Meningkatnya Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Tangerang Selatan

Reporter Ambarwati; Editor Belva Carolina

Ilustrasi kekerasan seksual. (Freepik)

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Tri Purwanto mancatat di Tanggerang Selatan sepanjang Januari 2022 menerima 25 laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal ini merupakan peningkatan sejak akhir tahun 2021 yakni 19 kasus.

Namun, tahun 2021 mengalami penurunan dari tahun 2020 dengan jumlah 179 kasus meliputi 68 kasus kekerasan pada perempuan dewasa dan 111 kasus kekerasan anak. Sementara 2021 jumlah kasus kekerasan seksual perempuan dan anak mencapai 217 kasus, meliputi 135 kasus kekerasan perempuan dewasa dan 82 kasus anak dewasa.

Tri Purwanto juga menyampaikan, Tangerang Selatan mengalami kasus kekerasan seksual terbanyak. Lalu, disusul kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kasus kekerasan pada anak-anak serta kekerasan melalui media digital.

“Faktor dari peningkatan kasus kekerasan, saya belum tahu dan mungkin karena sudah banyak masyarakat Tangerang Selatan yang berani lapor, tapi jenis laporan paling tinggi yakni kasus seksual 7 kasus, dan KDRT 5 kasus,” ujar Tri Purwanto.

Meskipun Tanggerang Selatan mengalami kenaikan jumlah kasus kekerasan pada tahun 2022. Tri Purwanto justru bersyukur, hal tersebut dapat membuat masyarakat berani untuk bersuara jika menjadi korban kekerasan fisik ataupun kekerasan seksual.

Ilustrasi kekerasan seksual. (Freepik)

Seperti yang terjadi di Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat. Inisial RR (43) mencekoki miras dan memerkosa H (7), tetangganya, dan aksi keji tersebut ketahuan setelah korban muntah-muntah dan pingsan dibawa ke rumah sakit. Pada saat pemeriksaan didapatkan luka dan cairan sperma di kemaluan korban.

Kejadian itu terjadi pada (25/2/2022). PR (pelaku) menjejalkan jenis minuman keras intisari terhadap korban, terjadi ketika Pelaku memanggil H (korban) ke dalam pos satpam yang sedang bermain pasir di area proyek perumahan.

Korban dijerat pasal 20 UU perlindungan anak dan terancam pidana penjara 5 hingga 15 tahun serta didenda maksimal 5 miliar.

Sementara, catatan dari Lingkar Studi Feminis (LSF), terjadi 99 kasus kekerasan seksual pada 2021 yang telah ditangani oleh pihaknya dari lima kampus besar di wilayah Banten.

Koordinator LSF, Eva Nurcahyani mengungkapkan, angka kasus akan selalu bertambah dengan seiringnya masa penerimaan mahasiswa baru atau masa Orientasi Mahasiswa.

Terjadinya kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak serta kasus KDRT membutuhkan upaya-upaya untuk menanggulanginya yaitu dengan upaya preventif dan upaya represif yang dilakukan oleh aparat Kepolisian dan P2TP2A Kota Tangerang Selatan bersama pihak-pihak terkait.


1 Komentar

JebnBruib · Mei 19, 2022 pada 10:05 am

legitimate canadian pharmacies online rxpharmacycoupons

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.