Sasana Wushu Inti Bayangan, Ulik Sejarah dan Kehebatannya

Sasana Wushu Inti Bayangan, Ulik Sejarah dan Kehebatannya

Reporter; Indi Azizi Editor: Editor; Tiara De Silvanita

Suasana latihan para atlet Wushu di Sasana Wushu Inti Bayangan (DNK TV/Pria Mulya)

Sasana Wushu Inti Bayangan merupakan salah satu komunitas wushu di Indonesia tepatnya di Jakarta yang berdiri sejak 18 Februari 1998. Didirikan oleh Ahmad Rivai yang merupakan pelatih utama dan juga atlet pertama Wushu Indonesia, sasana ini telah memliki lebih dari 200 anggota.


Wushu merupakan olahraga seni bela diri berasal dari Cina. Olahraga wushu terbilang mirip seperti kungfu tetapi jurus-jurus di dalam wushu seringkali menggunakan senjata. Senjata yang digunakan di antaranya seperti golok, gunshu, nangun, dan qiang. Wushu juga dapat diartikan sebagai seni dalam bertempur, tak hanya bela diri di dalam wushu juga terdapat unsur seni, olahraga, tentunya juga kesehatan.

Pendiri Sasana Wushu Inti Bayangan, Ahmad Rivai menceritakan sejarah wushu di Indonesia ini pertama kali didirikan pada 10 November 1992 oleh I Gusti Kompyang (IGK) Manila yang dinobatkan sebagai Bapak Wushu Indonesia, tepat menjelang SEA Games ke XVIII Singapura.

“Wushu di Indonesia berdiri pada 10 November 1992 oleh IGK Manila yang merupakan Bapak Wushu Indonesia. Dan setelah berdirinya Wushu langsung kita persiapkan untuk berlaga pada SEA Games tahun 1993 di Singapura,” tuturnya saat diwawancarai pada (31/07).

Founder Sasana Wushu Inti Bayangan. (DNK TV/Pria Mulya)

Kegiatan pertama yang diikuti Ahmad Rivai adalah Pelatnas SEA Games di Singapura pada tahun 1993. Dari pengalaman berlatih di pelatnas dan pelatih kelas dunia, banyak pelajaran dan keuntungan yang ia dapatkan sebagai dasar didirikannya Sasana Wushu Inti Bayangan ini.

Berawal dari hobi dan niat ingin mengembangkan ilmu yang telah didapatkan di pelatihan nasional  (pelatnas), juga ilmu yang didapatkan dari berlatih di Cina selama hampir dua tahun, itulah awal mula Ahmad Rivai mendirikan Sasana Wushu Inti Bayangan.

“Berawal dari hobi dan ilmu yang saya dapatkan di pelatnas dan ilmu yang saya dapatkan di Cina untuk berlatih selama dua tahun, dari situlah saya punya niatan mengembangkan olahraga Wushu untuk mencetak atlet-atlet berprestasi.” ucap Ahmad Rivai.

Sasana Wushu Inti Bayangan sering diminta untuk memberikan pelatihan baik tingkat daerah maupun nasional. Sehingga keberadaannya memiliki hubungan yang sangat luas dengan Sasana Wushu di seluruh Indonesia, bahkan di negara asalnya seperti Provinsi Shanghai, Beijing, Guang Dong, dan Henan.

Sejak berdirinya hingga saat ini, Sasana Wushu Inti Bayangan telah berhasil mencetak banyak atlet berprestasi yang telah meraih kejuaraan di kancah nasional maupun internasional. Seperti juara Asia, juara Dunia, juara SEA Games, juara Asian Games, dan juara Pekan Oalahraga Nasional (PON).

Salah satu atlet berprestasi Sasana Wushu Inti Bayangan, Achmad Hulaefi atau yang biasa disapa Ulay mengatakan, bahwa dirinya sudah banyak meraih kejuaraan di tingkat nasional dan internasional.

“Prestasi yang pernah saya raih selama menjadi atlet wushu diantaranya meraih medali perak di kejuaraan Asia pada tahun 2005, meraih medali emas di ajang SEA Games 2011, dan meraih juara pada SEA Games 2018” ujar Ulay.

Senyum Desa Bersama Fellow dengan Ecobricks

Senyum Desa Bersama Fellow dengan Ecobricks

Reporter Wafa Thuroya Balqis

Program Senyum Desa bersama KKN 132 Fellow UIN Jakarta membentuk Ecobricks. (Dok. Istimewa)

Kuliah Kerja Nyata (KKN) 132 Fellow Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta kembali mengangkat permasalahan lingkungan ke dalam program kerjanya. Program “Senyum Desa” yang berkelanjutan ini ditutup dengan sosialisasi sampah organik-anorganik dan praktik pembuatan ecobricks di SMA PGRI Teluk Naga, Rabu (10/8).

Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat khususnya dimulai dari siswa mampu melihat peluang yang ada meskipun hanya dari tumpukan sampah plastik. Sampah yang sulit terurai ini bisa diolah kembali menjadi barang yang memiliki nilai estetika. Misalnya saja melalui ecobricks, dimulai dari hal kecil akan menghasilkan barang cantik yang bermanfaat.

Sosialisasi dan pembuatan ecobricks ini dilakukan karena dinilai lebih mudah diikuti siswa dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai agenda berkelanjutan yang produktif untuk siswa.

Praktik Pembuatan Ecobricks di SMA PGRI Teluk Naga. (Dok. Istimewa) 

Salah satu penanggungjawab program Senyum Desa, Arif Arafah atau dikenal dengan Afrant mengungkapkan bahwa sampah plastik lebih baik diolah kembali agar dapat tersimpan dengan baik daripada dibakar.

“Dengan ecobricks, sampah-sampah plastik dapat dimanfaatkan untuk hal berguna, alih-alih dibakar, ditimbun, atau dibiarkan menggunung. Kalau dibakar, zat berbahaya seperti karbon monoksida akan terlepas ke udara malah membahayakan kesehatan juga menjadi penyumbang pemanasan global.” Ungkapnya.

Begitupun dengan penanggungjawab program Senyum Desa lainnya, Dyah Kintan menambahkan, “Ecobricks juga dapat dibuat menjadi berbagai barang seperti kursi, meja, bahkan menggantikan batu bata dalam bangunan.”

Siswa SMA PGRI Teluk Naga, Alvin juga mengatakan bahwa kegiatan ini menarik dan dapat dipraktikan dengan mudah.

“Tertarik sih bikin ecobricks, selain bisa mengurangi sampah jadi bisa tau lebih banyak dari sosialisasi ini tentang kegunaan sampah organik dan anorganik yang belum diketahui,” ungkapnya.

Harapannya siswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga sampah plastik kembali bermanfaat dan memiliki nilai jual.

Kelas Sendok di Korea Selatan, Apa Itu?

Kelas Sendok di Korea Selatan, Apa Itu?

Penulis Argian Khairullah; Editor Ahmad Haetami 

Ilustrasi gambar dari Teori Kelas Sendok sesuai tingkatan. (Cho Sang-won) 

Korea Selatan dipandang sebagai negara maju dengan teknologi yang mutkahir dan industri hiburannya yang sukses jadi kegemaran di seluruh dunia. Namun, apakah kamu tahu kalau Korea Selatan juga masih tinggi tingkat kesenjangan sosial ekonominya?

Di Korea Selatan ada penggolongan kelas yang berdasarkan pada aset dan tingkat pendapatan dari orang tua. Akibatnya, kesuksesan orang dalam kehidupan secara keseluruhan bergantung pada lahir dalam sebuah keluarga kaya.

Penggolongan tersebut dikenal dengan Spoon Class Theory atau Teori Kelas Sendok. Teori ini merujuk pada gagasan bahwa orang-orang di sebuah negara dapat diklasifikasikan dalam kelas sosio ekonomi yang berbeda.

Teori Kelas Sendok menyatakan bahwa status ekonomi anak ditentukan oleh sendok emas, perak, perunggu, atau tanah tergantung pada kekayaan orang tua mereka.

Teori Kelas Sendok ini jika dibiarkan akan makin menambah kesenjangan. Namun, di balik rasa ingin menghilangkan teori ini ada kenyataan bahwa teori ini sudah sangat melekat di Korea Selatan, bahkan masyarakat Korea Selatan sudah memiliki kelompok nya masing-masing si kaya dengan si kaya, dan begitupun sebaliknya.

Menanggapi persoalan mengenai teori kelas sendok, salah satu mahasiswa sosiologi UIN Jakarta, Muhammad Alvin menjelaskan. Menurutnya ada kesenjangan sosial sama kecemburuan sosial, karena sendok emas itu isinya orang-orang kaya sedangkan sendok tanah isinya orang-orang miskin.

“Teori Kelas Sendok yang diterapkan di Korea Selatan dan di berbagai negara menurut saya kurang efektif, karena kan anak yang sudah terlahir kaya akan tetap kaya dan yang miskin tetep miskin. Kalau begitu bagaimana mau maju negara kalau generasinya masih begitu. Selain itu, pasti ada kesenjangan sosial sama kecemburuan sosial, karena sendok emas itu isinya orang-orang kaya sedangkan sendok tanah isinya orang-orang miskin. Orang miskin pasti merasa iri pokonya dia seperti tidak terima dirinya diperlakukan tidak seimbang,” jelasnya.

Sedikit sekali yang mengetahui jika Korea Selatan memiliki desa kumuh. Guryong, beda sekali kehidupan di desa ini dengan ibu kota Korea Selatan yang di kelilingi gedung-gedung pencakar langit.

Bangunan di Desa Guryong rata-rata dibuat dengan bahan seadanya ini bisa dikategorikan masuk ke kelas sendok tanah. Desa ini jadi pilihan warga untuk tetap bertahan di tengah penggusuran besar-besaran. Pendapatan perbulan mereka dikit dan keadaan semakin membuat mereka miskin.

Dari sini kita bisa melihat cukup jelas kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi di negara Korea Selatan, upaya untuk menggeser kesenjangan ini, tapi kenyataan lebih mendominan di mana individu yang memiliki kakayaan atas orang tuanya sangat mudah untuk menggapai keinginan individu ini sendiri.

Begitupun sebaliknya, individu yang tidak memiliki kekayaan atas orang tuanya akan terasa sulit untuk menggapai keinginannya. Jadi fakta dan keinginan kerap kali bersimpangan di mana teori kelas sendok ini memiliki pengaruh di Korea Selatan.


Ketimpangan sosial di Korea Selatan. (GettyImages)

Teori kelas sendok juga mengundang perbincangan di platfrom Twitter, netizen beramai-ramai mengeluarkan pendapat mereka mengenai teori ini.

Kebanyakan dari mereka memberikan tanggapan berupa fakta, bisa disimpulkan sudah banyak sekali pandangan masyarakat mengenai Teori Kelas Sendok ini. Mereka bahkan mendebat beberapa fakta yang bisa dijadikan gambaran yang cukup jelas.

Berikut beberapa komentar warganet yang cukup menarik ialah pemilik akun @itsjevy yang memberikan komentarnya.

“Korea Selatan mah masih classist banget, apa-apa berdasarkan kelas. Banyak tuh anak-anak petinggi elit yang bebas hukum karena mereka kaya, contohnya Han Seo Hee (bukan aktris) sama satu lagi aku inget ada rapper cowo baru-baru ini kena masalah tapi bebas karena orang tuanya kaya,” ujarnya di salah satu postingan bernama @senjatanuklir.

Akun bernama @humbIegoddess ikut mengomentari. “Permasalahan patriarki itu sudah melekat banget di Korea. Bahkan rasisme pun dilakukan ke sesama orang Korea Selatan. Coba deh nonton reality show KBS yang Hello Counselor di YouTube. Bisa dilihat dan jadi tahu bagaimana kehidupan orang Korea Selatan aslinya tidak seindah yang ditunjukkan di drama,” ujarnya.

Ramainya perbincangan mengenai teori kelas sendok ini, menjadikan pandangan baru untuk salah satu mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Fatimah Malinda Utami. Menurutnya apabila teori ini semakin berkembang terutama untuk golongan ekonomi ke bawah akan semakin terkurung dalam kesenjangan.

“Saya sendiri baru tahu kalau Korea Selatan menganut sistem ini. Memang setiap negara memiliki pandangan nya sendiri, tapi teori yang diterapkan di Korea Selatan ini cukup menarik. Dengan diterapkannya teori kelas sendok jelas akan semakin menimbulkan kesenjangan, seseorang dinilai secara ekonominya dan dipisahkan menurut tingkatan yang berbeda itu akan nimbulin pandangan yang cukup mencolok. Pada akhirnya kesenjangan akan terus terasa kalau teori ini makin berkembang apalagi untuk golongan ekonomi kebawah akan semakin terkurung dalam kesenjangan sosial,” jelasnya.

Segelintir masyarakat yang baru mengetahui Teori Kelas Sendok ini. Bahkan, banyak yang belum mengetahui kalau Korea Selatan menganut Teori Kelas Sendok ini. Teori Kelas Sendok ini pada nyatanya menggambarkan realita Korea Selatan yang jarang diketahui banyak orang. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Orang-orang sulit untuk mengubah tingkat kesejahteraannya karena sifatnya struktural dari keturunan harta keluarga dan privilese yang berbeda.

Kita semua menyangka Korea Selatan sangat maju dan jauh dari kata kesenjangan, pada kenyataanya dengan diterapkannya Teori Kelas Sendok tersebut kesenjangan sosioekonomi pun semakin terlihat nyata di negara Korea Selatan.

PBAK 2022 Diselenggarakan Tatap Muka, Solusi Mahasiswa Baru Beradaptasi

PBAK 2022 Diselenggarakan Tatap Muka, Solusi Mahasiswa Baru Beradaptasi

Reporter  Syakirah Litha Azizah;  Editor  Adellia Prameswari

Pengenalan Budaya dan Akademik Kemahasiswaan UIN Jakarta. (biropk.uinjkt.ac.id)

Memasuki tahun ajaran baru, UIN Jakarta berencana mengadakan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) secara tatap muka pada tahun ini.

PBAK sendiri memiliki beberapa tahapan, yang pertama PBAK tingkat universitas yang dilaksanakan pada Selasa – Rabu, 23 – 24 Agustus 2022. Kemudian PBAK tingkat fakultas pada Kamis, 25 Agustus 2022. Dan ditutup dengan PBAK tingkat program studi pada Jumat, 26 Agustus 2022.

Namun, untuk PBAK tingkat universitas masih direncanakan untuk dilaksanakan secara hybrid, dikarenakan akan mengumpulkan massa yang cukup banyak.

“Untuk PBAK tingkatan universitas akan kami sortir terlebih dahulu, karena sistemnya hybrid, tetapi untuk tingkatan fakultas seluruh mahasiswa baru diwajibkan bersua secara offline di fakultas,” ujar Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fdikom, Alfi Syahrin dalam wawancara bersama DNK TV via Whatsapp pada Selasa (9/8).

Alasan utama PBAK tingkat fakultas dan program studi akan diselenggarakan secara offline, guna mempercepat adaptasi para mahasiswa baru di masa transisi ini.

“Sangat penting melihat transisi dari online ke offline di masa perkuliahan ini sudah berjalan, dan keputusan dari rapat koordinasi bersama Dekanat pun menyatakan bahwa untuk PBAK di tingkat Fdikom secara serempak dilaksanakan secara offline, urgensi lainnya adalah mulainya adaptasi baru terhadap perkuliahan secara offline, maka pun begitu dengan PBAK-nya yang tentunya akan tetap memperhatikan protokol kesehatan saat berlangsung,” jelas Hendry selaku Ketua HMPS Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Suasana Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan UIN Jakarta. (Twitter/@PBAKFPsi2017)

Sedangkan, jika dilihat dari kesiapan fakultas dan program studi dalam mengadakan PBAK secara offline, sudah pada tahap proses penyempurnaan teknis.

“Berbicara akan kata siap, insyaa Allah kami siap, hanya saja masih dalam tahap proses penyempurnaan teknis,” lanjut Alfi.

Kemudian, mengenai regulasi yang akan diterapkan di masa transisi ini sebatas protokol kesehatan yang sifatnya lumrah dan akan dikoordinasikan dengan pihak Dekanat.

“Harapannya dengan PBAK offline ini mampu kembali meningkatkan semangat dunia kemahasiswaan dari mahasiswa baru dan dengan pengenalan secara offline diharapkan dapat menumbuh kembangkan persaudaraan dan kekeluargaan,” ungkap Hendry.

“Dan semoga mahasiswa baru mampu menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab terhadap masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT,” lanjutnya.

Gandum Langka, Harga Mie Instan Terancam Naik Tiga Kali Lipat

Gandum Langka, Harga Mie Instan Terancam Naik Tiga Kali Lipat 

Reporter Debri Wahyu Wardana;  Editor Mazaya Riskia Shabrina 

Ilustrasi mie instan. (Pixabay/@half_rain) 

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo baru-baru ini menghebohkan masyarakat Indonesia. Lantaran mengatakan mie instan akan mengalami kenaikan tiga kali lipat yang disebabkan naiknya harga bahan baku mie instan yaitu gandum di pasar dunia.

“Hati-hati yang makan mie banyak dari gandum, besok harganya naik tiga kali lipat,” katanya dalam webinar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Pada Senin (8/8)

Kenaikan harga gandum ini akibat dari berlarutnya perang antara Ukraina dan Rusia. Kedua negara tersebut termasuk dalam negara penghasil gandum terbesar di dunia. Rusia menempati peringkat ketiga, sedangkan Ukraina menempati urutan kedelapan penghasil gandum terbesar di dunia. Bahkan Ukraina menjadi negara pengekspor gandum terbesar di dunia.

Perang Rusia-Ukraina mengakibatkan sekitar 180 juta ton gandum saat ini tidak dapat dibagikan ke seluruh dunia. Bukan hanya gandum yang mengalami lonjakan akibat perang tersebut. Jagung-pun mengalami lonjakan harga di pasar dunia.

Harga gandum yang mengalami kenaikan akan berdampak luas di dunia. Gandum bukan hanya sekedar bahan dasar mie instan, akan tetapi banyak makanan pokok lainnya seperti roti, tepung terigu, hingga biskuit yang berbahan dasar gandum. Seperti yang diungkapkan Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor, Sahara.

“Gandum digunakan sebagai input bagi sektor lainnya seperti, tepung terigu, mie, macaroni, roti, biskuit, hasil pengolahan dan pengawetan daging, dan makanan lainnya,” ujar Sahara dalam webinar tentang Konflik Rusia-Ukraina.

Dalam kehidupan mahasiswa terutama yang tinggal di kost, kenaikan mie instan ini akan sedikit berdampak pada keuangan mahasiswa. Mie Instan menjadi alternatif bagi mahasiswa karena memiliki harga yang terjangkau.

Ilustrasi Panic Buying. (Unsplash/@John_Cameron) 

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu mahasiswi UIN Jakarta, Lulu Awanila yang merasa kenaikan mie instan akan menambah kesulitan dalam mengatur keuangan bagi anak kost.

“Mie Instan naik ini sangat berpengaruh bagi saya karena sebagai anak kost mie instan merupakan alternatif makanan yang harganya terjangkau, jika mie instan naik maka anak kost akan mengalami kesulitan,” ujarnya.

Mahasiswa kali ini harus mencari alternatif lain dalam memenuhi kebutuhan makanannya. Hal ini bisa menjadi momentum untuk mahasiswa belajar membuat makanan sendiri dan menghindari konsumsi makanan berbahan dasar gandum.

“Kalau saya sih paling kalau mie instan naik, membeli bahan makanan sendiri dan masak sendiri, lagi pula mie instan itu tidak sehat,” ujar Lulu.

Kenaikan harga mie instan diwanti-wanti oleh warganet akan mengakibatkan terjadinya panic buying. Seperti yang terjadi pada kejadian langkanya masker pada saat awal Covid-19 di Indonesia.

“Otw panic buying,” ketik warganet dalam salah satu postingan instagram folkative yang memberikan informasi terkait kenaikan harga mie instan berbahan baku gandum.

Pemerintah harus dapat mencegah terjadinya panic buying apabila mie instan mengalami kenaikan harga tiga kali lipat dan belajar dari kasus langkanya masker di Indonesia akibat dari panic buying. Suplai dan permintaan terhadap bahan baku harus sinkron untuk mengantisipasi panic buying yang disebabkan oleh kenaikan harga.

Mengenai panic buying, tidak hanya pemerintah yang berperan dalam mengatasi hal tersebut. Tertera dalam Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan. Pihak berwajib dapat menindak tegas masyarakat yang melakukan penimbunan dan akan terancam hukuman 5 tahun penjara atau denda Rp 50 Miliar.

Masyarakat juga harus sadar dalam keadaan dunia yang sedang mengalami kelangkaan bahan-bahan pokok seperti gandum untuk tidak menguntungkan diri sendiri dengan menimbun bahan-bahan pokok tersebut. Masyarakat harus sadar melakukan penimbunan dapat berakibat, semakin naiknya harga bahan-bahan pokok sehingga menimbulkan kerugian yang semakin besar.

Jack of All Trades Or Master of One?

Jack of All Trades Or Master of One?

Reporter Farah Nur Azizah; Editor Adellia Prameswari

Ilustrasi jack of all trades. (Minute/Erica Good)

Perkembangan zaman yang semakin pesat menjadikan perubahan begitu nyata. Hingga akhirnya berdampak pada perubahan pola pikir dan tingkah laku untuk menyesuaikan zaman. Seperti halnya generasi muda saat ini yang cenderung bimbang menentukan masa depannya. Berdasarkan hasil survei Indonesia Career Center Network (ICCN) pada 2017, sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia mengaku ‘salah jurusan’.

Fenomena salah jurusan ini diakibatkan oleh beberapa faktor. Salah satunya, kurangnya pengetahuan akan bakat dan minat yang dimiliki oleh generasi muda sehingga mereka tidak memiliki tujuan yang jelas. Selain itu juga generasi muda masa kini cenderung mengalami perubahan passion karena merasa mampu melakukan banyak hal namun tidak ada satu pun yang benar-benar dikuasai. Hal ini dikenal dengan istilah jack of all trades.

Pada kenyataannya, istilah ini cocok untuk generasi muda Indonesia yang masih bimbang akan keahlian apa yang sebenarnya mereka miliki. Ada pula istilah lain, kebalikan dari jack of all trades yakni master of one yang berarti seseorang yang ahli dalam satu bidang. Dalam arti lain bisa disebut sebagai spesialis.

Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Syahirul Alim berpendapat bahwa media sosial menjadi salah satu faktor adanya kebimbangan para generasi muda terhadap keahlian yang dimiliki.

“Lebih cepat dan lebih banyak menyerap informasi, sehingga membuat generasi ini mencoba berbagai hal, termasuk juga ekspresi dan eksistensi diri mereka yang ingin dihargai secara sosial. Banjirnya informasi yang tanpa filter bahkan mudahnya akses ke berbagai macam hal membuat mereka kebingungan terhadap keahlian mereka sendiri. Khususnya media sosial sebagai faktor penting dalam soal pengaruh terhadap diri mereka,” ungkapnya dalam wawancara bersama DNK TV via Whatsapp pada Senin (8/8).

Ia juga berpendapat bahwa para generasi muda lebih baik menekuni satu keahlian yang dimiliki dibandingkan mencoba di berbagai bidang karena memiliki banyak keahlian tidak menjamin seseorang menjadi ahli.

“Bagi saya, generasi sekarang seharusnya memang memiliki banyak informasi, tetapi sekaligus menekuni bidang keahlian yang dimiliki bukan mencoba semua bidang. Memiliki banyak keahlian tidak menjamin seseorang menjadi expert, tetapi malah justru sebatas konsumer yang pada akhirnya didikte oleh setiap perubahan dan tidak bisa menjadi produktif dalam menghadapi perubahan,” tambahnya.

Generasi muda cenderung bingung terhadap keahlian yang dimiliki. (Freepik/@gpointstudio)

Sampai di sini seharusnya kita paham, bahwa generasi muda harusnya produktif dengan menuangkan ide-ide cerdas dalam menghadapi tantangan zaman, bukan ikut arus. Yang kemudian mencoba berbagai hal sehingga eksistensi dirinya justru hilang dan tergadaikan.

Adapun penyebab lainnya generasi muda cenderung bingung terhadap keahlian yang dimilikinya ialah kebanyakan diarahkan untuk bisa lebih banyak belajar berbagai hal. Baik yang disukai ataupun tidak. Bahkan, banyak diantaranya dipaksa untuk mempelajari banyak bidang yang bukan passion mereka.

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta, Asliniarni Restina juga beranggapan sama, bahwa generasi muda saat ini lebih baik untuk menguasai satu bidang saja.

“Menurut saya, fokus terhadap satu hal kemudian suka dan bisa menguasai hal tersebut lebih baik dari pada melakukan banyak hal namun memberatkan dan keteteran,” tuturnya dalam wawancara bersama DNK TV via Whatsapp pada Senin (8/8).

Ia juga menambahkan bahwa peristiwa jack of all trades yang menimpa generasi muda saat ini disebabkan oleh faktor eksternal yang menuntut seseorang untuk melakukan hal lain di luar kemampuannya.

Politikus sekaligus aktor asal Indonesia, Helmy Yahya memiliki pendapat yang sama. Dalam kanal YouTube pribadi miliknya, ia berpesan kepada para generasi muda untuk fokus menekuni satu bidang jika ingin mencapai kesuksesan.

“Kalau mau populer, kalau mau sukses, tekunilah satu bidang saja. Tekuni terus sampai meledak. Sampai semua orang tahu kita. Dan percayalah, setelah kita populer, setelah kita dikenal banyak orang, dan diiringi oleh kepercayaan orang, semua pintu akan terbuka,” ujarnya.

Lain hal dengan penulis asal Kanada, Emilie Wapnick dalam kanal YouTube TED berpendapat bahwa rasa ketertarikan seseorang terhadap berbagai hal dan membuat orang tersebut ingin melakukannya dapat disebut sebagai multi-potensial.

“Konsep tentang hidup yang terfokus sangat diromantisasi dalam budaya kita, pemikiran bahwa masing-masing kita punya satu hal hebat yang harus kita lakukan dalam hidup kita. Tapi bagaimana jika Anda adalah seseorang yang tidak seperti ini? Bagaimana jika ada banyak topik berbeda yang membuat Anda penasaran, dan banyak hal yang ingin Anda lakukan? Ya, tidak ada tempat untuk orang seperti Anda dalam lingkungan seperti ini. Anda mungkin merasa sendirian. Anda mungkin merasa Anda tidak punya tujuan. Anda mungkin merasa ada sesuatu yang salah dengan Anda. Tidak ada yang salah dengan Anda. Anda adalah multi-potensial,” tuturnya.

Ia juga berpesan kepada semua orang untuk merangkul seluruh minat dan selalu ikuti rasa ingin tahu. Karena tidak ada yang salah dari rasa ingin tahu untuk selalu mencoba hal baru.

“Pesan saya pada Anda, rangkul seluruh minat Anda. Ikuti rasa ingin tahu Anda kemana pun ia membawa Anda. Jelajahi perbatasan Anda. Merangkul kata hati Anda akan membantu Anda lebih bahagia. Dan mungkin yang terpenting, multipotensial, dunia membutuhkan kita,” ujarnya.

Istilah Zeigarnick Effect, Mahasiswa : Bantu Tentukan Prioritas Kegiatan

Istilah Zeigarnick Effect, Mahasiswa : Bantu Tentukan Prioritas Kegiatan

Reporter Salsabila Putri Azzahro ; Editor Riyasti Cahya Rabbani dan Syaifa Zuhrina

Ilustrasi orang yang terdampak  Zeigarnick Effect. (Pixabay/@kaboompics)

Segala hal yang dimulai namun tidak selesai, kerap mengganggu pikiran. Para peneliti menyebut masalah tersebut dengan istilah Zeigarnick Effect. Istilah ini  merupakan fenomena psikologi yang memanifestasi seseorang untuk selalu teringat akan suatu pekerjaan yang belum diselesaikan. Fenomena ini mempunyai dampak baik dan buruk, tergantung dari masing-masing orang yang menanggapi fenomena tersebut.

Melansir dari Good Therapy, ketegangan kognitif akibat tugas yang belum selesai menyebabkan munculnya Zeigarnick Effect. Ketegangan kognitif inilah yang dapat mengembangkan dorongan otak untuk segera menyelesaikan tugas yang telah dimulai. Demikian juga saat semua pekerjaan dan tugas telah selesai, otak akan menjadi lega dan tegangan yang dirasakan juga akan menurun.

Adapun manfaat Zeigarnick Effect dalam kehidupan sehari-hari antara lain :

1. Dapat mengurangi procrastination

Procrastination sendiri ialah tindakan seseorang yang sering menunda pekerjaannya sampai di menit terakhir atau bahkan melewati batas waktu  yang sudah ditentukan. Tanpa  disadari, menunda pekerjaan dapat membuat stres, akibatnya pekerjaan yang dilakukan akan terburu-buru dan menjadikan kualitas pekerjaan tersebut menurun.

Efek Zeigarnick ini dapat dilakukan dengan cara memulai pekerjaan dari jauh-jauh hari, dan mulai dari hal terkecil yang mudah untuk dilakukan. Langkah ini akan menimbulkan ketegangan kognitif pada otak,  yang dapat mendorong  pekerjaan terselesaikan dengan lebih cepat.

2. Meningkatkan produktivitas

To do list akan membantu seseorang dalam memulai dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Menentukan target berapa lama pekerjaan tersebut seharusnya dilakukan juga sangatlah penting agar hal tersebut  segera tereksekusi.

3. Membantu meningkatkan kesehatan mental

Meskipun dapat menyebabkan cemas secara berlebih, stres, susah tidur, kelelahan, dan pikiran-pikiran yang mengganggu lainnya, namun jika dimanfaatkan dengan baik Zeigarnick Effect justru dapat meningkatkan kesehatan mental dan membangun motivasi. Selain itu, Zeigarnick Effect juga memberikan dorongan untuk mencapai tujuan dengan baik, membantu menyelesaikan kegiatan yang tersisa. Ketika kegiatan sudah selesai, rasa percaya diri pun semakin meningkat, dan dengan memberi penghargaan kepada diri sendiri, hal itu tentu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Ilustrasi Zeigarnick Effect. (Pixabay/@geralt)

Psikolog AS, John Atkinson berfokus pada aspek motivasi penyelesaian tugas. Dia juga mengamati efek ini  dalam ingatan, tetapi mencatat bahwa mengingat tugas yang belum selesai juga dipengaruhi oleh perbedaan individu di antara peserta. Atkinson mencatat bahwa subjek-subjek yang mendekati tugas-tugas dengan motivasi yang lebih tinggi untuk menyelesaikannya akan lebih terpengaruh oleh tugas-tugas yang tidak dapat mereka selesaikan dan akan lebih mungkin untuk mengingatnya. Sebaliknya, jika seorang peserta kurang termotivasi, status tugas yang tidak lengkap menjadi kurang diperhatikan dan kurang diingat oleh mereka (Atkinson, 1953).

Melihat fenomena Zeigarnick Effect yang sedang dialami oleh kebanyakan orang, salah satu Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Zamrotunnisa mengatakan bahwa efek ini dapat bermanfaat dalam mengatur susunan pekerjaan.

“Efek ini dapat membantu seseorang dalam mengatur susunan pekerjaannya, yakni dengan memprioritaskan pekerjaan yang mendesak,” ujarnya saat diwawancarai langsung oleh Reporter DNK TV pada Selasa (9/8).  

Senada dengan Zamrotunnisa, Lu’lu Zahirah Ali yang merupakan Mahasiwa UIN Jakarta juga beranggapan bahwa efek ini mempunyai dampak bagi kesehatan mental. 

“Dimana seorang individu cenderung akan tidak tenang dan terkesan terburu-buru dalam melakukan aktivitasnya, karena cenderung terbiasa dengan tidak menyelesaikan pekerjaannya. Jadi seharusnya yang dilakukan adalah menyelesaikan apa yang belum selesai sampai tuntas, karena semua itu akan menjadikan individu itu dinilai positif oleh orang lain,” ujarnya pada Selasa (9/8).

Ia juga menambahkan bahwa efek ini memiliki dampak positif dimana seorang individu mempunyai ingatan yang kuat terkait pekerjaan yang dilakukan, secara langsung individu tersebut mempunyai motivasi dari dalam diri mereka untuk mengerjakan hal pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.

Pengakselerasian Tercapainya Sertifikasi Halal

Pengakselerasian Tercapainya Sertifikasi Halal

Reporter Hayyun Viddarayn; Editor Muhammad Fajrul Amik

Pembukaan acara penandatanganan PKS. (DNK TV/ Hayyun Viddarayn)

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Jaminan Produk Halal (P3JPH) UIN Jakarta menyelenggarakan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Bank Indonesia pada Kamis (4/8) di ruang diorama UIN Jakarta.

Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, Wakil Rektor Bidang 4, Lili Suraya Eka Putri, Manager Department Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Wahyu Ega Nugraha, serta Komunitas Syaliza, Anna yang bertujuan mempercepat pengembangan ekosistem jaminan produk halal dan pelatihan sistem jaminan produk halal.

Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis mengatakan bahwa P3JPH UIN Jakarta banyak mendampingi UKM di sekitar Banten dan Jakarta.

“UIN Jakarta telah berkontribusi dalam mendampingi UKM baik disekitar Banten dan Jakarta untuk memberdayakan UKM-UKM dan mendampingi mendapatkan sertifikasi halal. Dalam proses perolehan sertifikat mereka sudah menyatakan dengan sendirinya hasil produk yang sudah mengikuti tata cara yang halal dan dilakukan juga pemeriksaan laboratorium halal lalu sertifikat itu bisa didapatkan.” Tegasnya.

Pelaksanaan program ini merupakan salah satu dukungan Bank Indonesia terhadap program negara untuk memperluas percepatan dari sertifikasi halal. Sesuai dengan undang-undang jaminan produk halal bahwa semua produk makanan atau minuman yang beredar dan diproduksi di Indonesia harus mempunyai sertifikasi halal.

INDONEStA 
Fin 
Ekonornl 
PENANDATANGANAN 
PERJANJIAN KERJASAMA 
ANTARA BANK INDONESIA NGAN PUSAT PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN JAMINAN PRODUK HALAL (P3JPH) 
UIN SYARIF HID v TULLAH JAKARTA 
TENTAN 
TAN PENGEM 
/ ELATIHAN SIS 
Jakarta 
OSISTEM JAMINAN DOODUK HALAL 
AN PRODUK 
s 2022
Penandatanganan PKS P3JPH dengan Bank Indonesia. (DNK TV/ Hayyun Viddarayn)

Tak hanya bekerja sama dengan UIN Jakarta, Bank Indonesia juga melakukan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ini merupakan salah satu langkah untuk menyukseskan acara pengakselerasian tercapainya sertifikasi halal. Sebab, memang dari peraturan pemerintah bahwa mitra yang bisa diajak berkolaborasi dengan cepat adalah perguruan tinggi dan ormas Islam.

Selama ini masyarakat Indonesia mengaggap semua produk-produk yang beredar sudah halal walaupun belum ada sertifikasinya, maka dari itu dengan diadakannya PKS antara P3JPH UIN Jakarta dengan Bank Indonesia pemerintah mencoba untuk mengatur dan memastikan kehalalan suatu produk yang mengharuskan adanya sertifikasi. Sertifikasi halal ini bukan hanya berguna untuk kepastian halalnya suatu produk melainkan juga dari aspek keamanan pangan.

Dengan diadakannya sertifikasi halal untuk produk-produk makanan dan minuman, membuat peningkatan nilai tambah atau nilai jual dari produk itu sendiri karena di era sekarang ini masyarakat akan lebih memilih produk yang tersertifikasi halal dibanding produk yang tidak ada sertifikasinya.

Manager Departement Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Agah Wahyu Nugraha berharap acara ini bisa dijadikan replikasi bagi pihak-pihak kampus lain untuk membangun kolaborasi.

“Saya berharap kolaborasi ini akan terus berlanjut, dan acara ini juga bisa menjadi contoh atau replikasi bagi pihak-pihak kampus lainnya untuk membangun kolaborasi. Karena kita menyadari target sertifikasi halal di Indonesia sangat tinggi, sememntara kesiapan para pihak atau infrastruktur dan kesadaran pelaku usaha sendiri masih terbatas,” ucapnya.

Booster Kedua Vaksin Covid-19: Baru Diprioritaskan untuk Nakes

Booster Kedua Vaksin Covid-19: Baru Diprioritaskan untuk Nakes

Reporter Ariqah Alifia; Editor Muhammad Fajrul

Ilustrasi vaksin. (Freepik/@storyset)

Vaksinasi Covid-19 kini menjadi salah satu persyaratan agar dapat melakukan berbagai aktivitas, apalagi jika melibatkan banyak orang. Tentu faktor utamanya diakibatkan korban virus Covid-19 yang semakin marak.

Sejak maraknya penyebaran virus menular Covid-19, pemerintah mengedarkan vaksinasi dan mewajibkan masyarakatnya untuk melakukan vaksinasi Covid-19 dengan berbagai varian dan dosisnya. Setelah itu, dikeluarkan pula kebijakan vaksin varian booster guna meningkatkan meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkal virus menular Covid-19 ini.

Belum lama ini, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit memberlakukan kebijakan wajib vaksin booster kedua sejak Jumat (29/7) berdasarkan surat edaran resminya nomor HK.02.02/C/3615/2022 tentang Vaksinasi Covid-19 Dosis Booster kedua bagi SDM Kesehatan.

Pemberian vaksin kepada tenaga kesehatan ini sejatinya sangat penting untuk menjaga vitalitas tubuh mereka yang lebih rentan terpapar virus menular ini, karena memiliki intensitas lebih dekat dalam kontak langsung dengan pasien Covid-19.

Terdapat kemungkinan booster kedua ini akan diberlakukan untuk umum ke depannya setelah adanya rujukan dari Kemenkes RI. Dari pengalaman yang ada sebelumnya akan efek vaksinasi yang dirasakan oleh beberapa orang, maka dari itu pemberian vaksinasi COVID-19 dosis booster kedua ini pun tidak boleh sembarangan. Vaksinansi tersebut diberikan dengan interval 6 bulan sejak vaksinasi dosis vaksin booster pertama.

Friska Siva Mahasiswa UIN Jakarta mengatakan, “Sepengalaman saya sehabis vaksin booster pertama, saya demam dan linu, nyeri di tangan, dan juga badan rasannya lemas seharian. Tapi saya paham itu bagian dari efek vaksin booster ini”.

Adapun ketentuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bahwa regimen vaksin Covid-19 yang diberikan sebagai booster kedua sebagai berikut:

Jika booster pertama Sinovac, maka pilihan booster kedua AstraZeneca, Pfizer (separuh dosis atau 0,25ml) atau Moderna, Sinopharm, Sinovac (dosis penuh atau 0,5 ml)

Jika booster pertama AstraZeneca, maka pilihan booster kedua Moderna, Pfizer (separuh dosis atau 0,25ml) atau AstraZeneca (dosis penuh atau 0,5 ml)

Jika booster pertama Pfizer, maka pilihan booster kedua Moderna (separuh dosis atau 0,25ml), Pfizer (dosis penuh atau 0,3 ml) atau AstraZeneca (dosis penuh atau 0,5 ml)

Namun, jika booster pertama Moderna, maka booster keduanya harus Moderna (separuh dosis atau 0,25ml) dan jika booster pertama Sinopharm, maka booster kedua ialah Sinopharm (dosis penuh atau 0,5 ml).

Untuk saat ini, vaksinasi COVID-19 dosis booster kedua bagi SDM kesehatan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dan atau di pos pelayanan vaksinasi COVID-19. Dengan adanya aturan dosis yang diberlakukan ini, diharap dapat menjadi panduan umum untuk bisa memilah jenis vaksin tepat untuk meningkatkan antibodi agar dapat terhindar dari penyakit menular Covid-19.

Kreasi with Fellow: Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Cuci

Kreasi with Fellow: Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Cuci

Reporter Wafa Thuroya Balqis

Sosialisasi pembuatan sabun cuci dari minyak jelantah kepada warga Kampung Melayu Barat. (Dok. Istimewa)

Kelompok 132 Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Jakarta menyelenggarakan sosialisasi pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun cuci. Kegiatan ini didasari sebagai bentuk dari upaya menjaga lingkungan dari pencemaran akibat limbah rumah tangga, pada Sabtu (6/8).

Kreasi with Fellow adalah kegiatan ikonis dari kelompok 132 KKN UIN Jakarta yang mendapat lokasi di Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluk Naga. Program kerja ini dimaksud untuk memberdayakan para ibu rumah tangga agar lebih produktif dan kreatif.

Kegiatan ini berlangsung dengan bimbingan anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Warga juga dipersilakan untuk melakukan praktik pembuatan sabun cuci dari minyak jelantah.

Praktik pembuatan sabun cuci dari minyak jelantah bersama warga Kampung Melayu Barat. (Dok. Istimewa)

Zulfa Hasanah selaku ketua program kegiatan Kreasi with Fellow nengungkapkan beberapa keresahan dalam masalah pencemaran lingkungan salah satunya dalam hal pembuangan limbah minyak jelantah.

“Dinamakan Kreasi with Fellow karena kita ingin memberdayakan warga sesuai dengan tema kita yakni ‘Optimalisasi Pemberdayaan Masyarakat.’ Minyak jelantah ini kebanyakan dibuang langsung ke selokan padahal bisa mencemari lingkungan.” Ungkap Zulfa.

Mendengar penjelasan dari mahasiswa, warga senang bahwa sabun cuci dari minyak jelantah ini tidak hanya bisa dikonsumsi sendiri tetapi juga bisa diperjualbelikan. Seperti yang disampaikan Ketua Kelompok KKN 132 UIN Jakarta, Chaerul Chikopalakka bahwa sosialisasi ini mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat.

“Tanggapan dari warga di sini cukup baik, mereka antusias dengan adanya pembuatan sabun dari minyak jelantah ini.” Ujar Chiko.

Mahasiswa KKN 132 UIN Jakarta berharap pembuatan sabun cuci piring ini tidak hanya berlangsung dengan periode yang singkat namun tetap berkelanjutan. “Harapan saya dari sosialisasi ini terhadap warga bisa mengelola kembali minyak jelantah agar bisa dipergunakan kembali,” tambah Chiko. Sehingga dimulai dari hal kecil bisa mengurangi limbah dari minyak jelantah.