Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau

Reporter Qo’is Ali Humam; Editor Latifahtul Jannah

Flayer Media Briefing : Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau. (Dok. Istimewa)

Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Dimulai dari tahun 1987, ketika dunia mulai menyadari bahaya rokok terhadap kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menginisasi Hari Tanpa Tembakau Sedunia sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dunia sebab adanya ancaman bahaya penggunaan tembakau yang memicu penyakit dan kematian. Bahkan di Indonesia sendiri merokok menjadi penyebab angka kematian terbesar kedua setelah hipertensi.

Di tahun 2022 ini, WHO menetapkan tema HTTS adalah “Tobacco : Threat to our environtment“. Tema ini sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia, dimana adiksi masyarakat terhadap penggunaan rokok dan peran industri tembakau telah menimbulkan dampak pada lingkungan dan dapat merusak ekosistem dalam semua prosesnya, mulai dari pembudidayaan, produksi, distribusi, bahkan limbah produk tembakau atau rokok tersebut sangat berpengaruh pada kerusakan lingkungan.

Dalam rangka menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2022, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lentera Anak Foundation bersama Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Organisasi Konservasi Lingkungan Ecoton Indonesia, dan World Cleanup Day Indonesia berkolaborasi dalam mengadakan Media Briefieng dengan tema “Dampak Lingkungan Akibat Industri Tembakau” pada Kamis (12/5) bertempat di Bakoel Koffie, Cikini Raya, Jakarta Pusat. Dengan mengundang puluhan media massa dalam acaranya, mereka berharap media ikut andil dalam mengangkat isu pencemaran lingkungan yang salah satunya disebabkan oleh industri tembakau.

Dihadiri para narasumber perwakilan dari beberapa organisasi konservasi lingkungan. (DNK TV/Rizky Faturrahman)

Kolaborasi ini tentunya bertujuan untuk sama-sama memberikan pemahaman mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat industri tembakau, mulai dari proses produksi hingga menjadi sisa konsumsi atau sampah produk. Serta pemahaman tentang siasat industri tembakau yang menghindari tanggung jawab penyelamatan lingkungan yang disebabkan produk industri rokok, melalui program Greenwashing yang dianggap hanya bersifat pencintraan.

Para narasumber yang hadir dalam Media Briefing ini menyampaikan data yang ditunjukkan oleh STOP (exposetobacco.org) yang merupakan kelompok kemitraan yang fokus dalam penelitian pengendalian tembakau di University of Bath Inggris mengungkap bahwa prouduksi rokok mengakibatkan 5% penggundulan hutan global, 30% penggundulan hutan di negara penanam tembakau, dan keruskan 200.000 hektar biomassa kayu setiap tahunnya. Konsumsi rokok juga mengakibatkan 4,5 trilliun puntung rokok dibuang setiap tahun di seluruh dunia, menyumbang 766 juta ton sampah beracun setiap tahun, 2 juta ton limbah padat dari kardus dan kemasan rokok, dan 19-38% sampah yang dikumpulkan dari pembersihan laut secara global berasal dari puntung rokok.

Temuan banyaknya sampah produk tembakau atau rokok di lingkungan bebas menunjukkan abainya tanggung jawab industri tembakau akan sampah hasil produksi mereka, padahal sebagai produsen seharusnya industri tembakau bertanggungjawab mengelola sampah produk mereka. Namun, dengan dalih membuat sistem untuk mengelola sampah produknya, industri tembakau malah berinvestasi dengan melakukan greenwashing untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kerugian lingkungan yang mereka timbulkan.

Bahkan dalam hal ini Koordinator Nasional GIDKP, Rahyang Nusantara menyampaikan bahwa pencemaran lingkungan ini tidak hanya berasal dari rokok tembakau biasa melainkan juga berasal dari limbah rokok elektrik, karena selain berbentuk sampah pelastik yang sangat sulit terurai rokok elektrik ini juga termasuk dalam sampah elektronik dan dikategorikan ke dalam sampah B3 (bahan, berbahaya, dan beracun).

Peneliti senior Ecoton Indonesia Eka Chlara Budiarti, juga menyatakan hal yang sama bahwa limbah puntung rokok ini tak dapat disepelekan karena di dalamnya mengandung mikroplastik dan berbagai macam zat kimia.

“Nyatanya pada tahun 2021 ada beberapa penilitian bahwa limbah dari puntung juga berpengaruh dan berdampak pada kesehatan tubuh kita, melalui degradasi limbah puntung rokok itu sendiri. Selain dari limbah kemasan berupa pelastik yang dinyatakan hanya dapat terurai sekitar 30 tahun di alam, di penghujung 2021 terdapat penilitan bahwa setidaknya dalam satu limbah puntung roko ini memiliki 15.600 helai fiber sintetis dan kandungan satu puntung rokok ini bahkan dapat mencemari 1000 liter air dan pastinya mengganggu lingkungan makhluk hidup yang ada di dalamnya” ujarnya.

Atas dasar itu semua, Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari yang juga sebagai penyelenggara sangat berharap masyarakat dapat memahami dan ikut peduli terhadap isu pencemaran lingkungan ini.

“Ya saya berharap dengan adanya Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi event dan kesempatan untuk kita meluaskan edukasi dan kolaborasi dengan berbagai komunitas, organisasi, media, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat, untuk terus mengajak masyarakat lainnya agar mulai peduli terhadap kesehatan lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan solusi yang tepat ialah kita harus sadar dan memulai, walaupun tidak dapat berhenti sepenuhnya, setidaknya mengurangi, jika tidak dapat teratasi seutuhnya, setidaknya tetap berusaha sedikit demi sedikit.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.