RDK FM Resmikan Studio Baru!

RDK FM Resmikan Studio Baru!

Reporter Muhammad Muklas; Editor Dani Zahra Anjaswari dan Fauzah Thabibah

Pemotongan tumpeng sebagai tanda peresmian ruang studio baru RDK FM. (DNK TV/Debri Wahyu Wardana)

Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK) Radio Dakwah dan Komunikasi (RDK FM) UIN Jakarta melaksanakan kegiatan acara peresmian ruang studio baru RDK FM yang bertempat di lantai 3 Gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), Rabu (29/6).

Kegiatan ini berlangsung di ruang teater lantai 2, dihadiri langsung oleh Dekan Fdikom, Suparto, Wakil Dekan Bidang Akademik, Siti Napsiyah, Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Silhabudin Noor, Kepala Bagian Tata Usaha, Sundus Nurulia, serta Kepala Laboratorium Fdikom, Zakaria.

Pembangunan studio ini merupakan salah satu rencana jangka panjang Dekan Fdikom sejak dilantik. Studio baru menjadi fasilitas yang saat ini sedang gencar-gencarnya dibangun oleh pihak fakultas. Dekan menyebut, dengan adanya studio baru ini dapat menunjang mahasiswa dalam berkegitan dan berkreativitas serta meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang penyiaran.

“Penyediaan fasilitas bagi kegiatan mahasiswa itu sudah direncanakan dari awal saya dilantik sebagai dekan, dengan memperhatikan ternyata di fakultas banyak fasilitas-fasilitas yang belum memenuhi standar atau fasilitas-fasilitas yang belum ada yang mendukung kegiatan dan kreativitas mahasiswa, sehingga sudah direncanakan dari awal,” ucapnya.

Studio baru RDK FM dibangun berdekatan dengan Studio DNK TV, karena dua unit ini tidak dapat dipisahkan. Dua ikon fakultas ini sangat dibutuhkan dalam menunjang kreativitas penyiran baik di bidang radio dan pertelevisian.

Dekan Fdikom, Suparto berharap pada kepengurusan baru DNK TV dan RDK FM tahun 2022, di antaranya kedua organisasi ini mampu dalam memberikan citra terbaik bagi Fdikom kepada publik sehingga memiliki produktivitas yang tinggi serta dapat dikenal secara luas.

”Harapan saya untuk RDK, pertama bisa menyusun program kerja secara konstruktif, kolaboratif, lalu kemudian tematik, sehingga mewarnai semangat UIN Jakarta. Siaran-siaran yang bernuansa islami, tentu menjadi keunikan karakteristik di RDK,” ujar Suparto.

Foto bersama RDK FM beserta para tamu undagan. (DNK TV/Debri Wahyu Wardana)

Adanya studio baru ini pun disambut baik oleh para pengurus dan anggota RDK FM. Antusias dan kesan baik dari mereka menandakan bahwa studio baru ini sudah sangat ditunggu-tunggu. Ini juga dapat berdampak baik bagi kegiatan produksi ke depannya. Nantinya fasilitas yang ada di studio baru RDK FM akan ditambah sedikit demi sedikit secara bertahap. Mulai dari alat siaran sampai alat penunjang lainnya.

Lebih lanjut, Station Manager RDK FM, William Anwar mengukapkan kesan pada studio baru yang lebih nyaman dan akses yang lebih dekat dibandingkan sebelumnya yang berada di lantai 7 gedung Fdikom.

“Temen-temen semua pada senang sih, karena merasa studio ini lebih nyaman, lebih besar, juga lebih bersih dan juga akses lebih dekat dengan studio sebelumnya di lantai 7 gedung Fdikom. Jadi temen-temen semuanya ngerasain bila studio ini lebih baik dari studio sebelumnya,” tutup Willian saat diwawancarai tim DNK TV.

Pengumuman UM-PTKIN Hari Ini, Berikut Tahapan Selanjutnya!

Pengumuman UM-PTKIN Hari Ini, Berikut Tahapan Selanjutnya!

Reporter Muhammad Fajrul; Editor Latifahtul Jannah

Pengumuman UM-PTKIN 2022. (Instagram/@info.uinjkt)

Pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia dapat diakses siang tadi, 30 Juni 2022 pukul 13.00 WIB via laman https://um-ptkin.ac.id/.

UM-PTKIN adalah seleksi yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia dan dilaksanakan secara Sistem Seleksi Elektronik (SSE).

Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN 2022, Imam Taufiq menyatakan dari total 142.716 peserta yang mendaftar, Panitia Nasional menetapkan 63.717 peserta lulus seleksi jalur UM-PTKIN 2022.

Pendaftar UM-PTKIN bisa memilih perguruan tinggi, Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ataupun Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dengan melalui tes secara mandiri, baik offline maupun online.

Kepala Bagian Akademik UIN Jakarta, Feni Arifiani menyatakan setidaknya 18.126 peminat UIN Jakarta melalui jalur seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM PTKIN) 2022 hanya 1.384 calon mahasiswa yang diterima. Tentu hingga bertemu dengan kata lulus tidaklah mudah.

Salah satu peserta UMPTKIN 2022, Muhammad Airell Daffa Amrullah mengatakan bahwa selain berdoa, pantang menyerah adalah prinsip yang dipegangnya walaupun sudah gagal di jalur undangan maupun seleksi lain sebelumnya.

“Untuk persiapannya adalah berdoa kepada Allah SWT, meminta doa kepada orang tua, dan terus berharap yang terbaik,” ungkap Daffa.

“Untuk tahun ini sudah daftar SBMPTN, SPANPTKIN, dan akhirnya baru lolos UM-PTKIN di UIN Jakarta. Alhamdulillah rejeki nya disini jadi sangat bersyukur,” Ujarnya saat dihubungi tim DNK TV.

Beriut beberapa tahapan yang dapat dilakukan peserta untuk mengakses pengumuman UM-PTKIN :

  1. Mengakses web https://um-ptkin.ac.id/
  2. Klik “pengumuman”
  3. Masukkan nomor peserta dan tanggal lahir
  4. Klik “hasil”
Tangkapan layar website SPMB Mandiri UIN Jakarta. (spmb.uinjkt.ac.id)

Jika dilihat dari tahun sebelumnya, saat pengumuman hasil UMPTKIN, para peserta sempat terkendala dengan server yang tiba-tiba overload. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Mahasiswa UIN Jakarta semester 2, Jundy Aljihad.

“Kendala tahun kemarin ialah server yang tiba-tiba menjadi overload karena diakses pada waktu yang sama oleh banyak peserta UM-PTKIN.”

Setelah pengumuman maka peserta yang lolos akan diminta untuk melakukan pengisian Uang Kuliah Tunggal (UKT) melalui website https://spmb.uinjkt.ac.id dan mengisi beberapa berkas untuk pengisian UKT.

Prosedur untuk pengisian UKT dapat peserta lakukan dengan tata cara berikut :

  1. Mengakses web https://spmb.uinjkt.ac.id
  2. Klik “pengisian UKT”
  3. Login dengan nomor peserta dan tanggal lahir peserta ujian sesuai dengan jadwal yang berlaku
  4. Melengkapi form bidata dan proses pemilihan UKT
  5. Membayarkan UKT melalui bank yang sudah ditentukan Setelah pengisian UKT dan mendapatkan NIM maka peserta sudah bisa melakukan daftar ulang melalui web yang sama dengan pengisian UKT

Setelah pengisian UKT dan mendapatkan NIM maka peserta sudah bisa melakukan daftar ulang melalui website yang sama dengan pengisian UKT.

Aksi Penolakan RUU KUHP, Mahasiswa: Ini Awal Rusaknya Demokrasi

Aksi Penolakan RUU KUHP, Mahasiswa: Ini Awal Rusaknya Demokrasi

Reporter Maya Maulidia; Editor Syaifa Zuhrina

Suasana unjuk rasa di depan gedung DPR. (DNK TV/Muhammad Muklas).

Penolakan terhadap rencana pengesahan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) mengakibatkan unjuk rasa oleh mahasiswa dari berbagai almamater pada Selasa (28/6). Aksi ini juga ditimbulkan karena tidak adanya transparansi RUU KUHP ke ruang publik.

Aksi yang mengangkat tagline “Semua Bisa Kena” ini karena beberapa masalah yang pernah terjadi di Indonesia pasti berdampak terhadap semua pihak. Begitu pun dengan pasal-pasal RUU KUHP yang dapat dengan mudah menjerat pidana bagi kelompok yang tidak memihak ataupun berseberangan dengan pemerintah negara.

Saat ini masyarakat masih berpegang pada draf UU Tahun 2019 sedangkan Juli mendatang pemerintah dan DPR sudah sepakat untuk mengesahkan RUU KUHP tersebut. Rancangan itu memuat pasal-pasal yang saat ini menciptakan kontroversial bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Suasana unjuk rasa di depan gedung DPR. (DNK TV/Muhammad Muklas).

Beberapa pasal tersebut meliputi :

  1. Pasal penghinaan harkat dan martabat presiden dan wakil presiden dalam Pasal 218 RUU KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama 3,5 tahun.
  2. Pasal penghinaan terhadap pemerintah dalam Pasal 240 RUU KUHP dengan hukuman 3 tahun penjara atau denda kategori IV. Selain itu, orang yang menyebarkan isu penghinaan tersebut akan mendapatkan hukuman penjara selama 4 tahun atau dengan kategori V.
  3. Pasal penghasutan melawan penguasa hukum dalam pasal 246 dan pasal 247. Pada pasal 246, pelaku akan mendapatkan hukuman paling lama 4 tahun atau denda kategori V,  jika ia menghasut orang-orang agar melawan penguasa umum melalui lisan dan tulisan. Sedangkan pada pasal 247, pelaku akan mendapatkan hukuman penjara selama 4 tahun 6 bulan atau denda kategori V, jika menyebarluaskan lisan atau tulisan tersebut. 
  4. Pasal penghinaan terhadap kekuasaan umum dan lembaga negara dalam pasal 354 draf RUU KUHP, jika seseorang dengan sengaja menyebarluaskan isu penghinaan terhadap kekuasaan umum dan lembaga negara melalui beberapa platform akan mendapatkan hukuman penjara 2 tahun.
  5. Pasal hukum yang hidup, yakni pasal 598 dan pasal 2 (ayat 1) dalam RUU KUHP draf 2019 memuat hukuman yang didapatkan seseorang jika melakukan pelanggaran di suatu daerah tersebut.
  6. Pasal kumpul kebo (kohabitasi) dalam pasal 417 ayat 1 mengenai pasangan yang melakukan zina seperti persetubuhan dengan yang bukan mahramnya akan mendapatkan ancaman penjara paling lama 1 tahun atau dengan denda kategori 2. Selain itu, pasal ini juga mengatur proses hukum hanya bisa dilakukan oleh pengaduan suami atau istri yang terikat pernikahan dan orang tua atau anak yang tidak terikat pernikahan.
  7. Pasal penyiaran berita bohong dalam pasal 263 mengenai pihak yang menyebarluaskan berita bohong dan dapat menyebabkan kericuhan antar masyarakat akan dikenakan hukuman penjara selama 2 tahun.
  8. Pasal penghinaan terhadap pengadilan dalam pasal 281 RUU KUHP draf tahun 2019 mengenai seseorang yang tidak hormat terhadap hakim akan dikenakan hukuman penjara selama 1 tahun. 
  9. Pasal penghinaan agama, yakni pasal 304 RUU KUHP terkait penistaan agama yang dilakukan oleh seseorang di khalayak umum akan mendapatkan hukuman penjara 5 tahun.
  10. Pasal pencemaran nama baik dalam pasal 440 RUU KUHP akan mendapatkan hukuman penjara selama 9 hingga 1 tahun 6 bulan.

Menanggapi kabar ini salah satu peserta aksi sekaligus Mahasiswa UIN Jakarta, Muhammad Renardi Ariza memaparkan bahwa demonstrasi kali ini dilakukan dengan damai sebagai perwujudan aspirasi yang bijak dari mahasiswa. 

“Perlu adanya tagline ‘Semua Bisa Kena’ terhadap demo kali ini karena banyak pasal kontroversial yang dapat mengancam kebebasan berekspresi dan berpendapat, serta dapat memidanakan orang-orang yang dinilai melakukan penghinaan terhadap pemerintah dan penguasa. Seperti yang tertera pada pasal  353 dan pasal 354, semua aturan hukum pasti ada tujuan hukum yang dilindungi,” ujarnya saat diwawancarai tim DNK TV pada Selasa (28/6).

“Tujuan dari pasal penghinaan kepada pemerintah ini merupakan awal dari rusaknya demokrasi di negara ini,” lanjut Renardi.

Ia berharap pemerintah dapat mendengar aspirasi dan kritik serta merealisasikan tuntutan dari berbagai elemen mahasiswa.

Sri Lanka Bangkrut Akibat Utang Menumpuk. Bagaimana Kabar Indonesia?

Sri Lanka Bangkrut Akibat Utang Menumpuk. Bagaimana Kabar Indonesia?

Reporter Sifa Sevia; Editor Belva Carolina

Warga Sri Lanka yang sedang melakukan unjuk rasa. (orfonline.com)

Sri Lanka kini mengalami krisis ekonomi terburuk sejak merdeka pada 1948. Negara berpenduduk 22 juta orang gagal membayar utang luar negeri (ULN) yang mencapai 51 miliar dolar AS atau Rp754,8 triliun dengan asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS. Sri Lanka secara resmi meminta bantuan keuangan darurat dari Dana Moneter Internasional (IMF). Diketahui, Sri Lanka paling banyak berutang kepada China dan India.

Ratusan ribu warga Sri Lanka dilaporkan mulai berbondong-bondong meninggalkan negaranya. Kondisi ini membuat Sri Lanka kesulitan dalam membayar impor penting seperti bahan pangan dan obat-obatan dan negara tersebut kekurangan komoditas bahan bakar karena tidak mampu untuk melakukan impor. Pemerintah Sri Lanka bahkan memutuskan untuk menutup sekolah dan menghentikan layanan pemerintahan. Tujuannya untuk menghemat cadangan bahan bakar yang hampir habis.

Utang yang selama ini ditanam pemerintah Sri Lanka harus ditanggung dengan beban sangat besar. Terdapat beberapa penyebab turunnya ekonomi Sri Lanka, yaitu Sri Lanka memilih fokus menyediakan barang untuk pasar domestik daripada mencoba masuk ke luar negeri. Hal itu menjadikan pendapatan dari ekspor rendah, sementara tagihan impor terus bertambah.

Sri Lanka juga menghabiskan banyak uang untuk proyek infrastruktur dari pinjaman China, yang menambah utang negara. Tak hanya itu, sektor pariwisata adalah penghasil mata uang asing terbesar di Sri Lanka. Namun, pandemi Covid-19 memengaruhi pariwisata dan kedatangan turis yang biasanya berkunjung ke Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka juga melarang impor pupuk kimia dan meminta petani menggunakan pupuk organik produk lokal. Akibatnya, para petani gagal panen dan pemerintah harus menambah stok makanannya dari luar negeri sehingga membuat kondisi kekurangan mata uang asing semakin parah.

Namun, kebangkrutan Sri Lanka yang disebabkan utang bukanlah kali pertama di dunia. Beberapa negara pernah mengalami vonis bangkrut karena kasus yang sama yaitu ketidakmampuan negara membayar utang.

Venezuela lebih dulu mendapatkan vonis bangkrut dan mengalami krisis ekonomi. Pada tahun 2017 harga minyak yang menjadi pemasukan negara mengalami penurunan harga, akibatnya negara tersebut tidak mampu membayar utang yang telah mencapai US$ 150 miliar atau Rp. 2.025 triliun.

Pada tahun 2015, Yunani mengalami kebangkrutan dan kondisi ekonomi yang terperosok, lantaran ketidakmampuan Yunani dalam membayar utang. Dengan dikenal sebagai negara yang memiliki populasi penduduk yang kecil, negara tersebut memiliki utang yang mencapai 360 miliar euro atau Rp. 5.000 triliun.

Argentina telah dua kali divonis gagal dalam membayar utang negara. Pada tahun 2001 Argentina gagal membayar utang sebanyak US$ 100 miliar atau Rp. 2.025 triliun. Kemudian pada tahun 2014, Argentina kembali tidak dapat membayar utang sebanyak lebih dari US$ 1,3 miliar.

Warga Sri Lanka yang sedang melakukan unjuk rasa. (AFP/Ishara S Kodikara)

Namun, kondisi ekonomi Sri Lanka semakin memburuk, tidak akan berdampak besar bagi Tanah Air. Indonesia relatif memiliki pondasi ekonomi yang kuat. Terlihat dari Indonesia saat ini sedang fokus dengan program transformasi ekonomi yang membuat nilai tambah. Hal itu bisa mendongkrak potensi ekonomi. Pemerintah bisa mendorong keunggulan komparatif yang dimiliki dalam sumber daya ekonominya.

Indonesia tidak memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Sri Lanka. Baik di sektor keuangan maupun sektor perdagangan, sehingga krisis kebangkrutan di Sri Lanka tidak akan banyak berdampak.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menjelaskan bahwa kondisi perekonomian terkini sudah semakin membaik, seiring terkendalinya pandemi Covid-19 di Indonesia. Di kuartal pertama 2022 ini, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berada di atas rata-rata produk domestik bruto (PDB) di tahun 2019.

Sementara, saat ini kondisi inflasi di Indonesia masih relatif rendah bila dibandingkan dengan banyak negara, yaitu sebesar 3,5 persen di bulan April atau masih sejalan dengan outlook pemerintah. Meski begitu, Pemerintah akan terus memitigasi dampak inflasi terhadap harga-harga komoditas, baik energi maupun bahan pangan, sehingga inflasi yang tertransmisi ke rumah tangga masih relatif bisa dikelola dengan baik.

ULN Indonesia hingga April 2022, tercatat sebanyak US$ 409,5 miliar, dengan jumlah tersebut Indonesia mengalami penurunan utang dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 412,1 miliar. Hal tersebut tentunya merupakan kabar baik bagi Indonesia. Namun, pemerintah diimbau agar tetap hati-hati dalam mengelola ULN agar tidak terjadi kebangkrutan dan krisis ekonomi seperti di Sri Lanka dan beberapa negara lainnya

Habis Masa Status Akreditasi, Kualitas Dosen dan Mahasiswa Diuji dalam IPEPA

Habis Masa Status Akreditasi, Kualitas Dosen dan Mahasiswa Diuji dalam IPEPA

Reporter Zakiah Machfir; Editor Belva Carolina

Dekan, Kaprodi hingga para jajaran staf tengah berdiskusi terkait IPEPA. (DNK TV/Haidar Akbar Giffari)

Pada Senin (27/6) di Ruang Meeting Lt.2 Fdikom, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta dan jajaran Kepala Program Studi (Kaprodi) melakukan focus group discussion dalam menghadapi IPEPA (Instrumen Pemantauan dan Evaluasi Peringkat Akreditasi).

Kegiatan tersebut ditujukan untuk beberapa Prodi di Fdikom, seperti Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), serta Manajemen Dakwah (MD). Instrumen tersebut dilakukan guna menguji dan mengevaluasi dari setiap peringkat akreditasi, baik perguruan tinggi maupun Prodi. Dengan begitu, segala indikator yang diprediksi untuk meningkatkan kualitas prodi didiskusikan dan difokuskan sebagai bahan materi pembahasan.

Masa akreditasi sendiri memiliki jangka waktu yang sudah ditetapkan. Hal itu menjadi kesempatan bagi perguruan tinggi untuk melakukan kebijakan, apakah dengan cara mempertahankan, memperpanjang, atau meningkatkan peringkat akreditasinya tersebut. Lantas, hal tersebut bergantung pada persiapan dan pematangan dari perguruan tinggi dan Prodi dalam proses peringkat akreditasi yang akan dilakukan, seperti pada kualitas dari dosen yang mengajar, tingkat mahasiswa yang lulus tepat waktu, serta keberhasilan studinya.

Persiapan IPEPA dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan syarat dan data. Adapun hambatan dalam persiapan yang dilakukan, seperti hubungan antara dosen Pembimbing Akademik (PA) dan mahasiswa yang tidak lulus tepat waktu. Kedua hal tersebut memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap instrumen pemantauan dan evaluasi peringkat akreditasi, yang dilihat berdasarkan peran dosen PA untuk membimbing mahasiswa yang akan selesai masa studinya.

Barisan staf sedang berdiskusi terkait IPEPA. (DNK TV/Haidar Akbar Giffari)

Dekan Fdikom, Suparto mengatakan telah habis masa status akreditasi, maka dari itu dilakukan persiapan IPEPA untuk mendapatkan status perpanjangan akreditasi.

“Pada saat ini beberapa Prodi yang ada di Fdikom termasuk S2 KPI, S1 KPI, S1 BPI sedang berada di masa-masa yang akan habis status akreditasinya, sehingga BAN-PT saat ini sudah melaksanakan pemantauan pada data-data di PD Dikti,” ujar Suparto.

Akreditasi merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi seluruh komponen Prodi baik dosen, mahasiswa, dan staf.

“Oleh karena itu menjadi tugas berat bagi pengelola Prodi untuk meniscayakan keberlanjutan hidup Prodi. Selanjutnya untuk membuktikan Prodi tersebut unggul atau tidak 50% mahasiswanya harus lulus tepat waktu,” tegas Suparto.

Selain itu, Kaprodi KPI, Armawati Arbi mengatakan bahwa ada sembilan standar yang diperlukan, salah satunya ialah mahasiswa yang lulus tepat waktu dan segala usaha sudah dikerahkan.

“Jadi, dengan adanya dosen PA dapat berkoordinasi dengan Ketua Kelas untuk memantau mahasiswa yang dirasa kurang aktif dan tidak pernah mengikuti perkuliahan dari semester awal hingga semester saat ini. Jadi, permasalahan dari dosen PA kini menjadi sumber permasalahan proses akreditasi yang dapat diharapkan berubah agar data dan kebijakan-kebijakan yang salah jangan sampai diulangi, sehingga Prodi KPI dapat semakin unggul ke depannya.” tegas Armawati.

Persiapan untuk menghadapi IPEPA nantinya diharapkan akan berjalan secara maksimal sehingga peninjauan akan terus dilakukan berdasarkan data dan laporan terkait. Tim akreditasi, mulai dari Dekan, Wakil Dekan, dan jajaran Kaprodi serta staf berharap akreditasi dapat dipertahankan atau ditingkatkan kembali dengan bantuan dari seluruh indikator di dalamnya, khususnya para dosen dan mahasiswa.

Maka dari itu, data dan laporan menjadi sumber penting dalam persiapan IPEPA ke depannya sehingga dapat memberi kelancaran dan kesuksesan atas kualitas dan standar pada setiap Prodi yang akan dikembangkan.

Dema UIN Jakarta Ajak Mahasiswa Gelar Konsolidasi Bedah RUU KUHP

Dema UIN Jakarta Ajak Mahasiswa Gelar Konsolidasi Bedah RUU KUHP

Reporter Muhammad Muklas Editor Latifahtul Jannah

oo 
DEWAN EKSEKUTIF MAHASISWA 
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 
KONSOLÏDAS{ 
BEDAH 
RIJIJKIJHP
Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Jakarta menggelar Konsolidasi Bedah RUU KUHP. (Instagram/@demauinjkt_official)

Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Jakarta (DEMA-U) melaksanakan Konsolidasi Bedah RUU KUHP dengan mengangkat tema “Hukum untuk Kesejahteraan atau untuk Kepentingan?” pada Sabtu (25/6) di halaman depan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Konsolidasi akbar ini turut dihadiri perwakilan tiap fakultas yang ada di UIN Jakarta dengan membahas persiapan aksi penolakan terhadap Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang dinilai cacat prosedur dan kurang mendengarkan aspirasi masyarakat dan mahasiswa.

Aksi ini buntut dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang akan mengesahkan draf RUU KUHP dan seruan Aliansi Mahasiswa Seluruh Indonesia yang menuntut dan menolak draf RUU KUHP, sebelumnya pada tahun 2019 mahasiswa juga menuntut dan turun aksi untuk menolak RUU KUHP ini.

Ketua Dema UIN Jakarta, Abid Al Akbar, mengatakan minimnya partisipasi publik dan sosialisasi kepada masyarakat dalam perumusan RUU KUHP menjadi pembahasan pokok dalam konsolidasi. “Partisipasi publik mestinya dilibatkan dalam pembahasan RUU KUHP, dimana nantinya undang-undang ini menjadi aturan hidup, kita tidak diberitahu itu, ibarat kita mau hidup tetapi kita tidak diberitahu tata cara hidupnya, sehingga secara dasar pondasi itu sudah cacat,” ujar Abid saat diwawancara tim DNK TV.

lebih lanjut Abid mengukapkan,”tujuan di adakan konsolidasi ini untuk mewadahi aspirasi dari mahasiswa UIN Jakarta untuk bersuara perihal penolakan RUU KUHP ini.”

“Perlu adanya kesadaran mahasiswa sebagai Agent of Change, mahasiswa diberikan amanah dari masyarakat untuk menyuarakan kepentingan rakyat dan menegaskan bahwa sebenarnya yang berdaulat itu rakyat. Jangan sampai rakyat yang ditindas dan di injak-injak,” tutup Abid.

Kurangnya transparasi soal draf RUU KUHP membuat masyarakat tidak tahu perkembangan dari draf RUU KUHP dan tanggal pasti ditetapkannya.

Suasana Konsolidasi Bedah RUU KUHP oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Jakarta. (DNK TV/Muhammad Muklas dan Muhammad iqbal)

Ketua Bidang Advokasi Dema UIN Jakarta, Darmawan, membuka diskusi terkait RUU KUHP yang bertentangan dengan sistem demokrasi. “Kalo kita kaji, presiden itu bukan simbol negara, jadi tidak masuk akal bila mana, ada penghinaan terhadap presiden masuk kedalam RUU KUHP” jelasnya.

Lebih lanjut, Darmawan menerangkan pasal bermasalah selanjutnya terdapat pada Pasal 240 tentang penghinaan terhadap pemerintah. “Pasal itu sebenarnya sudah di tolak oleh MK di tahun 2009,” tegasnya pada diskusi tersebut.

Alfi Syahrin, Ketua Dema Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta menyampaikan agar tidak ada kontra ditahun-tahun berikutnya, ia berharap RUU KUHP ini tidak disahkan seluruhnya,”Melalui hasil konsolidasi pada hari ini, baiknya menggagalkan secara keseluruhan bukan menolak beberapa saja pasal yang ada dalam RUU KUHP, agar tidak menjadi kekhawatiran. Apabila hanya merevisi beberapa poin saja, khawatir dapat menimbulkan kontra kembali di tahun-tahun berikutnya.”

Alfi Syahrin juga menjelaskan “konsolidasi pada malam ini terkait RUU KUHP berawal dari keresahan teman-teman Mahasiswa UIN Jakarta yaitu menolak kehadiran Undang-Undang ini secara keseluruhan isi dari draft rancangan RUU KUHP karena hasil yang di tahun 2019 masih sama dengan RUU KUHP saat ini.”

Dalam aksi konsolidasi ini DEMA UIN Jakarta menolak pengesahan RUU KUHP, karena cacat prosedur. Hal ini sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2022 dan meminta agar Dewan Perwakilan Rakyat membuka draf terbaru RUU KUHP. Selanjutnya, hasil konsolidasi ini diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing perwakilan fakultas untuk mendiskusin lebih lanjut terkait langkah dan gerak. 

Singgung Papua, Megawati Dianggap Rasis Hingga Salah Paham Bhinneka Tunggal Ika

Singgung Papua, Megawati Dianggap Rasis Hingga Salah Paham Bhinneka Tunggal Ika

Reporter Ani Nur Iqrimah; Editor Ahmad Haetami

i FIGHT 
RACISM. CHAIN
Ilustrasi demo melawan tindak rasisme. (Freepik/@freepik)

Mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pernyataan yang dinilai rasis dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDI Perjuangan di Lenteng Agung, pada Selasa (21/6). Ia mengumpamakan kopi susu yang merujuk pada warna kulit orang Papua. Megawati menghubungkan kopi susu tersebut dengan Wakil Menteri Dalam Negeri, John Wempi Wetipo yang berasal dari Papua dan berkulit hitam.

Megawati juga bicara soal pencampuran genetik manusia. Ia menyelipkan cerita perihal masyarakat Papua. Baginya, tak masalah mencari lawan jenis yang menawan untuk genetika keturunan nantinya. Ia juga menyinggung tentang Bhinneka Tunggal Ika yang menurutnya harus sama.

“Itu kan benar, tapi kan sudah banyak loh sekarang yang mulai blended menjadi Indonesia banget, betul, rambutnya keriting, karena ‘kan Papua itu pesisirannya itu banyak pendatang, sudah berbaur.”

Sebelum bicara kopi susu dan pencampuran genetik, Megawati ungkap tidak ingin anak-anaknya mendapatkan jodoh seperti tukang bakso.

“Saya udah bilang nih, sama anak saya bertiga, ‘awas lho kalau nyarinya yang kayak tukang bakso’,” ujarnya.

Ucapan-ucapan Megawati membuat Presiden Indonesia, Jokowi dan peserta Rakernas PDIP lainnya tertawa. Sementara itu, banyak warganet yang mengecam ucapannya. Warganet menilai Megawati rasis, atau orang yang melakukan tindakan rasisme.

Rasisme merupakan keyakinan bahwa suatu ras lebih unggul daripada ras lainnya. Rasisme merupakan bentuk penindasan terhadap suatu ras yang masih sering terjadi hingga hari ini.

Istilah rasisme juga berlaku untuk institusi atau sistem hukum, ekonomi, dan politik yang melakukan diskriminasi ras atau mempraktikkan ketidaksetaraan rasial dalam pendidikan, kekayaan, hak-hak sipil, perawatan kesehatan, dan bidang lainnya.

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Salma Salsabila turut mengecam perkataan Megawati.

“Untuk seseorang yang punya jabatan atau yang punya kuasa buat negara seperti Megawati, ia masih kurang bisa memfilter apa yang harus dia omongkan sih, apalagi di depan umum, dan yang dia bahas cuma berupa opini subjektif. Tapi ya balik lagi, isi pikiran Megawati bisa-bisanya ngomong gitu atas dasar apa? Masa sih harus dia omongkan apa yang tidak perlu. Saya pikir hal-hal yang dia omongkan kurang ada hubungannya sama Rakernas,” ungkap Salma pada Jumat (24/6).

Salah satu Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Rizkiyah Mutira Sari juga berpendapat, jangan sampai sebuah opini merusak makna Bhinneka Tunggal Ika. Secara harfiah, Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan menjadi “Beraneka Satu Itu”, meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan.

“Karena Indonesia negara besar, sukunya banyak yang akhirnya pasti banyak bedanya dan terbentuklah Bhinneka Tunggal Ika. Kata ‘tetap satu’ itu menurut saya merujuk ke persatuan ‘kan, gimana caranya bersatu kalo banyak perbedaan? ya itu saling menghormati apapun pilihan orang lain, apapun kepercayaan dia, dan lain sebagainya. Nah, salah satu contoh menghargai perbedaan, jangan sampai suatu opini bisa merusak Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.

ARIE KRITING • Jun 23 
Kalau mau mewujudkan Bhinekka Tunggal 
Ika, ya harus beragam. 
Gak ada urusan orang kulit hitam harus 
kawin campur sama yang lain. 
Memangnya kenapa kalau orang kulitnya 
gelap? Memang kenapa kalau jadi tukang 
bakso? 
Perasaan sebagai ras superior ini kok ya 
masih dipelihara. 
O Merdek... 
@merdekad 
• Jun 21 
Megawati Wanti-Wanti Puan Maharani 
Jangan Cari Pasangan Seperti Tukang 
Bakso 
3:14 7.2M views 
0 1,685 t-0 9,434 
0 35.1K
Tangkapan layar Komika, Arie Kriting yang mengomentari ucapan Megawati (DNK TV/Ani Nur Iqrimah)

Tindakan rasisme merupakan hal tak manusiawi yang harus dihindari. Terkadang dalam kesehariannya, orang tidak menyadari telah melakukan berbagai tindakan rasisme karena kurangnya pemahaman tentang hal tersebut.

Untuk menghindari hal itu, pahami tindakan rasisme di dunia yang terdiri dari 6 jenis, berikut dikutip dari Lois Tyson dalam buku “Literary Theory“.

1. Eurosentrisme

Eurosentrisme adalah keyakinan bahwa budaya Eropa memiliki status paling tinggi daripada budaya dari bangsa atau ras lain.

2. Rasisme Internal

Rasisme internal merupakan hasil dari doktrin untuk mempercayai bahwa orang-orang kulit putih adalah superior atau berstatus lebih tinggi.

3. Rasisme Intrarasial

Jenis rasisme ini muncul akibat dari rasisme internal. Rasisme intrarasial mengacu pada diskriminasi dan pertikaian yang dilakukan oleh orang kulit hitam terhadap orang yang memiliki kulit lebihh itam dari mereka.

4. Rasisme Institusional

Jenis rasisme ini merupakan perbuatan diskriminasi atau ketidaksetaraan ras yang dilakukan dalam praktik kelembagaan dan budaya. Tujuan dari rasisme institusional adalah untuk menguntungkan kelompok yang kuat dan mengorbankan kelompok lain.

5. Rasisme Struktural

Rasisme struktural dilakukan oleh lembaga dengan mempraktikkan ketidaksetaraan kekuasaan, peluang, dan hasil kebijakan berdasarkan ras. Rasisme jenis ini sulit dicari, bersifat kumulatif, meluas, dan berjangka waktu panjang.

7. Rasisme Interpersonal

Rasisme interpersonal cakupannya lebih sempit yaitu terjadi dari satu individu terhadap individu lainnya yang berbeda ras dan budaya.

Hiruk Pikuk Prospek Kerja di Tahun 2030. Mental Kamu Aman, Nggak?

Hiruk Pikuk Prospek Kerja di Tahun 2030. Mental Kamu Aman, Nggak?

Penulis Fathiah Inayah; Editor Latifahtul Jannah

Ilustrasi overthinking terkait masa depan (Freepik/@freepik)

Penyataan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebut akan ada sembilan jenis pekerjaan yang akan ‘lenyap’ pada 2030 mendatang. Erick tohir mengingatkan Perguruan Tinggi untuk mewaspadai dampak digitalisasi terhadap sektor ketenagakerjaan. Antara lain berkurangnya jumlah lapangan pekerjaan akibat pemanfaatan teknologi canggih.

“Perguruan Tinggi harus bersiap diri, menghadapi kondisi pekerjaan yang diprediksi akan hilang dalam beberapa waktu ke depan,” tegasnya saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Selasa (21/6).

Pernyataan tersebut menuai berbagai tanggapan dan reaksi dari masyarakat hingga mahasiswa. Ada beberapa yang sudah mempersiapkan diri namun banyak juga yang mengalami kecemasan berlebih akan masa depan. Sebab itu, melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pikiran kita menjadi rumit.

“Nanti 5-20 tahun kedepan aku akan seperti apa ya? Apakah nanti aku bisa sukses? Apakah bisa aku mengurangi beban untuk orang sekitarku? Apakah aku memiliki kemampuan untuk menghadapi masa depan?”.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Michigan di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa 52% dari masyarakat berusia 45-55 tahun memikirkan suatu problem secara berlebihan atau mengalami overthinking. Dan juga sekitar 73% dari usia 25-35 tahun terjebak di masalah yang sama.

Bukan hanya studi namun realitanya juga terjadi hampir pada setiap mahasiswa. Menurut mahasiswa Universitas Bina Nusantara (BINUS), Kania hampir setiap malam overthinking karena berbagai pemikiran yang terlintas sehingga menjadi alasan untuk mengkhawatirkan masa depan.

“Alasan saya overthinking tiap malam, karena takut di masa depan saya tidak bisa mendapatkan perkerjaan, sebagai anak pertama dan cucu pertama membuat ekspektasi keluarga kepada saya sangat besar sehingga saya takut mengecewakan mereka. Serta saya takut tidak bisa bersaing dengan dunia globalisasi yang semakin canggih,” ujar Kania.

Erick mengakui meskipun ada sejumlah pekerjaan yang akan hilang, namun di masa depan akan ada pekerjaan lain yang dibutuhkan. Namun, Erick menggarisbawahi bahwa pekerjaan yang dimaksud membutuhkan keahlian khusus. Misalnya, seperti data scientist and analyst, artificial intelligence expert, software and game developer, analis big data, block chain developer, market research, digital marketing, biotechnology, hingga digital content.

Selain berat untuk masyarakat dan mahasiswa, tentu juga menjadi pekerjaan kompleks bagi pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja, khususnya usia muda, agar bisa menjadi pemain utama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ilustrasi dari overthinking. (Freepik/@freepik)

Takut akan masa depan memang wajar, tetapi jika berlebihan itu akan membuang banyak waktu serta bisa berbahaya dari sisi psikologi dan fisik. Melansir dari The Health Site, beberapa masalah yang kerap muncul akibat overthinking antara lain berupa terganggunya metabolisme tubuh, masalah pencernaan, berpotensi merusak organ jantung, hingga merusak kesehatan kulit.

Seperti yang dirasakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabrina Alya, setiap malam overthinking akan masa depan nya, berdampak pusing hingga sakit lambung.

“Dampaknya secara fisik aku merasa pusing biasanya hingga sakit lambung kambuh, secara pikiran aku tersiksa karena tidak bisa menemukan ujung kesimpulan dari hal-hal yang aku pikirkan,” ujar Sabrina Alya.

Menurut mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN), Radhita Pratama mengatakan bahwa dampak dari overthinking serta rasa takut berlebihan akan masa depan memberikan dampak negatif terhadap kognitif dan menimbulkan kecemasan sendiri.

“Jiwa dan tubuh itu saling berkaitan sehingga jika pikiran kita sakit maka tubuh kita akan ikut sakit itu respon nya terhadap kecemasan yang dirasakan, jika berlebih bisa menyebabkan gangguan kecemasan atau disebut juga anxiety disorder,” ungkap Radhita Pratama.

Radhita Pratama juga memberikan solusi, ”Untuk mengatasi overthinking yang berlebih yaitu filter pikiran kita, melatih pernapasan hingga pikiran tenang, ceritakan apa yang sedang dikhawatirkan kepada orang yang dipercaya sehingga beban menjadi lebih ringan, serta jika overthinking sudah berlebihan banget maka datanglah ke psikolog (atau ahli).”

Manusia itu selalu menempatkan ekspetasi pada posisi teratas, sehingga jika tidak sesuai dapat menimbulkan depresi. Kita harus bisa membedakan goals dan goals yang abstrak. Ingatlah bahwa “Some things are up to us, some things are not up to us“.

Longsor di Desa Cibunian Bogor, Ranita UIN Jakarta Turunkan Personil

Longsor di Desa Cibunian Bogor, Ranita UIN Jakarta Turunkan Personil

Reporter Ahmad Haetami

Persiapan Relawan Ranita bersama Tim Respon Erupsi Gunung. Ranita mendelegasikan dua orang tim relawan tanggap darurat pada Senin, (6/12/21).
Sumber: Dok. KMPLHK Ranita

6 kampung di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, mengalami bencana tanah longsor akibat hujan deras dan peluapan sungai, pada Rabu (22/6). Bersamaan dengan itu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ranita UIN Jakarta mendelegasikan 4 personil sebagai tim evakuasi dan assessment, di antaranya Yogi Handika, Elang Ilham, Nida Luthfyana, dan Desra Putri, pada Kamis (23/6).

“Sebagai organisasi yang memiliki identitas tangggap terhadap isu kemanusiaan, kami perlu secara responsif menanggapi bencana yang terjadi, khususnya lokasi kejadian tak terlalu jauh dari kampus sehingga kami bisa menjangkau lokasi terdampak lebih cepat, tim Ranita bisa membantu dalam proses evakuasi dan assessment. Kondisi di sana masih berstatus siaga dan saya berharap semua warga terdampak dan relawan yang sedang bertugas dalam kondisi aman,” ujar Ketua Umum Ranita, Ammar Abdul.

Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Jakarta, Ikhwan, memvalidasi keberangkatan personil Ranita untuk aktif membantu dan mengabdi pada warga Cibunian. Pihak UIN Jakarta memberikan dukungan dan doa selalu bagi warga terdampak dan tim relawan yang sedang bertugas.

“Terima kasih Ranita UIN Jakarta yang dengan semangat, tulus, dan spontanitas cepat beraksi untuk membantu sesama yang terkena musibah longsor di Cibunian Bogor. Ranita memang selalu terdepan dalam bereaksi terhadap peristiwa musibah di negeri ini, bahkan daerah terjauh sekalipun,” tuturnya.

Tim assessement lapangan Ranita mengidentifikasi ada 85 Kepala Keluarga yang terdampak bencana tanah longsor di wilayah Desa Cibunian. Adapun kebutuhan mendesak bagi warga Cibunian di antaranya makanan, air mineral, perlengkapan bayi, hygiene kit, selimut, pembalut wanita, obat-obatan, alat penerangan, makanan dan susu bayi, alat kebersihan, mi instan, dan pakaian.

UKM Ranita juga sedang membuka donasi untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak bencana tanah longsor di Desa Cibunian, Kabupaten Bogor. Donasi dapat disalurkan melalui informasi yang tertera pada akun instagram @ranita_uin.

Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Sayangi Diri, Hindari Ruminasi

Penulis Abu zar Al Ghifari; Editor Dani Zahra Anjaswari

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Pada masa sekarang tidak sedikit mahasiswa yang mengalami ruminasi dan overthinking. Apasih ruminasi dan overthinking itu? Apa perbedaan di antara keduanya?

Overthinking merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan bercabang karena selalu dihantui oleh rasa cemas, takut, merasa bersalah, dan tidak percaya diri.

Sedangkan ruminasi merupakan suatu kebiasaan buruk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, namun dipikirkan secara berlebihan dan berulang. Jadi, ruminasi itu merupakan kelanjutan dari overthinking. Mengutip dari physchology today dalam istilah psikologi, ruminasi adalah salah satu kesamaan antara kecemasan dan depresi. Suatu kondisi perenungan atau merenungkan hal yang sama berulang-ulang.

Seseorang yang mengalami overthinking cenderung mengalami kesulitan ketika akan melakukan langkah ke depan. Ia akan sulit menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya karena selalu terbayang-bayang dengan kejadian di masa lalu yang belum usai. Bukan hanya itu, ia juga takut akan terjadi kejadian yang sama di masa depan.

Sedangkan, orang yang mengalami ruminasi cenderung mengalami stressor. Stressor adalah berbagai macam permasalahan hidup yang dialami manusia yang mengakibatkan stres. Seseorang yang mengalami ruminasi cenderung memiliki trauma secara fisik maupun mental. Orang yang mengalami ruminasi ketika menghadapi masalah lebih memilih merenungi masalah tersebut tanpa ada jalan keluar.

Dampak negatif jika seseorang mengalami keduanya, yaitu selalu mengalami kecemasan, kurangnya percaya diri, setiap mencari solusi selalu dengan cara merenung, dan imun tubuh pun mengalami penurunan karena stres.

Setelah mengetahui penjelasan singkat tentang ruminasi dan overthinking dan apa saja dampak buruk yang akan terjadi jika mengalaminya secara terus-menerus, maka ada cara agar dapat menghadapi ruminasi dan overthinking itu sendiri. Berikut langkah-langkah untuk mengatasi keduanya:

1. Evaluasi dalam memecahkan masalah

Cara ini dapat dilakukan pertama kali oleh diri sendiri, yakni dengan mengintropeksi diri dan jujur kepada diri sendiri apa yang sedang dirasakan. Dengan seperti itu dapat berpikir jernih dan mengambil langkah yang tepat.

2. Cari rumah untuk berkeluh kesah

Maksud dari “rumah” di atas ini adalah seseorang yang dijadikan tempat berbagi cerita dan sebagai pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita kita. Dengan bercerita, harapannya agar dapat memperluas pandangan seperti itu dan dapat memperluas pikiran serta masalah yang dimiliki.

3. Fokus sama hal yang bisa dikontrol

Fokus terhadap suatu hal yang bisa dilakuin oleh diri sendiri contohnya seperti pemilihan outfit untuk kumpul bersama teman, jangan terlalu memikirkan penilaian orang bagaimana terhadap apa yang sedang kita pakai, bersikaplah bodo amat terhadap penilaian mereka yang tidak membangun

4. Keluar dari lingkungan toxic

Lingkungan sangatlah mempengaruhi kehidupan seseorang, jika orang tersebut berada di lingkungan yang toxic, maka orang tersebut akan selalu mengalami ruminasi dan overthinking karena lingkaran pertemanannya tidak memberikan solusi.

5. Menghadapi masalah satu

Orang yang mengalami ruminasi dan overthinking cenderung sulit untuk menemukan sebuah jalan keluar dalam menyelasaikan permasalahannya secara fokus pada satu permasalahan. Ia sudah memikirkan masalah lain, padahal masalah sebelumnya belum terselesaikan.

Ilustrasi ruminasi. (Freepik/@freepik)

Terkait adanya kebiasaan overthinking ini, salah satu mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta, Syifa Rahma Kurnia memaparkan tanggapannya terkait kebiasaan overthinking yang nantinya dapat menciptakan respon serta cara pandang yang positif maupun negatif.

Overthinking merupakan sinyal was-was terhadap sesuatu. Bisa dikatakan overthinking adalah kegiatan yang menjurus ke hal negatif sehingga kebiasaan overthinking akan menciptakan kebiasaan buruk seperti tidak percaya diri, mencari alasan untuk menyerah, menyalahkan orang lain, dan tidak bersyukur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bawah kebiasaan overthinking tidak selalu buruk, menurut Syifa Rahma kita juga penting untuk overthinking agar punya sinyal tersendiri. Tapi, tetap hal yang dibiasakan kemudian dilebih-lebihkan tidak akan baik begitu juga dengan overthinking.

Tidak sedikit dari mahasiswa yang mengalami overthinking dalam menjalani perkuliahannya. Faktor keuangan menjadi salah satu alasan para mahasiswa mengalami overthinking, di mana para mahasiswa banyak yang menginginkan sebuah pekerjaan sambil melaksanakan perkuliahan. Alasan utama mengapa melakukan kuliah sambil kerja yaitu agar meringankan beban orang tua.

Apalagi para mahasiswa yang merantau dan jauh dari orangtua, pastinya akan sering mengalami overthinking. Mengatur keuangan agar tidak boros untuk bertahan hidup merupakan overthinking yang dialami para mahasiswa perantau. Saling mencemaskan keadaan antara orang tua dan anak, apakah baik-baik saja atau tidak dan keduanya memiliki rasa rindu dan segera ingin bertemu.