Buruknya Kebebasan Persma: Ungkap Fakta, LPM Institut Malah Alami Intimidasi

Reporter Akhmad Fattahul Rozzaq; Editor Belva Carolina dan Fauzah Thabibah

Ilustrasi kebebasan pers yang terancam. (pixabay.com/@CDD20)

Tindakan intimidasi yang dialami oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut berawal dari penerbitan berita berjudul “Dosa Besar Senior Predator Seks” yang terbit pada Senin (18/4). Liputan tersebut merupakan kolaborasi #ButuhKampusAman inisiasi Project Multatuli bersama 22 Pers Mahasiswa se-Indonesia dengan melakukan reportase mengenai kasus kekerasan seksual di kampus.

Pihak Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia yang merasa dirinya tertuju pada isi berita merasa keberatan sehingga menghubungi LPM Institut untuk meminta menurunkan berita tersebut. Pihak redaksi LPM Institut sendiri mengakui kesalahan terkait tahap peliputan yang terlewat, yaitu tidak adanya verifikasi dan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak terkait serta telah meminta maaf atas kesalahan tersebut.

“Mereka (KPA Arkadia) menyampaikan keberatannya, mereka mengatakan bahwa LPM Institut belum konfirmasi karena  menyebutkan nama mereka di pemberitaan, kemudian kami meminta maaf karena kurang verifikasi. Setelah itu mereka meminta berita itu segera di-take down. (Namun) untuk fakta (berita), kami sudah ada data yang valid dan kita menyimpan bukti-buktinya,” ujar Hany Fatihah Ahmad Ketua LPM Institut dalam Konferensi Pers pada Kamis, (28/04) via zoom meeting.

Kemudian pihak LPM Institut menawarkan adanya pertemuan untuk membahas penyelesaian masalah dengan terbuka dengan melayangkan hak jawab maupun hak koreksi ke pihak Redaksi Institut.

Dalam pertemuan negosiasi hak jawab di Sekretariat LPM Institut yang terletak di Gedung Student Center (SC) Lantai 3 Ruang 307 UIN Jakarta pada Selasa (19/4), pihak KPA Arkadia justru melakukan intimidasi, pihak LPM Institut diminta untuk menandatangani perjanjian antara LPM Institut dengan UKM tersebut yang berisi penurunan berita pukul 15.00 WIB serta menerbitkan unggahan permintaan maaf.

Ilustrasi kebebasan pers. (pngtree.com/@bdtaskgraphic)

Pada konferensi pers Kamis, (28/4) pihak LPM Institut menuturkan bahwa ada beberapa senior atau alumni dari KPA Arkadia yang memberikan bentakan atau ucapan intimidasi. Seperti “Jangan nyari popularitas dengan cara seperti ini, Allah nggak akan ridho“, “Lihat risiko yang kamu ambil, nanti kalo ada anak KPA merusak sekretariat ini, saya tidak bisa nanggung“, dan “Saya sumpahin kalian semua nggak lulus“.

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, Ade Wahyudin mengaku memang ada laporan dari LPM Institut pada Selasa sore (19/4). Merespon tindakan yang dilakukan KPA Arkadia, Ade menerangkan bahwa pihak LBH Pers melakukan langkah dengan merespon cepat hal tersebut untuk menjaga keselamatan para anggota LPM Institut. 

Sebagai langkah awal, Ade memeriksa ulang naskah berita tersebut untuk menghindari pelanggaran kode etik dan menjalankan aspek hukumnya. Selanjutnya, ia menghubungi pihak yang berafiliasi dengan organisasi terkait untuk mempermudah tahap mediasi lanjutan.

Ade menerangkan bahwa yang dilakukan pihak KPA Arkadia kategori pelanggaran sensor. Sensor merupakan sebuah penghapusan paksa sebagian maupun seluruhnya terhadap kegiatan jurnalistik.

“Ketika ada upaya paksa, tekanan untuk menurunkan sebuah liputan itu bisa bagian dari sensor dan itu adalah sebuah pelanggaran berat dalam kasus-kasus pers,” terang Ade dalam Konferensi Pers pada Kamis, (28/4).

Akibat banyaknya kalimat intimidasi yang diterima, pihak LPM Institut akhirnya memutuskan untuk menurunkan berita terkait, Selasa (19/4). Namun, tidak hanya sampai di situ, pihak organisasi KPA Arkadia juga memaksa dan menekan LPM Institut untuk mempublikasikan permintaan maaf yang juga telah diterbitkan oleh LPM Institut atas intimidasi tersebut.

Bahkan, pada Sabtu (23/4), salah satu pengurus LPM Institut dikirimi pesan dari orang yang mengaku sebagai anggota KPA Arkadia dan bertanya apakah berita dengan judul “Dosa Besar Senior Predator Seks” tersebut ditunggangi pihak tertentu atau tidak.

Pengurus LPM Institut mengatakan bahwa berita yang dibuat tidak ditunggangi oleh siapapun dan sepenuhnya adanya laporan.

Akhirnya pada Rabu (27/4), LPM Institut kembali menerbitkan berita tersebut dengan mengubah judul berita menjadi ‘’Nestapa Nisa : Usai Dilecehkan, Kisahnya Diremehkan;  Si Peleceh Diskors Setahun’’. Berita tersebut pun telah diperbarui dengan wawancara yang lebih mendalam dari berbagai pihak.


1 Komentar

PTS Terbaik Bandung · Mei 17, 2022 pada 12:23 am

Thanks for sharing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.