Memahami Konstruksi Moderasi Beragama

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Farhan Mukhatami

Penyampaian materi oleh Khadijah Mualim pada acara Pelatihan Soft Skill PBAK Berkelanjutan Seri 2 “Moderasi Beragama” Rabu (27/10).
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Pelatihan Soft Skill dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Berkelanjutan Seri 2 yang bertajuk “Moderasi Beragama” melalui Zoom Meeting dan siaran langsung Youtube pada Rabu (27/10). Acara ini merupakan sesi kedua dari sepuluh sesi.

Sekretaris Wakil Dekan Fdikom Cecep Castrawijaya dalam sambutannya, berharap dengan pemberian materi moderasi bergama ini mahasiswa dapat memahami dan menjalankan agama secara moderat sesuai dengan syariat Islam.

“Harapannya mahasiswa dapat memahami dan menjalankan agama secara moderat sesuai dengan syariat Islam,” ujar Cecep.

 Sambutan oleh Sekretaris Wadek Fdikom Cecep Castawijaya dalam Pelatihan Soft Skill PBAK Berkelanjutan Seri 2 “Moderasi Beragama” Rabu (27/10).
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Dosen Fdikom Khadijah Mualim menjelaskan bahwa pentingnya memahami konsep moderasi beragama ini adalah untuk menyikapi perjalanan hidup pada masalah-masalah keagamaan yang sangat sensitif.

Menurut penuturan Khadijah, moderasi beragama tidak terlepas dari eksistensi paham esktrem kiri dan kanan.

“Moderasi agama di negeri kita sudah menjadi wacana publik sejak  beberapa tahun terakhir,  muncul pemikiran dan gerakan yang terindikasi mengandung unsur ekstremisme dan intoleran,” tambahnya.

Pemaran Materi “Konstruksi Metodologi Moderasi Beragama” oleh Dosen Fdikom Khadijah Mualim.
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Selain itu, Ia juga memberikan beberapa contoh kasus pembangunan produk konstruksi moderasi beragama di masyarakat yang sudah lama dicontohkan oleh para Jumhur Ulama.

Harapannya, dengan ini mahasiswa sebagai calon cendekiawan dapat memahami konstruksi metodologi moderasi beragama dengan baik, sehingga dapat mengatasi permasalahan-permasalahan esktremis yang ada.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.