Workshop Jejaring Alumni, Motivasi Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa

Workshop Jejaring Alumni, Motivasi Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa

Reporter Kireina Yuki; Editor Syaifa Zuhrina dan Elsa Azzahraita

Workshop Jejaring Alumni
Sumber : DNK TV-Kireina Yuki

Bagian Kemahasiswaan dan Alumni serta Sub Bagian Administrasi dan Alumni UIN Jakarta mempersembahkan “Workshop Jejaring Alumni” melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (7/10).

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Arief Subhan, Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan dan Alumni, Ikhwan, Kepala Biro Administrasi Akademik Kerjasama dan Kemahasiswaan, Jaenudin, Wakil Ketua DPRD Tangerang Selatan 2019-2024, Mustopa, Founder Sekolah Kehidupan, Karvin Fadila, jajaran dosen serta mahasiswa UIN Jakarta.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Arief Subhan menyampaikan beberapa pesan.

“Para calon alumni dan alumni itu sebenarnya membutuhkan kompetensi-kompetensi tertentu yang sifatnya praktis yang di luar kompetensi utama mereka. Ini penting karena mereka betul-betul harus siap, jangan sampai nanti ketika lulus mereka kesulitan di dalam dunia kerja, bahkan dalam menentukan ingin bekerja menjadi apa,” ucapnya.

Sambutan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Arief Subhan
Sumber : DNK TV-Kireina Yuki

Dalam paparan materinya, Wakil ketua DPRD Tangerang Selatan sekaligus alumni UIN Jakarta Mustopa menyampaikan bahwa masa lalu itu pelajaran, masa kini itu dijalani, dan masa depan itu misteri.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, artinya besok ini misteri. Besok  belum tentu kita memiliki kesempatan, untuk itu optimalisasikan sekarang agar besok kita bisa lebih maksimal menggapai apa yang kita inginkan,” pungkasnya.

Kemudian pada materi kedua, alumni UIN Jakarta yang merupakan Founder Sekolah Kehidupan, Karvin Fadila memaparkan perihal “Find Your Passion, Do Your Action”.

“Fokus pada prosesnya, berproses aja tahap demi tahap. Jadi manusia GILA itu penting, yang artinya Gali Ilmu Langsung Action. Orang diluar sana bisa jadi orang yang tidak berkembang bukan karena dia tidak punya ilmunya, tapi bisa jadi karena tidak pernah action dengan ilmunya. Karena sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang diimplementasikan,” jelasnya.

Kabag Kemahasiswaan dan Alumni, Ikhwan berharap adanya kegiatan ini para calon alumni akan mendapatkan motivasi dari para narasumber.

“Diharapkan agar para calon alumni agar mendapatkan motivasi dari para narasumber untuk menghadapi masa depan setelah menjadi alumni. Mudah-mudahan dengan workshop ini banyak yang dapat kita ambil pelajarannya dan diharapkan juga teman-teman yang masih kuliah bisa lebih cepat selesainya,” ujarnya.

Salah satu peserta workshop yang merupakan Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Jakarta, Ilafi Ulfa sangat mendukung adanya kegiatan ini. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat memotivasi.

“Narasumbernya menyenangkan, materi yg disampaikan sangat bagus dan memotivasi. Semoga juga ilmu yg saya dapatkan dari workshop pada hari ini dapat saya implementasikan di kehidupan sehari-hari hingga membantu saya dalam meng-upgrade diri menuju masa depan,” tuturnya.

Penting Terampil Komunikasi dan Negosiasi untuk Karier

Penting Terampil Komunikasi dan Negosiasi untuk Karier

Reporter Anggita Fitri Chairunisa; Editor Ahmad Haetami


Workshop Keterampilan Komunikasi dan Negosiasi bagi Alumni dan Calon Alumni (28/09)
Sumber : DNK TV-Anggita Fitri Chairunisa

Bagian Kemahasiswaan dan Alumni UIN Jakarta menyelenggarakan workshop dengan mengusung tema “Keterampilan Komunikasi dan Negosiasi bagi Alumni dan Calon Alumni” secara luring dan daring pada (28/09).

“Workshop ini penting sekali untuk alumni, khususnya fresh graduate yang sedang mencari tempat yang tepat untuk berkiprah dan berkreasi karena kita tidak bisa lagi berpangku tangan membiarkan alumninya mencari tempat kerja sendiri tanpa diberikan persiapan-persiapan teknis,” ujar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Arief Subhan dalam membuka workshop ini.

Workshop ini diisi oleh narasumber dari para alumni Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, di antaranya Dedi Kurnia Syah Putra dan Muhamad Rosit.

Dedi dalam sesi materinya menyampaikan bahwa mahasiswa semestinya memperkuat keterampilan komunikasi demi karier ke depan.

“Setiap orang itu punya aset. Banyak dari mahasiswa yang lulus dan passion-nya tidak sesuai dengan mata kuliah yang mereka pelajari, tetapi secara kolektif bahwa yang mereka pelajari interaksi di kampus dan sebagainya itu lah yang berpengaruh pada pengembangan karier mereka.”

“Kita harus mengembangkan diri sendiri secara personal membangun citra dan reputasi. Citra dan reputasi tidak bisa dibangun dalam sekejap, harus dibangun dalam kondisi yang lama dan konsisten. Perkuat keterampilan komunikasi dan jalin silaturahmi sebesar-besarnya,” ungkap Dedi dalam sesi materinya.

Penyampaian materi oleh narasumber pengisi workshop (28/09)
Sumber : DNK TV-Anggita Fitri Chairunisa

Senada dengan Dedi, Rosit mengingatkan kepada calon pencari kerja untuk jangan terlalu memusingkan kepada Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan lebih memfokuskan kepada keterampilan komunikasi.

“Keterampilan komunikasi menjadi kunci sukses bagi setiap orang. Survei dari National Association of Colleges and Employers merangkum 20 keterampilan yang harus dimiliki oleh manusia, khususnya calon pencari kerja. Urutan pertama adalah keterampilan komunikasi, kedua integeritas, ketiga kemampuan kerja sama, dan IPK berada di urutan 17,” ungkapnya.

“Calon pencari kerja jangan bersandar hanya pada IPK tetapi ada variable lain, seperti keterampilan komunikasi, kejujuran, integeritas, kerja sama yang lebih penting dan kerapkali kita sedikit mendapatkannya,” lanjutnya.

Mahasiswa UIN Jakarta yang mengikuti peserta workshop ini, Nirvana Saktia menyampaikan bahwa acara ini menjawab rasa penasarannya tentang seberapa penting keterampilan komunikasi untuk karier masa depan.

“Saya memutuskan untuk ikut workshop ini karna menurut saya menarik sekali pembahasannya, terlebih saya pribadi merasa kurang pemahaman tentang komunikasi dan negosiasi yang baik dan benar itu seperti apa, saya penasaran sepenting apa komunikasi memangnya untuk sebuah pekerjaan. Materi yang disampaikan tadi sangat bermanfaat, banyak dapat ilmu baru terlebih membuka wawasan bahwa bukan hanya IPK yang baik saja yang harus dianggap penting, tetapi keterampilan komunikasi itu juga penting. Terlebih saya pribadi dari jurusan Jurnalistik yang mana jurnalis sangat berperan penting dalam menyampaikan informasi kepada khalayak ramai,” ungkap Nirvana.

Konsep Merdeka Belajar dan Pembelajaran Kreatif di Era Digital

Konsep Merdeka Belajar dan Pembelajaran Kreatif di Era Digital

Reporter Kireina Yuki Fadia; Editor Elsa Azzahraita

Acen Hasan Syadzily, Ketua Umum IKALUIN.
DNKTV-Kireina Yuki F

Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah (IKALUIN) Departemen Pendidikan dan Penguatan Karakter menggelar Webinar “Konsep Merdeka Belajar dan Pembelajaran Kreatif di Era Digital” secara virtual, pada Sabtu (4/9).

Dihadiri oleh 5 narasumber, diantaranya  Direktur KSKK Kemenag RI Moh. Ishom, Dosen FITK dan Aktivis Perempuan  Yayah Nurmaliyah, Motivator Nasional Great Teacher Ferdinal Lafendry, Kasi Pendidikan Madrasah Tangsel Suhardi serta Ice Breaker Indonesia dan Trainer Active Learning Ahmad Fuad Basyir Webinar ini juga diikuti  lebih dari 200 partisipan.

Ace Hasan Syadzily, selaku Ketua Umum IKALUIN mengatakan bahwa webinar ini merupakan program pertama dari  Ketua Bidang Pendidikan dan Penguatan Karakter IKALUIN Jakarta.

“Tentunya IKALUIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan terus memberikan update perkembangan keilmuan dan juga keterampilan pendidikan yang dibutuhkan bagi para alumni di dalam konteks bagaimana kita berkontribusi dalam dunia pendidikan kita” ujar Ace Hasan.

Moh. Ishom selaku narasumber menyampaikan mengenai pemulihan pembelajaran selama dan pasca pandemi Covid-19. 

“Kita tidak bisa menghindari pendidikan di dunia maya, kita  harus bisa menyesuaikan diri, harus bisa berdamai dengan korona dan kemajuan teknologi.” ujarnya.

Ia juga mengatakan akan muncul kebijakan baru mengenai kurikulum 2021.

Penyampaian materi
DNKTV-Kireina Yuki F

Sementara, Suhardi menyampaikan materi mengenai Praktik Merdeka Belajar. Menurutnya, perspektif yang harus ditanamkan oleh kepala madrasah adalah mengembangkan program-program prestasi melalui kreasi dan inovasi untuk mengembangkan kemandirian belajar.

Selain itu, Yayah Nurmaliyah juga menyampaikan materi terkait konsep merdeka belajar dan pembelajaran kreatif di era digital. Menurutnya,  merdeka belajar adalah upaya untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang bebas untuk berekspresi, bebas dari berbagai hambatan terutama tekanan psikologis guna mencapai tujuan pendidikan nasional, namun tetap dalam rambu kaidah kurikulum. 

“BantUIN NAKES” Apresiasi Garda Terdepan Penanganan Covid

“BantUIN NAKES” Apresiasi Garda Terdepan Penanganan Covid

Reporter  Ainun Kusumaningrum & M. Zidane Murtado S; Editor Aulia Gusma Hendra dan Nur Arisyah Syafani

Pendistribusian donasi BantUIN NAKES, Rabu(14/7)
Sumber : Panitia penyelenggara BantUIN NAKES.

Ikatan Alumni UIN Jakarta (IKALUIN) yang berkolaborasi dengan grup Kongkow Alumni Ciputat menggelar kegiatan donasi “BantUIN NAKES”.

Kegiatan ini dilatar belakangi dengan inisiasi alumni mahasiswa generasi 90 hingga generasi 20 awal yang berasal dari berbagai macam UKM dan organisasi kampus.  Mereka mempunyai basic kepedulian terhadap masalah kemanusiaan semasa kuliah maupun di luar kegiatan kuliah. Salah satunya adalah Tion yang dihubungi langsung oleh TIM DNK TV.

“Kita melihat situasi sedang tidak menentu. Karena kawan-kawan dalam grup adalah seorang volunteer, pernah terjun langsung dalam kegiatan relawan akhirnya bisa merasakan apa yang terjadi kepada para Tenaga kesehatan. Para Tenaga kesehatan (Nakes) sendiri ibarat garda terdepan dalam menangani Covid-19 ini.” Ujar Bang Tion selaku Panitia penyelenggara.

Kegiatan donasi “BantUIN NAKES” memiliki tujuan agar Nakes mendapat  dukungan  psikologis dan juga mendapat cinta serta kasih sayang dari masyarakat. Bahwa mereka tidak sendiri selama pandemi berlangsung.

Panitia penyelenggara, Tion menambahkan bahwa kegiatan ini menyatakan bahwa nakes tidak sendiri menghadapi pandemi ini.

“Kita peduli serta merawat bukan hanya tentang fisiknya serta materinya, tetapi juga melalui psikisnya agar para Nakes kuat dalam situasi seperti ini. Karena Nakes sendiri manusia biasa, memiliki keluarga dan kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya pergerakan donasi “BantUIN NAKES” dengan kegiatan berbagi untuk para Nakes menunjukkan bahwa nakes tidak sendirian”, ujarnya.

Pendistribusian donasi BantUIN NAKES, Rabu(14/7).
Sumber : Pantia penyelenggara BantUIN NAKES.

Kegiatan pengumpulan donasi, Rabu (14/7) kemarin sudah mencapai kurang lebih Rp. 52.000.000.00; dan per hari Senin (12/7/2021) telah di distribusikan kepada 61 Tenaga kesehatan yang berada di Rumah Sakit UIN Jakarta serta Puskesmas dibawah naungan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)  yang terdampak serta tengah melakukan isolasi mandiri.

Sasaran kegiatan apresiasi ini bukan hanya tenaga kesehatan, melainkan juga beberapa kelompok yang terjun langsung dalam penanganan Covid-19.

“Kami memberikan sebuah bingkisan, apresiasi dalam bentuk barang. Seperti madu, vitamin dan makanan kemudian ada surat cinta yang kita distribusikan kepada 61 tenaga kesehatan yang tengah isolasi mandiri. Kemudian kami juga mendistribusikan 550 bingkisan makan siang ke RSUD sekitar daerah Tangerang Selatan, Puskesmas, Penggali kubur, Sopir Ambulance dan petugas pengurusan jenazah.”

Kegiatan donasi “BantUIN NAKES” ini terus berlangsung hingga hari ini yang menyasar RS. UIN Jakarta, Puskemas di bawah Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta,  RSUD KOTA Tangerang Selatan yang kemudian akan bertahap menyasar Rumah Sakit lainnya di beberapa tempat dan wilayah.

Kegiatan donasi “BantUIN NAKES” mendapatkan respon positif serta apresiasi yang tinggi dari mahasiswa UIN Jakarta. Salah satunya, Tegar  yang mengapresiasi kegiatan ini agar bisa teladan baik bagi masyarakat khususnya Mahasiswa untuk saling peduli.

“Tentunya kami sebagai mahasiswa sangat mengapresiasi dengan kegiatan yang diadakan oleh alumni ikatan UIN yang bernama “BantUIN NAKES” kegiatan yang bergerak di arah positif ini tentunya sangat sangat berguna untuk Nakes sendiri dan akan menjadi contoh untuk kita semua bukan hanya mahasiswa. Kita tahu bahwa Nakes adalah ujung tombak yang secara langsung berhadapan dengan Covid-19 dari awal sampai sekarang dan kita  nggak tahu kapan konflik ini bakal berakhir.  Ya, jadi saya sangat mengapresiasi atas kegiatan yang inisiasi oleh ikatan Alumni UIN.” Ujarnya

Dengan diadakannya kegiatan donasi “BantUIN NAKES” pihak IKALUIN dan grup Kongkow Ciputat berharap Para Nakes sehat sehingga dapat menangani pandemi dengan baik.

UIN Jakarta Bersiap Menghadapi Varian Baru Covid-19

UIN Jakarta Bersiap Menghadapi Varian Baru Covid-19

Reporter Belva Carolina; Editor Fauzah Thabibah

Para narasumber pada webinar yang bertema Varian Baru Covid 19 : Bagaimana Menyikapinya? Senin (28/6).

UIN Jakarta memberikan perhatian khusus dalam menyikapi kemunculan varian baru dari Covid-19 dalam webinar yang bertema Varian Baru Covid 19: Bagaimana Menyikapinya? yang diselenggarakan oleh UIN Jakarta yang bekerjasama dengan Social Trust Fund UIN Jakarta, Gugus Tugas Covid-19 UIN Jakarta, dan Ikatan Alumni UIN Jakarta pada hari Senin (28/6).

Dalam Webinar, Ketua Gugus Tugas Covid-19 UIN Jakarta, Hari Hendarto mengatakan manusia menjadi pembawa penyebaran Covid-19.

“Virus corona itu diam tidak bergerak. Namun, kemudian menyebar kemana-mana, yang berarti manusia itu sendiri adalah pembawanya,” ujarnya.

Menurut Hari, virus delta yang datang dari India lebih cepat penyebarannya namun lebih mudah diatasinya dengan vaksinasi. Gelombang kasus di India dipengaruhi oleh mutasi virus dan pelonggaran penegakan protokol kesehatan. Maka dari itu pentingnya dalam penerapan protokol kesehatan seperti 5M dan 3T.

Sejumlah negara sudah membebaskan warganya dari masker. Dikarenakan telah mencapai kekebalan massal atau herd immunity. Cara utama untuk mencapai kekebalan massal atau herd immunity adalah dengan vaksinasi 50% warga Negara Indonesia. Selain itu, masyarakat juga tetap diimbau untuk menjalankan protokol kesehatan.

Jika kekebalan massal terhadap Covid-19 telah terbentuk, maka anggota masyarakat yang tidak bisa menerima vaksin karena keterbatasan kondisi kesehatannya bisa ikut terlindungi. Untuk mencapai kekebalan ini, pemerintah menargetkan program vaksinasi kepada 181,5 juta orang. Namun, Kenyataannya baru sebanyak 24,5 juta orang yang telah melakukan vaksinasi. Hal tersebut masih sangat jauh dari target.

Peserta webinar yang Bertema Varian Baru Covid 19 : Bagaimana Menyikapinya?

Direktur Rumah Sakit (RS) Syarif Hidayatullah, Amir Fauzi menegaskan masyarakat untuk melakukan vaksinasi dan menaati protokol kesehatan, melihat dari kekhawatiran terhadap lonjakan pasien Covid-19 yang terus meningkat.

“Hampir seluruh rumah sakit mencapai 100% BOR RS sehingga banyak masyarakat yang mengantre di RS karena sudah memenuhi kapasitas bed di RS. Kita perlu tetap waspada. Pasien-pasien yang datang dan terkonfirmasi Covid-19 diharap dapat ditangani lebih baik, atau dapat melakukan isolasi mandiri dengan pemeriksaan yang intensif dari tenaga dokter dan pemantauan kesehatan secara periodik sehingga adanya ketenangan untuk para pasien pasien ini,” ucap Amir.


Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Ahmad Thib Raya meyakinkan segala upaya pemerintah dalam menangani penyebaran virus Covid-19 dengan berbagai cara, salah satunya seperti yang terdapat dalam Hadits.

“Menjaga keamanan diri dan orang lain itu wajib dalam pandangan agama. Rasulullah pernah berkata kepada sahabatnya yaitu jika ada wabah terjadi di suatu tempat, janganlah kalian datang ke tempat itu, jika wabah itu terjadi di daerah kalian bertempat dan kalian berada di dalamnya, janganlah kalian keluar dari tempat itu. Ini adalah pola-pola protokol kesehatan yang kita dapatkan sekarang ini,” jelas Ahmad.

Ia pun menerangkan sikap dalam menghadapi Virus Corona dalam pandangan agama. Terdapat empat ketahanan yang perlu kita lakukan. Pertama ketahanan individual atau ketahanan fisik seperti memakai masker, mengonsumsi vitamin dan makanan bergizi. Dengan begitu, kekuatan yang ada pada diri kita, maka imun yang kuat itu dapat menangkal Covid-19 yang akan masuk ke tubuh kita.

Kedua ketahanan sosial, yaitu dengan menularnya penyakit ini yang dikarenakan kontak dengan orang lain maka proteksi diri kita dengan menjaga jarak untuk menghindari terpaparnya Covid-19.

Ketiga ketahanan mental, yaitu harus memiliki sikap optimistis untuk hidup secara sehat dan meyakini bahwa Covid-19 yang menghampiri kita adalah ujian dari Allah dan kita harus menerima ujian itu tidak dengan rasa khawatir dan gelisah. Rasa khawatir dan gelisah tersebut yang membuat pola tidur dan makan kita menjadi tidak teratur yang menyebabkan ketahanan tubuh kita menurun.

Keempat, kemudian yang terakhir ketahanan spiritual, yaitu memperbanyak dzikir kepada Allah, berdoa dengan doa-doa khusus untuk yang terpapar Covid-19, serta berdoa diiringi dengan berikhtiar yaitu menaati protokol kesehatan.

Covid-19 saat ini telah memicu kekhawatiran dan asumsi publik terhadap orang-orang yang mengidap penyakit. Dalam melakukan vaksinasi sebelumnya akan dilakukan screening yaitu penyaringan yang mana diperbolehkan dan yang mana tidak. Kemudian bagi yang mempunyai penyakit apapun itu sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter yang rutin menangani.

Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Ahmad Thib Raya kembali mengimbau para peserta yang hadir dalam Webinar untuk melakukan vaksinasi. “Vaksinasi adalah salah satu upaya yang diperintahkan agama untuk menghindarkan kehancuran diri kita dan menyelamatkan nyawa dan jiwa kita,” tegasnya.