Sri Lanka Bangkrut Akibat Utang Menumpuk. Bagaimana Kabar Indonesia?

Reporter Sifa Sevia; Editor Belva Carolina

Warga Sri Lanka yang sedang melakukan unjuk rasa. (orfonline.com)

Sri Lanka kini mengalami krisis ekonomi terburuk sejak merdeka pada 1948. Negara berpenduduk 22 juta orang gagal membayar utang luar negeri (ULN) yang mencapai 51 miliar dolar AS atau Rp754,8 triliun dengan asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS. Sri Lanka secara resmi meminta bantuan keuangan darurat dari Dana Moneter Internasional (IMF). Diketahui, Sri Lanka paling banyak berutang kepada China dan India.

Ratusan ribu warga Sri Lanka dilaporkan mulai berbondong-bondong meninggalkan negaranya. Kondisi ini membuat Sri Lanka kesulitan dalam membayar impor penting seperti bahan pangan dan obat-obatan dan negara tersebut kekurangan komoditas bahan bakar karena tidak mampu untuk melakukan impor. Pemerintah Sri Lanka bahkan memutuskan untuk menutup sekolah dan menghentikan layanan pemerintahan. Tujuannya untuk menghemat cadangan bahan bakar yang hampir habis.

Utang yang selama ini ditanam pemerintah Sri Lanka harus ditanggung dengan beban sangat besar. Terdapat beberapa penyebab turunnya ekonomi Sri Lanka, yaitu Sri Lanka memilih fokus menyediakan barang untuk pasar domestik daripada mencoba masuk ke luar negeri. Hal itu menjadikan pendapatan dari ekspor rendah, sementara tagihan impor terus bertambah.

Sri Lanka juga menghabiskan banyak uang untuk proyek infrastruktur dari pinjaman China, yang menambah utang negara. Tak hanya itu, sektor pariwisata adalah penghasil mata uang asing terbesar di Sri Lanka. Namun, pandemi Covid-19 memengaruhi pariwisata dan kedatangan turis yang biasanya berkunjung ke Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka juga melarang impor pupuk kimia dan meminta petani menggunakan pupuk organik produk lokal. Akibatnya, para petani gagal panen dan pemerintah harus menambah stok makanannya dari luar negeri sehingga membuat kondisi kekurangan mata uang asing semakin parah.

Namun, kebangkrutan Sri Lanka yang disebabkan utang bukanlah kali pertama di dunia. Beberapa negara pernah mengalami vonis bangkrut karena kasus yang sama yaitu ketidakmampuan negara membayar utang.

Venezuela lebih dulu mendapatkan vonis bangkrut dan mengalami krisis ekonomi. Pada tahun 2017 harga minyak yang menjadi pemasukan negara mengalami penurunan harga, akibatnya negara tersebut tidak mampu membayar utang yang telah mencapai US$ 150 miliar atau Rp. 2.025 triliun.

Pada tahun 2015, Yunani mengalami kebangkrutan dan kondisi ekonomi yang terperosok, lantaran ketidakmampuan Yunani dalam membayar utang. Dengan dikenal sebagai negara yang memiliki populasi penduduk yang kecil, negara tersebut memiliki utang yang mencapai 360 miliar euro atau Rp. 5.000 triliun.

Argentina telah dua kali divonis gagal dalam membayar utang negara. Pada tahun 2001 Argentina gagal membayar utang sebanyak US$ 100 miliar atau Rp. 2.025 triliun. Kemudian pada tahun 2014, Argentina kembali tidak dapat membayar utang sebanyak lebih dari US$ 1,3 miliar.

Warga Sri Lanka yang sedang melakukan unjuk rasa. (AFP/Ishara S Kodikara)

Namun, kondisi ekonomi Sri Lanka semakin memburuk, tidak akan berdampak besar bagi Tanah Air. Indonesia relatif memiliki pondasi ekonomi yang kuat. Terlihat dari Indonesia saat ini sedang fokus dengan program transformasi ekonomi yang membuat nilai tambah. Hal itu bisa mendongkrak potensi ekonomi. Pemerintah bisa mendorong keunggulan komparatif yang dimiliki dalam sumber daya ekonominya.

Indonesia tidak memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Sri Lanka. Baik di sektor keuangan maupun sektor perdagangan, sehingga krisis kebangkrutan di Sri Lanka tidak akan banyak berdampak.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menjelaskan bahwa kondisi perekonomian terkini sudah semakin membaik, seiring terkendalinya pandemi Covid-19 di Indonesia. Di kuartal pertama 2022 ini, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berada di atas rata-rata produk domestik bruto (PDB) di tahun 2019.

Sementara, saat ini kondisi inflasi di Indonesia masih relatif rendah bila dibandingkan dengan banyak negara, yaitu sebesar 3,5 persen di bulan April atau masih sejalan dengan outlook pemerintah. Meski begitu, Pemerintah akan terus memitigasi dampak inflasi terhadap harga-harga komoditas, baik energi maupun bahan pangan, sehingga inflasi yang tertransmisi ke rumah tangga masih relatif bisa dikelola dengan baik.

ULN Indonesia hingga April 2022, tercatat sebanyak US$ 409,5 miliar, dengan jumlah tersebut Indonesia mengalami penurunan utang dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 412,1 miliar. Hal tersebut tentunya merupakan kabar baik bagi Indonesia. Namun, pemerintah diimbau agar tetap hati-hati dalam mengelola ULN agar tidak terjadi kebangkrutan dan krisis ekonomi seperti di Sri Lanka dan beberapa negara lainnya


1 Komentar

เครดิตฟรี · Juni 30, 2022 pada 2:59 pm

เครดิตฟรี ไม่ต้องฝาก ไม่ต้องเเชร์ เล่นได้เลย 24 ชม. เล่นง่าย ได้เงินไว มีบริการฝากถอนเงินแบบออโต้ที่รวดเร็วที่สุด สล็อตออนไลน์ สล็อต ที่มาแรงที่สุดในปี 2022 นี้ สะดวกสบายมากที่สุด

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.