Perspektif Islam Terkait Pernikahan Beda Agama

Perspektif Islam Terkait Pernikahan Beda Agama

Reporter Ainun Kusumaningrum; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustrasi Pernikahan. (DNKTV/Ainun Kusumaningrum)

Pernikahan beda agama merupakan hal yang tabu di kalangan masyarakat Indonesia dan tentu bukan menjadi hal yang baru. Namun akhir-akhir ini kasus tersebut kembali ramai sejak Staf Khusus (Stafsus) Presiden Jokowi melangsungkan pernikahan pada Jumat (18/3).

Selain dimuat dalam hukum konstitutional Indonesia. Sekretaris Jendral MUI, Amirsyah Tambunan menanggapi bahwa pernikahan harus sesuai keyakinan masing-masing.

“Artinya perkawinan itu memang perkawinan yang dikonotasikan secara tegas dan jelas berbeda agama tidak dibolehkan, harus dengan seagama sesuai keyakinan,” katanya dalam lansiran Republika (22/3).

Ilustrasi pernikahan beda agama. (Twitter/@CintaTapiBeda).

Dalam pandangan Islam pernikahan beda agama termuat dalam surah Al-Baqarah ayat 221, yang mana penjelasannya sebagai berikut :

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

Selain dalam surah tersebut, hal ini pun tercantum dalam surah Al-Mumtahanah ayat 10 yang memiliki pernjelasan berikut:

“…..Mereka (wanita-wanita Muslimah) tiada halal bagi orang-orang non-Muslim itu dan orang-orang non Muslim itu tiada halal pula bagi mereka.”

Dua ayat ini tentunya sudah jelas dan tegas melarang pernikahan beda agama, Allah mengatur hukum pernikahan sedemikian rupa agar menghindari segala kebuntuan dalam rumah tangga.

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta, Mochamad Faturrahman menanggapi bahwa hal ini jelas terlarang dalam agama Islam, sebagai umat muslim yang beriman tentunya perlu menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah swt.

“Menurut saya pribadi menanggapi pernikahan beda agama yang saat ini terjadi di Indonesia, tentunya hal tersebut jelas merupakan suatu yang terlarang dalam agama kita (Islam). Maka dari itu bagi orang beriman hal tersebut seharusnya tidak dilakukan karna sebaik baiknya takwa seorang hamba adalah ia yang dapat menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah swt,” ucapnya saat diwawancarai oleh Reporter DNK TV pada Selasa (22/3).

Ia juga menambahkan bahwa pernikahan akan indah jika diliputi dengan keberkahan dalam satu keyakinan, karena agama menjadi kunci kebahagiaan manusia.

Agama Memengaruhi Pandangan Anak Muda terhadap covid-19?

Agama Memengaruhi Pandangan Anak Muda terhadap covid-19?

Reporter  Latifahtul Jannah; Editor Tiara De Silvanita 

Ismatu Rompi membuka Launching Hasil Survei PPIM Jakarta
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melaksanakan Kegiatan Launching Hasil Survei Nasional PPIM Jakarta dengan tema “Anak Muda dan Covid-19: Berbineka Kita Teguh, Ber-hoak Kita Runtuh.” pada Rabu (5/01).

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Profesor Ismatu Ropi menuturkan kegiatan ini dapat menambah wawasan masyarakat umum mengenai bagaimana pandangan siswa di sekolah maupun madrasah tentang Agama, Pandemi dan Bencana di Indonesia.

Berbicara anak muda berbanding lurus tentang masa depan Indonesia, realita covid-19 yang ada ternyata sangat mempengaruhi anak muda.

Penelitian yang dilakukan delapan bulan dengan 3031 dari seluruh Indonesia menghasilkan temuan penting, pertama, prokes perilaku hidup sehat, dan vaksinasi perlu ditingkatkan.

Kedua saat pandemi Covid-19, level Islamisme pada pelajar Indonesia relatif tinggi, ketiga social trust pelajar Indonesia cukup tinggi, khususnya pada pemimpin agama baik lokal maupun nasional, dan juga pada keluarganya, ungkap Yunita Faela Nisa salah satu peneliti PPIM UIN Jakarta.

Narila Mutia yang juga peneliti PPIM UIN Jakarta menambahkan siswa yang stres karena pandemi mengakibatkan intensitas ibadahnya semakin menurun terutama pada siswa laki-laki.

Presentase anak muda yang terbawa suasana dengan hoax membuat teori konspirasi di masa pandemi sebesar 31,5% dari mereka percaya bahwa Rumah Sakit meng-covidkan pasien untuk keuntungan dana, 20,5% percaya Covid-19 hanyalah flu biasa, dinyatakan berbahaya untuk keuntungan pihak tertentu, dan 20,5% pemuda percaya Covid-19 adalah senjata biologi yang dibuat negara maju melemahkan negara berkembang.

Narila Mutia memaparkan hasil penelitian
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah adalah vaksinasi, namun hasil penelitian PPIM UIN Jakarta menemukan 12,58% menganggap vaksinasi bertentangan dengan agama.

Hasil analisa menemukan bahwa agama memiliki pengaruh negatif terhadap keputusan vaksinasi.

Associate Professor of Sociology, NTU Singapore, Sulfikar Amir menanggapi bahwa agama dan bencana sebenarnya bukan suatu isu yang baru. Covid-19 sendiri dikategorikan bencana, yaitu bencana biologis.

“Bencana menjadi event-event penting membentuk peradaban, dan bagaimana bencana itu dihadapi melalui pemahaman religius masyarakat, jadi sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru,” terang Sulfikar.

Sulfikar Amir menanggapi hasil penelitian
Sumber : DNK TV-Latifahtul

Sulfikar juga menambahkan Covid-19 memiliki kompleksitas yang tinggi.

“Sebenarnya kita tidak bisa melihat secara langsung korelasi antara agama terhadap prilaku kesehatan, karena Covid-19 memiliki kompeksitas yang tinggi, dimana agama menjadi hanya salah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi cara Individu menghadapi resiko terinveksi Covid-19,” ungkap Sulfikar.

Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat Sesditjen P2P Kemenkes RI, Iqbal Djakaria juga menanggapi bahwa tantangan bagi Kemenkes di era perkembangan teknologi sekarang jauh lebih besar, sehingga memang sudah seharusnya perlu meningkatkan pemberian pemahaman kepada masyarakat baik mengenai Covid-19 dan vaksinasi.