Larangan KPK: Mahasiswa Berikan Hadiah Kepada Dosen

Oleh Diva Raisa Zananda; Editor Tiara Juliyanti

Ilustrasi memberi hadiah ke dosen
Sumber foto: freepik.com

Memberi dan menerima merupakan suatu kegiatan saling merespon. Memberi hadiah kepada orang lain terutama kepada guru yang sudah mendidik itu tindakan yang mulia. Namun bagaimana jika tindakan mulia itu ada niat buruknya atau justru malah menimbulkan respon spesial bagi pemberinya?

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa hari yang lalu mengutus aturan bahwa dosen tidak boleh menerima hadiah dari mahasiswa. Diduga kasus yang menyebabkan aturan tersebut dibuat adalah karena Singapura telah membuat aturan tersebut dan berharap Indonesia bisa menerapkan aturan yang sama.

Faktanya Kemenristekdikti sudah membuat surat edaran pada tanggal 23 Februari tahun 2017. Pada surat edaran tersebut tertulis bahwa dosen tidak boleh menerima hadiah dari mahasiswa, dikarenakan menjaga intregritas hubungan antara dosen dan mahasiswa. Jika masih melanggar aturan itu maka akan disanksi sesuai Undang-Undang yang berlaku. Pada pasal 12 UU Tipikor bahwa penerima akan dipidana dengan penjara seumur hidup dengan paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun, serta pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 milliar rupiah.

Mahasiswa memberi hadiah ke dosen merupakan hal yang wajar sebagai bentuk terimakasih sudah mengajar dan membimbing sampai menjadi sarjana atau sebagainya. Tetapi dalam kasus ini diutusnya peraturan tersebut karena adanya ketidakadilan atas perlakuan dosen kepada mahasiswa.

Salah satu Dosen UIN Jakarta, Syamsul Yakin mengatakan bahwa perlakuan itu ditujukan sebagai rasa hormat kepada seorang dosen. Justru hal ini merupakan bagian dari sifat terpuji seorang mahasiswa. Dari sisi lain dosen tidak bisa melarang ataupun meminta mahasiswa untuk memberikan hadiah kepadanya. Saling menghormati merupakan tradisi yang baik di dunia akademik, akan tetapi sering kali dianggap sebagai tindakan mengambil hati karena hal ini tergantung kepada niat mahasiswa yang bersangkutan.

“Seorang dosen yang bertanggung jawab seberapa besar yang diterima sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya sendiri, hadiah yang diberi dari mahasiswa akan diterima secara baik. Namun sama sekali tidak ada kaitannya dengan memberi nilai dan perlakuan istimewa,” ujarnya.

Menolak pemberian yang berniat jahat
Sumber foto: freepik.com

Dosen dijadikan sebagai role model dan harus menjaga integritas pedagogis, alangkah baiknya dosen menghindar dari hal hal yang berbau grafitikasi atau suap. Karena dengan itu tidak akan ada tindakan mahasiswa yang menyuap dosennya hanya untuk nilai.

Dosen Bahasa Inggris UIN Jakarta Kania Mayastika, juga beranggapan bahwa jika mahasiswa memberi hadiah ke dosen dengan landasan rasa syukur dan untuk berterima kasih itu tidak apa-apa, tetapi berbeda jika mahasiswa yang memberi hadiah ke dosen, berharap dosen akan memperlakukannya secara beda, itu baru yang dinamakan tindakan yang salah.

Kita harus berterimakasih ke orang yang sudah membantu kita terutama tenaga pendidik. Kita juga harus memperhatikan kondisi di sekitar. Jika kondisinya memang untuk menyuap dosen, itu merupakan tindakan tidak terpuji karena dianggap sebagai salah satu hal kriminal.


6 Komentar

2bastion · Desember 31, 2021 pada 8:15 am

2lindsay

senior gay hiv dating sites · Januari 2, 2022 pada 11:50 pm

dating hung gay macho https://gayfade.com

gay chat webcam · Januari 14, 2022 pada 6:09 pm

dos chicos se conocieron en un chat gay https://bjsgaychatroom.info/

dating advice for gay men · Januari 14, 2022 pada 8:27 pm

gay dating apps for pc https://gaypridee.com/

free gay chat no sign up · Januari 15, 2022 pada 1:10 am

b-gay chat https://gaytgpost.com/

best gay dating apps · Januari 16, 2022 pada 4:32 am

best gay dating site https://speedgaydate.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.