Kenali Konsep Diri Ketika Kamu Mulai Benci Diri Sendiri

Penulis Latifahtul Jannah; Editor Fauzah Thabibah

Ilustrasi orang gangguan mental. (Freepik/@freepik)

Cara kita memandang hidup sebenarnya adalah akumulasi dari peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi, ketika kehidupan penuh keceriaan mungkin mayoritas pandangan hidup akan penuh keceriaan, tetapi bagaimana jika kita hidup berfokus pada kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, hidup dengan perasaan tertekan, hidup dengan membenci diri sendiri.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Salah satu mahasiswa UIN Jakarta berinisial D, melalui DNK TV mengatakan perasaan insecure dan tidak ada progres atau kemajuan dalam diri sering muncul secara bersamaan di dalam diri.

“Saya sering merasa sendirian, merasa sangat insecure, merasa teman-teman saya sudah sukses di bidang masing-masing, namun saya masih stuck dan tidak ada progres diri sama sekali.”

Kita harus dipaksa mengimbangi dunia bahkan ketika merasa tidak mampu, tantangan malah menjadi suatu kesempatan untuk ditekan.

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Dandy Aulya menegaskan manusia adalah keberadaan yang mendahului esensi, sehingga tujuan ke depannya ditentukan oleh diri sendiri.

“Kita dapat mengacu kepada filsafat eksistensialisme dimana manusia itu adalah keberadaan yang mendahului esensi. Kita bukan seperti meja, kursi, dan handphone yang ada karena sudah ada tujuan tercipta terlebih dahulu. Tetapi manusia itu unik. Manusia adalah keberadaan yang ada duluan, tetapi kitalah yang membuat dan menentukan tujuan kita sendiri,” ucap Dandy.

“Maka untuk orang-orang yang dihadapkan pada kesempurnaan, standar-standar yang mereka sendiri tidak suka, lebih baik menyadari akan kapabilitasnya sebagai manusia yang eksistensialisme, bahwa manusia punya hak untuk memilih mengenai hidupnya sendiri,” sambung Dandy.

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan, kita dengan segala ketidaksempurnaan dihadapkan pada dunia yang menginginkan kesempurnaan. Lalu bagaimana cara kita bertahan?

Dandy menambahkan permasalahan bukan pada self love tetapi pada self concept,

“Akar permasalahan bukan pada self love tetapi pada self concept. Dalam psikologi, self love itu salah satu teori turunan self concept atau konsep diri. Hal pertama yang perlu kita pelajari sebelum self love adalah konsep diri. Karena dari konsep diri itu akan banyak konsep turunan lain yang akan berhubungan seperti self love, self reward, self healing, dan lainnya,” ujar Dandy.

“Banyak fakta di lapangan menunjukkan generasi muda belum memiliki konsep diri, padahal secara teori seharusnya sudah mempunyai konsep diri yang matang sebelum umur 18 tahun,” imbuhnya.

Ilustrasi seseorang yang tidak memiliki konsep diri. (Freepik/@dashu83)

Dosen Psikologi UIN Jakarta, Fidiansjah menguatkan jika setiap orang harus memiliki konsep diri untuk bertahan di era perkembangan teknologi.

“Berbagai gangguan mental merupakan satu lingkaran yang saling terkait. Oleh karena itu setiap orang harus memiliki konsep diri atau jati diri. Konsep diri tidak bisa didapatkan dengan pendidikan formal, karena ini terbentuk melalui bimbingan, pola asuh keluarga, lingkungan, peristiwa, dan pengalaman yang terjadi di dalam hidup. Ketika konsep diri seseorang itu sudah matang mereka tidak akan gamang ataupun galau dengan keadaan apapun,” ungkap Fidi.

Fidiansjah menambahkan setiap orang punya potensi, namun terkadang tokoh otoriter yang malah menjadikan seseorang kehilangan jati diri.

“Sebenarnya yang sering terjadi, orang itu memiliki potensi lain namun dipaksakan oleh tokoh-tokoh otoriter (seperti keluarga, lingkungan, guru, bahkan media sosial) untuk menjadikan dirinya bukan diri sendiri tetapi diri orang lain.”

Kita sering menambah permasalahan dengan marah kepada diri sendiri ketika tidak bisa menjadi apa yang diinginkan orang lain. Bahkan dengan sadar sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Oleh karena itu kita perlu konsep diri.

“Ketika seseorang memiliki konsep diri, walaupun berada di kondisi atau keadaan yang tidak ideal seperti miskin, cacat, fisik yang kurang, dia tidak akan melihat itu sebagai sesuatu yang menghambat dirinya karena dia masih melihat, sesuatu yang lain yang ada pada dirinya. Pemikiran seperti ini memang tidak muncul begitu saja, tanpa sebuah terpaan, bimbingan, dan arahan. Jika ditelusuri lebih dalam, bisa melihat saja sudah suatu kelebihan dari orang buta, bisa berjalan saja sudah suatu kelebihan dari orang lumpuh,” tutup Fidi.

Hargai proses diri, maknai perjalanan hidup, karena apapun yang terjadi akan menjadi pembentuk karakter diri.

Dandy menambahkan, pelan-pelan sambil menikmati dan menghargai proses tersebut secara umum menjadi hal yang penting untuk kesehatan mental.

“Menurut saya kesuksesan dibangun pelan-pelan dari awal, mulai dari pencapaian sederhana sampai akhirnya pencapaian besar. Di sela-sela menikmati proses diperlukan apresiasi ke diri sendiri, misalnya setelah menyelesaikan tugas apresiasi diri dengan cokelat. Itu salah satu self reward yang secara tidak sadar akan membantu kita untuk tetap konsisten, walaupun sebenarnya kecil tetapi jika perilaku itu terus berulang apalagi berprogres maka akan tumbuh perasaan puas, konsistensi, dan ketenangan.”

Buatlah standar prestasi ataupun sukses versi diri sendiri, terkadang begitu melelahkan ketika tidak bisa menjadi diri sendiri, jangan buat penjara dengan mindset harus diakui, karena sejatinya bagaimanapun kita, orang lain tidak boleh intimidasi apalagi soal konsep diri.

Maslow's 
hierarchy 
of needs 
Self- 
actualization 
esteem 
oqe 
safety 
? h yswxogicai
Gambar Hirarki Kebutuhan menurut Abraham H. Maslow. (Freepik/macrovector)

Hirarki Kebutuhan menurut Abraham H. Maslow berbentuk piramida yakni aktualisasi diri, kebutuhan akan akan penghargaan, kebutuhan akan memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan rasa aman (keselamatan), dan kebutuhan fisiologi. Dimana untuk mencapai puncak yakni aktualsiasi diri, empat kebutuhan lainnya harus dahulu dipenuhi, mulai dari yang paling dasar (fisiologi), hingga aktualisasi diri.

Seorang Psikolog terkenal asal Amerika, Carl Rogers menyimpulkan bahwa manusia memiliki kapasitas dan terdorong untuk mencapai potensi maksimalnya.

Jadi berhenti membanding-bandingkan diri sendiri karena perubahan dan progres diri tidak akan terjadi jika hanya berdiam diri tetapi mulailah eksekusi dari saat ini.

Dalam person centered theory yang dikemukakan Rogers, konsep diri atau self concept adalah persepsi dan keyakinan terhadap diri sendiri yang konsisten serta terorganisir.

Self concept menjadi acuan kita untuk melihat dunia dan diri sendiri.

Satu hal yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri apakah perasaan tidak enak, cemas, dan stres membuat kita menjadi lebih baik atau tidak? Jika ternyata menjadi lebih baik, itu berarti kita sedang berkembang dan sudah ada di jalan yang tepat.

Manusia tidak ada yang sempurna, cobalah untuk mengakui ketidaksempurnaan dan terus berusaha mengembangkan diri.

Mencintai diri sendiri apa adanya, bukan dari apanya, karena self concept yang baik dihasilkan oleh penerimaan tanpa syarat. Tidak apa sesekali menertawakan kesalahan diri sendiri, tidak masalah sesekali merasa lelah dan ingin menyerah, boleh-boleh saja sesekali merasa malas dan memanjakan diri. Terima keadaan itu, peluk dan berterima kasih kepada diri yang sudah mau berjuang dan bertahan walaupun sudah diambang kehancuran. Tetapi hancur sekarang bukan berarti juga hancur nanti, pastikan diri bangkit dan berjuang kembali.


1 Komentar

pgslot · Juni 6, 2022 pada 3:13 pm

เล่นสล็อตวันพระเพิ่มโชค ดูแลคุณอย่างทั่วถึงไม่ว่าจะอยู่ไหนของประเทศ แจ็ตพอตแตก ต่างยกนิ้วให้ว่าเป็นตัวทำเงินชั้นยอด สมัครวันนี้รับโบนัสฟรีทันที!! pgslot สล็อตแตกง่ายที่สุดในไทย

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.