Rewind Indonesia 2021, Netizen: Terharu

Rewind Indonesia 2021, Netizen: Terharu

Reporter Diva Raisa Zananda; Editor Aulia Gusma Hendra

Poster Rewind Indonesia 2021
Sumber: Warta Sidoarjo

Tiap tahun mulai dari tahun 2014, konten kreator Indonesia membuat satu video yang berisi kumpulan-kumpulan peristiwa yang viral pada tahun tersebut.

Pada tahun ini, Rewind Indonesia 2021 disutradarai oleh Chandra Liow dan Aulion,  mempersembahkan Rewind Indonesia 2021 yang dikemas dalam bentuk video performance.

Berdurasi sepanjang 20 menit. Didalam video performance ini Rewind Indonesia 2021 juga menggambarkan berbagai prestasi anak bangsa yang diperolah pada tahun ini. Rewind Indonesia 2021 menampilkan artis, kreator, atlet, hingga tokoh yang penting dan ikonik sepanjang tahun ini untuk memberikan edukasi dan pesan penting dari berbagai peristiwa tersebut.

Tema Rewind Indonesia tahun ini bernuansa hutan ditambah dengan paduan suara. Adinia Wirasati sebagai Ibu pertiwi, sangat mendalami perannya. Serta para youtuber lain yang meragakan sesuai konten yang mereka kuasai.

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fdikom UIN Jakarta Hendry Hermawan mengaku sudah menonton YouTube Rewind ini. Ia berpendapa isi dari video performance ini, Rewind Indonesia 2021 menggambarkan tahun 2021 yang penuh dengan tren dan peristiwa baru yang terjadi di Indonesia, mulai dari pendidikan dan lingkungan hingga peran anak muda dalam perubahan dan kemajuan.

Video Performance Rewind Indonesia 2021
Sumber: YouTube/ Indonesian YouTubers

“Bisa kita lihat pula bahwa Rewind Indonesia 2021 salah satunya menggambarkan kondisi hari ini yang dibenturkan dengan pandemi, sehingga berbagai permasalahan dan solusi kerja keras dihadirkan dalam film tersebut, mulai dari tim medis yang mencoba bekerja keras untuk menjaga dan membangkitkan pasiennya dengan diiringi lagu “Ibu Pertiwi” yang membuat saya terharu”  Ujar Hendry.

Para netizen Indonesia puas akan karya Chandra Liow, Aulion dan tim lainnya. Video ini baru diunggah kurang dari 24 jam dan sudah mencapai angka 4 juta penonton di YouTube.

Voice of Baceprot: Band Metal Asal Garut yang Mendunia

Voice of Baceprot: Band Metal Asal Garut yang Mendunia

Reporter Diva Raisa Zananda; Editor Tiara  Juliyanti Putri

Member Voice of Baceprot
Sumber: medcom.id

Voice of Baceprot (VOB) atau “Baceprot” yang berarti berisik dalam bahasa sunda, tersusun dari tiga perempuan yang sebaya, yaitu Firdda Marsya Kurnia sebagai vokal dan gitar, Euis Siti Aisyah sebagai pemain drum, dan Widi Rahmawati sebagai pemain bass.  Mereka memulai perjalanan musiknya sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTS) yang dipersatukan oleh ekskul teater di sekolahnya.

Pada awalnya ketika di kelas, Siti suka memukul meja seakan akan itu alat musik perkusi, dialuni nyanyian dari Marsya. Karena tindakan kedua gadis tersebut mereka sering dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) yang kerap dipanggil Abah oleh mereka bertiga. Keluar masuk BK membuat Siti, Marsya, dan Widi semakin akrab dengan Abah, karena abah melihat ada potensi dari mereka bertiga kemudian tiga gadis tersebut belajar bersama perihal musik yang didampingi oleh Abah, dimulai dari ketidak tahuan tentang musik sampai menjadi hebat seperti sekarang.

Pernah mereka bertiga sedang melihat-lihat laptop Abah dan menemukan lagu Toxicity oleh Band Heavy Metal, System of a Down. Dari lagu itu mereka bertiga mencoba untuk meng-cover lagu itu dan merasa cocok memainkan lagu ber-genre metal. Dari situ mereka menyusun Band ber-genre metal yang dinamakan VOB pada tahun 2014.

Tahun 2015 mereka viral di YouTube membawakan lagu Rage Against The Machine yang membuat mereka semakin dikenal orang-orang. Setelah itu mereka juga meng-cover lagu Slipknot, Metallica, dan Red Hot Chilli Peppers, yang diunggah ke sosial media.

Orang tua ketiga gadis tersebut tidak setuju dengan mereka memainkan alat musik bergenre nge-rock, keluarganya lebih menginginkan mereka bertiga menjadi anak santriwati pada umumnya. Tetapi sejak mereka tayang di salah satu televisi tanah air keluarga ketiga gadis tersebut yakin kalau memang ini passion mereka.

Debut Single pertama mereka diciptakan pada 2018 yang bernama School Revolutions yang mencapai 1,1 juta penonton di YouTube, dan lagi single terbaru mereka adalah God Allow Me (Please) to Play Music (2021) yang baru saja di rilis 3 minggu yang lalu dan sudah mencapai hampir 600 ribu penonton di YouTube.

VOB bermain di LokaLaku Festival, Garut 2019.
Sumber: Instagram-@voiceofbaceprot

Dalam unggahan terbarunya di Instagram Voice of Baceprot (VoB) mengeluarkan pengumuman bahwa VoB akan melakukan tur musiknya di 8 kota Eropa di akhir tahun 2021. Sebelumnya VoB sudah mengumumkan bahwa mereka terpilih untuk tampil di acara Wacken Open Air 2022, Jerman.

Sering kali mereka mengikuti konser online maupun offline, pernah juga konser di bangkok secara offline. VOB akan manggung di salah satu Festival Band Metal terkenal yaitu Wacken di Eropa, yang dihadiri salah satu band metal ternama dan yang menginspirasi VOB, Slipknot. Mereka juga dikabarkan akan mengadakan tour seputar Eropa yang dinamakan “Fight Dream Believe: European Tour 2021” di 8 kota di 4 negara yaitu Belgia, Belanda, Prancis, serta Swiss.

Salah satu mahasiswa UIN Jakarta yang tergabung dalam Komunitas Kreasi dan Seni Musik (Kontras) mengaku kagum pada VOB.

“Saya salut dan sangat mengagumi mereka (VOB)  karena grup band ini berani tampil beda dengan hijab serta musiknya yang cukup menggugah. Saya juga sering melihat grup band ini di sosial media dan platform lainnya seperti TikTok dan Instagram.”

Kabar Baik! Film Lokal Naik Kancah Internasional

Kabar Baik! Film Lokal Naik Kancah Internasional

Reporter Ilham Balindra; Editor Tiara De Silvanita

Poster Film Seperti Dendam Rindu Harus Terbayarkan
Sumber: Instagram-@sepertidendamfilm

Toronto International Film Festival (TIFF) ke-46 memasukkan film asal Indonesia “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” pada kategori Contemporary World Cinema.

TIFF adalah Festival Film yang diadakan setiap tahunnya  di Kanada sejak 1976. TIFF ke-46 sendiri berlangsung dari tanggal 9-18 September 2021

Berangkat dari novel Eka Kurniawan, film ini menceritakan tentang pria bernama Ajo Kawir yang mencari maskulinitas karena masalah dalam dirinya yakni impotensi.

Edwin yang menjadi sutradara dalam film  ini namanya sudah malang melintang di perfilman Indonesia. Sebelumnya Ia pernah menjadi sutradara terbaik di Festival Film Indonesia 2017 dengan film berjudul “Posesif” dan masuk nominasi dalam kategori yang sama di tahun berikutnya dengan film “Aruna dan Lidahnya”.

Mahasiswa UIN Jakarta, Asep Sopian yang juga pengulas film dalam youtube Nontonlagi Channel berpendapat bahwa tidak mengherankan film ini masuk dalam festival-festival internasional, mengingat  film tersebut digarap oleh sutradara handal seperti Edwin .

“Untuk masuk TIFF terus Locarno Festival itu susah banget, buat masuk ke sana sebagai official selection saja susah, banyak persyaratan, filmnya juga harus benar-benar bagus. Berarti film ini sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya,” ujarnya.

Sebelum mengumumkan bahwa film ini masuk dalam TIFF, dalam laman Instagram @sepertidendamfilm juga masuk dalam ajang Locarno Film Festival yakni festival film yang digelar secara tahunan di Swiss sejak 1946.

Pada Locarno Film Festival, film ini mendapatkan Golden Leopard yang diberikan kepada tim terbaik dalam kompetisi Concorso Internazionale.