Masalah Gangguan Mental Meningkat Sejak 2 Tahun Covid-19

Reporter Khalilah Andriani; Editor Latifahtul Jannah 

Ilustrasi gangguan mental. (Freepik.com)

Dua tahun pandemi Covid-19 berlangsung, World Health Organization (WHO) mengatakan permasalahan gangguan mental kini meningkat hingga 25 persen dibandingkan dengan tahun pertama. Salah satu penyebab terbesar adalah adanya kegiatan isolasi.

Peringatan terbaru dari WHO mengenai potensi kecemasan dan depresi menjadi ancaman terbaru pasca pandemi.

Hasil riset menunjukan penyintas Covid-19 memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental dibandingkan dengan pasien non-Covid. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan keadaan mental penyintas Covid-19 usai mengalami isolasi sosial, ketakutan, dan kecemasan yang berlebih akibat kehilangan orang yang dicintai maupun penurunan finansial.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mencatat masalah kesehatan mental di Indonesia cukup tinggi dan meningkat akibat pandemi. Data menunjukkan 20 persen dari 250 jiwa secara keseluruhan berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kemenkes, Celestinus Eigya Munthe mengatakan situasi pandemi Covid-19 menyebabkan peningkatan gangguan kesehatan mental berupa depresi hingga sembilan persen.

Ilustrasi Mental health. (Freepik.com) 

Dosen Psikologi UIN Jakarta, Yuminah menilai bahwa gangguan mental muncul karena adanya faktor fisik dan emosional saat pandemi berlangsung.

“Wajar jika ada peningkatan gangguan mental pasca Covid-19, setelah mengalami Covid-19 penyintas akan mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang menimbulkan stres, ketakutan, dan kecemasan berlebih,” ungkap Yuminah.

Yuminah juga menambahkan langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi gangguan mental.

“Untuk dapat menghadapi gangguan mental pertama, kita harus berdamai pada diri sendiri, kita dapat menghilangkan pikiran-pikiran negatif pada kejadian-kejadian yang mana kejadian tersebut belum terjadi. Kedua, kita harus berpikiran positif karena dengan adanya pikiran tenang atau positif thinking akan meminimalisir PTSD bagi penyintas covid, selanjutnya sibukan diri dengan hal-hal positif dan bermanfaat,” jelasnya.

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Radita Pramata Putri mengatakan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan mental seharusnya lebih diperhatikan.

“Peningkatan gangguan mental ini seharusnya dapat menyadarkan masyarakat, bahwa tidak hanya fisik saja yang bisa sakit melainkan mental pun bisa.”

“Salah satu cara mencegah gangguan mental ialah jangan malu untuk ke psikolog jika dibutuhkan atau bisa cari support system yang tepat,” sambung Radita.


3 Komentar

7 günde hamilelik belirtileri · April 2, 2022 pada 8:06 am

limonla hamilelik testi evde kolayca hamile olup olmadığınızı limon ile öğrenebilirsiniz.

정책미납 · Mei 22, 2022 pada 4:32 pm

It doesn’t make any difference if somebody is utilizing a mobile phone, pill, notebook, desktop, or even the functioning technique of their selection. We enable it to be effortless for you to offer you an optimized on the web payment working experience in all situations.정책미납

SLOT ONLINE · Juni 22, 2022 pada 8:04 pm

whoah this blog is excellent i really like reading your posts.
Stay up the great work! You recognize, lots of people are looking round for
this information, you could help them greatly.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.