Perspektif Islam Terkait Konsumsi Ganja Dalam Keperluan Medis

Reporter Hayyun Viddarayn; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustrasi ganja medis. (Freepik/@freepik)

Ganja menjadi barang terlarang di Indonesia karena banyak masyarakat yang menyalahgunakan. Bentuk penyalahgunaannya seperti mabuk atau hilang ingatan karena sengaja minum atau mungkin menghirup barang tersebut, dan tentu menjadi perbuatan haram dan dilarang dalam agama Islam. Namun, wacana legalisasi ganja untuk kebutuhan medis kini kembali ramai, hal tersebut berawal dari kabar foto viral seorang ibu dengan poster bertuliskan “tolong anakku butuh ganja medis” di beberapa media sosial.

Hal tersebut membuat beberapa masyarakat bertanya-tanya terkait keamanan dalam mengonsumsi ganja sebagai pengobatan medis dan juga hukumnya dalam Islam. Ketua Umum Pengurus Ikatan Dokter, Adib Khumaidi mengatakan bahwa ganja medis adalah senyawa yang berasal dari tanaman ganja. Namun, bukan berati tanaman ganja yang ada saat ini dapat langsung digunakan sebagai suatu pengobatan.

Penggunaan ganja medis saat ini masih memerlukan pengkajian yang mendalam apalagi yang bersifat medicine, pasti akan ada efek samping yang harus diperhatikan guna memastikan keamanan dan keselamatan para pasien. Obat yang baru perlu memiliki bukti klinis yang perlu dikaji bahwa obat tersebut dapat dijadikan sebagai obat utama, obat pendukung yang diberikan bersamaan dengan obat lain, ataukah obat alternatif saja.

Ahli hukum Islam Universitas Airlangga, Prawitra Thalib menyoroti hal ini dari sudut pandang Islam mengenai sebab diturunkannya suatu syariat dalam Islam. Adanya suatu hukum Islam untuk memelihara 5 aspek yaitu pemeliharaan agama, nyawa, akal, keturunan, dan pemeliharaan harta. Apabila ditujukan untuk memelihara nyawa, penggunaan ganja medis diizinkan, namun jika untuk memelihara akal sehingga penggunaan ganja bertujuan untuk rekreasional maka hal tersebut bersifat haram.

Ilustrasi ganja. (Freepik/@freepik)

Legalisasi ganja juga seharusnya mampu mengakomodasi jangan sampai ada penyalahgunaan. Fatwa itu, berfungsi untuk mencegah adanya penyalahan tafsir bahwa ganja dihalalkan sepenuhnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) perlu mempertimbangkan aspek urgensi ganja medis jika ingin mengeluarkan fatwa mengenai legalitas pemakaian ganja tersebut untuk pengobatan.

Menanggapi akan hal ini, salah satu Dosen UIN Jakarta, Mulkanasir berpendapat bahwa penggunaan ganja medis untuk pengobatan diperbolehkan jika dalam keadaan darurat dan tidak ada obat lain yang bisa menyembuhkan penyakit itu.

“Adapun dalam rangka untuk pengobatan, jika suatu penyakit hanya bisa disembuhkan dengan ganja maka itu diperbolehkan, tentu dengan catatan sudah tidak ada obat lain yang bisa untuk menyembuhkan. Sesuatu yang darurat maka bisa membolehkan yang tadinya tidak boleh. Jadi intinya meminum ganja tidak boleh jika untuk sekedar bersenang-senang apalagi merusak diri sendiri, namun jika itu untuk darurat karena untuk mengobati maka diperbolehkan,” ucap Mulkanasir pada Selasa (5/7).

Senada dengan Mulkanasir, Zakaria memaparkan bahwa di beberapa negara sudah melegalisasi ganja untuk kesehatan, Indonesia sebagai negara dengan dasar negara Pancasila dan terdapat sila kemanusiaan di dalamnya, maka hal ini perlu dilaksanakan. Baginya, hal ini demi kemanusiaan, kesehatan dan kemaslahatan bersama, namun perlu juga untuk melakukan riset mendalam, uji publik serta sosialisasi sebelum legalisasi tersebut direalisasikan.


10 Komentar

Психолога · Juli 6, 2022 pada 8:42 am

Психолог онлайн. Консультация Психолога – 6909 врачей, 6718 отзывов.

stat · Juli 8, 2022 pada 11:20 am

stat

pg slot ทุนน้อยก็รวยได้ · Juli 8, 2022 pada 4:39 pm

pg slot ทุนน้อยก็รวยได้ แม้ว่าคุณจะมีทุนน้อย แต่อยากเล่นเกมสล็อตออนไลน์นั่นไม่อยาก​เลย เพราะในแต่รายการใช้เงินลงทุนน้อยมากถึงมากที่สุด พีจีสล็อต ไม่ต้องลงทุนเยอะก็มีโอกาสรวยได้

Ukraine · Juli 9, 2022 pada 11:41 pm

Ukraine

Site · Juli 19, 2022 pada 4:34 am

Site

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.