Hiruk Pikuk Prospek Kerja di Tahun 2030. Mental Kamu Aman, Nggak?

Penulis Fathiah Inayah; Editor Latifahtul Jannah

Ilustrasi overthinking terkait masa depan (Freepik/@freepik)

Penyataan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebut akan ada sembilan jenis pekerjaan yang akan ‘lenyap’ pada 2030 mendatang. Erick tohir mengingatkan Perguruan Tinggi untuk mewaspadai dampak digitalisasi terhadap sektor ketenagakerjaan. Antara lain berkurangnya jumlah lapangan pekerjaan akibat pemanfaatan teknologi canggih.

“Perguruan Tinggi harus bersiap diri, menghadapi kondisi pekerjaan yang diprediksi akan hilang dalam beberapa waktu ke depan,” tegasnya saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Selasa (21/6).

Pernyataan tersebut menuai berbagai tanggapan dan reaksi dari masyarakat hingga mahasiswa. Ada beberapa yang sudah mempersiapkan diri namun banyak juga yang mengalami kecemasan berlebih akan masa depan. Sebab itu, melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pikiran kita menjadi rumit.

“Nanti 5-20 tahun kedepan aku akan seperti apa ya? Apakah nanti aku bisa sukses? Apakah bisa aku mengurangi beban untuk orang sekitarku? Apakah aku memiliki kemampuan untuk menghadapi masa depan?”.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Michigan di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa 52% dari masyarakat berusia 45-55 tahun memikirkan suatu problem secara berlebihan atau mengalami overthinking. Dan juga sekitar 73% dari usia 25-35 tahun terjebak di masalah yang sama.

Bukan hanya studi namun realitanya juga terjadi hampir pada setiap mahasiswa. Menurut mahasiswa Universitas Bina Nusantara (BINUS), Kania hampir setiap malam overthinking karena berbagai pemikiran yang terlintas sehingga menjadi alasan untuk mengkhawatirkan masa depan.

“Alasan saya overthinking tiap malam, karena takut di masa depan saya tidak bisa mendapatkan perkerjaan, sebagai anak pertama dan cucu pertama membuat ekspektasi keluarga kepada saya sangat besar sehingga saya takut mengecewakan mereka. Serta saya takut tidak bisa bersaing dengan dunia globalisasi yang semakin canggih,” ujar Kania.

Erick mengakui meskipun ada sejumlah pekerjaan yang akan hilang, namun di masa depan akan ada pekerjaan lain yang dibutuhkan. Namun, Erick menggarisbawahi bahwa pekerjaan yang dimaksud membutuhkan keahlian khusus. Misalnya, seperti data scientist and analyst, artificial intelligence expert, software and game developer, analis big data, block chain developer, market research, digital marketing, biotechnology, hingga digital content.

Selain berat untuk masyarakat dan mahasiswa, tentu juga menjadi pekerjaan kompleks bagi pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja, khususnya usia muda, agar bisa menjadi pemain utama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ilustrasi dari overthinking. (Freepik/@freepik)

Takut akan masa depan memang wajar, tetapi jika berlebihan itu akan membuang banyak waktu serta bisa berbahaya dari sisi psikologi dan fisik. Melansir dari The Health Site, beberapa masalah yang kerap muncul akibat overthinking antara lain berupa terganggunya metabolisme tubuh, masalah pencernaan, berpotensi merusak organ jantung, hingga merusak kesehatan kulit.

Seperti yang dirasakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabrina Alya, setiap malam overthinking akan masa depan nya, berdampak pusing hingga sakit lambung.

“Dampaknya secara fisik aku merasa pusing biasanya hingga sakit lambung kambuh, secara pikiran aku tersiksa karena tidak bisa menemukan ujung kesimpulan dari hal-hal yang aku pikirkan,” ujar Sabrina Alya.

Menurut mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN), Radhita Pratama mengatakan bahwa dampak dari overthinking serta rasa takut berlebihan akan masa depan memberikan dampak negatif terhadap kognitif dan menimbulkan kecemasan sendiri.

“Jiwa dan tubuh itu saling berkaitan sehingga jika pikiran kita sakit maka tubuh kita akan ikut sakit itu respon nya terhadap kecemasan yang dirasakan, jika berlebih bisa menyebabkan gangguan kecemasan atau disebut juga anxiety disorder,” ungkap Radhita Pratama.

Radhita Pratama juga memberikan solusi, ”Untuk mengatasi overthinking yang berlebih yaitu filter pikiran kita, melatih pernapasan hingga pikiran tenang, ceritakan apa yang sedang dikhawatirkan kepada orang yang dipercaya sehingga beban menjadi lebih ringan, serta jika overthinking sudah berlebihan banget maka datanglah ke psikolog (atau ahli).”

Manusia itu selalu menempatkan ekspetasi pada posisi teratas, sehingga jika tidak sesuai dapat menimbulkan depresi. Kita harus bisa membedakan goals dan goals yang abstrak. Ingatlah bahwa “Some things are up to us, some things are not up to us“.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.