AksiKebaikan Perjuangkan Kawasan Tanpa Rokok di UIN Jakarta

AksiKebaikan Perjuangkan Kawasan Tanpa Rokok di UIN Jakarta

Reporter Chandra Hermawan; Editor Dani Zahra Anjaswari

Idayogyiiah JE 
Matikan rokokmu 
bersihkan kampus 
dari puntung rokok 
Hentikan sebatmu 
mari tobat 
bersamaku 
Wujudkan 
UIN Jakarta 1000/0 
Kawasan Tanpa Rokok 
Matikan 
rokokmu, mari 
wujudkan World 
Class University 
bersamaku 
Hentikan sebatmu, 
mari hebat 
bersamaku 
Kampus tanpa rokok 
adalah impian 
mahasiswa
Aksi kebaikan UIN Jakarta bersama peserta. (DNK TV/Zharfan Zahir)

Komunitas aksi kebaikan UIN Jakarta menggelar aksi bersama dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menegakkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang bertempat di Lobi Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta pada Rabu (18/5).

Aksi ini sudah digelar sejak tahun 2018, selanjutnya pada tahun 2019 digelar 2 kali, dan kembali digelar pada tahun 2022 setelah pandemi Covid-19 mereda. Aksi ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa dan organisasi di UIN Jakarta.

Ketua aksi kebaikan UIN Jakarta, Arya Saputra Ramadani mengatakan hal ini sesuai dengan Undang-Undang (UU) No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang terdapat pada pasal 115 untuk menjadikan kampus sebagai KTR.

“Mengingat UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal 115 mengatakan bahwa KTR itu salah satunya tempat belajar mengajar yaitu perguruan tinggi juga termasuk di dalamnya.”

Ia berharap agar aturan bukan hanya sebagai regulasi tetapi aturan harus ditegakkan. Selain itu, masalah rokok harusnya menjadi hal yang fatal dan mahasiswa yang melanggar seharusnya diberi sanksi berat.

“Jika mahasiswa merokok di kawasan kampus, seharusnya mendapat sanksi berat sebab kampus merupakan KTR,” ujarnya.

Regulasi terkait larangan merokok di UIN Jakarta sebenarnya sudah diatur dalam kode etik mahasiswa maupun kode etik dosen tahun 2019. Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis juga sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor B/990/R/HK.00.7/08/2019 tentang Larangan Merokok di UIN Jakarta namun implementasi di lapangan masih jauh dari harapan.

Dalam Term Of Reference (TOR) acara ditulis bahwa ada tiga tujuan dari kegiatan yang dilakukan yaitu :

  1. Meningkatkan pemahaman peserta tentang dampak negatif rokok bagi lingkungan, terutama lingkungan akademik di universitas.
  2. Meningkatkan kesadaran peserta tentang dampak negatif rokok bagi kesehatan holistik seorang mahasiswa.
  3. Memberikan pemahaman langkah praktis mengambil bagian dan bersuara demi kenyamanan bersama dalam menempuh pendidikan di lingkungan yang sehat dan terbebas dari rokok.
Pencarian puntung rokok di sekitar UIN Jakarta. (DNK TV/Zharfan Zahir)

Dalam menyampaikan advokasi, salah satu strategi yang dilakukan oleh komunitas aksi kebaikan ini adalah menyampaikan keluh kesah seperti KTR. Komunitas ini juga memberikan solusi salah satu solusi yang diberikan yaitu merekomendasi kepada rektorat untuk memperkuat kode etik mahasiswa.

“Selain sebagai perbaikan aksi regulasi, kami aksi kebaikan juga menawarkan untuk menjadi satgas KTR dengan tujuan dapat bersinergi bersama rektorat untuk mewujudkan KTR di UIN Jakarta,” tutur Arya.

Peserta aksi, Afifah Meliulia menuturkan harapan dari aksi ini yaitu dapat memberikan perubahan bagi mahasiswa yang merokok.

“Semoga dengan adanya aksi ini kita semua juga bisa membangun kesadaran seluruh ahasiswa dan memiliki kemauan agar sadar bahwa kampus itu bukan kawasan yang diperbolehkan untuk merokok,” kata Afifah.

Setelah kegiatan aksi ini dilaksanakan, aksi kebaikan UIN Jakarta berencana akan menyelenggarakan webinar sebagai sosialisasi mereka dengan target seluruh mahasiswa UIN Jakarta. Selain itu juga, mereka akan menghadap kepada rektorat dan jajaran wakil rektor untuk bertemu langsung dengan tujuan mengadvokasi urgensi KTR di UIN Jakarta.

Jurnal Studia Islamika UIN Jakarta Lima Besar Terbaik Asia

Jurnal Studia Islamika UIN Jakarta Lima Besar Terbaik Asia

Reporter Raeihan Ramadhan; Editor Ahmad Haetami

Postingan PPIM UIN Jakarta. (Instagram/@ppim_uinjakarta)

Jurnal Studia Islamika terbitan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta berhasil meraih peringkat Quartile (Q1) lima terbaik jurnal ilmiah terbaik kategori studi-studi keagamaan (religious studies) untuk kawasan Asia versi pemeringkatan Scimago Journal and Country Rank.

Scimago Journal dan Country Rank adalah portal penyedia informasi peringkat jurnal-jurnal ilmiah internasional juga negara-negara asal.

Peringkat Q1 yang diraih Studia Islamika ini berdasarkan sejumlah komponen yang diperoleh selama 2021-2022, di antaranya skor 10 pada komponen h-index dan 0,193 pada perhitungan indeks keterkutipan. Kedua nilai ini meningkat dibanding periode sebelumnya dengan skor 9 dan 0,149.

“Buat kami di Studia Islamika, pemeringkatan ini semata-mata hal administratif. Penting tapi bukan satu-satunya ukuran keunggulan sebuah jurnal. Studia Islamika jadi salah-satu jurnal terbaik berarti bahwa manajemen jurnal ini sangat baik dengan tingkat keterbacaan (readership) dan pengaruh yang juga sangat baik,” ujar Direktur PPIM UIN Jakarta, Ismatu Ropi, saat diwawancarai tim DNK TV melalui WhatsApp.

Artikel di jurnal Studia Islamika. (https://journal.uinjkt.ac.id/)

Menurut Ismatu Ropi, tujuan terpenting adalah bagaimana kualitas isi dan artikel yang ada di dalam jurnal menjadi rujukan utama dalam studi Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Studia Islamika terus berupaya menerbitkan artikel yang memiliki kebaruan (novelty) baik isi maupun pendekatan.

Pihak PPIM UIN Jakarta berharap UIN Jakarta bisa memberikan ‘uluran tangan’ karena selama kurun empat tahun terakhir tak ada alokasi anggaran atau bantuan teknis lain seperti yang dilakukan di universitas lain terhadap jurnal-jurnal terbaiknya.

“Studia Islamika mendapatkan peringkat yang baik tahun ini hampir bisa dikatakan karena kerja keras dan dedikasi manajemen editorial sendiri,” ucap Ropi.

Berdasarkan perolehan ini Studia Islamika konsisten dan berdedikasi tinggi sesuai dengan misinya, menjembatani kesenjangan kajian keislaman di Indonesia dan dunia.

Kabag Akademik: Camaba Sudah Bisa Cetak Kartu Seleksi Mandiri

Kabag Akademik: Camaba Sudah Bisa Cetak Kartu Seleksi Mandiri

Reporter Anggita Fitri Chairunisa; Editor Latifahtul Jannah

Jadwal Jalur Masuk SPMB Mandiri 2022. (instagram/@uinjktofficial)

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Jalur Mandiri merupakan salah satu jalur masuk UIN Jakarta yang diselenggarakan oleh UIN Jakarta melalui Sistem Seleksi Elektronik (SSE).

Penerimaan mahasiswa baru UIN Jakarta program S1 tahun akademik 2022/2023 telah dibuka pada tanggal 3 Mei-4 Juli 2022. Seleksi Mandiri UIN Jakarta menawarkan 56 program studi dari 12 fakultas yang ada dengan total kuota sebesar 1.849 kursi.

SPMB Mandiri terbuka untuk siswa lulusan SMA/MA/SMK/Pesantren tahun lulus ijazah 2022, 2021, dan 2020. Siswa yang diterima juga harus memiliki kesehatan prima dengan dibuktikan surat keterangan sehat dari rumah sakit atau puskesmas setempat.

Adapun biaya yang perlu dikeluarkan untuk mendaftar SPMB Mandiri UIN Jakarta adalah sebesar Rp300.000 yang dapat dibayarkan melalui bank mitra, seperti Bank Mandiri, BNI, BTN, dan Bank Mega Syariah.

Website SPMB Mandiri UIN Jakarta. (spmb.uinjkt.ac.id)

Melansir dari laman resmi UIN Jakarta, berikut tata cara pendaftaran SPMB Mandiri UIN Jakarta:

1. Pendaftaran seleksi mandiri dilakukan secara daring melalui laman https://www.uinjkt.ac.id/.

2. Klik admisi dan kemudian klik daftar dengan memilih SPMB UIN Jakarta serta kembali mengklik daftar.

3. Setelah terbuka, calon peserta selanjutnya terlebih dahulu memilih jenjang pendidikan, dalam hal ini dengan mengklik strata satu (S1).

4. Calon peserta mengisi formulir pendaftaran secara lengkap sesuai daftar kolom yang disediakan.

5. Setelah semua selesai diisi, calon peserta lanjut mengunggah pas foto digital terbaru ukuran 4×6 cm dengan ketentuan background berwarna merah, berpakaian resmi (bukan seragam sekolah), resolusi sekurang-kurangnya 400 x 600 pixels, dan ukuran file maksimum 200 KB dalam format JPEG.

6. Calon peserta mengklik atau mencentang warna kuning untuk mendapatkan kode bayar. Selanjutnya calon peserta membayar ke bank sesuai nominal dengan mengikuti tata cara pembayaran yang diatur oleh pihak bank.

7. Jika pembayaran berhasil dilakukan, calon peserta akan mendapatkan nomor ID dan PIN. Kode tersebut digunakan untuk login dan mengisi finalisasi pendaftaran.

8. Calon peserta mencetak kartu peserta dan kartu seleksi.

Kepala Bagian Akademik UIN Jakarta, Feni Arifiani memastikan bahwa cetak kartu peserta seleksi mandiri sudah bisa dilakukan pada Jumat (13/5).

“Tim information technology (IT) akan segera mempersiapkan, sehingga dipastikan Jumat besok peserta yang telah mendaftar seleksi mandiri sudah bisa mencetak kartu ujian,” ujar Feni.

Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, banyak calon peserta seleksi mandiri yang mengeluh karena tidak bisa mencetak kartu ujian setelah melakukan pengisian formulir pendaftaran.

Menanggapi hal tersebut, panitia PMB meminta maaf atas adanya gangguan dalam proses pendaftaran SPMB Mandiri. Feni akan terus berkoordinasi dengan tim IT agar calon peserta secepatnya dapat mencetak kartu ujian yang tertunda.

Feni menegaskan untuk calon peserta yang tidak bisa mencetak kartu ujian namun telah melakukan pendaftaran dan pembayaran tidak perlu khawatir datanya akan hilang. Calon peserta tidak perlu mendaftar ulang karena data yang telah diinput akan tetap terekam.

Salah satu peserta SPMB UIN Jakarta tahun 2021, Symphati Diva Rafi’I mengatakan bahwa dalam pelaksanaan seleksi mandiri perlu dipersiapkan lebih matang, mengingat kerap kali terjadi kendala server.

“Pas daftar sih nggak ada kendala, lancar-lancar aja, tapi pas tes berlangsung servernya sempat down. Ke depannya dipersiapkan lebih matang aja, apalagi buat servernya, supaya pas ngerjain gak tiba-tiba blue screen,” pungkasnya pada Kamis (12/5).

Seleksi Mandiri UIN Jakarta 2022 akan dilakukan pada 23-28 Juli 2022 secara daring melalui aplikasi UM-PTKIN yang dapat diunduh pada 15 Juli 2022.

Sebelum ujian berlangsung, peserta akan terlebih dahulu mengikuti ujian simulasi atau uji coba SSE pada 20-21 Juli 2022. Sementara pengumuman kelulusan akan dilakukan pada 5 Agustus 2022 mendatang.

Sebagai Bentuk Duka Cita, Fdikom Gelar Tahlil dan Doa Bersama

Sebagai Bentuk Duka Cita, Fdikom Gelar Tahlil dan Doa Bersama

Reporter Alda Wahyuni; Editor Dani Zahra Anjaswari

Gin 
Syarli }11t-lgppUIJÈ1h 
FIDKOMUINJakarta 
KejLlE1rtJËj FilklllÈ13 LIE1kb'E1h llrrju KorrjurjikE13j 
merjgucgjpl„grj turut 
j) Prot. Dr. ArrjÈ1rry Lubls, AA 
UI" }litlayatl.llbh Jakarta) 
PerrE1rjdu 
Dra }Jj. BIA 
Meeting 974 7276 0954 
Passcode: tahlilan 
zoom 
Dra BIL13i 
, r h Nur
Flyer pengumuman tahlil dan doa bersama. (dok. Istimewa)

Kabar duka datang dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta. Salah satu dosen kebanggaan Fdikom, Khodijah telah berpulang ke rahmatullah. Kepergian almarhumah membawa duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, serta seluruh dosen dan mahasiwa Fdikom.

Acara tahlil dan doa bersama diselenggarakan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah. Acara dilakukan secara virtual yang diikuti oleh Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, Dekan Fdikom, Suparto, staf akademik, dan mahasiswa Fdikom. Turut hadir pula keluarga almarhumah dalam acara yang dilaksanakan pukul 19.30 WIB ini.

Illustrasi pembacaan ayat Al-Quran. (Freepik/@freepik)

Dalam acara tahlilan dan doa bersama ini, Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis menuturkan bahwa almarhumah adalah sosok yang sangat peduli dengan mahasiswa dan mahasiswinya untuk menghafal Al-Qur’an. Salah satu sahabat almarhumah yang juga merupakan dosen Fdikom, Mastanah memberi kesaksiannya. Dirinya bersaksi dengan mengatakan bahwa almahrumah adalah wanita shalihah, wanita yang baik, teman yang baik, selalu memberikan motivasi untuk kebaikan, dan secara pribadi beliau merasa kehilangan.

Tausiyah yang dibawakan oleh Muhammad Zen, mengingatkan kembali mengenai kematian yang memang sudah ditakdirkan dan menjadi pembelajaran bagi semua umat manusia. Zen juga menjelaskan bawah ilmu yang diberikan atau diajarkan oleh para dosen seperti almarhumah, akan selalu mengalir kepada mahasiswanya. Dalam hadits nabi dijelaskan bahwa, walaupun seseorang telah meninggal dunia seperti halnya almarhumah, tetapi jika mahasiswanya masih membaca Al-Qur’an seperti yang selalu di ajarkan almarhumah, maka pahalanya akan selalu mengalir dari ilmu yang bermanfaat tersebut.

Ungkapan turut berduka cita dan belasungkawa terus diberikan kepada pihak keluarga almarhumah. Pihak keluarga juga berterima kasih atas diselenggarakannya acara tahlilan dan doa bersama tersebut. Mereka berharap semoga partisipan yang dapat hadir dalam acara tersebut senantiasa diberikahi oleh Allah SWT.

Moderasi Islam di Mata Dunia

Moderasi Islam di Mata Dunia

Reporter Haidar Akbar; Editor Belva Carolina

Sambutan acara oleh Wakil Dekan Fdikom UIN Jakarta, Siti Napsiyah. (DNK TV/Haidar Akbar)

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menggelar webinar internasional berjudul “Islamic Moderation As Worldview” melalui Zoom Cloud Meeting pada Senin (9/5).

Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fdikom UIN Jakarta, Siti Napsiyah, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya, Director of Graduate Program Washington University, Aria Nakissa, dan Direktur Pusat Studi Perdamaian dan Pemberdayaan, Rosita Tandos yang dimoderatori oleh Dosen UIN Jakarta, Wahyunengsih.

Thank you very much for the community for your effort to connect this event. So, of course I hope everybody can join this webinar. Maybe we can still invite our students. I think, i just observed the participants story. Because we have two speakers here and we will have so many knowledge information, stories of we’ll hear from the speakers“, ujar Siti Napsiyah dalam sambutannya.

Seminar internasional ini merujuk pada pembahasan mengenai pandangan dunia terhadap moderasi Islam. Seperti yang kita ketahui berbicara mengenai moderasi Islam adalah hal yang sangat kompleks. Dimana di dalamnya terjadi berbagai perdebatan sejarah yang cukup panjang selama kurang lebih dua abad. Moderasi Islam bukanlah sesuatu yang hanya dibicarakan di Indonesia, melainkan dibahas pula di Amerika Serikat, Prancis, Cina, dan negara lain.

Terdapat beberapa cara dalam memahami moderasi Islam. Misalnya dalam konteks Cina dimana beberapa budaya Cina mengalami asimilasi seperti, membangun sebuah masjid yang di atasnya memiliki semacam kubah atau menara yang terlihat seperti kuil. Adapun contoh pertentangan yang terjadi pada moderasi Islam. Seperti dalam konteks Prancis yang pada saat itu mengharuskan orang-orang untuk tidak mengenakan jilbab di sekolah atau area publik.

Pemaparan materi oleh Aria Nakissa. (DNK TV/Haidar Akbar)

Aria Nakissa menyampaikan bahwa jika kita merujuk pada ayat-ayat ummatan washatan atau melihat buku-buku tentang teologi, mereka tidak banyak membahas tentang moderasi Islam. Karena terjadi banyak perdebatan atau diskusi kontemporer tentang moderasi Islam yang muncul pada periode modern dan dalam konteks tertentu.

What i’d like to do with today’s talk is clarify the complex context in which debates over Islamic moderation emerge. So one element one dimension that i want to focus on might be called the conceptual context. So in reality, when we talk about Islamic moderation and slink to kind of three important projects that characterize moslem countries in the modern period or moslem societies,” jelasnya.

“When i say moslem societies in the modern period, i basically mean moslem societies over the past 200 years. So one project is islamic reform,” lanjut Aria Nakissa.

Pandangan lain adalah ketika pemerintahan Eropa sedang memajukan proyek pembangunan, membuat perundang-undangan baru, mendukung hak asasi manusia, serta terdapat juga hal yang bertentangan dengan dunia muslim.

Reaksi dari berbagai kelompok muslim terhadap beberapa hal tersebut inilah yang mereka sebut sebagai fanatisme. Dimana umat muslim cenderung mempertahankan pemahaman tradisional tentang syariah dan juga cenderung menganut jihad sebagai jalan mempertahankan bentuk kehidupan mereka.

Maybe you have doubts about let’s say LGBT rights that’s going to be debated issue in society. They will talk about legalizing all drugs, like for instance legalizing things like cocaine and heroin. So, there would be many groups in Indonesia that will say, okay i can see the we should change our laws to some, but were you too legalize drugs in the Indonesian context, that would go too far. So these are ongoing debates. So even the kind of law that exists in the west are changing and moslem in Indonesia, in Egypt and other places are always trying to grapple with the question of how much should they adapt and how much they resist for the sake of preserving their traditions,” ucapnya.

Pada akhirnya, pengertian moderasi ini tidak memiliki dasar yang pasti dalam Al-Qur’an dan hadits, tetapi cara moderasi Islam didefinisikan oleh berbagai pihak yang mempelajari bagaimana hal itu terkait dengan agenda pembangunan, sejarah, dan bagaimana asal muasal sesuatu. Kita harus menempatkan segala sesuatu dalam kerangka politik global yang lebih besar serta yang telah menjadi ciri masyarakat muslim selama dua abad terakhir.

Buruknya Kebebasan Persma: Ungkap Fakta, LPM Institut Malah Alami Intimidasi

Buruknya Kebebasan Persma: Ungkap Fakta, LPM Institut Malah Alami Intimidasi

Reporter Akhmad Fattahul Rozzaq; Editor Belva Carolina dan Fauzah Thabibah

Ilustrasi kebebasan pers yang terancam. (pixabay.com/@CDD20)

Tindakan intimidasi yang dialami oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut berawal dari penerbitan berita berjudul “Dosa Besar Senior Predator Seks” yang terbit pada Senin (18/4). Liputan tersebut merupakan kolaborasi #ButuhKampusAman inisiasi Project Multatuli bersama 22 Pers Mahasiswa se-Indonesia dengan melakukan reportase mengenai kasus kekerasan seksual di kampus.

Pihak Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia yang merasa dirinya tertuju pada isi berita merasa keberatan sehingga menghubungi LPM Institut untuk meminta menurunkan berita tersebut. Pihak redaksi LPM Institut sendiri mengakui kesalahan terkait tahap peliputan yang terlewat, yaitu tidak adanya verifikasi dan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak terkait serta telah meminta maaf atas kesalahan tersebut.

“Mereka (KPA Arkadia) menyampaikan keberatannya, mereka mengatakan bahwa LPM Institut belum konfirmasi karena  menyebutkan nama mereka di pemberitaan, kemudian kami meminta maaf karena kurang verifikasi. Setelah itu mereka meminta berita itu segera di-take down. (Namun) untuk fakta (berita), kami sudah ada data yang valid dan kita menyimpan bukti-buktinya,” ujar Hany Fatihah Ahmad Ketua LPM Institut dalam Konferensi Pers pada Kamis, (28/04) via zoom meeting.

Kemudian pihak LPM Institut menawarkan adanya pertemuan untuk membahas penyelesaian masalah dengan terbuka dengan melayangkan hak jawab maupun hak koreksi ke pihak Redaksi Institut.

Dalam pertemuan negosiasi hak jawab di Sekretariat LPM Institut yang terletak di Gedung Student Center (SC) Lantai 3 Ruang 307 UIN Jakarta pada Selasa (19/4), pihak KPA Arkadia justru melakukan intimidasi, pihak LPM Institut diminta untuk menandatangani perjanjian antara LPM Institut dengan UKM tersebut yang berisi penurunan berita pukul 15.00 WIB serta menerbitkan unggahan permintaan maaf.

Ilustrasi kebebasan pers. (pngtree.com/@bdtaskgraphic)

Pada konferensi pers Kamis, (28/4) pihak LPM Institut menuturkan bahwa ada beberapa senior atau alumni dari KPA Arkadia yang memberikan bentakan atau ucapan intimidasi. Seperti “Jangan nyari popularitas dengan cara seperti ini, Allah nggak akan ridho“, “Lihat risiko yang kamu ambil, nanti kalo ada anak KPA merusak sekretariat ini, saya tidak bisa nanggung“, dan “Saya sumpahin kalian semua nggak lulus“.

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, Ade Wahyudin mengaku memang ada laporan dari LPM Institut pada Selasa sore (19/4). Merespon tindakan yang dilakukan KPA Arkadia, Ade menerangkan bahwa pihak LBH Pers melakukan langkah dengan merespon cepat hal tersebut untuk menjaga keselamatan para anggota LPM Institut. 

Sebagai langkah awal, Ade memeriksa ulang naskah berita tersebut untuk menghindari pelanggaran kode etik dan menjalankan aspek hukumnya. Selanjutnya, ia menghubungi pihak yang berafiliasi dengan organisasi terkait untuk mempermudah tahap mediasi lanjutan.

Ade menerangkan bahwa yang dilakukan pihak KPA Arkadia kategori pelanggaran sensor. Sensor merupakan sebuah penghapusan paksa sebagian maupun seluruhnya terhadap kegiatan jurnalistik.

“Ketika ada upaya paksa, tekanan untuk menurunkan sebuah liputan itu bisa bagian dari sensor dan itu adalah sebuah pelanggaran berat dalam kasus-kasus pers,” terang Ade dalam Konferensi Pers pada Kamis, (28/4).

Akibat banyaknya kalimat intimidasi yang diterima, pihak LPM Institut akhirnya memutuskan untuk menurunkan berita terkait, Selasa (19/4). Namun, tidak hanya sampai di situ, pihak organisasi KPA Arkadia juga memaksa dan menekan LPM Institut untuk mempublikasikan permintaan maaf yang juga telah diterbitkan oleh LPM Institut atas intimidasi tersebut.

Bahkan, pada Sabtu (23/4), salah satu pengurus LPM Institut dikirimi pesan dari orang yang mengaku sebagai anggota KPA Arkadia dan bertanya apakah berita dengan judul “Dosa Besar Senior Predator Seks” tersebut ditunggangi pihak tertentu atau tidak.

Pengurus LPM Institut mengatakan bahwa berita yang dibuat tidak ditunggangi oleh siapapun dan sepenuhnya adanya laporan.

Akhirnya pada Rabu (27/4), LPM Institut kembali menerbitkan berita tersebut dengan mengubah judul berita menjadi ‘’Nestapa Nisa : Usai Dilecehkan, Kisahnya Diremehkan;  Si Peleceh Diskors Setahun’’. Berita tersebut pun telah diperbarui dengan wawancara yang lebih mendalam dari berbagai pihak.

Eksistensi Mahasiswa dalam Gerakan Lingkungan dan Kesiapsiagaan Bencana

Eksistensi Mahasiswa dalam Gerakan Lingkungan dan Kesiapsiagaan Bencana

Reporter Zakiah Umairah; Editor Belva Carolina

Bukf»er Sallif)if 
• —en-finaran 
si"d dalqm 
Sera 
kunggn
Diskusi interaktif sedang berlangsung dihadiri oleh narasumber beserta moderator. (Dok. Kegiatan Diskusi Interaktif dari KMPLHK Ranita UIN Jakarta)

Memburuknya kondisi bumi saat ini mendorong masyarakat untuk bergotong royong dalam memulihkannya kembali. Dalam memperingati Hari Bumi dan Hari Kesiapsiagaan Bencana pada April lalu, KMPLHK Ranita UIN Jakarta menggelar diskusi interaktif bersama narasumber yaitu Climate Rangers, Fathan Mubina dan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Achmad Lukman yang bertajuk “Peran Mahasiswa dalam Gerakan Lingkungan dan Kebencanaan”, pada Jumat (22/04) bertempat di Aula Madya UIN Jakarta.

Diskusi tersebut didasari oleh peran mahasiswa sebagai agent of change agar dapat berkontribusi dalam membangun gerakan lingkungan dan kebencanaan di Indonesia.

Segala bentuk kekayaan yang ada di bumi ini merupakan tanggung jawab masyarakat di seluruh dunia. Peringatan Hari Bumi ini menurut Climate Rangers, Fathan Mubina dapat menjadi momentum untuk kembali menyadarkan masyarakat. Peran pemuda harus saling berkontribusi untuk bahu membahu meningkatkan kualitas bumi sehingga perbuatan manusia yang merusak bumi dapat segera dituntaskan. Adanya kesempatan ini pun dapat menjadi evaluasi bagi seluruh masyarakat untuk membuat agenda tahunan mengenai target spesifik dalam perubahan lingkungan.

“Mahasiswa perlu terlibat aktif dalam forum-forum besar untuk menyampaikan gagasan-gagasan perubahan yang relevan dengan lingkungan dan masyarakat,” ucap Fathan.

Save the planet concept Free Vector
Ilustrasi masyarakat bahu membahu menjaga bumi. (Freepik.com/@Freepik)

Pembahasan mengenai peran mahasiswa dalam kegiatan sosial ini akan selalu dikaitkan dengan upaya membawa perubahan yang nantinya akan berdampak pada generasi selanjutnya.

“Melalui gerakan kecil tersebut harapannya dapat berbuah menjadi dampak besar yang akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” terang DMC DD, Achmad Lukman.

Pada diskusi tersebut, beliau pun setuju terkait partisipasi mahasiswa yang harus ditingkatkan lagi dalam aspek kesiapsiagaan bencana, melalui gerakan kecil untuk membangun suatu hal yang besar dan membuktikan bahwa peran mahasiswa sangatlah besar.

Ketua Umum Ranita 2022, Abdul Jabar memiliki pandangan yang sejalan dilihat dari salah satu inovasinya untuk menyelenggarakan diskusi interaktif tersebut untuk membentuk wadah bagi masyarakat. Dengan begitu, setiap kegiatan yang akan direncanakan akan saling bersinergi dan meluas bagi para penggiat lingkungan dan kebencaaan dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Semarak 32 Tahun, Fdikom Gelar Serangkaian Kegiatan

Semarak 32 Tahun, Fdikom Gelar Serangkaian Kegiatan

Reporter Adinda Shafa Afriasti; Editor Syaifa Zuhrina

Sharing session oleh dekan dan wakil dekan dalam perayaan milad Fdikom ke-32. (DNK TV/Adinda Shafa Afriasti)

Dalam rangka memperingati hari lahir yang ke-32, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan berbagai rangkaian acara pada Selasa (26/4). Mulai dari kegiatan sharing session, kegiatan perlombaan antar mahasiswa Fdikom sampai buka puasa bersama.

Kegiatan dibuka dengan opening ceremony dan sharing session bertema “32 Tahun Fdikom Berdiri: Refleksi Historis dan Pendidikan” yang dilaksanakan di ruang teater lantai 2 gedung Fdikom dengan narasumber Dekan Fdikom, Suparto, Wakil Dekan (Wadek) Bidang Akademik, Siti Napsiyah serta Wadek Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya. 

Dalam sambutannya, Suparto memaparkan adanya kegiatan ini menunjukkan bahwa Mahasiswa Fdikom peduli dengan fakultas, karena menurutnya kepedulian merupakan modal utama kemajuan bangsa.

Wadek Bidang Akademik, Siti Napsiyah menuturkan bahwa tema yang diusung pada perayaan tahun ini sebagai ajang refleksi historis untuk tidak melupakan sejarah berdirinya Fdikom.

“Sudah saya sampaikan bahwa dahulu Fakultas Dakwah adalah hasil pemekaran dari Fakultas Ushuludin. Ini sebagai contoh bahwa milad ini perlu menjadi ajang refleksi historis sejarah berdirinya Fakultas ini,” jelasnya.

Ketua Umum Senat Mahasiswa (Sema) Fdikom, Safira Febby Ayu memaparkan sambutannya dengan harapan kedepannya agar mahasiswa lebih mengimplementasikan kegiatan akademik dan non akademik.

“Semoga ke depannya mahasiswa lebih bisa mengimplementasikan lagi kegiatan akademik serta kegiatan non akademiknya, dan semoga ormawa yang nantinya dilantik menjadi pengurus baru dapat menuntaskan perkuliahannya dengan baik di samping kegiatan organisasinya,” tuturnya Febby.

Perlombaan ranking 1 sebagai salah satu rangkaian acara perayaan milad Fdikom. (DNK TV/ Adinda Shafa Afriasti)

Salah satu serangkaian ajang perlombaan yakni lomba MTQ, ceramah, dan Ranking 1 yang diikuti beberapa Mahasiswa Fdikom. Panitia mewajibkan setiap jurusan untuk mengirim perwakilan dalam tiap mata lomba.

Meskipun dalam perencanaan yang singkat, Ketua Pelaksana Banu Naqueb mengaku bahwa kegiatan berjalan cukup memuaskan.

“Pelaksanaan dari perencanaan hingga hari H masih terbilang memuaskan, meski saat perencanaan kurang dalam segi waktu karena perencanaan sendiri mendadak dari pihak penanggung jawab acara. Antusias mahasiswa Fdikom juga cukup besar, terus bertambah seiring berjalannya acara,” ucap Banu saat diwawancarai langsung oleh Reporter DNK TV pada Selasa (26/4).

Salah satu Mahasiswa Fdikom yang berpartisipasi dalam perlombaan, Aulia Damayanti mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman baru baginya.

“Seneng karena bisa ikut perlombaan Ranking 1, terlebih ini dalam acara merayakan milad Fdikom, harapannya semoga Fdikom lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya dan dapay menjadi fakultas unggulan di UIN Jakarta,”.

Ia juga berharap mahasiswa Fdikom dapat lebih berinovasi kembali dan terus berkarya agar bisa mengharumkan nama fakultas.

Kemudian kegiatan perayaan milad ini ditutup dengan acara buka bersama serta pembagian hadiah yang dilakukan oleh panitia dan para pemenang lomba.

Problematika Pendakwah Kian Terjadi

Problematika Pendakwah Kian Terjadi

Reporter Sifa Sevia; Editor Belva Carolina

Zoom Meeting 
U n mute 
P 
'Kei 
Alvia Azhar 
% Alvia Azhar 
Recording 
Henri 
Start V ideo 
o 
DNK TV Sifa sevia M... 
R9Jab Ritonga 
atiwi 
Asp. KG m 
uu•uø arbi V 
Reactio ns 
Apps 
32cc Cerah O 
View 
F9dhila 
185 
Participants 
Share Screen 
10:39 am 
25-Apr-22
Pemateri Problema Pelaksanaan Penyiaran dan Perundang-undangan di Indonesia, Henri Subaiakto memberikan materi melalui Zoom Meeting. (DNK TV/Sifa Sevia)

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fdikom UIN Jakarta menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Hukum dan Undang-Undang Penyiaran di Indonesia” secara virtual melalui Zoom Meeting pada Senin (25/4).

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB dihadiri oleh Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto yang merupakan pemateri “Problema Pelaksanaan Penyiaran dan Perundang-undangan di Indonesia” dan Profesor Ilmu Komunikasi di Institut Komunikasi dan Bisnis London School of Public Relations Jakarta, Rajab Ritonga yang merupakan pemateri “Problema Pendakwah dan Materinya dalam Penyiaran di Indonesia”.

Zoom Meeting 
Reco 
rd Ing 
P 
ASP 1 K" m 
armawati arbi 
DNK TV Sifa sevia M... 
pan Otomatis 
File Beranda 
Sisipkan Gambar 
Rajab Ritonga 
STUDIUM GENR.. 
Desain 
Transisi 
Animasi 
Peragaan Slide 
Nurul Fadhila 
Rekam Peninjauan 
Tampilan 
iÉllya Pratiwi 
Bantuan 
AGUS HS- IBI K... 
AGUS HS- 181 KOSGO... 
@ Rekam gagikan 
Tempel 
klip 
6 
slide 7 dan 14 
o 
Atur Ulang 
slide 
gam v 
Slide 
Klik untuk menambah catatan 
IngYis (merika Aksesibilitas' Sélidiki 
gentuk Atur 
Gayd 
Ganti v 
Pilih 
Diktekan 
Efek Bentuk 
PROBLEMATIKA PENDAKWAH 
upendakwah di media 
Seseorang bisa jadi 
"Dali" bila punya 
follower, subscriber, 
atawviewer banyak 
Mereka menjadi 
tempet ruiukan dari 
persoalan agama 
Varga digital padahal 
ilmunya belum tentu 
memadai (Humeira, 
2021 ) 
•MARAH SU 
310 
C 
Kabut O 
10:25 am 
25-Apr-22
Materi yang disampaikan oleh Rajab Ritonga melalui Zoom Meeting. (DNK TV/ Sifa Sevia)

Rajab Ritonga menjelaskan bahwa pendakwah merupakan komunikator dan bukanlah provokator.

“Pendakwah sebetulnya komunikator bukan provokator, bukan mau memanas-manaskan situasi kondisi atau keadaan ya, seharusnya begitu,” ujar Rajab dalam kuliah umum.

Ia juga mengatakan bahwa komunikasi massa berkaitan erat dengan teknologi, begitupun dengan pendakwah. Dengan begitu, problematika pendakwah saat ini adalah pendakwah yang menjadi selebriti.

“Karena memang sejak awal komunikasi massa itu kaitannya erat dengan komunikasi, sejak pertama kali ditemukan mesin cetak oleh Gutenberg sampai sekarang itu selalu terkait dan mengubah lingkungan masyarakat serta penggunaannya, termasuk di sini adalah penggunaan dakwah,” ucapnya.

Saat ini banyak pendakwah di media sosial hanya dengan memiliki banyak pengikut dan penonton dapat dijuluki sebagai dai.

“Dia bisa saja menjadi dai, dengan catatan dia memiliki followers, punya subscriber, punya viewers yang banyak dia tiba-tiba menjadi dai,” tambahnya.

Tasyakuran Milad Fdikom ke-32 jadi Momentum Refleksi dan Evaluasi

Tasyakuran Milad Fdikom ke-32 jadi Momentum Refleksi dan Evaluasi

Reporter Syahrul Rachmat; Editor Belva Carolina

Sambutan Dekan Fdikom UIN Jakarta, Suparto dalam tasyakuran milad Fdikom ke-32. (DNK TV/Syahrul Rachmat)

Dalam rangka memperingati milad yang ke-32 tahun, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta mengadakan tasyakuran di ruang teater lantai 2 Fdikom pada Senin (25/4) yang dihadiri oleh dosen dan para staf Fdikom.

Acara ini berjalan dengan lancar dengan adanya dukungan dari banyak pihak seperti sumbangan dari para dosen hingga Baznas, kemudian kontribusi DNK TV, RDK FM, Kontras, dan lain sebagainya.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan Dekan Fdikom UIN Jakarta, Suparto, dilanjutkan dengan pembagian seserahan hingga sesi hiburan yang ditampilkan oleh Lembaga Semi Otonom (LSO) Kontras.

Dekan Fdikom, Suparto mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya tasyakuran adalah momentum untuk merefleksi dan mengevaluasi pencapaian untuk menciptakan perubahan-perubahan baru.

“Kita harus menciptakan momentum, refleksi diri, evaluasi, dan bersyukur atas segala pencapaian dan prestasi yang telah kita raih dan kita juga mengingat usia fakultas yang sudah 32 tahun, kira-kira sudah terjadi perubahan apa saja dalam 32 tahun ini,” ujar Suparto.

Mengevaluasi kekurangan akan menjadi hal baik dalam menemukan program kerja kedepannya. Suparto juga berharap agar Fdikom dapat maju di segala aspek.

“Fdikom lebih mampu berkiprah pada segala aspek, baik akademik maupun non akademik. Lalu pada aspek layanan akademik dan layanan masyarakat,” tambahnya.

١١ 
ك
Pemaparan ceramah oleh Kepala Laboratorium, Zakaria. (DNK TV/Syahrul Rachmat)

Berdasarkan Pernyataan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa tingkat fakultas (DEMA-F), Musa Adhe Chandra bahwa tasyakur ini merupakan unjuk rasa syukur atas produktivitas dan eksistensi dalam birokrasi baik horizontal maupun vertikal yang masih terjaga dan seimbang.

“Acara ini berjalan dengan lancar secara sederhana untuk memperingati hari lahirnya Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi,” ujar Musa.

Musa berharap Fdikom dapat menjadi lebih baik dimana adanya kesalahan dan evaluasi yang dapat diperbaiki untuk ke depannya.