube Akurat co pada Rabu, (5/5).

Materi kegiatan ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta sekaligus Pakar Sosiologi Pendidikan, Suparto dan dimoderatori oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta, Tantan Hermansah.

Dalam materinya, Dekan Fdikom Suparto memaparkan bahwa pendidikan merupakan tradisi tertua dalam proses sosialisasi manusia yang mewariskan nilai, norma, dan sikap kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Pendidikan dibangun berdasarkan realitas apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini, berbasis realitas dan kepentingan” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan terdapat minimum 3 aspek yang harus ditegakkan dalam pembangunan pendidikan, yakni pancasila, budaya, dan agama. Aspek Pancasila digunakan sebagai sumber nilai yang diambil dari tradisi dan norma, sedangkan budaya ialah yang mewarnai keberagaman dan kekayaan kehidupan bangsa.

Kontribusi budaya pada sistem pendidikan di Indonesia berbentuk local genius atau local wisdom yang dikembangkan berdasarkan lingkungan atau tradisi daerah tersebut. Aspek budaya merupakan wadah pengenalan siswa terhadap kebhinekaan bangsa Indonesia dan pemahaman menghormati sikap keberagaman itu, karena hakikatnya belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan sesungguhnya.

Dekan Suparto menyampaikan materinya dalam acara Bincang Hikmah secara virtual (5/5).

Narasumber juga menerangkan tiga teori Ki Hajar Dewantara yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia, Trikon (Kontinyu, Konvergen, dan Konsentris).

Kecemasan akan hilangnya frasa agama dalam peta jalan pendidikan diakibatkan adanya aspek kelembagaan dan agensi yang semakin berkembang. Transformasi aspek kelembagaan diibaratkan etalase, contohnya pesantren yang awalnya hanya sebagai tempat mengaji, kini terdapat sekolah formalnya, seperti SMA, SMK bahkan universitas. Itu sama dengan merubah kultur Islam pada sisi orientasi, tetapi disamping itu sebagai bukti modernisasi Islam dalam pendidikan sudah terlaksana.

Selain itu, aspek agensi para pengajar menggunakan perangkat-perangkat modern, pendekatan-pendekatan kekinian dalam pembelajarannya.

“Kita sebenarnya digiring untuk melupakan kesejarahan, bahwa ulama-ulama adalah orang-orang berilmu, yang selama keilmuan itu membesarkan nama Tuhan, lalu kemudian meninggikan hakikat Tuhan yang begitu mulia, itulah yang dinamakan ilmuwan. Begitu sebaliknya, siapa pun yang mendustakan kalam-kalam Tuhan, menistakan ajaran-ajaran agama sepintar apapun mereka bukan ulama.” tuturnya.

Akhlak mulia merupakan satu terma berbau agama yang dimunculkan, merupakan ajaran agama dan cerminan watak-watak Tuhan, berbeda dengan moralitas yang hanya berbasis keindahan. Di dalam pendidikan formal sendiri terdapat nilai kompetensi satu dan dua sebagai kompetensi sikap keagamaan dan sosial.

“Secara pribadi, peta jalan pendidikan nasional tentu bertentangan. Pertama dengan Pasal 31 UUD 1445, UUD Sisdiknas 2003, lalu bertentangan juga visi pendidikan Indonesia 2035, kalau boleh saya mengutip, visi pendidikan Indonesia 2035 itu adalah membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, berkembang terus, sejahtera, beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia menumbuhkan nilai-nilai agama, budaya Indonesia, dan Pancasila,” tegasnya.

Bincang Hikmah: Refleksi Realitas Diskriminasi Disabilitas di Indonesia

Bincang Hikmah: Refleksi Realitas Diskriminasi Disabilitas di Indonesia

Reporter Ahmad Haetami;  Editor Taufik Akbar Harefa dan Elsa Azzahraita

Bincang Hikmah dengan tema “Islam, Disabilitas, dan Perempuan” secara virtual (21/4).

Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) bekerja sama dengan Akurat.co kembali menggelar program Bincang Hikmah mengusung tema “Islam, Disabilitas, dan Perempuan” secara virtual melalui Zoom Meeting pada Rabu, (4/21).

Kegiatan ini dipandu oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta Tantan Hermansah, bersama narasumber  Arief Subhan selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta sekaligus Pendiri Pusat Layanan Mahasiswa Penyandang Disabilitas, atau Center for Students with Special Needs (CSSN) UIN Jakarta.

Dalam pemaparannya, Arief Subhan menekankan bahwa Islam tidak membedakan perlakuan terhadap kaum disabilitas sesuai dengan tiga misi Islam yaitu Monoteisme, Egalitariansime, dan Keadilan.

“Islam tidak pandang kaum disabilitas sesuai 3 misinya yaitu Monoteisme, sebagai upaya membebaskan manusia dari ikatan-ikatan duniawi yang sifatnya membelenggu, kemudian Egalitariansime, yaitu mendudukkan manusia secara sederajat, dan keadilan, aspek sangat penting dipandang dalam Islam” Ujar Wakil Rektor Arif Subhan.

Lanjutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam aspek pendidikan, perhatian terhadap penyandang disabilitas ini terbilang rendah. Akses sudah banyak diberi tetapi fasilitas belum memadai..

“Tercatat kelompok disabilitas yang diterima di UIN Jakarta tahun lalu hanya 2 orang pun menjadi pertanda bahwa perlunya peningkatan perhatian terhadap kelompok disabilitas, baik dari akses dan juga fasilitas. Adapun untuk kelompok disabilitas mental, seperti misalnya autism, UIN Jakarta dinilai belum siap untuk memberikan pendampingan pendidikan yang baik kepada mereka,” ujarnya.

Arief Subhan menyampaikan materinya dalam acara Bincang Hikmah secara virtual (21/4).

Ia juga menuturkan perlu adanya kerja keras untuk para penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan yang setara. Padahal, mereka juga mempunyai kapasitas yang sama seperti manusia lainnya.

“Parahnya, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa kelompok disabilitas masih sering didapati tindakan diskriminasi. Terlebih, jika orang disabilitas itu adalah perempuan. Mereka rawan mendapatkan dobel diskriminasi,” tambahnya.

Bincang Hikmah yang diselenggarakan bertepatan dengan hari Kartini ini pun menyampaikan pesan untuk menyampingkan pemikiran terbelakang yang menganggap perempuan hanya untuk di ranah privat dan tidak bisa berkarya di publik, karena Islam sendiri pun sama sekali tidak membeda-bedakan perempuan dengan laki-laki.

Arief Subhan pun berharap untuk terus mendorong kesadaran yang tinggi bahwa kelompok disabilitas sebenarnya adalah makhluk tuhan yang mempunyai hak yang sama dan jika mereka diberi kesempatan, bahkan bisa melampaui manusia biasa.

Bincang Hikmah: Merehabilitasi Kualitas Puasa

Bincang Hikmah: Merehabilitasi Kualitas Puasa

Reporter M. Rizza Nur Fauzi; Editor Taufik Akbar Harefa

Bincang Hikmah dengan tema “Merehabilitasi Kualitas Puasa” secara virtual (14/4).

Akurat.co bekerja sama dengan Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (S2 KPI) UIN Jakarta, menyelenggarakan Bincang Hikmah dengan tema “Merehabilitasi Kualitas Puasa” secara virtual,  Rabu (14/4).

Dipandu oleh Ketua Program Magister KPI UIN Jakarta Tantan Hermansyah, dengan narasumber Akademisi IAIN Kudus dan Pimpinan Ma’had Darun Najah Jepang, Mas’udi Jufri, dan beberapa peserta.

Dalam pidatonya, Mas’ud Jufri menyampaikan bahwa rehabilitasi adalah pemulihan pada kedududkan semula, perbaikan anggota tubuh yang cacat agar menjadi individu yang lebih baik lagi secara lahir dan batin.

Ia menegaskan bahwasanya kita harus menyadarkan diri kepada rehabilitasi, karena manusia di dalam perjalanannya senantiasa akan digempur oleh Allah dengan ujian dan musibah, serta diturunkan olwh Allah ke derajat yang terendah. Iman dan amal sholehlah yang akan menjadi sebuah keniscayaan untuk kita bangkit.

Bulan puasa bisa menjadi proses evaluasi seorang muslim dalam mendekatkan dirinya dengan Allah SWT. Maka dari itu sudah sepantasnya jika persepsi bahwa puasa yang penting tidak makan minum dan menahan syahwat pada siang hari itu direhabilitasi agar sampai kepada titik substansi dari puasa itu sendiri.

“Rehabilitasi diri di bulan Ramadhan kata kuncinya adalah bermuhasabah diri. Segala keburukan yang telah kita lakukan, mari kita kembalikan kepada kesejatian diri kita. Karena pada saat itulah karatnya hati itu akan lebih melebur dan terkikis,”ujar Mas’ud.

Mas’udi Jufri menyampaikan materinya dalam acara Bincang Hikmah secara virtual (14/4).

Pada akhir pidatonya, Mas’ud menambahkan bahwa rehabilitasi diri menuju kepada keimanan diri harus berlanjut sepanjang kehidupa. Terlebih saat bulan ramadhan, rehabilitasi diri harus benar-benar terlembaga. Kemudian, managerial diri untuk menyambutnya dengan kebaikan dan kemuliaan juga harus kita kuatkan.