Istilah Zeigarnick Effect, Mahasiswa : Bantu Tentukan Prioritas Kegiatan

Istilah Zeigarnick Effect, Mahasiswa : Bantu Tentukan Prioritas Kegiatan

Reporter Salsabila Putri Azzahro ; Editor Riyasti Cahya Rabbani dan Syaifa Zuhrina

Ilustrasi orang yang terdampak  Zeigarnick Effect. (Pixabay/@kaboompics)

Segala hal yang dimulai namun tidak selesai, kerap mengganggu pikiran. Para peneliti menyebut masalah tersebut dengan istilah Zeigarnick Effect. Istilah ini  merupakan fenomena psikologi yang memanifestasi seseorang untuk selalu teringat akan suatu pekerjaan yang belum diselesaikan. Fenomena ini mempunyai dampak baik dan buruk, tergantung dari masing-masing orang yang menanggapi fenomena tersebut.

Melansir dari Good Therapy, ketegangan kognitif akibat tugas yang belum selesai menyebabkan munculnya Zeigarnick Effect. Ketegangan kognitif inilah yang dapat mengembangkan dorongan otak untuk segera menyelesaikan tugas yang telah dimulai. Demikian juga saat semua pekerjaan dan tugas telah selesai, otak akan menjadi lega dan tegangan yang dirasakan juga akan menurun.

Adapun manfaat Zeigarnick Effect dalam kehidupan sehari-hari antara lain :

1. Dapat mengurangi procrastination

Procrastination sendiri ialah tindakan seseorang yang sering menunda pekerjaannya sampai di menit terakhir atau bahkan melewati batas waktu  yang sudah ditentukan. Tanpa  disadari, menunda pekerjaan dapat membuat stres, akibatnya pekerjaan yang dilakukan akan terburu-buru dan menjadikan kualitas pekerjaan tersebut menurun.

Efek Zeigarnick ini dapat dilakukan dengan cara memulai pekerjaan dari jauh-jauh hari, dan mulai dari hal terkecil yang mudah untuk dilakukan. Langkah ini akan menimbulkan ketegangan kognitif pada otak,  yang dapat mendorong  pekerjaan terselesaikan dengan lebih cepat.

2. Meningkatkan produktivitas

To do list akan membantu seseorang dalam memulai dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Menentukan target berapa lama pekerjaan tersebut seharusnya dilakukan juga sangatlah penting agar hal tersebut  segera tereksekusi.

3. Membantu meningkatkan kesehatan mental

Meskipun dapat menyebabkan cemas secara berlebih, stres, susah tidur, kelelahan, dan pikiran-pikiran yang mengganggu lainnya, namun jika dimanfaatkan dengan baik Zeigarnick Effect justru dapat meningkatkan kesehatan mental dan membangun motivasi. Selain itu, Zeigarnick Effect juga memberikan dorongan untuk mencapai tujuan dengan baik, membantu menyelesaikan kegiatan yang tersisa. Ketika kegiatan sudah selesai, rasa percaya diri pun semakin meningkat, dan dengan memberi penghargaan kepada diri sendiri, hal itu tentu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Ilustrasi Zeigarnick Effect. (Pixabay/@geralt)

Psikolog AS, John Atkinson berfokus pada aspek motivasi penyelesaian tugas. Dia juga mengamati efek ini  dalam ingatan, tetapi mencatat bahwa mengingat tugas yang belum selesai juga dipengaruhi oleh perbedaan individu di antara peserta. Atkinson mencatat bahwa subjek-subjek yang mendekati tugas-tugas dengan motivasi yang lebih tinggi untuk menyelesaikannya akan lebih terpengaruh oleh tugas-tugas yang tidak dapat mereka selesaikan dan akan lebih mungkin untuk mengingatnya. Sebaliknya, jika seorang peserta kurang termotivasi, status tugas yang tidak lengkap menjadi kurang diperhatikan dan kurang diingat oleh mereka (Atkinson, 1953).

Melihat fenomena Zeigarnick Effect yang sedang dialami oleh kebanyakan orang, salah satu Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Zamrotunnisa mengatakan bahwa efek ini dapat bermanfaat dalam mengatur susunan pekerjaan.

“Efek ini dapat membantu seseorang dalam mengatur susunan pekerjaannya, yakni dengan memprioritaskan pekerjaan yang mendesak,” ujarnya saat diwawancarai langsung oleh Reporter DNK TV pada Selasa (9/8).  

Senada dengan Zamrotunnisa, Lu’lu Zahirah Ali yang merupakan Mahasiwa UIN Jakarta juga beranggapan bahwa efek ini mempunyai dampak bagi kesehatan mental. 

“Dimana seorang individu cenderung akan tidak tenang dan terkesan terburu-buru dalam melakukan aktivitasnya, karena cenderung terbiasa dengan tidak menyelesaikan pekerjaannya. Jadi seharusnya yang dilakukan adalah menyelesaikan apa yang belum selesai sampai tuntas, karena semua itu akan menjadikan individu itu dinilai positif oleh orang lain,” ujarnya pada Selasa (9/8).

Ia juga menambahkan bahwa efek ini memiliki dampak positif dimana seorang individu mempunyai ingatan yang kuat terkait pekerjaan yang dilakukan, secara langsung individu tersebut mempunyai motivasi dari dalam diri mereka untuk mengerjakan hal pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.

Pengakselerasian Tercapainya Sertifikasi Halal

Pengakselerasian Tercapainya Sertifikasi Halal

Reporter Hayyun Viddarayn; Editor Muhammad Fajrul Amik

Pembukaan acara penandatanganan PKS. (DNK TV/ Hayyun Viddarayn)

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Jaminan Produk Halal (P3JPH) UIN Jakarta menyelenggarakan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Bank Indonesia pada Kamis (4/8) di ruang diorama UIN Jakarta.

Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, Wakil Rektor Bidang 4, Lili Suraya Eka Putri, Manager Department Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Wahyu Ega Nugraha, serta Komunitas Syaliza, Anna yang bertujuan mempercepat pengembangan ekosistem jaminan produk halal dan pelatihan sistem jaminan produk halal.

Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis mengatakan bahwa P3JPH UIN Jakarta banyak mendampingi UKM di sekitar Banten dan Jakarta.

“UIN Jakarta telah berkontribusi dalam mendampingi UKM baik disekitar Banten dan Jakarta untuk memberdayakan UKM-UKM dan mendampingi mendapatkan sertifikasi halal. Dalam proses perolehan sertifikat mereka sudah menyatakan dengan sendirinya hasil produk yang sudah mengikuti tata cara yang halal dan dilakukan juga pemeriksaan laboratorium halal lalu sertifikat itu bisa didapatkan.” Tegasnya.

Pelaksanaan program ini merupakan salah satu dukungan Bank Indonesia terhadap program negara untuk memperluas percepatan dari sertifikasi halal. Sesuai dengan undang-undang jaminan produk halal bahwa semua produk makanan atau minuman yang beredar dan diproduksi di Indonesia harus mempunyai sertifikasi halal.

INDONEStA 
Fin 
Ekonornl 
PENANDATANGANAN 
PERJANJIAN KERJASAMA 
ANTARA BANK INDONESIA NGAN PUSAT PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN JAMINAN PRODUK HALAL (P3JPH) 
UIN SYARIF HID v TULLAH JAKARTA 
TENTAN 
TAN PENGEM 
/ ELATIHAN SIS 
Jakarta 
OSISTEM JAMINAN DOODUK HALAL 
AN PRODUK 
s 2022
Penandatanganan PKS P3JPH dengan Bank Indonesia. (DNK TV/ Hayyun Viddarayn)

Tak hanya bekerja sama dengan UIN Jakarta, Bank Indonesia juga melakukan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ini merupakan salah satu langkah untuk menyukseskan acara pengakselerasian tercapainya sertifikasi halal. Sebab, memang dari peraturan pemerintah bahwa mitra yang bisa diajak berkolaborasi dengan cepat adalah perguruan tinggi dan ormas Islam.

Selama ini masyarakat Indonesia mengaggap semua produk-produk yang beredar sudah halal walaupun belum ada sertifikasinya, maka dari itu dengan diadakannya PKS antara P3JPH UIN Jakarta dengan Bank Indonesia pemerintah mencoba untuk mengatur dan memastikan kehalalan suatu produk yang mengharuskan adanya sertifikasi. Sertifikasi halal ini bukan hanya berguna untuk kepastian halalnya suatu produk melainkan juga dari aspek keamanan pangan.

Dengan diadakannya sertifikasi halal untuk produk-produk makanan dan minuman, membuat peningkatan nilai tambah atau nilai jual dari produk itu sendiri karena di era sekarang ini masyarakat akan lebih memilih produk yang tersertifikasi halal dibanding produk yang tidak ada sertifikasinya.

Manager Departement Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Agah Wahyu Nugraha berharap acara ini bisa dijadikan replikasi bagi pihak-pihak kampus lain untuk membangun kolaborasi.

“Saya berharap kolaborasi ini akan terus berlanjut, dan acara ini juga bisa menjadi contoh atau replikasi bagi pihak-pihak kampus lainnya untuk membangun kolaborasi. Karena kita menyadari target sertifikasi halal di Indonesia sangat tinggi, sememntara kesiapan para pihak atau infrastruktur dan kesadaran pelaku usaha sendiri masih terbatas,” ucapnya.

Booster Kedua Vaksin Covid-19: Baru Diprioritaskan untuk Nakes

Booster Kedua Vaksin Covid-19: Baru Diprioritaskan untuk Nakes

Reporter Ariqah Alifia; Editor Muhammad Fajrul

Ilustrasi vaksin. (Freepik/@storyset)

Vaksinasi Covid-19 kini menjadi salah satu persyaratan agar dapat melakukan berbagai aktivitas, apalagi jika melibatkan banyak orang. Tentu faktor utamanya diakibatkan korban virus Covid-19 yang semakin marak.

Sejak maraknya penyebaran virus menular Covid-19, pemerintah mengedarkan vaksinasi dan mewajibkan masyarakatnya untuk melakukan vaksinasi Covid-19 dengan berbagai varian dan dosisnya. Setelah itu, dikeluarkan pula kebijakan vaksin varian booster guna meningkatkan meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkal virus menular Covid-19 ini.

Belum lama ini, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit memberlakukan kebijakan wajib vaksin booster kedua sejak Jumat (29/7) berdasarkan surat edaran resminya nomor HK.02.02/C/3615/2022 tentang Vaksinasi Covid-19 Dosis Booster kedua bagi SDM Kesehatan.

Pemberian vaksin kepada tenaga kesehatan ini sejatinya sangat penting untuk menjaga vitalitas tubuh mereka yang lebih rentan terpapar virus menular ini, karena memiliki intensitas lebih dekat dalam kontak langsung dengan pasien Covid-19.

Terdapat kemungkinan booster kedua ini akan diberlakukan untuk umum ke depannya setelah adanya rujukan dari Kemenkes RI. Dari pengalaman yang ada sebelumnya akan efek vaksinasi yang dirasakan oleh beberapa orang, maka dari itu pemberian vaksinasi COVID-19 dosis booster kedua ini pun tidak boleh sembarangan. Vaksinansi tersebut diberikan dengan interval 6 bulan sejak vaksinasi dosis vaksin booster pertama.

Friska Siva Mahasiswa UIN Jakarta mengatakan, “Sepengalaman saya sehabis vaksin booster pertama, saya demam dan linu, nyeri di tangan, dan juga badan rasannya lemas seharian. Tapi saya paham itu bagian dari efek vaksin booster ini”.

Adapun ketentuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bahwa regimen vaksin Covid-19 yang diberikan sebagai booster kedua sebagai berikut:

Jika booster pertama Sinovac, maka pilihan booster kedua AstraZeneca, Pfizer (separuh dosis atau 0,25ml) atau Moderna, Sinopharm, Sinovac (dosis penuh atau 0,5 ml)

Jika booster pertama AstraZeneca, maka pilihan booster kedua Moderna, Pfizer (separuh dosis atau 0,25ml) atau AstraZeneca (dosis penuh atau 0,5 ml)

Jika booster pertama Pfizer, maka pilihan booster kedua Moderna (separuh dosis atau 0,25ml), Pfizer (dosis penuh atau 0,3 ml) atau AstraZeneca (dosis penuh atau 0,5 ml)

Namun, jika booster pertama Moderna, maka booster keduanya harus Moderna (separuh dosis atau 0,25ml) dan jika booster pertama Sinopharm, maka booster kedua ialah Sinopharm (dosis penuh atau 0,5 ml).

Untuk saat ini, vaksinasi COVID-19 dosis booster kedua bagi SDM kesehatan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dan atau di pos pelayanan vaksinasi COVID-19. Dengan adanya aturan dosis yang diberlakukan ini, diharap dapat menjadi panduan umum untuk bisa memilah jenis vaksin tepat untuk meningkatkan antibodi agar dapat terhindar dari penyakit menular Covid-19.

Kreasi with Fellow: Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Cuci

Kreasi with Fellow: Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Cuci

Reporter Wafa Thuroya Balqis

Sosialisasi pembuatan sabun cuci dari minyak jelantah kepada warga Kampung Melayu Barat. (Dok. Istimewa)

Kelompok 132 Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Jakarta menyelenggarakan sosialisasi pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun cuci. Kegiatan ini didasari sebagai bentuk dari upaya menjaga lingkungan dari pencemaran akibat limbah rumah tangga, pada Sabtu (6/8).

Kreasi with Fellow adalah kegiatan ikonis dari kelompok 132 KKN UIN Jakarta yang mendapat lokasi di Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluk Naga. Program kerja ini dimaksud untuk memberdayakan para ibu rumah tangga agar lebih produktif dan kreatif.

Kegiatan ini berlangsung dengan bimbingan anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Warga juga dipersilakan untuk melakukan praktik pembuatan sabun cuci dari minyak jelantah.

Praktik pembuatan sabun cuci dari minyak jelantah bersama warga Kampung Melayu Barat. (Dok. Istimewa)

Zulfa Hasanah selaku ketua program kegiatan Kreasi with Fellow nengungkapkan beberapa keresahan dalam masalah pencemaran lingkungan salah satunya dalam hal pembuangan limbah minyak jelantah.

“Dinamakan Kreasi with Fellow karena kita ingin memberdayakan warga sesuai dengan tema kita yakni ‘Optimalisasi Pemberdayaan Masyarakat.’ Minyak jelantah ini kebanyakan dibuang langsung ke selokan padahal bisa mencemari lingkungan.” Ungkap Zulfa.

Mendengar penjelasan dari mahasiswa, warga senang bahwa sabun cuci dari minyak jelantah ini tidak hanya bisa dikonsumsi sendiri tetapi juga bisa diperjualbelikan. Seperti yang disampaikan Ketua Kelompok KKN 132 UIN Jakarta, Chaerul Chikopalakka bahwa sosialisasi ini mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat.

“Tanggapan dari warga di sini cukup baik, mereka antusias dengan adanya pembuatan sabun dari minyak jelantah ini.” Ujar Chiko.

Mahasiswa KKN 132 UIN Jakarta berharap pembuatan sabun cuci piring ini tidak hanya berlangsung dengan periode yang singkat namun tetap berkelanjutan. “Harapan saya dari sosialisasi ini terhadap warga bisa mengelola kembali minyak jelantah agar bisa dipergunakan kembali,” tambah Chiko. Sehingga dimulai dari hal kecil bisa mengurangi limbah dari minyak jelantah.

Anugerah Prestasi Mahasiswa Tahun 2022 : Apresiasi Buat Mahasiswa

Anugerah Prestasi Mahasiswa Tahun 2022 : Apresiasi Buat Mahasiswa 

Reporter Syakirah Litha Azizah;Editor Muhammad Muklas dan Ahmad Haetami

Pemberian penghargaan kepada mahasiswa berprestasi. (DNK TV/Muhammad Ridho)

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang berprestasi pada Jumat (8/8) di Ruang Teater lantai 2 Fdikom UIN Jakarta.

Beberapa agenda dalam kegiatan ini yaitu, penayangan video produksi karya mahasiswa Fdikom, pembacaan SK Mahasiswa Berprestasi oleh Dekan 3 Fdikom, dan Sambutan Dekan 1 Fdikom.

“Ini merupakan satu bukti bahwa fakultas concern pada pembinaan teman-teman mahasiswa dalam bidang akademik ataupun non akademik, yang Alhamdulillah tadi kita berikan apresiasi dalam bentuk anugerah,” jelas Cecep Castrawijaya selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fdikom UIN Jakarta.

Selain itu, kegiatan ini juga merupakan realisasi dari Forum Dekanat Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi PTKIN di seluruh Indonesia yang membentuk satu forum dan kegiatan. Ajang silaturahmi ini dikembangkan dalam bentuk adanya kolaborasi untuk melaksanakan lomba-lomba dalam tingkat nasional.

Cabang lomba yang diselenggarakan antara lain, lomba Dakwah Bahasa Inggris, yang mana UIN Jakarta menjadi tuan rumah pada cabang lomba tersebut. Kemudian ada lomba Dakwah Bahasa Arab, Karya Ilmiah, Film Pendek, Fotografi, Tilawah, dan Tahfizh. Masing-masing dari cabang lomba ini diadakan di beberapa UIN di Indonesia.

Fdikom UIN Jakarta sendiri memberikan apresiasi kepada 14 mahasiswa yang berhasil meraih juara dari beberapa cabang lomba.

“LSO di bawah naungan fakultas menjadi wadah bagaimana mengasah minat dan bakat teman-teman mahasiswa sehingga dia akan bisa memberikan motivasi untuk berpartisipasi di ajang lomba-lomba baik itu nasional maupun internasional,” lanjut Cecep Castrawijaya.

Pemberian sertifikat kepada mahasiswa berprestasi oleh Dekan Fdikom. (DNK TV/Muhammad Ridho) 

Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi bukti agar para mahasiswa selalu meningkatkan kreativitasnya, dan semakin memotivasi mahasiswa untuk terus berprestasi baik dalam tingkat nasional maupun internasional. 

“Kita harus cinta sama hobi kita sendiri. Cinta itu yang menimbulkan prestasi. Jadi misalnya hobi kita, kita cintai, dan karena cinta itu kita belajar terus, kita gali hobi kita terus dan itulah yang menimbulkan prestasi,” ungkap Risa Alifia selaku mahasiswa berprestasi Juara 2 Tilawah Al-Qur’an tingkat nasional. 

Agenda pemberian apresiasi kepada mahasiswa berprestasi ini memberikan kesan yang baik kepada mahasiswa itu sendiri. 

“Fakultas Dakwah itu terkenal dengan pemberian apresiasi kepada mahasiswanya yang benar-benar apresiasi luar biasa untuk mahasiswanya,” lanjut Risa. 

Aturan Paksa Berhijab di Sekolah, Bagaimana dalam Islam?

Aturan Paksa Berhijab di Sekolah, Bagaimana dalam Islam?

Reporter Tia Kamilla;  Editor  Muhammad Muklas dan Ahmad Haetami

Ilustrasi gambar siswi sekolah. (Freepik/@muslimah)

Menutup aurat bagi seorang muslimah adalah bentuk ketakwaan kepada sang pencipta. Namun, kini dalam lingkup remaja, terdapat aturan yang dinilai memaksa seseorang untuk menggunakan jilbab, sehingga menimbulkan keresahan siswi, salah satunya di institusi pendidikan (sekolah).

Maraknya kasus pemaksaan hijab di sejumlah sekolah negeri, seperti di SMA Negeri 1 Banguntapan Bantul, Yogyakarta dan SMK Negeri 2 Padang. Kasus serupa juga terjadi di Jakarta, yaitu di SDN di daerah Tambora dan SMPN di Kebon Jeruk. Hal ini, membuat masyarakat menilai pihak sekolah dan dinas terkait, tidak lagi mencerminkan keberagaman dan kebebasan, atas seragam dan atribut dengan kekhususan agama di sekolah-sekolah negeri tersebut.

Melansir dari Kemdikbud.go.id, Pemerintah Daerah (Pemda) bersama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama, kini telah mengambil sikap tegas dengan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB), mengenai Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang Diselenggarakan Pemerintah Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Berdasarkan SKB tersebut, Pemda dan pihak sekolah dilarang untuk mewajibkan penggunaan seragam dan atribut dengan kekhususan agama tertentu. Selain itu, menggunakan seragam atau atribut berbasis keagamaan di sekolah negeri di Indonesia adalah keputusan individu atas murid dan guru.

Sejalan dengan itu, salah satu Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta, Indah Fadhillah berpendapat bahwa sebuah aturan harus berdasarkan kebebasan dan bersama, bukan sebuah pemaksaan.

“Kembali lagi ke kebebasan orang tersebut, kalo memang merasa terpaksa, maka aturannya jadi tidak boleh. Tapi memang akan menjadi peraturan, bahasanya diganti, bukan diwajibkan, tapi disarankan. Sehingga ketika sekolah itu memberikan peraturan, orang tua dan murid itu, juga bisa membuat keputusan, berdasarkan pemahaman atau agama mereka masing-masing,” ujarnya saat diwawancarai via WhatsApp pada, Jumat (5/8).

Hal ini juga didukung dengan pernyataan salah satu mahasiswa UIN Jakarta, Rizkiyah Mutiara. Menurutnya, hukum memakai jilbab dalam islam memanglah wajib, namun konteks “pemaksaan” juga tidak bisa menjadi pembenaran.

“Tentu hukumnya wajib, sebagai seorang muslimah untuk menutup aurat. Pemakaian jilbab tergantung bagaimana kepada diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita. Tapi dalam hal paksaan ini tidak dibenarkan,” ujar Rizkiyah.

Ilustrasi gambar mendapatkan hidayah. (Freepik/@hidayah)

Dalam agama Islam, niat yang baik untuk saling mengingatkan, jika disampaikan dengan cara yang salah, tentu akan menjadi sia-sia. Perlu adanya etika dan cara yang benar, seperti tidak menggunakan kalimat yang kasar, dilakukan dengan niat ikhlas, dan tidak memaksa agar nasehat diterima.

Hidayah pun akan datang dengan sendirinya, sesuai dengan kemauan dan izin Allah SWT. Rizkiya Mutiara pun setuju, apapun yang berasal dari hati, akan jauh lebih baik daripada mendapatkan paksaan dari orang lain, sebagai bentuk ketaatan kepada sang Pencipta.

“Baiknya, kita memberikan suatu energi baik atau nasehat secara perlahan, nanti akan datang hidayah dengan sendirinya, dan bakal melakukan ini, sebagai bentuk ketaatan dan keihklasan kita hanya karena Allah SWT bukan karena orang lain,” jelas Rizkiya.

Jika penyampaian dilakukan dengan cara yang benar, maka tidak ada rasa kecewa dan membuat orang lain tersinggung. Justru akan berdampak baik bagi orang yang ikhlas menjalankannya.

“Jadi sesuatu bisa dianggap sebagai sebuah nasehat, dan si penerima ini, merasa nasehat ini bisa diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, berarti kewajiban memakai jilbab itu menjadi sebuah peraturan yang mendukung, atau membantu orang lain untuk mendapatkan kenyamanan,” tutup Indah Fadhillah.

Pelita 2022 Hadirkan Bazar dan Cek Kesehatan Gratis

Pelita 2022 Hadirkan Bazar dan Cek Kesehatan Gratis

Reporter Nurdiannisya Rahmasari;  Editor Dani Zahra Anjaswari  

Pelaksanaan talkshow Pekan Literasi. (Dok istimewa) 

Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) melalui Departemen Penelitian dan Pengembangan kembali menyelenggarakan kegiatan Pekan Literasi (Pelita) 2022 dengan mengusung tema “Optimisasi Media Edukasi dalam Literasi Digital di Era Society 5.0” yang diselenggarakan secara offline di dua tempat yaitu Teater Lantai 2 FDIKOM pada Senin (1/8) dan Aula Cercondeso, Bogor pada Rabu (3/8).

Ketua pelaksana Pelita 2022, Muhammad Shidqi Aldiansah mengatakan tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

“Tujuan dari Pelita sendiri, berkaca pada pembukaan UUD 1945 yang tertulis bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkap Shidqi.

Menurutnya salah satu standar negara cerdas adalah bagaimana negara tersebut dapat berliterasi. Oleh karena itu menurut Shidqi, literasi yang dijalankan oleh HMPS KPI adalah literasi aksi sebagai bukti bahwa mahasiswa-mahasiswi KPI adalah agent of change yang melaksanakan tugasnya dalam hal literasi.

“Salah satu standar negara cerdas adalah bagaimana negara tersebut berliterasi. Dan pada hari ini HMPS KPI melakukan literasi yang beraksi,” jelas Shidqi.

Bazar Pakaian, Bazar Buku, dan Cek Kesehatan Gratis (Dok istimewa) 

Ketua HMPS KPI, Hendry Hermawan mengungkapkan adanya inovasi baru dalam pelaksanaan kegiatan Pelita tahun ini. Di antaranya bazar buku, bazar baju layak pakai, dan cek kesehatan gratis.

“Untuk inovasi sendiri, perbandingan Pelita tahun lalu dengan tahun ini kami mengadakan bazar. Bazar ini melingkupi tiga hal yaitu bazar buku gratis tujuannya untuk literasi itu sendiri, kedua kita membuka bazar baju layak pakai sebagai bentuk bantuan sosial kita, lalu kita juga menyediakan cek kesehatan gratis sebagai salah satu bentuk kolaborasi,” ungkap Hendry.

Hendry berharap kegiatan ini dapat meningkatkan daya minat baca anak-anak dan meningkatkan literasi secara umum.

“Harapan terhadap Pelita ini bisa meningkatkan daya minat baca anak-anak sekitar sini (Cercondeso) dan meningkatkan literasi secara umum,” ungkapnya.

Terakhir, Hendry mengatakan bahwa kepedulian mahasiswa terhadap literasi perlu dibangun, dan harapannya HMPS KPI dapat menjadi barometer.

“Rasa peduli mahasiswa terhadap literasi perlu dibangun. Untuk itu HMPS KPI dapat menjadi barometer dalam membangun literasi bisa sampai kepada masyarakat,” pungkasnya.

Pelanggaran Privasi hingga Pemblokiran, Kominfo Banjir Kritik

Pelanggaran Privasi hingga Pemblokiran, Kominfo Banjir Kritik

Reporter Zharfan Zahir;  Editor Mazaya Riskia Shabrina 

Ilustrasi privasi data. (Freepik/8photo)

Belakangan ini beredar isu terkait pemerintah menggunakan aturan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk mengintip data pribadi pengguna platform digital yang telah terdaftar PSE. Terdapat banyak pengguna yang memberikan komentar negatif terkait hal tersebut.

Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Abdul Syukur mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut mengganggu privasi dirinya sebagai pengguna Valve Corp.

“Hal tersebut merupakan privasi pengguna sekaligus hak pengguna aplikasi akan terjaganya data pengguna. Dengan terjaganya data privasi dapat menghindari penyalahgunaan data dan menghindari hal yang tidak di inginkan,” ujarnya.

Terkait tuduhan tersebut Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) menegaskan pihaknya tidak dapat mengakses data pribadi pengguna aplikasi atau situs yang mendaftar kepada PSE. Akses data pribadi pengguna hanya dapat dilakukan oleh aparat penegak hukum dan instansi yang memiliki kewenangan dan dalam kondisi tertentu.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan bahwa kami tidak bisa memantau data pribadi seperti percakapan, dalam konferensi pers yang dilakukan secara virtual, Minggu (31/7)

“Kami tidak bisa melihat atau memantau data pribadi seperti percakapan atau data pribadi lainnya. Jadi tidak sembarangan. Pihak yang meminta data harus punya kewenangan,” ujarnya.

Di beberapa situs yang diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) terdapat beberapa situs game online yang memiliki kejuaraan bergengsi seperti Dota, FIFA, Counter Strike GO, dan masih banyak lagi. Pemblokiran ini cukup menimbulkan keresahan bahkan dapat membuat atlet atau pegiat e-sport merasa tidak mendapat dukungan oleh pemerintah dalam mengharumkan nama bangsa melalui cabang e-sport.

Beliau menuliskan bentuk protesnya di akun Twitter pribadi miliknya pada Sabtu lalu (30/7). Bentuk protes yang ditujukan kepada pihak Kominfo dianggap mewakili isi hati para warganet dan postingannya telah disukai lebih dari 13.000 kali.

“Katanya dukung e-sport, tapi kenapa Steam diblokir?,” ungkap Dokter Tirta yang juga aktif di media sosial.

Pemberitahuan pembukaan akses PayPal, Steam, CS Go, Yahoo, dan Dota. (Instagram/@kemenkominfo)

Pada Selasa (2/8) Kominfo juga resmi membuka kembali semua akses PSE asing yang sempat diblokir. Beberapa PSE asing yang resmi dinormalisasi oleh Kominfo antara lain, Valve Corp (Steam, CS Go, dan DOTA) sejak pukul 08.30 WIB dan juga PayPal pada pukul 08.00 WIB. Namun, PayPal masih bersifat sementara karena pihak PayPal belum resmi mendaftar sebagai PSE kepada Kominfo.

Terkait dengan pembukaan sementara PayPal, Kominfo memberi waktu 5 hari untuk para pengguna PayPal menarik kembali uang mereka yang masih berada di Paypal. Apabila dalam kurun waktu tersebut PayPal masih belum melakukan pendaftaran ke PSE Kominfo, maka situs tersebut akan kembali diblokir.

Hingga saat ini, tagar Paypal masih menjadi trending topik di Twitter. Meski sudah dibuka, tidak sedikit masyarakat yang bingung dengan nasib pekerjaan mereka yang bekerja sama dengan perusahaan luar negeri seperti Influencer. Pasalnya, banyak perusahaan luar negeri yang memberi upah Influencer hanya menggunakan PayPal.

Warga Twitter pun banyak yang menyindir Kominfo karena aturan PSE tersebut, seperti salah cuitan milik penulis sekaligus musisi Indonesia, Fiersa Besari. Beliau menuliskan keresahannya dengan pemblokiran yang dilakukan oleh Kominfo karena mempersulit masyarakat mencari uang melalui dunia digital.

“Kehidupan di dunia digital bisa mengurangi angka pengangguran. Beberapa orang cari uang di internet. Lagi cari uang, malah dipersulit sama bapak-bapak yang dikit-dikit kerjaannya nge-blokir,” tulis Fiersa dalam akun Twitter pribadinya.

Mahasiswi UIN Jakarta, Humaira Ratu Nugraha sebagai pengguna PayPal merasa dirugikan, sebab dia sering membeli barang dari luar negeri dan melakukan pembayaran melalui PayPal. Hal tersebut dia lakukan untuk mencari penghasilan dengan menjual kembali barang yang ia beli dari luar negeri.

“Adanya pemblokiran PayPal ini menyusahkan, sebab PayPal sebagai salah satu e-wallet yang membentuk diri sendiri maupun masyarakat yang income-nya dari e-wallet. Sehingga, hal ini sebagai keputusan yang menyusahkan dan tidak perlu diblokir,” tutur Humaira.

Humaira menambahkan bahwa dirinya berharap Kominfo tetap membuka mata bahwa aplikasi PayPal sangat penting bagi banyak orang untuk kebutuhan sehari-hari. Ia juga berharap Kominfo mampu mendengarkan suara rakyat bahwa butuh proses yang cukup lama bagi anak bangsa untuk menciptakan sebuah aplikasi, terkecuali jika dalam hal pembuatan aplikasi tersebut mendapatkan dana untuk mempermudah prosesnya.

Dema UIN Jakarta Memberikan Apresiasi Tinggi Atas Saran Membangun di Program “Suara Mahasiswa”

Dema UIN Jakarta Memberikan Apresiasi Tinggi Atas Saran Membangun di Program “Suara Mahasiswa”

Reporter Anindi Aida Bilqis; Editor Mazaya Riskia Shabrina 

Flyer “Suara Mahasiswa” oleh Dema UIN Jakarta. (Instagram/@demauinjkt_official

Tepat pada Senin (1/8) akun Instagram Dema UIN Jakarta Official mengupload flyer salah satu program kerja Dema UIN Jakarta yaitu “Suara Mahasiswa” yang berisi ajakan kepada seluruh mahasiswa UIN Jakarta untuk menyalurkan ide, aspirasi, dan saran yang bertujuan untuk mewujudkan Dema UIN Jakarta 2022 yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa UIN Jakarta.

Melalui program “Suara Mahasiswa” Dema UIN Jakarta membuka forum untuk menerima berbagai saran terhadap kinerja dan program-program Dema UIN Jakarta ke depannya agar semakin baik dan menciptakan perubahan-perubahan yang berkemajuan.

Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Maryam Fatiya mengungkapkan bahwa dia setuju dengan program “Suara Mahasiswa” karena bisa menjadi jembatan bagi mahasiswa UIN Jakarta untuk mengekspresikan pendapat, ide, aspirasi, gagasan, masukan maupun saran untuk perkembangan program-program Dema UIN Jakarta.

Maryam juga menyampaikan sarannya bahwa program-program yang akan datang agar bisa lebih mengayomi seluruh mahasiswa dikarenakan cakupan dari Dema UIN Jakarta yang luas yaitu Universitas sehingga bisa lebih luas lagi menjangkau berita, info, maupun program yang sifatnya umum.

Google Formulir “Suara Mahasiswa”. (https://bit.ly/SuaraMahasiswaUINJKT)

Dema UIN Jakarta menyediakan sarana berupa Google Form yang memiliki tenggat waktu sampai tanggal 7 agustus 2022 untuk seluruh mahasiswa UIN Jakarta menyampaikan aspirasinya. Dema UIN Jakarta juga memberikan apresiasi untuk mahasiswa yang memberikan aspirasi terbaik dengan dilihat berdasarkan argumentasi, data, dan fakta yang kuat. Sekaligus dengan memberikan saran yang membangun untuk Dema UIN Jakarta maka hal itu menjadi salah satu syarat terpilih menjadi yang terbaik nantinya.

Sampai saat ini Kamis (4/8), jumlah mahasiswa yang mengisi Google Form tersebut sudah mencapai 33 orang, tentunya angka tersebut sangat bagus karena melihat antusiasme mahasiswa UIN Jakarta yang peduli terhadap kemajuan kampusnya. Mayoritas peserta yang mengisi link diisi oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Fakultas Psikologi (PSI), dan Fakultas Kedokteran (FK).

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Dema UIN Jakarta, Qur’ani Izzati Rahmah mengatakan bahwa urgensi diadakannya program Suara Mahasiswa yaitu untuk memfasilitasi dan melihat keadaan mahasiswa terutama UIN Jakarta dengan harapan Dema UIN Jakarta dapat memberikan dampak yang benar-benar nyata dan terasa karena aspirasinya dari seluruh mahasiswa UIN Jakarta, sehingga Dema UIN Jakarta bisa mencoba mengkaji dan menindaklanjuti agar dapat memfasilitasi apa yang dibutuhkan.

Suara Mahasiswa sendiri baru diadakan tahun ini sebagai proker pertama dari bidang Penelitian dan Pengembangan. Nantinya akan ada tiga periode (pertama, tengah, dan akhir kepengurusan). Periode pertama mengenai saran untuk Dema UIN Jakarta ke depannya, periode tengah mengenai kritik terhadap kinerja Dema UIN Jakarta, dan periode akhir yaitu tanggapan, kritik dan saran atas kinerja Dema UIN Jakarta dari awal kepengurusan sehingga dapat membangun Dema UIN Jakarta yang lebih baik ke depannya.

Dianggap Kekerasan dan Tidak Manusiawi, Aksi Lempar Botol Pipis ke Kominfo Batal Dilakukan

Dianggap Kekerasan dan Tidak Manusiawi, Aksi Lempar Botol Pipis ke Kominfo Batal Dilakukan

Reporter Maya Maulidia; Editor Riyasti Cahya Rabbani dan Syaifa Zuhrina

1 Aqustus 2022 - Medan Merdeka Barat Jakarta 
Kominfo Membungkan Suara Kritis Berdalih Pendataan?
Suasana seruan aksi oleh BPP. (Instagram/@blokpolitikpelajar)

Kabar mengenai daftar atau blokir akses layanan platform digital terhadap Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebabkan adanya seruan gerakan lempar botol berisi air pipis oleh Blok Politik Pelajar (BPP) pada Senin (1/8). Fenomena keduanya saling berkaitan satu sama lain hingga memunculkan pro dan kontra aturan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Kemenkominfo.

Kemenkominfo telah menetapkan kewajiban mendaftar PSE terhadap platform digital sebagai amanat dari Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 tentang PSE lingkup pribadi guna melindungi masyarakat saat ingin mengakses platform digital. Meski sudah ada yang mendaftar layanan PSE di Kemenkominfo, beberapa masih merasa dirugikan karena harus patuh terhadap Standard Operating Procedure (SOP) ataupun aturan-aturan yang berpotensi melanggar hak asasi manusia.

Sehingga bagi beberapa platform digital yang belum mendaftar layanan PSE terancam akan diblokir oleh Kemenkominfo. Padahal, Indonesia menjadi salah satu negara yang warganya memanfaatkan dan sering mengakses internet maupun media sosial untuk kegiatan sehari-hari. Terlebih lagi, jika platform yang diblokir tersebut merupakan wadah pekerjaan yang digunakan pekerja digital sebagai pemasukan.

PendaFtaran 
Penyelenggara 
Sistem Elektronik 
LINGI<UP PRIVAT 
(PSE) 
Versi : 1.0 
KOMINFO
Pendaftaran Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE). (aptika.kominfo)

Dari kejadian tersebut, BPP berencana melakukan aksi dengan seruan “Ramai-Ramai Lempar Botol Pipis ke Kementrian Kominfo (Kemenkominfo RI)” pada Senin (1/8). Namun, aksi tersebut diurungkan dengan pertimbangan dan penjelasan sebagai berikut:

  1. BPP menghargai adanya kerja sama dan adanya pembelaan yang dilakukan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo).
  2. BPP tidak bergabung dan mengikuti kerja sama tersebut.
  3. Adanya tagar #BlokirKominfo, BPP memperbolehkan masyarakat luas menggunakan tagar tersebut guna mendukung terhadap kekesalan yang terjadi. Namun, muncul tudingan kerja sama bahwa tagar dan aksi tersebut merupakan tindakan provokasi dan kontra produktif.
  4. Kegagalan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dituding sebagai penyulut atau menjadi penyebab utama, menjadikan adanya pertemuan audien antara koalisi dan Kemenkominfo.
  5. Aksi koalisi seruan lemparan botol berisi air pipis dianggap sebagai perbuatan kekerasan dan tidak manusiawi. Padahal, tindakan tersebut ditujukan terhadap benda mati bukan benda hidup.
  6. Perwakilan dari BPP akan bertanggung jawab atas kondisi dan situasi yang terjadi di lokasi.