Hari HAM Sedunia: Bangkit Bersama, Lawan Pelanggaran HAM!

Hari HAM Sedunia: Bangkit Bersama, Lawan Pelanggaran HAM!

Reporter Laode M. Akbar; Editor Elsa Azzahraita

Sosok Munir Said Thalib, Salah Satu Aktivis HAM Indonesia pada Masa Orde Baru
Sumber : Instagram-@univlox

Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apa kita biarkan mereka untuk gagah. Mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ganti baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sebuah kehinaan. Sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Sesuatu yang mereka bayar sampai titik manapun.”

Itulah potongan orasi dari salah satu revolusioner HAM asal Malang yang begitu tampil garang melawan pelanggaran-pelanggaran HAM selama era pemerintahan orde baru. Dialah Munir Said Thalib atau akrab dikenal Munir.

Kisahnya melawan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi sangat memotivasi pejuang HAM lainnya. Tindakan masifnya tersebut didorong dari pelanggaran-pelanggaran HAM yang begitu kerap terjadi pada pemerintahan eranya.

Namun kisahnya yang begitu heroik harus ditutup dengan tragis. Pada tanggal 7 September 2004, sang revolusioner HAM tersebut harus tewas mengenaskan karena mengalami keracunan saat berada dalam penerbangan menuju Amsterdam.

Kini 17 tahun sudah berjalan dan kepemerintahan sudah bergonta-ganti, namun kasusnya sampai saat ini masih belum menemukan titik terang siapa sebenarnya dalang dibalik pembunuhannya.

Selain Munir, masih banyak berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu lainnya yang belum terpecahkan, seperti kasus 13 aktivis yang menghilang, tragedi Wamena berdarah, hingga kasus penembakan misterius (petrus) 1982.

Kembali pada masa kini, kasus pelanggaran HAM juga sering kerap terjadi. Data Komisi Nasional HAM atau Komnas HAM menyebutkan bahwa periode Januari sampai September 2021 saja terdapat 2.331 aduan, dengan kasus tertinggi terkait dengan kepolisian.

Seperti yang terjadi beberapa bulan belakangan ini, berbagai kasus pelanggaran HAM kembali mencuat di tanah timur Papua. Kasus kekerasan, diskriminasi, serta stigmatisasi yang dilakukan aparat pemerintah kepada masyarakat serta aktivis HAM menjadi sorotan utama dari kasus pelanggaran HAM yang terjadi di sana.

Bisa dilihat bahwa perkembangan HAM di Indonesia tidak begitu mulus. Sehingga, untuk menegakkan kembali HAM di tanah air, pada tanggal 10 Desember ini menjadi momentum yang tepat. Karena pada tanggal ini diperingati sebagai Hari HAM Sedunia.

Dalam sejarah, 10 Desember 1948 menjadi hari yang memorial bagi keberlangsungan hak asasi manusia di dunia. Di mana pada hari tersebut merupakan lahirnya deklarasi universal hak asasi manusia atau universal declaration of human right yang dideklarasikan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa atau PBB, bertempat di Palais De chillot, Paris.

Akhirnya, pada tahun 1950, lahirnya deklarasi tersebut membuat dewan PBB mengundang semua negara dan organisasi untuk memperingati setiap 10 Desember sebagai hari hak asasi manusia sedunia.

Salah satu Aksi Kamisan para pejuang HAM di Depan Istana Negara, Kamis (9/12)
Sumber: Instagram-@aksikamisan

Salah satu aksi yang sering dilakukan para aktivis HAM dan keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu yaitu Aksi Kamisan. Aksi tiap Kamis yang dilakukan semenjak 2007 silam ini dilakukan untuk mengenang dan menuntut pemerintah menuntaskan kasus pelanggaran HAM yang terjadi, terutama kasus masa lalu.

Terkait Aksi Kamisan tersebut, Dosen Ilmu Hukum UIN Jakarta Yayan Sopyan mengatakan bahwa Aksi Kamisan merupakan hak untuk berdemonstrasi dan boleh saja dilakukan. Asalkan demontrasi tersebut tidak mengganggu ketertiban umum.

Namun, ia juga berpendapat persoalan efektivitas aksi tersebut itu relative. Tergantung apakah pemerintah mendengarkan atau tidak.

“Dan Seharusnya bukan saja pemerintah, anggota DPR juga seharusnya mendorong untuk menyuarakan apa yang didemokan mereka. Karena mereka dipilih dan digaji untuk menyuarakan. Selama ini sepi-sepi saja dari parpol,” ujarnya kepada tim DNK TV, Jumat (10/12).

Terkait kinerja pemerintah pada saat ini dalam menegakkan HAM sesuai Pasal 71 UU Nomor 39 Tahun 1999 yang masih dipertanyakan. Karena dalam prakteknya, indeks HAM Indonesia menurut Setara Institut pada tahun 2019 yang berada di angka 3,2, kemudian menurun di tahun 2020 menjadi 2,9.

Ia pun berharap pemerintah harus tetap konsisten dalam penegakkan HAM dan berbagai pihak seperti Komnas HAM, LSM, Pers dan masyarakat madani juga penting untuk mengawal tugas pemerintah itu. Serta harus membuka lebar pembatasan pers dan kritik terhadap persoalan HAM.

Dalam pandangan mahasiswa terkait kinerja pemerintah dalam menangani kasus pelanggaran HAM, salah satu mahasiswa jurnalistik UIN Jakarta Rika Salsabilla mengatakan tidak ada kemajuan yang begitu signifikan yang dilakukan pemerintah sampai saat ini dalam menangani kasus pelanggaran HAM.

“Hanya ada kemajuan ketika dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta atau TGPF dan itu tidak ada kemajuan sama sekali terkait dengan mahasiswa yang hilang dan aktivis-aktivis yang hilang,” ujarnya kepada tim DNK TV, Jumat (10/12).

Ia pun menuntut akan kinerja pemerintah yang lebih terbuka dan komunikatif kepada masyarakat, terkhusus kepada keluarga korban pelanggaran HAM agar adanya kejelasan.

Pemerintah pun tidak serta-merta mengandalkan lembaga Komnas HAM atau lembaga swadaya lainnya saja dalam menangani kasus-kasus tersebut, namun pemerintah juga harus bersinergi untuk turun tangan mengatasi hal ini, khususnya dari presidennya sendiri.

“Dan bagi saya pribadi mengkhawatirkan bila saja Presiden Jokowi tidak menanggapi, jangan harap ada suara dari mahasiswa,” tambahnya.

Kenali POTS, Gelaja Long Covid-19

Kenali POTS, Gelaja Long Covid-19

Reporter: Khalilah Andriani , Editor: Fauzah Thabibah

Ilustrasi Postural Orthostatic Tachycardia Syndrome (POTS)
Sumber: halodoc.com

Penyintas Covid adalah orang yang telah sembuh dari Covid-19. Ia  dapat mengalami gejala kesehatan setelah sembuh dari Covid-19 atau yang biasa disebut dengan long Covid. Salah satu dari gejala long Covid adalah Postural Orthostatic Tachycardia Syndrome (POTS).

Apa Itu POTS?

POTS singkatan dari Postural Orthostatic Tachycardia Syndrome (POTS). Melansir dari laman Antara, menurut artikel yang dirilis oleh Johns Hopkins Medicine berjudul “COVID-19 and POTS”, POTS merupakan kondisi atau gejala yang menyebabkan tubuh berfungsi tanpa disengaja dan tanpa dikendalikan oleh sistem saraf, seperti pada detak jantung dan tekanan darah.

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Puti Sarah Saus menjelaskan bahwa POTS merupakan kelainan atau keadaan otonom pada sistem saraf. Biasa disebut dysautonomia, kondisi dimana keadaan tubuh tidak dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan posisi. 

Menurut Puti, jika perubahan posisi dari tenang atau duduk menjadi berdiri, penderita POTS akan merasakan dada berdebar-debar.

“Ini dikarenakan denyut nadi meningkat lebih dari 30 kali per menit dari normalnya.” Ujarnya di Jakarta, Jumat (30/4).

Selain itu, ia juga mengatakan kelainan dari POTS akan mengalami rasa limbung, pandangan kabur, tubuh terasa lemas, hingga hampir pingsan.

“Namun, seseorang yang dapat dikatakan memiliki gejala POTS adalah ketika mereka tidak memiliki kelainan lain seperti kekurangan cairan, anemia, atau mengalami demam,” lanjut Puti Sarah.

POTS bisa terjadi karena dua hal, yakni :

  1. Gangguan saraf simpatik yang berfungsi mengatur tekanan darah yang bisa tinggi atau rendah, nadi yang bisa cepat atau lambat.
  2. Gangguan volume darah di dalam tubuh.

Puti Sarah menambahkan bahwa orang-orang yang telah berhasil sembuh dari Covid-19 rentan mengalami gejala POTS.

“Penyintas Covid-19 rentan mengalami gejala POTS karena Covid-19 bisa merusak organ di dalam tubuh. Reaksi antibodi dan antigen yang dikeluarkan tubuh untuk menangkal Covid-19 dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf. Itulah yang akan menimbulkan gangguan pada penderita POTS sehingga Penyintas Covid-19 dengan gangguan sistem saraf simpatik bisa mengalami POTS.”

Sistem saraf pada manusia terdiri dari berbagai jaringan saraf yang membantu manusia untuk tetap bisa hidup
Sumber: sehatQ.com

Penanganan POTS pada Penyitas Covid-19

Jika penyintas Covid-19 mengalami POTS yang berasal dari gangguan sistem saraf dan volume cairan yang kurang, maka ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, di antaranya melakukan terapi cairan.

Terapi cairan adalah terapi awal dimana pasien akan dipenuhi terlebih dahulu cairan yang kurang. Misalnya, diberi air minum minimal dua liter sehari dan juga asupan garam atau sodium untuk meningkatkan volume cairan tubuh.

Lalu, lakukan olahraga yang tepat. Tidak sembarang olahraga bisa dilakukan. Beberapa olahraga yang bisa dilakukan seperti Recumbent cycling dan berenang.

Recumbent cycling paling dimungkinkan karena bersepeda dengan posisi kepala cukup rendah sehingga membuat penyintas COVID-19 tidak merasa pusing. Namun, aktivitas olahraga ini perlu dikonsultasikan lebih dulu kepada dokter ahli, dokter yang berasal dari Tim Kedokteran Rehabilitasi Medik (Fisioterapi) atau Tim Kedokteran Olahraga.

Terakhir Puti mengatakan bahwa pasien POTS dengan gejala berat memerlukan dokter spesialis jantung dan spesialis saraf.

“Dan hal yang terpenting berikutnya yaitu berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan spesialis saraf. Pada pasien POTS dengan gejala lebih berat diperlukan peran kombinasi dua dokter spesialis tersebut,” Ujar Puti Sarah.

DNK Berbagi : Ciptakan Kebersamaan di Panti Asuhan Nurul Ikhwan

Reporter : Belva Carolina  ; Editor : Tiara De Silvanita,  Elsa Azzahraita

DNK Berbagi : Ciptakan Kebersamaan di Panti Asuhan Nurul Ikhwan

Puncak DNK Berbagi di Yayasan Panti Asuhan Nurul Ikhwan, pada Jumat (30/4).
Sumber: DNK TV – Rahmat

DNK Berbagi adalah sebuah acara amal tahunan dari Lembaga Penyiaran Komunitas Dakwah dan Komunikasi (LPK DNK TV) pada bulan Ramadan sebagai bentuk kepedulian antar sesama. DNK Berbagi tahun ini mengangkat tema “Tebar Kepeduliaan, Ciptakan Kebersamaan, di Bulan Penuh Keberkahan”.

Kegiatan pada Jumat (30/4) di Yayasan Panti Asuhan Nurul Ikhwan Ciputat, Tangerang Selatan merupakan puncak acara DNK Berbagi. Sebelumnya, DNK Berbagi telah dilaksanakan di Kampung Pancoran, Jakarta Selatan, pada Rabu (27/4) lalu.

Rangkaian acara DNK Berbagi merupakan kegiatan hiburan untuk anak-anak panti, donasi dalam bentuk sembako yang diserahkan kepada Yayasan Panti Asuhan Nurul Ikhwan, berbuka bersama dengan anak panti serta kegiatan Takjil on The Road sekitar Ciputat – Lebak Bulus.

Takjil on the Road sekitar Ciputat – Lebak Bulus, Jumat (30/4).
Sumber: DNK TV – Rahmat

Pelaksana DNK Berbagi, Kevin Philips mengatakan program kerja ini bertujuan untuk berbagi kepada yang membutuhkan dan memberikan hiburan kepada anak-anak kurang yang kurang beruntung di Yayasan Panti Asuhan Nurul Ikhwan dan Kampung Pancoran.

Pengurus Yayasan Panti Asuhan Nurul Ikhwan Lili mengaku sangat senang dengan diadakannya kegiatan DNK Berbagi.

“Dengan diadakannya DNK Berbagi ini kami sangat senang dan kami sangat mengapresiasi acara seperti ini, mudah mudahan kedepannya bisa berlangsung silaturahmi seperti ini terus. Ditambah DNK Berbagi sendiri telah menyediakan alat-alat yang mendukung protokol kesehatan.” ujar Lili.

Ia berharap silaturahmi DNK TV dan Yayasan Panti Asuhan Nurul Ikhwan ini terus terjalin dan acara yang diusung menjadi lebih baik lagi dimanapun kegiatan ini dilaksanakan.

First Meet Project

Masker Ekspresi: Inspirasi Kebaikan Bagi Teman Disabilitas

Masker Ekspresi: Inspirasi Kebaikan Bagi Teman Disabilitas

Reporter: Tiara De Silvanita

First Meet Project sedang membagikan Masker Ekspresi kepada driver ojek online
Sumber: First Meet Project

Masker kini tengah menjadi kebutuhan wajib saat berada di luar rumah. Penggunaan masker dapat membantu mencegah penularan dan penyebaran virus corona. Namun bagaimana dengan mereka yang menyandang tunarungu? Hal ini tentu membutuhkan perhatian lebih dalam memilih dan memakai masker yang mampu meyesuaikan kebutuhan mereka.

Kondisi ini mendorong First Meet Project, komunitas non profit yang didirikan oleh mahasiswa Psikologi UIN Jakarta berfokus pada sosial, psikologi dan disabilitas.

First Meet Project menginisiasi pembuatan “Masker Ekspresi”, yaitu  masker transparan di area mulut yang terbuat dari bahan mika dan dirancang khusus untuk penyandang tunarungu.

Founder First Meet Project, Fadel Muhammad mengatakan masker yang umum digunakan masyarakat adalah masker kain yang menutupi mulut secara penuh. Ini menjadi kendala bagi penyandang tuna rungu, sebab, dengan mulut tertutup masker akan membuat mereka tidak bisa membaca gerak bibir dan ekspresi wajah.

“Saat ini (masa pandemi) komunikasi adalah salah satu problem mereka (penyandang tunarungu) ketika berhadapan dengan orang lain. Bahkan bisa saya katakan 70% teman tuli belum menguasai bahasa isyarat apalagi jika ketika berkomunikasi dengan teman dengar, jadi biasanya mereka membaca gerakan bibir untuk mengetahui apa yang kita katakan.”

Produksi Masker Ekspresi dimulai sejak April tahun 2020, pada awalnya sasaran masker ekspresi hanya kepada driver ojek online panyandang tunarungu. Setelah satu tahun lebih memproduksi masker ini, First Meet Project sudah mendistribusikan 15 lusin masker ekspresi kepada teman tunarungu secara luas, baik melalui komunitas maupun individu.

First Meet Project membuka donasi kepada kerabat, teman, dan masyarakat lewat sosial media. Kemudian hasil donasi ini dialokasikan untuk pembuatan masker yang akan dibagikan secara gratis kepada teman tuli dan teman dengar.

Tidak sampai di situ, kedepannya First Meet Project berencana meluaskan jangkauan programnya tidak hanya kepada penyandang tunarungu namun juga penyandang disabilitas lain.

Fadel berharap First Meet Project dapat menginspirasi anak muda menciptakan gerakan-gerakan lain yang berfokus kepada orang dengan kebutuhan khusus sehingga menjadi pemanjang tangan kebaikan bagi teman-teman disabilitas.

Saksikan selengkapnya di Youtube DNK TV.

Faisal Alfansury, Pemuda Perintis Bisnis Dari Sampah

Faisal Alfansury, Pemuda Perintis Bisnis Dari Sampah

Fakih Zuhair

Faisal Alfansury , pendiri Kampung Konservas Rimbun (Dok. DNK TV)

Anak muda identik dengan bersenang-senang, nongkrong, hingga kebebasan berekspresi. Dengan segala waktu yang dimilikinya sampai-sampai banyak orang beranggapan usia muda harus dinikmati karena tidak akan terulang lagi. Namun berbeda dengan Faisal Alfansury, pemuda Tangerang Selatan yang sukses mendalami Agrobisnis.

Di usia yang belum menyentuh kepala 3, Faisal berhasil mencetuskan Kampung Konservasi Rimbun yang berada di Jalan H. Jamat No.13 Kampung Jati, Keluarahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Awal mula berdirinya Kampung Rimbun sebenarnya adalah salah satu ketidaksengajaan Ka Alfan. Pada 2013, restoran milik sang ayah menumpuk sampahnya akibat tukang sampah yang sedang libur.

Ka Alfan yang melihat peluang ini menawarkan ayahnya untuk mengelola sampah tersebut dengan harga yang sama seperti tukang sampah. Awalnya pun Ka Alfan tidak mengelola sampah tersebut, namun membuangnya jauh di lahan kosong. Lama-kelamaan dirinya sadar hal tersebut salah.

“Awalnya saya tidak mengerti sama sekali ngolah sampah segala macem, saya ambil sampah itu, terus saya buang lagi ke lahan kosong yang jauh, tapi akhirnya di komplain, wah ini gak bener nih, ini sampah harus kita kelola, ini harus kita kelola jadi kompos,”.

Mendirikan agrobisnis juga merupakan hal yang sulit, bahkan menurut Ka Alfan, agrobisnis ini merupakan salah satu bisnis yang paling sulit, apalagi dengan usia yang masih sangat muda.

Entah berapa kali dirinya terpuruk dan berpikir bisnisnya akan berakhir, namun dengan segala semangat dan ikhtiar kepada Allah, tiap kali bisnisnya diambang kegagalan, akan selalu ada jalan yang memudahkan dirinya.

“Biasanya anak muda seumuran saya jauh dengan yang namanya agrobisnis, namun saya malah terjun ke dunia ini, akhirnya karena udah terlanjur jalan, udah punya karyawan juga, sampah juga udah pada terlanjur bayar juga, akhirnya mau gak mau fight terus. Sampai akhirnya berubah hidup saya, punya uang buat belanja, buat beli aset, buat gaji.” Ungkap Ka Alfan.

Akhirnya pada Februari 2016, Kampung Konservasi Rimbun diresmikan, bukan hanya sebagai tempat bisnis Ka Alfan, namun juga sebagai wisata edukasi yang memang sangat jarang ada di wilayah Tanggerang Selatan.

Kampung Rimbun/Konservasi Caping/Ekowisata #Kp.Jati Buaran Tangerang Selatan  - YouTube
Wisata Kampung Konservasi Rimbun (Sumber: YouTube.com/ ketoyshotchannel)

Hingga saat ini, kegiatan yang berjalan di Kampung Konservasi Rimbun ini sangat beragam, dimulai dari memuat kegiatan panen bersama dengan penduduk sekitar, pengolahan limbah sampah, tempat outbound anak, tempat camping anak, hingga adanya “Kampung Inggris” atau pelatihan bahasa Inggris secara non-formal untuk anak usia 4 hingga 15 tahun.

Lewat Kampung Rimbun ini juga Ka Alfan lebih dikenal masyarakat luas, bahkan dirinya mendapat penghargaan Wirausaha Mandiri 2015, dan dari situlah Ka Alfan lebih aktif menjalin kerja sama dengan lebih banyak pihak sampai dengan pemerintah kota Tanggerang Selatan.

5 Hal dari Pendiri Panasonic yang Bisa Bikin Kamu Semangat

5 Hal dari Pendiri Panasonic yang Bisa Bikin Kamu Semangat

Azzahra Syafiera

Konosuke Matsushita, Sang Pendiri Panasonic Corp - People - Dictio Community
Konosuke Matshuhita, Pendiri Panasonic (sumber: dictio.id)

Buat kamu yang sedang merasa lemah, dan berpikiran bahwa hidup tidak berjalan sesuai yang diharapkan, serta semesta tak berpihak padamu, jangan menyerah dan teruslah berjalan. Biar kamu lebih semangat, DNK TV akan memberikan asupan beberapa hal dari Pendiri Panasonic, Konosuke Matshushita yang bikin kamu semangat!

  • Masa Lalu yang Pahit, Bukanlah Penghambat Kesuksesan

Kalian harus tahu, pencapaian Konosuke Matshuhita tidak berjalan mulus. Kegagalan dan kesedihan, bisa dibilang adalah pendampingnya untuk menuju kesuksesan.

Bagaimana tidak, ketika ia tumbuh menjadi dewasa, ia adalah seorang yang cenderung penutup dan agak sakit-sakitan, sehingga menjadikannya memiliki masa depan yang tidak jelas. Ia sepertinya ditakdirkan untuk hidup dengan penuh perjuangan.

Nah, buat kamu yang sekarang merasa masa depannya belum menemukan titik terang, yuk terus melangkah mencari cahaya kesuksesan masa depan kalian!

  • Menjunjung Tinggi Keadilan dan Hak Karyawan di Tengah Krisis

Jadi, dulu ketika terjadi depresi ekonomi, di saat perusahaan lain berlomba-lomba mem-PHK karyawannya, Panasonic justru hanya mengurangi hasil produksi saja.  Dan, dari keputusannya itu, akhirnya perusahaannya mampu menghasilkan terobosan yang manusiawi pada masa depresi ekonomi saat itu.

 Kebaikan Matsushita terhadap karyawannya membuahkan hasil yang manis 16 tahun kemudian. Ia menuai buah kebajikannya sendiri. Wah, ternyata kalau kita selalu berniat baik ketika melakukan sesuatu, maka kebaikan kita akan dibalas di waktu yang tepat.

  • Bertahan Karena Adanya Orang Terdekat

Pada tahun 1917, Matsushita memutuskan untuk membuat perangkat sendiri. Istri dan tiga orang asistennya dengan penuh semangat memulai usahanya. Dengan bekal pendidikan tingkat lima, yang saat itu masih di bawah dari pendidikan sekolah tinggi, dan tidak memiliki pengalaman dalam pembuatan sebuah steker listrik.

Tapi mereka memiliki kemauan yang besar hingga akhirnya bisa meraih keberhasilan. Di saat yang lain tidak berpihak kepadamu, percayalah orang terdekatmu pasti selalu peduli dan hal itulah yang buat kamu bertahan. Yuk, mulai coba peka terhadap orang di sekitarmu

  • Berani Mengambil Resiko

Matsushita memulai bisnis tanpa bekal pengalaman bisnis yang nyata, tetapi dia memiliki daya kreatifitas dan keinginan yang kuat. Buat kalian yang ingin mulai berbisnis, tapi kurang paham dasar berbisnis, nggak apa-apa, mulai aja dulu, dan kobarkan semangatmu, suatu saat mimpimu pasti akan terwujud!

  • Ambil Hikmah atau Pelajaran dari Setiap Kejadian

Sebelum mendirikan Panasonic, Matsushita sempat dipromosikan sebagai inspektur listrik lho, namun atasannya kurang setuju dengan penemuan yang dipromosikan.  Kemudian, pada tahun 1917, dia mendirikan usahanya sendiri, tanpa modal pendidikan formal atau pengalaman di bidang manufaktur. 

Walaupun sempat hampir bangkrut, namun berkat pelajaran yang ia ambil ketika gagal diperusahaan sebelumnya, ia bisa mendirikan perusahaan terbesar di Jepang.  Wah, keren ya!

Ingat ya teman-teman, semangat itu berasal dari dalam hati yang senantiasa bersyukur. Oleh karena itu, mulailah untuk melihat sesuatu dari berbagai sisi, entah itu sisi positif maupun negatif sekalipun, karena hidup itu harus seimbang. Semangat!

Optimalisasi Dakwah Digital di Masa Pandemi

Optimalisasi Dakwah Digital di Masa Pandemi

Hanan Attaki merupakan salah satu pendakwah yang aktif di media sosial insatagram, facebook, twitter dan youtube.

Masa pandemi Covid-19 memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan mulai dari sosial, pendidikan, ekonomi dan yang tak kalah penting pada kegiatan keagamaan khususnya pada agenda kajian Islam. Jika pada kondisi normal biasanya kajian-kajian Islam bisa dilakukan dengan pendekatan kultrual berupa tabligh, tarbiyah, tausyiah, ta’lim dengan media tatap muka langsung, maka pada masa pandemi ini dakwah yang dilakukan dengan tatap muka sulit untuk dilakukan karena kegiatan mengumpulkan banyak orang tak memungkinkan untuk diadakan.

Sejatinya dalam dakwah mengandung dua perkara tsawabit dan mutaghayyirat. Tsawabit artinya prinsip atau sesuatu yang sifatnya tetap dan tidak berubah, sementara mutaghayyirat artinya hal-hal yang fleksibel mengikuti tempat dan zaman dapat berubah sesuai konteks yang ada. Sebagaimana dalam pendefinisan tsawabit dalam dakwah dicontohkan bahwa Nabi dan Rasul terdahulu hingga era modern tetap sama yaitu untuk mengesakan Allah SWT, membawa manusia pada alma’ruf, dan mencegah kepada al munkar. Sementara perkara sarana media atau washilah dalam berdakwah adalah aspek mutaghayyirat artinya bisa berubah menyesesuaikan tempat, waktu, keadaan, dan zaman.

Saat ini masyarakat telah memasuki era digitalisasi. Revolusi industri 4.0 membawa pada connected time era. Para da’i mulai mengoptimalkan media digital untuk berdakwah agar syiar Islam tetap berlangsung di tengah pandemi. Fenomena kajian virtual kira-kira terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dirintis oleh sejumlah komunitas kajian keislaman yang menghasilkan sosok ustadz muda khas milenial, seperti Hannan Attaki, Taqy Malik sampai Evie Effendi.

Ditambah kini dengan adanya pandemi para da’i senior juga tak ketinggalan melakukan penyesuaian medium dakwah dan semakin gencar melakukan e-dakwah dari berbagai platform berbasis jaringan internet seperti situs web, facebook, instagram, youtube, whatsapp dan lain-lain.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Syamsul Yaqin yang juga merupakan pendakwah aktif di media sosial mengatakan urgensi untuk memanfaatkan dakwah digital perihal yang sangat penting terlebih di masa pandemi.

“kita melihat bahwa pandemi mengakibatkan dakwah offline dengan pertemuan secara langsung nyaris berhenti total. Objek dakwah yaitu masyarakat muslim yang berkegiatan di rumah saja selama pandemi menghabiskan sebagian waktunya ditemani smartphone, dalam konteks inilah para da’i mesti merebut peluang dengan memanfaatkan media konvergensi yang ada” ujar Ustadz Syamsul Yaqin, Minggu (21/06/2020).

Syamsul juga menuturkan melalui media sosial para da’i dapat memberikan konten pilihan yang bersifat praktis, mudah diamalkan, dan menjawab fokus persoalan yang tengah dihadapi masyarakat. Seperti halnya, bagaiman cara sehat menghadapi corona dalam ajaran islam, hidup bersih dalam pandangan islam, bagaimana menghargai orang yang terdampak corona menurut Islam dan topik lainnya.

Namun penggunaan media digital ini juga bukan berarti tanpa tantangan karena karakteristiknya yang dapat diakses siapapun dengan mudah selama ada jaringan internet. Salah satu tantangannya adalah media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan paham-paham keagamaan yang keliru seperti propaganda terorisme, dan menyebarkan berita bohong.

“Salah satu tantangan dalam berdakwah digital adalah bagaimana kita (para da’i) menahan berita hoax dan mengedukasi kepada masyarakat bahwa apabila muncul suatu berita hendaknya mengkaji terlebih dahulu link dari berita tersebut. Mayarakat dianjurkan lebih memerhatikan rujukan yang dipakai da’i dalam menyampaikan ceramahnya apakah sesuia dengan Al-Quran, Hadist dan pendapat ulama.” pungkas Syamsul Yaqin.

Reporter: Tiara De Silvanita