Lebih dari Separuh Manusia di Belahan Dunia Mengidap Imposter Syndrome, Apa Itu?

Penulis Muhammad Muklas; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi sesorang mengalami depresi. (Pixabay)

Ada berbagai hal yang dapat dilakukan agar kesehatan mental bisa tetap terjaga. Untuk itu, perlu mengenal kondisi diri yang mungkin dialami seiring berjalannya waktu. Jangan sampai hanya memahami kata ini sebagai kondisi mental yang terguncang hingga layak dimasukan ke dalam rumah sakit.

Gangguan mental memiliki makna yang sangat luas, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, dan lain sebagainya. Beberapa jenis gangguan mental sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Hal ini membuat dampak terhadap kehidupanya jadi tidak terkontrol.

Remaja sekarang mungkin sering pernah merasa tidak percaya diri selalu overthinking dalam hidupnya ataupun kesehariannya. Hal ini mungkin bisa jadi merupakan salah satu pertanda jika seseorang terkena imposter syndrome.

IMPOSTER 
SYNDROME
Ilustrasi animasi imposter syndrome. (Pixabay)

Apa itu imposter syndrome? Bagaimana sesorang mengidapnya dan apa fakta dari sindrom ini?

Istilah imposter syndrome pertama kali digunakan oleh Suzanna Imes dan Pauline Rose Clance pada tahun 1970-an, Singkatnya imposter syndrome merupakan sindrom orang palsu atau ketidakpercayaan terhadap diri sendiri.

Secara umum imposter syndrome adalah kondisi di mana seseorang selalu merasa tidak pantas mendapatkan pencapaiannya apa pun dalam hidupnya dan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri, memiliki rasa takut yang terus-menerus terinternalisasi sebagai “penipuan” kondisi ini akan terus menghantui si pengidap imposter syndrome, jika sesorang mengetahui kekurangannya dan membuat si pengidap selalu minder akan pencapaiannya.

Faktanya sebuah penelitian orang yang mengidap syndrome ini adalah orang yang paling sering meraih kesukseskan dan berprestasi hal ini merujuk pada 82% orang di dunia mengalami imposter syndrome dalam hidupnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan imposter syndrome bisa dialami oleh siapa pun tanpa memandang status sosial, latar belakang pekerjaan dan tingkat kealihan tertentu.

Beberapa ciri-ciri dan karakteristik seseorang mengidap imposter syndrome, yaitu :

  • Sering meragukan diri sendiri dengan apa yang diperbuat.
  • Overthinker yang terus-menerus.
  • Ketidakmampuan untuk menilai kompetensi dan keterampilan diri secara realistis.
  • Mengaitkan kesuksesan diri dengan faktor eksternal.
  • Merasa tidak puas dengan kinerja diri sendiri.
  • Ketakutan bahwa diri tidak bisa memenuhi harapan dan ekspetasinya.
  • Terlalu berprestasi dan bersemangat melakukan kerja keras.
  • Menetapkan tujuan yang sangat menantang dan merasa kecewa saat gagal.

Salah satu pengidap imposter syndrome adalah pemeran Ms. Marvel yaitu Iman Vellani yang mengaku merasa canggung saat wajahnya terpampang di poster iklan film barunya itu.

“Bagi saya, saya adalah satu-satunya orang yang pakai kostum, yang memakai kostum superhero, sedikit menakutkan. Semua orang akan melihatmu saat mengenakan kostum berbahan spandex yang mengilap. Agak terasa sedikit terintimidasi dan merasa tidak nyaman,” ungkap Imam dikutip dari Kompas (8/6).

Beberapa pengidap biasanya mengatasi syndrome ini dengan tahap-tahap jangka lama dengan memulai mengenal diri sendiri dan merasa nyaman akan semua hal tidak terlalu memporsikan diri yang berlebih sehingga merasa diri tertekan jauh-jauh dari hal tersebut.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.