Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Penulis Abu zar Al Ghifari; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Pada masa sekarang tidak sedikit mahasiswa yang mengalami ruminasi dan overthinking. Apasih ruminasi dan overthinking itu? Apa perbedaan di antara keduanya?

Overthinking merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan bercabang karena selalu dihantui oleh rasa cemas, takut, merasa bersalah, dan tidak percaya diri.

Sedangkan ruminasi merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan berulang. Jadi, ruminasi itu merupakan kelanjutan dari overthinking. Mengutip dari physchology today dalam istilah psikologi, ruminasi adalah salah satu kesamaan antara kecemasan dan depresi. Suatu kondisi perenungan atau merenungkan hal yang sama berulang-ulang.

Seseorang yang mengalami overthinking cenderung mengalami kesulitan ketika akan melakukan langkah ke depan. Ia akan sulit menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya karena selalu terbayang-bayang dengan kejadian di masa lalu yang belum usai. Bukan hanya itu, ia juga takut akan terjadi kejadian yang sama di masa depan.

Sedangkan, orang yang mengalami ruminasi cenderung mengalami stressor. Stressor adalah berbagai macam permasalahan hidup yang dialami manusia yang mengakibatkan stres. Seseorang yang mengalami ruminasi cenderung memiliki trauma secara fisik maupun mental. Orang yang mengalami ruminasi ketika menghadapi masalah lebih memilih merenungi masalah tersebut tanpa ada jalan keluar.

Dampak negatif jika seseorang mengalami keduanya, yaitu selalu mengalami kecemasan, kurangnya percaya diri, setiap mencari solusi selalu dengan cara merenung, dan imun tubuh pun mengalami penurunan karena stres.

Setelah mengetahui penjelasan singkat tentang ruminasi dan overthinking dan apa saja dampak buruk yang akan terjadi jika mengalaminya secara terus-menerus, maka ada cara agar dapat menghadapi ruminasi dan overthinking itu sendiri. Berikut langkah-langkah untuk mengatasi keduanya:

1. Evaluasi dalam memecahkan masalah

Cara ini dapat dilakukan pertama kali oleh diri sendiri, yakni dengan mengintropeksi diri dan jujur kepada diri sendiri apa yang sedang dirasakan. Dengan seperti itu dapat berpikir jernih dan mengambil langkah yang tepat.

2. Cari rumah untuk berkeluh kesah

Maksud dari “rumah” di atas ini adalah seseorang yang dijadikan tempat berbagi cerita dan sebagai pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita kita. Dengan bercerita, harapannya agar dapat memperluas pandangan seperti itu dan dapat memperluas pikiran serta masalah yang dimiliki.

3. Fokus sama hal yang bisa dikontrol

Fokus terhadap suatu hal yang bisa dilakuin oleh diri sendiri contohnya seperti pemilihan outfit untuk kumpul bersama teman, jangan terlalu memikirkan penilaian orang bagaimana terhadap apa yang sedang kita pakai, bersikaplah bodo amat terhadap penilaian mereka yang tidak membangun

4. Keluar dari lingkungan toxic

Lingkungan sangatlah mempengaruhi kehidupan seseorang, jika orang tersebut berada di lingkungan yang toxic, maka orang tersebut akan selalu mengalami ruminasi dan overthinking karena lingkaran pertemanannya tidak memberikan solusi.

5. Menghadapi masalah satu

Orang yang mengalami ruminasi dan overthinking cenderung sulit untuk menemukan sebuah jalan keluar dalam menyelasaikan permasalahannya secara fokus pada satu permasalahan. Ia sudah memikirkan masalah lain, padahal masalah sebelumnya belum terselesaikan.

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya kebiasaan overthinking ini, salah satu mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta, Syifa Rahma Kurnia memaparkan tanggapannya terkait kebiasaan overthinking yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang yang positif maupun negatif.

Overthinking merupakan sinyal was-was terhadap sesuatu. Bisa dikatakan overthinking adalah kegiatan yang menjurus ke hal negatif sehingga kebiasaan overthinking akan menciptakan kebiasaan buruk seperti tidak percaya diri, mencari alasan untuk menyerah, menyalahkan orang lain, dan tidak bersyukur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bawah kebiasaan overthinking tidak selalu buruk, menurut Syifa Rahma kita juga penting untuk overthinking agar punya sinyal tersendiri. Tapi, tetap hal yang dibiasakan kemudian dilebih-lebihkan tidak akan baik begitu juga dengan overthinking.

Tidak sedikit dari mahasiswa yang mengalami overthinking dalam menjalani perkuliahannya. Faktor keuangan menjadi salah satu alasan para mahasiswa mengalami overthinking, di mana para mahasiswa banyak yang menginginkan sebuah pekerjaan sambil melaksanakan perkuliahan. Alasan utama mengapa melakukan kuliah sambil kerja yaitu agar meringankan beban orang tua.

Apalagi para mahasiswa yang merantau dan jauh dari orangtua, pastinya akan sering mengalami overthinking. Mengatur keuangan agar tidak boros untuk bertahan hidup merupakan overthinking yang dialami para mahasiswa perantau. Saling mencemaskan keadaan antara orang tua dan anak, apakah baik-baik saja atau tidak dan keduanya memiliki rasa rindu dan segera ingin bertemu.


2 Komentar

เครดิตฟรี · Juni 25, 2022 pada 11:48 am

เครดิตฟรี ไม่ต้องฝาก ไม่ต้องเเชร์ เล่นได้เลย 24 ชม. เล่นง่าย ได้เงินไว มีบริการฝากถอนเงินแบบออโต้ที่รวดเร็วที่สุด สล็อตออนไลน์ สล็อต ที่มาแรงที่สุดในปี 2022 นี้ สะดวกสบายมากที่สุด

Pgslot vs slotxo · Juni 26, 2022 pada 6:09 pm

Pgslot vs slotxo ทั้งสองค่ายเกมแตกต่างกันอย่างไร มีเกมอะไรที่น่าสนใจบ้างเรามาดูกัน การชนกันจาก 2 ค่ายเกมสล็อตออนไลน์ ชื่อดังสองค่าย ห้ำหั่นกันในเว็บของเรา PG-SLOT.GAME

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.