Puasa dalam Perbandingan Pandangan Agama

Puasa dalam Perbandingan Pandangan Agama

Poster Internasional Web Semoniar “Fasting Traditions : The Comparative Religion Perspective” (19/05/20)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan kegiatan seminar online internasional (webinar) bertema “Fasting Traditions : The Comparative Religion Perspective” (18/5). Acara ini diinisiasi oleh Pusat Layanan Kerjasama Internasional (PLKI) yang diketuai oleh Dadi Darmadi. Webinar dilaksanakan melalui aplikasi Zoom dimulai pukul 20.00 WIB yang diikuti oleh 297 partisipan dari berbagai negara.

Webinar internasional secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, dan dihadiri oleh beberapa narasumber diantaranya M. Shamsi Ali (USA/Indonesia), Ismail Latif Hacinebioglu (Turkey), Rabbi Bob Kaplanb (USA), Anne K. Rasmussen (USA), Hamid Slimi (Canada), Dileepkumar Thankappan (USA), Hans Harmakaputra (USA), Andi Faisal Bakti (Indonesia), Suparto (Indonesia), serta dimoderatori oleh Jajang Jahroni (UIN Jakarta).

Imam Islamic Center New York dan Direktur Jamaica Muslim Center M. Shamsi Ali menjelaskan, bahwa terdapat empat pesan moral terpenting dari berpuasa dalam Islam diantaranya membangun self confidence dan self trust karena puasa hubungannya antara diri dengan Allah swt., fitrah (menemukan kembali sifat manusia kita), membangun kepedulian sosial, dan perubahan mentalitas menjadikan hati bersih.

“Kita tahu bahwa puasa adalah salah satu dari lima pilar dalam islam, jadi berpuasa wajib dilakukan oleh setiap muslim” kata Shamsi Ali.

Dalam Agama Kristen, Hans Harmakaputra menjelaskan, terdapat kesamaan seperti yang diungkapkan M Shamsi Ali bahwa puasa adalah hubungannya diri sendiri dengan Tuhan, tidak untuk diperlihatkan kepada manusia.

“Ada tiga poin dalam Injil mengenai puasa, bahwa puasa adalah praktek keagamaan dalam Kristen karena umat Kristen mendapat gambaran spiritual dari Yahudi, puasa manandakan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan Injil tidak menyediakan perintah secara detail menganai puasa,” ujar Hans.

Guru Dileepkumar Thankappan di Amerika Serikat (19/05/20)

Dileepkumar Thankappan mengatakan, dalam tradisi India terutama Hindu memiliki berbagai jenis puasa, beberapa orang hanya akan mengurangi makan, beberapa orang hanya minum air, beberapa orang bahkan tidak akan minum air, beberapa orang mengambil puasa hanya sekali dalam seminggu, dan ada yang berpuasa sebulan sekali.

Suparto mengatakan, setelah ramadan memaksa diri untuk merenungkan atas apa yang telah dilakukan, seberapa baik kita atau seberapa buruk kita. “Ramadan datang sebagai kesempatan besar untuk kita mengevaluasi diri kita untuk menjadi orang yang lebih baik jika kita terlahir sebagai orang baru,” katanya.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga Andi Faisal Bakti mengenai takwa, bahwa terdapat tujuh elemen menganai takwa yang berhubungan dengan Allah Swt., dan tujuh lainnya berkaitan dengan hubungan antara manusia dan manusia dengan alam.

Reporter : Ningtyas Septiani Putri