Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Penulis Abu zar Al Ghifari; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Pada masa sekarang tidak sedikit mahasiswa yang mengalami ruminasi dan overthinking. Apasih ruminasi dan overthinking itu? Apa perbedaan di antara keduanya?

Overthinking merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan bercabang karena selalu dihantui oleh rasa cemas, takut, merasa bersalah, dan tidak percaya diri.

Sedangkan ruminasi merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan berulang. Jadi, ruminasi itu merupakan kelanjutan dari overthinking. Mengutip dari physchology today dalam istilah psikologi, ruminasi adalah salah satu kesamaan antara kecemasan dan depresi. Suatu kondisi perenungan atau merenungkan hal yang sama berulang-ulang.

Seseorang yang mengalami overthinking cenderung mengalami kesulitan ketika akan melakukan langkah ke depan. Ia akan sulit menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya karena selalu terbayang-bayang dengan kejadian di masa lalu yang belum usai. Bukan hanya itu, ia juga takut akan terjadi kejadian yang sama di masa depan.

Sedangkan, orang yang mengalami ruminasi cenderung mengalami stressor. Stressor adalah berbagai macam permasalahan hidup yang dialami manusia yang mengakibatkan stres. Seseorang yang mengalami ruminasi cenderung memiliki trauma secara fisik maupun mental. Orang yang mengalami ruminasi ketika menghadapi masalah lebih memilih merenungi masalah tersebut tanpa ada jalan keluar.

Dampak negatif jika seseorang mengalami keduanya, yaitu selalu mengalami kecemasan, kurangnya percaya diri, setiap mencari solusi selalu dengan cara merenung, dan imun tubuh pun mengalami penurunan karena stres.

Setelah mengetahui penjelasan singkat tentang ruminasi dan overthinking dan apa saja dampak buruk yang akan terjadi jika mengalaminya secara terus-menerus, maka ada cara agar dapat menghadapi ruminasi dan overthinking itu sendiri. Berikut langkah-langkah untuk mengatasi keduanya:

1. Evaluasi dalam memecahkan masalah

Cara ini dapat dilakukan pertama kali oleh diri sendiri, yakni dengan mengintropeksi diri dan jujur kepada diri sendiri apa yang sedang dirasakan. Dengan seperti itu dapat berpikir jernih dan mengambil langkah yang tepat.

2. Cari rumah untuk berkeluh kesah

Maksud dari “rumah” di atas ini adalah seseorang yang dijadikan tempat berbagi cerita dan sebagai pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita kita. Dengan bercerita, harapannya agar dapat memperluas pandangan seperti itu dan dapat memperluas pikiran serta masalah yang dimiliki.

3. Fokus sama hal yang bisa dikontrol

Fokus terhadap suatu hal yang bisa dilakuin oleh diri sendiri contohnya seperti pemilihan outfit untuk kumpul bersama teman, jangan terlalu memikirkan penilaian orang bagaimana terhadap apa yang sedang kita pakai, bersikaplah bodo amat terhadap penilaian mereka yang tidak membangun

4. Keluar dari lingkungan toxic

Lingkungan sangatlah mempengaruhi kehidupan seseorang, jika orang tersebut berada di lingkungan yang toxic, maka orang tersebut akan selalu mengalami ruminasi dan overthinking karena lingkaran pertemanannya tidak memberikan solusi.

5. Menghadapi masalah satu

Orang yang mengalami ruminasi dan overthinking cenderung sulit untuk menemukan sebuah jalan keluar dalam menyelasaikan permasalahannya secara fokus pada satu permasalahan. Ia sudah memikirkan masalah lain, padahal masalah sebelumnya belum terselesaikan.

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya kebiasaan overthinking ini, salah satu mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta, Syifa Rahma Kurnia memaparkan tanggapannya terkait kebiasaan overthinking yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang yang positif maupun negatif.

Overthinking merupakan sinyal was-was terhadap sesuatu. Bisa dikatakan overthinking adalah kegiatan yang menjurus ke hal negatif sehingga kebiasaan overthinking akan menciptakan kebiasaan buruk seperti tidak percaya diri, mencari alasan untuk menyerah, menyalahkan orang lain, dan tidak bersyukur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bawah kebiasaan overthinking tidak selalu buruk, menurut Syifa Rahma kita juga penting untuk overthinking agar punya sinyal tersendiri. Tapi, tetap hal yang dibiasakan kemudian dilebih-lebihkan tidak akan baik begitu juga dengan overthinking.

Tidak sedikit dari mahasiswa yang mengalami overthinking dalam menjalani perkuliahannya. Faktor keuangan menjadi salah satu alasan para mahasiswa mengalami overthinking, di mana para mahasiswa banyak yang menginginkan sebuah pekerjaan sambil melaksanakan perkuliahan. Alasan utama mengapa melakukan kuliah sambil kerja yaitu agar meringankan beban orang tua.

Apalagi para mahasiswa yang merantau dan jauh dari orangtua, pastinya akan sering mengalami overthinking. Mengatur keuangan agar tidak boros untuk bertahan hidup merupakan overthinking yang dialami para mahasiswa perantau. Saling mencemaskan keadaan antara orang tua dan anak, apakah baik-baik saja atau tidak dan keduanya memiliki rasa rindu dan segera ingin bertemu.

Gaya Hidup Frugal Living Atasi Gaya Konsumtif Mahasiswa

Gaya Hidup Frugal Living Atasi Gaya Konsumtif Mahasiswa

Penulis Fathiah Inayah; Editor Syaifa Zuhrina

DOES 
IFRUGAL MEAN 
POOR?
Ilustrasi frugal living. (Freepik/@freepik)

Mungkin frugal living merupakan istilah yang masih termasuk kata asing untuk sebagian kalangan. Sejak pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari 2 tahun, membuat pendapatan masyarakat menurun hingga kehilangan pekerjaan. Hal tersebut memaksa sebagian orang untuk menghemat agar bisa bertahan hidup dengan aman serta tenang. Salah satunya dengan menerapkan gaya frugal living.

Apa itu frugal living?

Mengutip dari Wealthsimple seorang Advisor Forbes, Zina Kumok memaparkan bahwa frugal living merupakan bentuk sadar akan pengeluaran dan fokus pada prioritas yang ada. Mereka yang menerapkan frugal living bukan berarti pelit dengan diri sendiri atau orang lain, melainkan sikap dimana seseorang dapat memprioritaskan kebutuhan serta menahan keinginan yang tidak bermanfaat.

Mayoritas masyarakat berstigma bahwa frugal living sama dengan gaya hidup minimalis, pelit atau kikir. Namun, pada praktiknya sangat berbeda. Gaya hidup minimalis hanya membeli barang yang dibutuhkan serta memperhatikan nilai barang tersebut dengan tidak memikirkan harga barang, sedangkan gaya hidup frugal living lebih memperhatikan kepada prioritas.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) beranggapan bahwa sikap pelit dengan hidup berhemat sama sekali tidak sama. Dengan berhemat maka secara tidak langsung menunda keinginan untuk mempersiapkan masa depan. Konsep ini diterapkan oleh beberapa tokoh dunia yaitu Warren Buffett, Ed Sheeran, Lady Gaga, dan juga jajaran bintang figur Indonesia seperti Raditya Dika, Cinta Laura, dan yang lainnya. Baginya gaya hidup tersebut dapat membuat mereka memiliki harta berlimpah.

• xooq-c.r. 
-o 
"000 
1 .ooo 
3-000 
5000 
G .czo 
000 
0. 
3 
3000 
10000 
10 • 
' 3000 
I $•CldÖ 
00 30 
Apro 
v ooo 
e•ooo 
ts•ooo 
»ooo 
3G oo 
49,000 
.000 
GG.ooo 
91000 
600 
: to 
ON elo 
10 
13 
30 
\ 6C:oo 
000 
*000 
000 
»ooo 
30 000 
•OOO 
goo •ooo 
3 
OGOoo
Ilustrasi cara menabung dan mengatur keuangan. (Instagram/@rusnaa_na)

Gaya hidup ini sangat tepat diterapkan di masa pandemi khususnya bagi mahasiswa yang ingin mengatur keuangan dengan cermat, baik, dan sehemat mungkin. Tentunya ini sangat mudah diterapkan dan mampu dilakukan oleh siapa saja termasuk mahasiswa yang belum memiliki penghasilan aktif.

Bagaimana caranya?

Salah satu public figure, Sheryl Sheinafia bersama Danang Suryonegoro yang juga menerapkan gaya hidup tersebut berbagi sudut pandang mengenai tips memulai hidup frugal living dalam tayangan YouTube CXO Media.

Frugal living dapat direalisasikan dengan mengatur ekspektasi atas kepemilikan yang kita punya dengan menabung dan berinvestasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan, mengamati pengeluaran melalui aplikasi pengelola keuangan, mengatur uang makan agar tidak melebihi batas, membeli barang yang diinginkan dengan memanfaatkan diskon, menjual barang yang sudah tidak digunakan, serta cerdik memilih transportasi yang murah dan aman.

Beberapa tips tersebut dapat dilakukan dengan mudah khususnya untuk mahasiswa. Belajar secara perlahan dan berproses untuk mengubah gaya hidup kita yang konsumtif menjadi gaya hidup frugal living. Selain mengajarkan untuk mampu mengatur pengeluaran, hal tersebut juga membantu perencanaan dalam jangka panjang. Ingat bahwa hidup itu tidak hanya hari ini, pastikan masa depanmu aman serta sudah tertata.

Lebih dari Separuh Manusia di Belahan Dunia Mengidap Imposter Syndrome, Apa Itu?

Lebih dari Separuh Manusia di Belahan Dunia Mengidap Imposter Syndrome, Apa Itu?

Penulis Muhammad Muklas; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi sesorang mengalami depresi. (Pixabay)

Ada berbagai hal yang dapat dilakukan agar kesehatan mental bisa tetap terjaga. Untuk itu, perlu mengenal kondisi diri yang mungkin dialami seiring berjalannya waktu. Jangan sampai hanya memahami kata ini sebagai kondisi mental yang terguncang hingga layak dimasukan ke dalam rumah sakit.

Gangguan mental memiliki makna yang sangat luas, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, dan lain sebagainya. Beberapa jenis gangguan mental sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Hal ini membuat dampak terhadap kehidupanya jadi tidak terkontrol.

Remaja sekarang mungkin sering pernah merasa tidak percaya diri selalu overthinking dalam hidupnya ataupun kesehariannya. Hal ini mungkin bisa jadi merupakan salah satu pertanda jika seseorang terkena imposter syndrome.

IMPOSTER 
SYNDROME
Ilustrasi animasi imposter syndrome. (Pixabay)

Apa itu imposter syndrome? Bagaimana sesorang mengidapnya dan apa fakta dari sindrom ini?

Istilah imposter syndrome pertama kali digunakan oleh Suzanna Imes dan Pauline Rose Clance pada tahun 1970-an, Singkatnya imposter syndrome merupakan sindrom orang palsu atau ketidakpercayaan terhadap diri sendiri.

Secara umum imposter syndrome adalah kondisi di mana seseorang selalu merasa tidak pantas mendapatkan pencapaiannya apa pun dalam hidupnya dan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri, memiliki rasa takut yang terus-menerus terinternalisasi sebagai “penipuan” kondisi ini akan terus menghantui si pengidap imposter syndrome, jika sesorang mengetahui kekurangannya dan membuat si pengidap selalu minder akan pencapaiannya.

Faktanya sebuah penelitian orang yang mengidap syndrome ini adalah orang yang paling sering meraih kesukseskan dan berprestasi hal ini merujuk pada 82% orang di dunia mengalami imposter syndrome dalam hidupnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan imposter syndrome bisa dialami oleh siapa pun tanpa memandang status sosial, latar belakang pekerjaan dan tingkat kealihan tertentu.

Beberapa ciri-ciri dan karakteristik seseorang mengidap imposter syndrome, yaitu :

  • Sering meragukan diri sendiri dengan apa yang diperbuat.
  • Overthinker yang terus-menerus.
  • Ketidakmampuan untuk menilai kompetensi dan keterampilan diri secara realistis.
  • Mengaitkan kesuksesan diri dengan faktor eksternal.
  • Merasa tidak puas dengan kinerja diri sendiri.
  • Ketakutan bahwa diri tidak bisa memenuhi harapan dan ekspetasinya.
  • Terlalu berprestasi dan bersemangat melakukan kerja keras.
  • Menetapkan tujuan yang sangat menantang dan merasa kecewa saat gagal.

Salah satu pengidap imposter syndrome adalah pemeran Ms. Marvel yaitu Iman Vellani yang mengaku merasa canggung saat wajahnya terpampang di poster iklan film barunya itu.

“Bagi saya, saya adalah satu-satunya orang yang pakai kostum, yang memakai kostum superhero, sedikit menakutkan. Semua orang akan melihatmu saat mengenakan kostum berbahan spandex yang mengilap. Agak terasa sedikit terintimidasi dan merasa tidak nyaman,” ungkap Imam dikutip dari Kompas (8/6).

Beberapa pengidap biasanya mengatasi syndrome ini dengan tahap-tahap jangka lama dengan memulai mengenal diri sendiri dan merasa nyaman akan semua hal tidak terlalu memporsikan diri yang berlebih sehingga merasa diri tertekan jauh-jauh dari hal tersebut.

Kesenjangan Zaman Antar Generasi Tua dan Muda

Kesenjangan Zaman Antar Generasi Tua dan Muda

Penulis Tubagus Muhammad Bintang Lazuardi; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi baby boomers dan Gen Z. (Freepik/@freepik)

Semakin bertambahnya usia zaman, semakin banyak lintas generasi tercipta. Pernahkah kamu mendengar istilah Baby Boomers dan Gen Z? Belakangan ini sedang ramai saling memandang rendah antara Baby Boomer dan Gen Z atau bisa disebut perang antar-generasi.

Tidak seperti namanya yang terdengar muda, orang yang lahir pada generasi ini merupakan orang yang lahir pada kurun tahun 1946 hingga tahun 1960. Generasi ini disebut Baby Boomers juga bukan tanpa sebab, kebanyakan orang yang lahir pada masa ini lahir setelah Perang Dunia II. Sering memandang Gen Z ialah generasi yang tidak menjalani hidup dengan keras dan terlihat malas, sebab mereka merasa tidak perlu effort besar lagi untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Tentunya hal ini berbeda dengan generasi Boomers.

Seperti diketahui, masyarakat kita memang hidup dengan pola yang berbeda dari generasi ke generasi. Setelah muncul istilah Gen Z dan generasi milenial, kini muncul istilah baru yakni strawberry generation atau generasi stroberi. Istilah generasi stroberi pada awalnya muncul di Taiwan. Generasi stroberi merupakan generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Para generasi stroberi memiliki kreativitas dan ide-ide yang sering kali out of the box. Sayangnya, informasi-informasi yang diterima terlalu cepat dan memberikan pengaruh kepada mereka berupa self diagnosis yang kurang tepat. Itulah mengapa kebanyakan dari generasi ini sering mengeluh butuh healing, butuh liburan, dan lain sebagainya.

Tantangan dari generasi stroberi sendiri sulit dicapai secara mental. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, generasi ini digambarkan sebagai stroberi yang lembut dan mudah dihancurkan. Tanpa kehadiran dan bimbingan yang tepat, generasi ini dapat dengan mudah menyerah dan putus asa. Hal ini disebabkan keterbiasaannya dalam mendapatkan suatu pencapaian dengan mudah, sehingga apabila ia tidak mencapai pencapaian lainnya maka akan mudah goyah disebabkan belum terbiasa gagal.

Pakar University of Southern California, Alexis Abramson mengatakan pada masa Baby Boomers terdapat persaingan ketat dalam sebuah proses perjuangan hidup para generasi Boomers sehingga membuat mereka merasa sangat dominan.

“Kecenderungan kompetitif pada Baby Boomer kemungkinan disebabkan banyaknya individu yang lahir pada generasi ini, sehingga mereka harus bersaing ketat untuk mendapatkan tempat di masyarakat,” ucapnya.

Gen Z yang merasa dipandang rendah akhirnya memberikan counter terhadap stigma yang diberikan oleh generasi Boomers seperti generasi yang sudah kelewat zaman atau tidak open minded.

Gen Z yang lahir kisaran 1990 hingga 2010 ini berada pada zaman di mana teknologi sudah sangat maju dibanding pada zaman generasi Boomers sehingga apa yang mereka lakukan lebih mudah ketimbang yang dilakukan generasi Boomers pada saat itu.

Free Vector | Hand drawn multitask business woman illustrated
Ilustrasi kesibukan Gen Z. (Freepik/@freepik)

Faktor yang memengaruhi perang antar generasi yaitu perbedaan zaman, kondisi ekonomi, dan pola pikir. Hal inilah yang membuat mereka terlihat sangat santai, sehingga timbulah kesenjangan antar-generasi. Di mana teknologi yang tidak merata antar zaman.

Menurut laporan Pew Research Center pada 14 Februari 2019, kehidupan milenial saat ini berbeda dari generasi sebelumnya. Pew Research Center sendiri adalah wadah pemikir nonpartisan Amerika Serikat (AS) yang berpusat di Washington, D.C. Pusat penelitian ini merilis informasi tentang tren isu sosial, opini publik, dan demografi di AS maupun dunia.

Dari sisi karier, milenial dihadapkan pada semakin sedikitnya lapangan kerja akibat resesi ekonomi AS pada 2008. Dari sisi penghasilan, penghasilan milenial lebih rendah bila dibandingkan dengan Baby Boomers. Pew menyatakan bahwa pada 2016 penghasilan rata-rata milenial berusia 20-35 tahun sebesar 171 ribu rupiah sementara Baby Boomers meraih pendapatan 296 ribu rupiah pada 1983 di rentang usia yang sama.

Soal rumah, milenial adalah pihak yang paling terkena dampak buruk resesi ekonomi. Mereka rata-rata tidak mampu membeli rumah dan masih tinggal bersama orang tua. Tak hanya itu, mereka juga cenderung menghabiskan waktu di rumah.

Kaum milenial juga cenderung tidak buru-buru untuk berkeluarga. Data Pew menunjukkan bahwa prosentase milenial berusia 25-37 yang menikah hanya 46%. Sementara persentase Baby Boomers yang menikah pada rentang usia tersebut adalah 67%.

Sekalipun sudah menikah, pasangan milenial pun cenderung menunda untuk punya anak.

Tak usah heran. Mereka yang menyatakan “Ok Boomers” adalah pihak yang ingin agar orang-orang tua berpemikiran lebih terbuka dan lebih memiliki rasa empati terhadap anak-anak muda yang hidupnya tidak seenak mereka ketika muda.

Maka sebaiknya kita perlu mengingatkan kepada para generasi yang lebih muda agar lebih kuat dalam menghadapi kenyataan dan tidak larut dalam satu pintu kegagalan, karena masih banyak pintu-pintu kegagalan lainnya yang patut dicoba.

Dalam hal ini perlu adanya kesadaran bahwa setiap generasi memiliki zamannya masing-masing dan tidak bisa disamaratakan antara generasi yang satu dengan yang lain. Jika terfokus terhadap hal yang sia-sia tersebut, alangkah lebih baiknya jika antar generasi saling berkolaborasi agar saling memberi kontribusi sehingga dapat menjadi solusi agar kesenjangan antar generasi tidak terjadi lagi.

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Sadfishing : Tren Pamer Kesedihan di Sosmed, Apa Kata Mahasiswa?

Penulis Annisa Nahwan Shafira; Editor Syaifa Zuhrina

Ilustasi sadfishing. (Pinterest/@healthline)

Tren pada sosial media ternyata dapat menjadi ajang pamer kesedihan, yang mana hal tersebut dibuat menjadi suatu yang berlebihan agar penonton merasa iba, istilah ini disebut sadfishing.

Sadfishing merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang dalam menunjukkan masalah emosional mereka secara berlebihan untuk membangkitkan simpati pada orang lain.

Namun, hal ini tidak selalu mendapat respon yang baik dari para pembaca atau pengikut yang melihatnya, bahkan tren ini dapat menimbulkan cyber bullying yang justru membuat orang tersebut menciptakan rasa kurang percaya diri (insecure) terhadap masalahnya dan dapat merugikan kesehatan mental. Oleh karena itu, istilah tersebut sebenarnya dapat dihindari dengan melakukan beberapa opsi lain dalam mencurahkan isi hati, baik itu menceritakannya pada orang tua, sahabat atau ahli psikologi.

Ilustrasi media sosial. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya istilah sadfishing, salah satu Mahasiswi Jurnalistik UIN Jakarta, Diva Putri Cahyadi memaparkan perlunya berhati-hati dalam bersosial media terlebih lagi dalam menceritakan kisah pribadi yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang pembaca yang positif maupun negatif.

“Media sosial itu bukan tempat yang baik untuk mencurahkan isi hati atau permasalahan, sebab media sosial itu bersifat umum yang semua orang bisa mengetahuinya, dan takutnya menjadi masalah semakin besar, bukannya mengundang simpati malah menjatuhkan harga diri,” ujarnya saat diwawancarai oleh Reporter DNK TV pada Selasa (7/6).

Namun tidak sedikit yang memiliki perspektif sebaliknya, seperti tanggapan Mahasiswa lain, Fathia Rachmawati yang menganggap bahwa sudah menjadi hak semua orang dalam membagikan apapun di sosial media milik pribadi serta kebebasan dalam mengekspresikan diri.

“Karena curhat di medsos itu juga menjadi hak kita, kita bebas untuk mengekspresikan diri di sana. Kalau ada orang yang berkomentar macam-macam atau menanggapi hal-hal negatif, ya cuekin aja atau kalau memang tidak suka bisa kita blokir akun tersebut,” Imbuh Fathia kepada tim DNK TV.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian orang melontarkan curhatan hanya untuk sekadar berbagi cerita (sharing) bukan untuk mencari perhatian, serta perlunya berhati-hati dan peduli terhadap dampak dari perbuatan yang dilakukan.

Normalkah Mahasiswa Begadang?

Normalkah Mahasiswa Begadang?

Penulis Fathiah Inayah; Editor Latifahtul Jannah

Ilustrasi mahasiswa begadang. (Freepik/@freepik)

Mahasiswa yang selalu akrab dengan kata begadang, mengerjakan tugas kuliah maupun organisasi biasanya menjadi alasan. Sudah menjadi suatu kebiasaan yang susah dihilangkan, padahal dapat berdampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental.

Banyak stigma mahasiswa menormalisasi begadang, dianggap sudah menjadi rutinitas mahasiswa, dan tidak ada salahnya.

Menurut Mahasiswa UIN Jakarta, Syafitri Nur mengatakan bahwa begadang adalah hal normal sebagai mahasiswa karena memasuki fase pendewasaan.

“Pandangan aku mengenai hal tersebut ya aku menormalisasikannya, karena kita sebagai mahasiswa sudah mulai memasuki fase pendewasaan, dimana istirahat tidak boleh terlalu berlebihan, tokoh-tokoh pemimpin bangsa juga banyak yang tidur hanya 3-4 jam. Jadi menurut saya hal itu tidak apa-apa, asal jangan sama sekali tidak istirahat,” ujar Syafitri kepada Tim DNK TV.

Namun, sayangnya menormalisasi begadang berbahaya, apalagi sampai menjadi habit atau kebiasaan. Dalam penelitian Tel Aviv University mengatakan bahwa seseorang kurang tidur akan mengakibatkan aktivitas sel saraf di otak akan menurun.

Sel saraf atau neuron ini sangat penting untuk kita berpikir. Jadi sel saraf ini bertugas untuk mengantarkan informasi dari satu tempat ke tempat yang lain di otak kita, jika kurang tidur sel saraf ini akan merespon lebih lambat dalam mengantarkan impulse, hal ini akan mengganggu kinerja otak kita. Akhirnya lemot, telat mikir, tidak fokus, dan sebagainya.

Dampak negatif begadang juga dibuktikan oleh CTO dan CEO Spacex, sekaligus arsitek Tesla mengatakan bahwa ketajaman pikirannya berkurang kalau ia kurang istirahat.

Walaupun sudah tau realita, masih banyak mahasiswa yang seolah tidak menerima dan menganggap sepele begadang dengan berbagai alasan, mulai dari tugas organisasi, kebiasaan bahkan juga merasa produktif dan bisa fokus hanya di tengah malam.

“Karena di malam hari saya merasa lebih fokus dalam mengerjakan tugas-tugas saya,saya merupakan orang yang gampang terdistraksi lingkungan atau orang-orang di sekitar yang secara tidak langsung membuat fokus saya buyar dan akhirnya tidak jadi mengerjakan tugas, dan waktu dari pagi hingga sore saya habiskan dengan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya,” ujar Syafitri Nur yang juga merupakan Anggota RDK FM UIN Jakarta.

Berbeda dengan Syafitri, Mahasiwa UIN Jakarta, Nurul Lutfia yang aktif organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) mengatakan, ia terpaksa begadang karena tuntutan rapat dan tugas untuk acara yang akan diadakan dari organisasi.

“Karena pada pagi hingga sore, saya ada kesibukan lain seperti ada kelas, membantu beres-beres rumah, dan masih banyak kegiatan yang dilakukan pada pagi hingga sore hari, sehingga hanya ada waktu pada malam hari untuk rapat dan mengerjakan tugas organisasi sehingga begadang merupakan salah satu jalannya,” ungkap Nurul.

“Tapi dengan begadang menurut saya bisa dibilang kurang efektif. Karena pada malam hari seharusnya digunakan untuk istirahat sehingga dampak yang saya rasakan aktivitas pada pagi hari menjadi tidak fokus dan menjadi tidak produktif,” tutup Nurul.

Ilustrasi mahasiswa begadang. (Freepik/@freepik)

Fatalnya bukan hanya sekedar begadang, ada juga yang mempersiapkan diri bedagang dengan kopi atau makanan cepat saji.

Menurut Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Dzakiyyatul Atiqoh mengatakan dengan begadang membuat kesehatan fisik kurang baik bahkan juga kesehatan mental pun terganggu.

“Pandangan saya mengenai begadang untuk kesehatan fisik, kurang baik, karena kebanyakan mereka yang begadang melakukan sebuah persiapan yakni meminum kopi, jika dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan penyakit hipertensi atau darah tinggi. Kemudian ketika kita begadang, kita merasa lapar di tengah malam kemudian memilih makan mie instan dan itu kurang sehat, makanan cepat saji tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi pada tubuh, dan menyebabkan naiknya berat badan. Kemudian bagi kesehatan mental, begadang bisa membuat pikiran mudah lelah, sehingga membuat pikiran rentan depresi dan gangguan cemas,”ujar Dzakiyyatul.

Selain itu menurut Dzakiyyatul Atiqoh karena seringnya begadang bisa membuat kita insomnia.

Insomnia adalah gejala awal gangguan tidur di mana selalu sulit bagi seseorang untuk tertidur atau bangun terlalu dini. Salah satu penyebab insomnia adalah stres. Maka dari itu, pemicu stres ini bisa jadi dialami mahasiswa karena tuntutan akademik, penilaian sosial, manajemen waktu, penyelesaian tugas organisasi yang memancing respons terhadap stresor psikososial atau tekanan psikologis.

Begadang atau tidak sebenarnya adalah pilihan, pilihan yang berdampak bukan hanya sekarang tetapi juga di umur senja nanti. Jika ditelusuri secara mendalam tidur sesuai jadwal bukan membuat tidak produktif, malahan nugas ataupun kerja sampai lupa tidur yang malah bikin kita tidak produktif.

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Dandy Aulia mengatakan bahwa tidak ada hubungan batasan tidur dengan cara kita mengerjakan tugas atau belajar.

“Menurutku ini cuma selera, sih. Tidur dibatesin buat apa? Sekalipun data statistik menunjukkan ada hubungan, tapi ini bukan jadi suatu temuan yang harus dijadiin kewajiban. Nyatanya pada beberapa metode belajar efektif (konteks mahasiswa) lain seperti misalnya pomodoro atau Feynmann yang nggak tekankan sisi lama belajar,” ujar Dandy.

Menurut Dandy Aulia, kita tidak bisa meratakan jam tidur pemimpin bangsa dengan kita, karena berbeda dengan kita justru sebagian perkerjaan yang memang mengharuskan ia tidak tidur bahkan menginginkan tidur.

“Saya menolak ini sebagai hal yang normal. Pemimpin bangsa jelas ada di level yang berbeda, dan nggak semua manusia ada punya kecerdasan memimpin yang seperti mereka. Kita belum lagi membahas tentang satpam yang jaga malam atau nelayan yang justru berlayar di malam hari dan mereka justru mengidamkan tidur,” tegas Dandy.

Perlu diketahui, begadang dapat meningkatkan resiko penyakit seperti diabetes, obesitas, hipertensi, bahkan penyakit jantung. Oleh sebab itu, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Menormalisasi begadang bukan suatu jalan yang tepat, karena bagaimanapun secara tidak langsung begadang benar-benar mempengaruhi produktivitas saat pagi dan juga kesehatan. Mungkin dampak besar nya bukan sekarang tetapi nanti. Jadi berhenti sebelum tidak ada pilihan selain berbagai penyakit menghantui.

Rayakan Idulfitri dengan Amalan Rasulullah, Apa Aja sih?

Rayakan Idulfitri dengan Amalan Rasulullah, Apa Aja sih?

Penulis Syaifa Zuhrina

Makanan khas saat lebaran. (Freepik/@ikarahma)

Setelah berpuasa satu bulan penuh, tentu umat muslim di seluruh dunia bersuka cita menyambut datangnya hari kemenangan. Yap, hari raya Idulfitri. Biasanya orang-orang di Indonesia berbondong-bondong untuk pulang ke kampung halamannya, berbelanja baju baru di Tanah Abang atau membuat ketupat dan kue nastar sebagai ikon lebaran. Lebih dari itu, sebenarnya Idulfitri memiliki sunah-sunah yang dapat dikerjakan oleh seluruh umat muslim, loh. Apa aja sih?

1. Takbiran

Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk melantunkan takbir dimulai sejak malam sebelum shalat Idulfitri berlangsung. Biasanya ini dilantunkan dari beberapa masjid atau dengan pawai obor mengelilingi kampung.

2. Mandi sebelum shalat Idulfitri

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Dan dari Amdullah bin Abbas Radiyallahu Anhuma, ia berkata, bahwasanya Nabi SAW mandi pada hari Idulfitri dan Idul Adha.” (HR Ibnu Majah)

Maka dari itu, perlunya kita mandi, berhias diri, dan memakai pakaian terbaik sebelum beranjak ke masjid untuk shalat Ied, Guys. Jangan lupa untuk membaca niat sebelum mandi sunah Idulfitri yaitu “Nawaitul ghusla sunnatan li ‘idil fithri lillahi ta’ala“.

3. Makan sebelum shalat Idulfitri

Selain dianjurkan untuk mandi sunah, kita juga disunahkan untuk makan sebelum berangkat shalat Idulfitri. Terkait makanannya dibebaskan, namun dalam sebuah hadits disebutkan Rasulullah menganjurkan untuk makan kurma dalam jumlah yang ganjil.

Hadits Imam Bukhari yang dikutip At Tabrizi “Rasulullah SAW tidak pergi untuk melaksanakan shalat Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya ganjil.” (HR. Bukhari).

Silaturahmi saat lebaran. (Freepik/@odua)

4. Memilih rute berbeda ketika pergi dan pulang dari masjid

Amalan sunah selanjutnya yakni umat muslim dianjurkan untuk memilih jalan berbeda ketika pergi dan pulang dari masjid. Hal ini bertujuan sebagai ajang silaturahmi antar kerabat dan lainnya. Kita bisa membagi kebahagiaan bersama orang-orang yang kita temui di jalan dengan memberi sapa dan salam, Guys.

5. Bersilaturahmi dan saling mengucapkan selamat

Berkunjung ke sanak saudara merupakan tradisi saat Idulfitri yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Selain itu, satu sama lain dianjurkan untuk saling megucapkan “Taqabbalallahu Minna Wa Minkum” yang artinya semoga Allah menerima amalan kami dan kalian.

Ternyata banyak ya amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah kepada umatnya saat menyambut hari raya kemenangan. Jangan lupa untuk selalu diterapkan agar kita menjadi umat terbaik Nabi Muhammad SAW, aamiin.

Ngabuburit Anti Mainstream yang Wajib Kamu Coba!

Ngabuburit Anti Mainstream yang Wajib Kamu Coba!

Penulis Latifahtul Jannah

Waktu istimewa sudah mulai datang, tentu umat muslim di dunia menyambutnya Ramadan dengan senang.Dimomen bulan suci Ramadan, ngabuburit adalah salah-satu aktivitas khasnya. Ngabuburit versi kamu bagaimana?

Ternyata ngabuburit berasal dari kata dalam bahasa Sunda, burit yang menggambarkan waktu pada sore hari saat matahari mulai terbenam. Memang, istilah ini akhirnya dikenal pada bulan puasa untuk menggambarkan waktu sebelum berbuka.

Jika kita tilik lebih dalam lagi, sebenarnya ngabuburit secara harfiah tidak ada hubungannya dengan bulan puasa, loh. Namun, tradisi kumpul-kumpul pada sore hari di Jawa Barat selama bulan puasa yang menjadi alasan di balik ngabuburit identik dengan bulan Ramadan.

Agar ngabuburit kamu makin berfaedah, berikut adalah 3 aktivitas seru yang tentunya bermanfaat bagi kamu dan orang lain.

1. Belajar bahasa asing dari film 

Ilustrasi menonton film. (Unsplash.com)

Agar waktu tidak terasa lama, kamu bisa mencari hiburan dengan menonton film favoritmu. Selain hiburan, kamu bisa mengasah kemampuan dengan menonton film berbahasa asing saat ngabuburit. Metode ini cukup efektif bagi sebagian orang, Guys.

Di era arusnya globalisasi sekarang, bahasa asing seperti Bahasa Inggris secara tidak langsung menjadi kebutuhan karena digunakan untuk berkomunikasi lintas negara. Ada banyak film dan series asal luar negeri yang dapat kamu tonton secara gratis ataupun berbayar. Lebih disarankan untuk menonton film religi, ya.

2. Wisata religi

Ilustrasi wisata religi. (Unsplash.com)

Jalan-jalan di sekitar komplek atau nongkrong di café pasti sudah sering kamu lakukan. Nah, DNK People bisa mencoba kegiatan baru dengan cara berwisata religi dengan menjelajahi masjid-masjid besar di daerahmu untuk ngabuburit yang lebih bermakna. Biasanya, setelah salat Ashar juga banyak dilakukan kegiatan keagamaan seperti kajian dan tadarus di masjid. Jadi menambah semangat ibadah kamu, kan?

3. Ikut volunteer

RAMADHAN 
BERANI 
BERBAGI 
#ReIawanRamadhan 
1438 H 
Daftarkan dirimu segera di:
Pendaftaran relawan Ramadan. (indorelawan.org)

Di bulan Ramadan, setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala dengan mencapai sesuatu yang bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan takjil gratis atau mengunjungi panti asuhan terdekat. Bagi kamu yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, kamu bisa mencoba kegiatan bermanfaat untuk sesama yang anti mainstream yaitu dengan menjadi volunteer atau sukarelawan, Guys.

Selain bermanfaat bagi yang membutuhkan, berinteraksi dengan orang baru dan melakukan hal-hal yang baik dapat mengatasi stres yang kerap DNK People rasakan, loh. Ini akan berpengaruh baik pada kondisi psikologis kamu, termasuk dapat meredakan rasa jenuh dan penat karena stres.

Menu Sahur yang Wajib Dicoba Anak Kos

Menu Sahur yang Wajib Dicoba Anak Kos

Penulis Latifahtul Jannah

Susu dan pisang (Unsplash.com)

Selalu ada cara unik untuk anak kos bertahan di tanah rantau, salah satunya saat sahur di bulan suci Ramadan, makanan yang praktis dan mudah disajikan, sering kali menjadi pilihan.

Namun belum lengkap jika kata “hemat” yang identik dengan anak kos, belum menyertai menu tersebut. Nah buat kamu yang bingung, berikut 4 rekomendasi menu sahur hemat ala anak kos yang bisa dicoba, Guys!

1. Mie instan

Menu yang mudah didapat, murah, praktis serta nikmatnya yang tiada tara, membuat mie instan dikonsumsi 92 persen atau sekitar 248,7 juta penduduk Indonesia berdasarkan hasil olah Lokadata dari Suvei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2020, jadi jangan ditanya lagi Guys, tentu menu ini juga menjadi andalan anak kos.

Namun lebih baik jangan dicampur dengan nasi ya, karena pada dasarnya, mie instan dan nasi merupakan sumber karbohidrat yang tinggi. Mengonsumsi keduanya secara bersamaan hanya akan membuat tubuh melebihi batasan kalori harian, okey?

2. Telur ceplok balado

Telur ceplok juga merupakan pilihan menu makan yang praktis. Tak melulu polosan, DNK People bisa meraciknya lagi dengan bumbu balado yang pedas gurih agar lebih nikmat.

Untuk bumbu baladonya, kamu bisa menyesuaikan dengan selera terutama tingkat pedasnya. Membuat menu ini juga tidak memakan waktu lama, loh. Telur ceplok balado enak dimakan dengan nasi hangat.

3. Susu

Susu juga bisa menjadi menu andalan anak kos loh, Guys. Selain sehat karena mengandung vitamin dan kalsium yang baik untuk tulang, minuman ini juga dapat mengenyangkan. DNK People bisa menambahkan pisang, karena pisang memiliki kandungan sejenis karbohidrat yang disebut resistant starch. Bersama serat pektin, nutrisi ini mampu memberikan efek mengenyangkan dan pastinya sehat!

4. Nasi goreng rice cooker

Nah, menu lain yang menjadi idaman dan praktis adalah nasi goreng rice cooker. Cara membuatnya pun sangat praktis, cuci 1 cup beras, tiriskan, tambahkan air, lalu tuang setengah bungkus bumbu nasi goreng instan. Tambahkan sosis jika ada, tambahkan kecap manis agar lebih sedap, setelah itu tinggal tutup rice cooker. Nasi goreng instan pun siap disantap.

Hindari Makanan ini saat Berbuka Puasa!

Hindari Makanan ini saat Berbuka Puasa!

Penulis Dani Zahra Anjaswari

Gorengan yang sering menjadi buruan ketika berbuka puasa. (istockphoto.com/@junardiey)

Tentunya di bulan Ramadan kita sangat menantikan momen berbuka puasa, biasanya saat akan berbuka berbagai hidangan telah disajikan untuk disantap bersama keluarga. Makanan yang sering disajikan adalah makanan yang manis-manis dan segar. Padahal selama berpuasa, memperhatikan asupan nutrisi sangat penting agar tubuh tetap sehat, loh.

Agar manfaat puasa bisa diraih secara maksimal, pilihan menu makanan juga harus disesuaikan. Dengan begitu, kerja sistem pencernaan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan tidak terganggu selama bulan puasa. Ada beberapa jenis makanan yang harus kamu hindari saat berbuka puasa. Yuk kita simak, apa saja jenis makanan tersebut!

1. Makanan berminyak

Eits, mungkin kita sudah tidak asing dengan gorengan atau makanan berminyak lainnya yang menjadi makanan favorit saat berbuka puasa, namun sebaiknya kamu perlu menghindari jenis makanan ini dikarenakan dapat mengganggu sistem pencernaan, DNK People. Lemak adalah salah satu zat gizi yang sulit dan lama dicerna. Oleh karena itu, lemak yang terkandung di dalam gorengan membuat organ pencernaan bekerja lebih ekstra, sehingga menyebabkan kenaikan berat badan serta memicu tekanan darah meningkat lebih tinggi.

2. Makanan Pedas

Salah satu makanan pedas yang harus dihindari kita berbuka. (dapurkobe.co.id)

Mengonsumsi makanan pedas memang dapat memancing selera makan kita, tapi tidak disarankan untuk kamu santap ketika baru berbuka puasa. Kandungan senyawa capsaicin dari cabai bisa membuat dinding lambung iritasi, sehingga menimbulkan reaksi asam yang membuat perut kram dan nyeri. Hal ini dapat memicu diare ketika DNK People mengonsumsi makanan pedas.

3. Makanan instan dan makanan kaleng

Apakah kamu tipe orang yang menyiapkan makanan serba instan ketika berbuka puasa? Mungkin sebagian kamu memilih makanan instan sebab kamu malas bergerak dan seolah tidak bertenaga ketika sedang menjalankan puasa sehingga memicu seseorang mengonsumsi makanan instan ketika berbuka. Makanan siap saji, seperti mie instan akan membuat tubuh kesulitan menyerap nutrisi dari makanan bergizi lainnya, Guys. Makanan kaleng pun tidak mengandung nilai gizi yang baik untuk tubuh.

4. Makanan yang tinggi gula 

Berbukalah dengan yang manis, tapi jangan manis-manis, DNK People. Mungkin kamu sering mendengar kalimat tersebut memang anjuran berbuka puasa dengan yang manis memang diperlukan untuk menaikkan kembali kadar glukosa dalam darah yang menurun setelah berpuasa. Ada baiknya jika kamu tidak mengonsumsi makanan yang tinggi gula terlalu berlebihan ketika berbuka puasa sebab kadar glukosa akan naik secara cepat dan tinggi. Hal ini dapat memicu seseorang menjadi mudah lelah dan juga memicu terkena penyakit diabetes, Guys.