Kesenjangan Zaman Antar Generasi Tua dan Muda

Penulis Tubagus Muhammad Bintang Lazuardi; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi baby boomers dan Gen Z. (Freepik/@freepik)

Semakin bertambahnya usia zaman, semakin banyak lintas generasi tercipta. Pernahkah kamu mendengar istilah Baby Boomers dan Gen Z? Belakangan ini sedang ramai saling memandang rendah antara Baby Boomer dan Gen Z atau bisa disebut perang antar-generasi.

Tidak seperti namanya yang terdengar muda, orang yang lahir pada generasi ini merupakan orang yang lahir pada kurun tahun 1946 hingga tahun 1960. Generasi ini disebut Baby Boomers juga bukan tanpa sebab, kebanyakan orang yang lahir pada masa ini lahir setelah Perang Dunia II. Sering memandang Gen Z ialah generasi yang tidak menjalani hidup dengan keras dan terlihat malas, sebab mereka merasa tidak perlu effort besar lagi untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Tentunya hal ini berbeda dengan generasi Boomers.

Seperti diketahui, masyarakat kita memang hidup dengan pola yang berbeda dari generasi ke generasi. Setelah muncul istilah Gen Z dan generasi milenial, kini muncul istilah baru yakni strawberry generation atau generasi stroberi. Istilah generasi stroberi pada awalnya muncul di Taiwan. Generasi stroberi merupakan generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Para generasi stroberi memiliki kreativitas dan ide-ide yang sering kali out of the box. Sayangnya, informasi-informasi yang diterima terlalu cepat dan memberikan pengaruh kepada mereka berupa self diagnosis yang kurang tepat. Itulah mengapa kebanyakan dari generasi ini sering mengeluh butuh healing, butuh liburan, dan lain sebagainya.

Tantangan dari generasi stroberi sendiri sulit dicapai secara mental. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, generasi ini digambarkan sebagai stroberi yang lembut dan mudah dihancurkan. Tanpa kehadiran dan bimbingan yang tepat, generasi ini dapat dengan mudah menyerah dan putus asa. Hal ini disebabkan keterbiasaannya dalam mendapatkan suatu pencapaian dengan mudah, sehingga apabila ia tidak mencapai pencapaian lainnya maka akan mudah goyah disebabkan belum terbiasa gagal.

Pakar University of Southern California, Alexis Abramson mengatakan pada masa Baby Boomers terdapat persaingan ketat dalam sebuah proses perjuangan hidup para generasi Boomers sehingga membuat mereka merasa sangat dominan.

“Kecenderungan kompetitif pada Baby Boomer kemungkinan disebabkan banyaknya individu yang lahir pada generasi ini, sehingga mereka harus bersaing ketat untuk mendapatkan tempat di masyarakat,” ucapnya.

Gen Z yang merasa dipandang rendah akhirnya memberikan counter terhadap stigma yang diberikan oleh generasi Boomers seperti generasi yang sudah kelewat zaman atau tidak open minded.

Gen Z yang lahir kisaran 1990 hingga 2010 ini berada pada zaman di mana teknologi sudah sangat maju dibanding pada zaman generasi Boomers sehingga apa yang mereka lakukan lebih mudah ketimbang yang dilakukan generasi Boomers pada saat itu.

Free Vector | Hand drawn multitask business woman illustrated
Ilustrasi kesibukan Gen Z. (Freepik/@freepik)

Faktor yang memengaruhi perang antar generasi yaitu perbedaan zaman, kondisi ekonomi, dan pola pikir. Hal inilah yang membuat mereka terlihat sangat santai, sehingga timbulah kesenjangan antar-generasi. Di mana teknologi yang tidak merata antar zaman.

Menurut laporan Pew Research Center pada 14 Februari 2019, kehidupan milenial saat ini berbeda dari generasi sebelumnya. Pew Research Center sendiri adalah wadah pemikir nonpartisan Amerika Serikat (AS) yang berpusat di Washington, D.C. Pusat penelitian ini merilis informasi tentang tren isu sosial, opini publik, dan demografi di AS maupun dunia.

Dari sisi karier, milenial dihadapkan pada semakin sedikitnya lapangan kerja akibat resesi ekonomi AS pada 2008. Dari sisi penghasilan, penghasilan milenial lebih rendah bila dibandingkan dengan Baby Boomers. Pew menyatakan bahwa pada 2016 penghasilan rata-rata milenial berusia 20-35 tahun sebesar 171 ribu rupiah sementara Baby Boomers meraih pendapatan 296 ribu rupiah pada 1983 di rentang usia yang sama.

Soal rumah, milenial adalah pihak yang paling terkena dampak buruk resesi ekonomi. Mereka rata-rata tidak mampu membeli rumah dan masih tinggal bersama orang tua. Tak hanya itu, mereka juga cenderung menghabiskan waktu di rumah.

Kaum milenial juga cenderung tidak buru-buru untuk berkeluarga. Data Pew menunjukkan bahwa prosentase milenial berusia 25-37 yang menikah hanya 46%. Sementara persentase Baby Boomers yang menikah pada rentang usia tersebut adalah 67%.

Sekalipun sudah menikah, pasangan milenial pun cenderung menunda untuk punya anak.

Tak usah heran. Mereka yang menyatakan “Ok Boomers” adalah pihak yang ingin agar orang-orang tua berpemikiran lebih terbuka dan lebih memiliki rasa empati terhadap anak-anak muda yang hidupnya tidak seenak mereka ketika muda.

Maka sebaiknya kita perlu mengingatkan kepada para generasi yang lebih muda agar lebih kuat dalam menghadapi kenyataan dan tidak larut dalam satu pintu kegagalan, karena masih banyak pintu-pintu kegagalan lainnya yang patut dicoba.

Dalam hal ini perlu adanya kesadaran bahwa setiap generasi memiliki zamannya masing-masing dan tidak bisa disamaratakan antara generasi yang satu dengan yang lain. Jika terfokus terhadap hal yang sia-sia tersebut, alangkah lebih baiknya jika antar generasi saling berkolaborasi agar saling memberi kontribusi sehingga dapat menjadi solusi agar kesenjangan antar generasi tidak terjadi lagi.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.