Bonge dan Diskriminasi Kelas Terhadapnya

Penulis Tia Kamilla; Editor Ahmad Haetami

Potret Bonge dan Kurma di Sudirman (TikTok/@KutipanX)

Belakangan ini ramai konten TikTok yang mewawancarai para remaja yang berasal dari berbagai daerah seperti Citayem, Bojong Gede, Bogor, yang sedang bermain di kawasan Dukuh Atas dan Sudirman. Content creator menanyakan kisah percintaan, harga pakaian, sampai uang jajan. Pada awalnya, tren tersebut tampak biasa saja, namun reaksi yang ditimbulkan oleh warganet, justru membuat kelas sosial di masyarakat tampaklah nyata.

Jakarta dengan transportasi umumnya yang sudah terintegrasi dengan kota lain di Jabodetabek mempunyai daya tarik tersendiri untuk dikunjungi oleh masyarakat, terutama anak-anak muda. Salah satunya adalah kawasan Sudirman dengan Sudirman Central Business District (SCBD) yang terdiri atas kantor dari perusahaan-perusahaan ternama.

Namun, sejak Anak Baru Gede (ABG) dari luar kota terus berdatangan ke kawasan Sudirman yang dianggap elit dan hanya untuk orang-orang dari kelas atas saja itu membuat warganet merasa jika keberadaan mereka merusak citra kota yang penuh dengan kemewahan dan estetik.

Adanya Diskriminasi Kelas Sosial

Piramida stratifikasi sosial (sumberbelajar.kemdikbud.go.id)

Warganet menilai jika gaya berpakaian dan tingkah laku orang-orang luar Jakarta yang datang ke Jakarta sangat kontras dengan citra kawasan elit. Warganet terus melakukan komentar-komentar yang mengarah pada diskriminasi kelas sosial di masyarakat. Warganet beranggapan jika orang-orang dari kelas atas (upper class) saja yang mempunyai peran dan fungsi yang penting di dalam masyarakat.

Istilah kelas sosial terbentuk karena adanya masyarakat yang beragam. Masyarakat yang beragam ini, nantinya akan terbagi menjadi kelas-kelas sosial tertentu. Mulai dari kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Masing-masing kelas sosial mempunyai peran dan fungsi berbeda di dalam masyarakat.

Faktor yang membentuk adanya kelas sosial ini yaitu di tingkat ekonomi, pendidikan, status sosial, kekuasaaan dan lainnya, yang akan memengaruhi jenjang kelas sosial seseorang di masa depan. Namun, adanya kelas sosial ini, seharusnya tidak membuat kita menghakimi dan menilai rendah satu sama lain.

Mengecap “Jamet” sebagai Tanda Merendahkan

Tidak ada yang salah dengan orang luar Jakarta mengekspresikan diri mereka sendiri lewat gaya pakaian atau tingkah laku, tetapi banyak warganet yang merasa terusik dengan mereka. Warganet banyak yang melabeli mereka dengan istilah “jamet”.

Tanpa disadari, penggunaan kata “jamet” tentu bentuk merendahkan individu yang bersangkutan, karena biasanya kata “jamet” ini hanya diberikan kepada mereka yang berasal dari kelas menengah ke bawah. Seolah ibu kota hanya boleh dinikmati oleh orang-orang yang berasal dari kota dan kelas atas saja.

Penilaian ini tidak bisa dibiarkan karena ibu kota tidak hanya diisi oleh kelas menengah atas saja. Masih banyak perkampungan di sekitar pinggiran Jalan Sudirman yang saat ini masih berdiri. Kita tidak boleh menutup mata kita terhadap kesenjangan sosial tersebut dan bisa hidup saling menghormati tanpa perlu membandingkan tentang perbedaan kelas sosial yang terjadi.


4 Komentar

Ner · Juli 4, 2022 pada 4:41 pm

so great, Thanks for sharing.

Nongoooooo · Juli 4, 2022 pada 9:19 pm

pg slot สูตรลับ เทคนิคหรือสูตรลับแนวทางการเล่นสล็อต มีความง่ายๆ ไม่สลับซับซ้อน จาก pg slot สูตรลับ มีวิธีการเล่นที่มีระบบระเบียบแบบแผน พีจีสล็อต การเล่นเกมสล็อตให้สนุก นั้นต้องเล่นด้วยเงินจริง

foodle · Juli 4, 2022 pada 9:49 pm

This post is truly excellent. I appreciate you taking the time to publish this important information.

io games · Agustus 2, 2022 pada 4:15 pm

Thank you so much for the information you provided; this article has helped me better understand the issue I’m having.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.