Upacara Pelantikan ASN, Dekan Berharap Fdikom Jadi Tauladan

Upacara Pelantikan ASN, Dekan Berharap Fdikom Jadi Tauladan

Reporter Syaifa Zuhrina; Editor Taufik Akbar Harefa

Upacara Pelantikan ASN
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi penyelenggara kegiatan upacara pelantikan ASN (Aparatur Sipil Negara) pada Senin (31/1).

Upacara dihadiri oleh beberapa perwakilan dekanat serta civitas akademika UIN Jakarta. Selain melantik pejabat baru, kegiatan ini sekaligus memperkenalkan Program Studi baru Magister Manajemen Dakwah.

Dalam amanahnya, inspektur upacara sekaligus Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) Suparto menyatakan bahwa kedepannya Fdikom harus menjadi contoh tauladan dalam membangun komunikasi.

“Saya berharap Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi menjadi contoh tauladan bagaimana kita membangun komunikasi, jadi kita ingin membangun kekeluargaan dengan komunikasi yang baik, tidak ada lagi sekat antara pimpinan dan bawahan,” jelasnya.

Adapun nama-nama pejabat yang baru dilantik yakni Nasichah sebagai Sekretaris Program Studi (Sekprodi) Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, serta Hamidullah Mahmud dan Muamar Aditya sebagai Kepala dan Sekprodi Magister Manajemen Dakwah.

Pejabat Baru yang dilantik
Sumber: DNK TV-Farhan Mukhatami

Kaprodi Magister Manajemen Dakwah Hamidullah Mahmud memaparkan langkah-langkah yang sudah dipersiapkan guna menciptakan akademisi serta praktisi yang handal.

“Ini program baru S2 Manajemen Dakwah, di Indonesia baru ada di UIN maka kita akan merapatkan barisan dan sempurnakan kurikulum yang sudah kami susun serta dosen-dosen pengampunya sehingga yang melanjutkan jenjang S2 di fakultas ini mendapat ilmu mumpuni serta menjadi akademisi dan praktisi yang handal,” ujar Hamidullah.

Ia juga berharap terhadap dukungan dari segala pihak agar yang menjadi cita-cita kampus umumnya dan Fdikom khususnya dapat terwujud.

Layanan Konseling Islam Tingkatkan Kesehatan Mental Sivitas Akademika

Layanan Konseling Islam Tingkatkan Kesehatan Mental Sivitas Akademika

Reporter Kireina Yuki; Editor Tiara De Silvanita

Berlangsungnya Seminar Nasional dengan tema “Urgensi Layanan Konseling Islam dalam Meningkatkan Kesehatan Mental Civitas Academica” secara virtual.
Sumber : DNK TV_Kireina

Pusat Layanan Konseling Islam (Puslakis) menggelar Seminar Nasional dengan tema “Urgensi Layanan Konseling Islam dalam Meningkatkan Kesehatan Mental Civitas Academica”. Seminar Nasional ini dilaksanakan pada Kamis, (27/1) secara daring dengan menghadirkan pemateri yaitu Abdul Mujib selaku Guru Besar Bidang Psikologi Islam UIN Jakarta, Ika Malika selaku Koordinator Pelayanan Konseling Klinik Satelit UI, Linda Maysha selaku Humas Himpunan Mahasiswa Sistem Informatika (HIMPSI) Banten.

Seminar ini dibuka dengan sambutan dari Suparto selaku  Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom). Suparto mengatakan  bahwa pembukaan Puslakis dan Seminar Nasional ini karena banyaknya aspek yang perlu diperdalam dari setiap mahasiswa baik sisi emosi, psikologi, dan social well being.

“Dari mahasiswa, baik sisi emosi, sisi psikologi, dan sisi social well being, 3 hal tersebut merupakan ranah penting yang perlu kita beri layanan sehingga mahasiswa memahami bahwa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi tidak hanya sebagai kampus dengan bukti fisik, tetapi juga memberikan lingkungan yang kondusif” jelas Suparto.

Selanjutnya penyampaian materi pertama oleh Abdul Mujib, selaku Guru Besar Bidang Psikologi Islam UIN Jakarta. Abdul Mujib mengatakan cara mendapatkan penerimaan diri yang baik dan cepat yaitu dengan menghadirkan agama dalam kehidupan.

“Klien kita bukan hanya orang sakit tapi juga orang sehat tapi mengalami meaningless atau kehampaan, untuk itu menurut saya agama sebagai konteks konseling bisa kita masukan untuk itu. Dengan adanya pendekatan keislaman semakin meningkatkan kualitas konseling dan psikoterapinya” jelas Abdul Mujib.

Penyampaian materi pertama oleh Abdul mujib, selaku Guru Besar Bidang Psikologi Islam UIN Jakarta.
Sumber : DNK TV _Kireina

Materi kedua disampaikan oleh Ika Malika, selaku Koordinator  Pelayanan Konseling Klinik Satelit UI. Ika menjelaskan bagaimana kondisi pelaksanaan layanan konseling di perguruan tinggi.

“Kalau dilihat dari 2019-2020 tidak melulu masalah masalah akademik, justru tiga alasan terbesar kedatangan klien itu adanya perasaan cemas, perasaan sedih dan depresi, kemudian baru masalah akademik dan diikuti oleh permasalahan lainnya”.

Materi terakhir mengenai akses bantuan psikologi di masyarakat dan sinegri HIMPSI dengan perguruan tinggi, yang dipaparkan oleh Linda Masyha selaku Humas HIMPSI Banten.

“Kita sebagai provider layanan psikologi memiliki kode etik, jadi meskipun kita dengan pendekatan Islami tapi kita perlu paham bahwa ada rambu-rambunya. Kita tetap berperan sebagai pemberi layanan secara profesional, dan memiliki sinergi antara HIMSI dengan Perguruan Perguruan tinggi terkait program ini,” ujar Linda

Salah satu peserta seminar sekaligus mahasiswa UIN Jakarta Program Studi (Prodi) Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Dhiya Raisa memberikan respon positif terhadap pembukaan Puslakis.

“Dengan adanya Puslakis yang berada di naungan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi dapat memberikan fasilitas konseling yang berbasis Islam untuk para mahasiswa yang terkendala dengan permasalahan yang dialami. Seminar nasional ini juga memberikan insight baru, bahwasannya konseling Islam dapat meningkatkan kesehatan mental dan memberikan strategi coping religius dalam konseling dan psikoterapi Islam dengan agama sebagai sumbu menuju keselamatan jiwa”.

Penutupan Sertifikasi Haji dan Umrah sebagai Motivasi Para Pembimbing

Penutupan Sertifikasi Haji dan Umrah sebagai Motivasi Para Pembimbing

Reporter Belva Carolina

Para peserta Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah saat melakukan sesi foto bersama.
Sumber: DNK TV-Kevin Philips

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Angkatan ke VI Tahun 2022 kerja sama Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Republik Indonesia, UIN Jakarta, dan Dewan Pimpinan Wilayah Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Haji dan Umrah (DWP FK KBIHU) Provinsi DKI Jakarta telah sampai pada acara penutupan yang diselenggarakan pada hari Rabu, (26/01) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.

Acara ini dihadiri oleh para peserta pembimbing haji dan umrah, Direktur Jenderal PHU Kemenag RI, Hilman Latief, Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Cecep Castrawijaya, Ketua FK KBIHU Provinsi DKI Jakarta, M. Machdum, serta Ketua Asesor Sertifikasi, Ade Marfuddin.

Pengumuman kelulusan peserta pembimbing haji dan umrah serta penetapan kelompok terbaik dan peserta terbaik dibacakan oleh Ketua Tim Asesor Sertifikasi, Ade Marfuddin. Ditetapkan 97 orang dinyatakan lulus, 5 orang dinyatakan lulus bersyarat, dan 1 orang dinyatakan tidak lulus serta menetapkan kelompok terbaik terdapat 3 kelompok dan peserta terbaik terdapat 5 peserta.

Ketua FK KBIHU Provinsi DKI Jakarta, M. Machdum menyatakan bahwa sertifikasi merupakan sebuah keharusan segenap pembimbing haji dan umrah di Indonesia khususnya DKI Jakarta.

“Kami sebagai pengurus FK KBIHU DKI Jakarta melaksanakan ini. Mencermati dan mengamati jalannya sertifikasi sesuai dengan amanat UUD No. 8 Tahun 2019, seluruh asesor dan panitia sudah melaksanakan tugasnya dan sudah tercapai pesan dan harapan dari sertifikasi ini,” ucapnya.

Kegiatan ini memberikan ilmu yang bermanfaat dan bermaslahat, serta memberikan legalitas kepada para pembimbing yang dapat diakui dalam membimbing dan memotivasi jemaah haji dan umrah.

Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah akan diadakan kembali, sehubungan dengan terdapat pembimbing yang belum melaksanakan Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah.

“Karena sertifikasi ini merupakan sebuah keharusan setiap pembimbing dan belum semua pembimbing mengikuti sertifikasi. Insyaallah FK KBIHU DKI Jakarta akan melaksanakan setiap ada kesempatan dan tahun depan kami akan melaksanakan kembali yang lebih konsentrasi, meriah, serta diminati oleh seluruh pembimbing haji dan umrah khususnya DKI Jakarta,” jelas M. Machdum.

Salah satu peserta terbaik Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah, Ikhwan Agus Mughofar merasakan adanya kerukunan, kekompakan, kerja sama, dan hubungan komunikasi yang baik dalam Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah.

“Apresiasi untuk seluruh panitia, asesor, dan peserta dari penjuru Indonesia. Begitu bahagia, gembira, nan haru bisa mengikuti Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah profesional seperti ini,” ujarnya.

Ikhwan memaparkan bahwa tujuan dan urgensi secara umum sudah tersampaikan dengan baik dan maksimal.

“Secara maksimal, kaffah, full time saya rasa tidak ada habisnya. Urgensi, tujuan, hajat, keinginan, cita-cita saya rasa sudah terwujud dan terlaksana secara maksimal dan khusus,” jelasnya.

Harapan darinya selaku peserta dan penyuluh Agama Islam di Kementerian Agama Kalimantan Tengah akan mengembangkan ilmu yang diperolehnya agar menjadi pembimbing haji dan umrah yang profesional, komitmen, dan religius serta melaporkan kegiatan sertifikasi kepada Kepala Kantor Wilayah Kalimantan Tengah.

“Insyaallah akan berkomunikasi dengan Forum KBIHU dan membuka KBIHU di Kalimantan Tengah,” tegas Ikhwan.

Tak hanya itu, M. Machdum berharap bahwa pembimbing dapat mengamalkan, melaksanakan, mengaktualisasikan ilmu, dan pengalaman yang diperoleh dari sertifikasi serta bimbingan para pembimbing tersampaikan dengan baik kepada jemaah haji dan umrah.

Webinar Internasional KPI UIN Jakarta: Ada 3 kajian baru dalam kurikulum

Webinar Internasional KPI UIN Jakarta: Ada 3 kajian baru dalam kurikulum

Reporter Cut Soraya Dewi


Peserta Webinar Internasional “Profile of Public Speaker and Broadcaster Curriculum 2022” pada Selasa (25/01).
Sumber: DNK TV-Natasya Ardya Garini

Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta mengadakan Webinar Internasional dengan tema “Profile of Public Speaker and Broadcaster Curriculum 2022” pada Selasa (25/01).

Acara dilakukan secara daring melalui Zoom Cloud Meetings. Dihadiri oleh Kepala Prodi KPI UIN Jakarta, Armawati Arbi, Kepala Prodi KPI UIN Yogyakarta, Nanang Mizwar Hasyim, Pendakwah Internasional, M. Ali Aziz, Penyiar BBC London dan Radio Australia, Nuim Khaiyath, Dekan Fdikom, Suparto, para dosen prodi KPI, dan partisipan.

Acara ini bertujuan guna menyosialisasikan kurikulum terbaru prodi KPI UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta. Dalam menyampaikan pengalamannya sebagai seorang penyiar, Nuim Khaiyath mengatakan ada dua hal penting yang perlu diterapkan sebagai penyiar radio, yaitu perlunya keakraban dan pengetahuan.

“Dalam menjadi seorang penyiar, pertama, kalian perlu memiliki kesadaran bahwa kalian harus menjadi sangat intimasi/akrab, ramah, sehingga kalian menggunakan suara yang ramah, bukan sebagai seorang penyiar yang formal tetapi sebagai teman agar pendengar merasa bahwa penyiar hanya berbicara dengan mereka, bukan dengan orang lain”, ucapnya.

“Kedua, kalian perlu memiliki latar belakang pengetahuan, jadi bagaimana kalian memperoleh latar belakang pengetahuan ini, hal yang terpenting adalah kalian harus membaca buku. Cobalah untuk memiliki pengetahuan sebanyak mungkin”, imbuhnya.

Pendakwah Internasional, Ali Aziz mengungkapkan bahwa hal terpenting menjadi seorang pendakwah adalah kemampuan membaca Al-Quran.

“Kepercayaan masyarakat kepada pendakwah adalah satu, yaitu bacaan Al-Quran itu tidak boleh salah. Oleh karena itu, teman-teman mahasiswa KPI setiap hari harus belajar Al-Quran dengan nada, sebab itu merupakan bagian dari dai agar mendapat kepercayaan dari masyarakat”, ungkapnya.

Pendakwah Internasional, M. Ali Aziz yang menjadi salah satu narasumber.
Sumber: DNK TV-Natasya Ardya Garini

Selain itu, dalam rangka perumusan kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Kepala Prodi KPI UIN Yogyakarta, Nanang Mizwar Hakim menjelaskan, ada tiga acuan yang mempu membentuk kompetensi penyiar.

“Dalam penyusunan KKNI ada beberapa hal yang menjadi acuan, salah satunya adalah keahlian, sikap, dan pengetahuan. Inilah faktor yang menjadi terbentuknya kompetensi penyiar,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Kepala Prodi KPI UIN Jakarta, Armawati Arbi menjelaskan ada tiga kajian dalam kurikulum terbaru KPI UIN Jakarta.

“Kami sepakat bahwa kajian dari prodi KPI UIN Jakarta yaitu studi Public Speaking, Penyiaran, dan Media. Adapun profil public speaking itu yaitu menjadi pengkaji dakwah di media, pencipta konten dakwah, pengkaji media sosial, dan pengkaji hubungan masyarakat. Adapun profil broadcasting (penyiaran), praktisinya adalah pengkaji penyiaran islam radio dan televisi, serta film dokumenter.”

“Adapun kajian studi media, kami rinci menjadi asisten peneliti, praktisi advokasi media, praktisi media dan gender,” tambah Armawati.

Ia juga mengatakan bahwa dalam kurikulum baru akan ada mata kuliah Media dan Gender yang sebelumnya tidak ada.

“Jadi, kami mencoba di kurikulum baru itu ada mata kuliah Media dan Gender,” ucapnya.

Sertifikasi Haji dan Umrah, Amany Lubis; Harus Paham Digitalitas Zaman

Sertifikasi Haji dan Umrah, Amany Lubis; Harus Paham Digitalitas Zaman

Reporter Prayoga Adya Putra; Editor Fauzah Thabibah

Foto para calon pembimbing haji dan umrah.
Sumber: DNK TV-Prayoga Adya Putra

Sertifikasi Haji dan Umrah hari ke-4 berlangsung lancar dengan diisi materi dari berabagai narasumber.

Di antaranya turut hadir Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Guru Besar Bidang Psikologi Islam Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Abdul Mujib, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi DKI Jakarta, Cecep Khairul Anwar, serta Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU,) Machdum.

UIN Jakarta sendiri menjadi salah satu lembaga pendidikan yang mendukung adanya sertifikasi pembimbing haji dan umroh.  

Tujuan diselenggarakannya acara ini sebagai cara untuk mempererat hubungan para calon pembimbing haji dan umrah dengan para jemaah.

Guru Besar Bidang Psikologi Islam Fakultas Psikologi UIN Jakarta  sekaligus pembimbing peserta Sertifikasi Haji dan Umrah, Abdul Mujib memaparkan bahwa mempersiapkan para calon pembimbing jemaah bukan hanya sekedar manasik di bidang masalah haji, melainkan melatih kesiapan mereka untuk turut eksis dalam membimbing jamaah haji dan umrah nantinya.

“Terkait dengan hal-hal yang lain tentang ibadah haji, misalnya terkait (kesiapan) psikologi para calon pembimbing (yang nantinya) ikut serta mengantarkan jemaah haji,” ujarnya.

Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis menyampaikan materi untuk para calon pembimbing haji dan umrah.
Sumber: DNK TV-Prayoga Adya Putra

Peserta Sertifikasi Haji dan Umrah, Muhammad Anis  mengatakan materi pembekalan yang disampaikan hari ini banyak sekali. Ia juga berharap kegitan ini menjadikan para pembimbing haji dan umrah semakin profesional.

“Harapan ke depannya adalah tetap kita menjadi pembimbing profesional dan lebih baik lagi,”  ujar Anis.

Rektor UIN Jakarta Amany Lubis menyampaikan, bahwa adanya kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk calon pembimbing haji menghadapi jemaah.

Menurutnya, jemaah haji perempuan dan laki-laki harus memahami aplikasi serta mengetahui  bahasa Arab dan bahasa Inggris. Ia juga berharap bahwa pembimbing haji dan umrah dapat memahami digitalisasi zaman ini.

“Orang Indonesia pun sekarang masih tidak tau soal aplikasi kesehatan,” katanya menyayangkan.

UIN Jakarta dan Fdikom teken MoU-PKS dengan IPHI

UIN Jakarta dan Fdikom teken MoU-PKS dengan IPHI

Reporter Farah Nur Azizah; Editor Fauzah Thabibah

Foto bersama usai rangkaian penandatanganan MoU dan PKS antara UIN Jakarta dan Fdikom dengan IPHI.
Sumber: DNK TV-Muhammad Rizza Nur Fauzi

Pada Jum’at (21/1) dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Fakultas dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) dengan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI).

Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, Wakil Rektor bidang kerja sama, Lily Surraya Eka Putri, dan Dekan Fdikom, Suparto. Selain itu, dari pihak IPHI hadir Sekretaris Umum, Bambang Wiryanto, Wakil Ketua Bidang Dakwah, Anshori, dan Kepala Biro Bidang Haji dan Umrah, Dedi. Serta beberapa jajaran dari pihak Fdikom UIN Jakarta, yang berlangsung secara tertib dan khidmat.

IPHI merupakan suatu organisasi kemasyarakatan khususnya dalam masyarakat Islam dan sebagai suatu lembaga yang melestarikan juga menjadi wadah komunikasi, silaturahim bagi para alumni haji.

Sedangkan, UIN Jakarta sendiri ialah salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai kolerasi dengan IPHI dan diperuntukan oleh para haji.

Kerja sama ini bertujuan agar terselenggaranya rencana IPHI dimana akan diadakan workshop, pelatihan, serta kegiatan lainnya. Untuk itu UIN Jakarta menjadi suatu lembaga yang akan berperan dalam bidang yang relevan. Sehingga kerja sama bisa terus dijalin dengan baik.

Dalam IPHI sendiri memiliki program-program yang mampu meningkatkan kompetensi para alumni UIN Jakarta. Salah satunya dalam bidang dakwah dan bimbingan haji. Ini merupakan tujuan berikutnya dilakukan kerja sama antara IPHI dengan UIN Jakarta dan Fdikom.

Ketua IPHI, Erman Suparno memaparkan bahwa program yang ada di IPHI mampu meningkatkan kompetensi para alumni UIN Jakarta.

“IPHI punya program-program yang bisa meningkatkan kompetensi dari pada alumni dengan program-program IPHI. Misalnya dibidang dakwah, kemudian dibidang bimbingan haji, umroh, dan ini relevan,” ujarnya.

Rektor UIN Jakarta, Dekan Fdikom, dan Ketua IPHI saat memperlihatkan surat MoU dan PKS yang telah ditandatangani.
Sumber: DNK TV-Muhammad Rizza Nur Fauzi

Adapun harapan dari Dekan Fdikom, Suparto adalah dengan terselenggaranya perjanjian ini dapat saling menguntungkan.

“Kerja sama ini bisa saling menguntungkan terutama dalam penguatan lembaga dan juga penguatan SDM,” harapnya.

Sejalan dengan Dekan Fdikim, Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis menyampaikan bahwa adanya kegiatan ini menjadi salah satu langkah baik untuk kegiatan selanjutnya.

Ia juga berharap bahwa kerja sama ini tidak hanya dilaksanakan dengan Fdikom saja, melainkan juga dengan fakultas-fakultas lainnya yang ada di UIN Jakarta.

“Di sini bisa kita lakukan penyuluhan-penyuluhan, bekerja sama dengan dosen dan fakultas. Bukan hanya Fakultas Dakwah saya harap, jadi bisa fakultas lainnya bila memang diperlukan,” ucap Rektor UIN Jakarta tersebut.

Salah satu isi MoU antara UIN Jakarta dengan IPHI tentang pelaksanaan kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi pada Pasal 8 No. 5 yakni pelaksanaan dari nota kesepahaman ini akan dipantau dan dievaluasi oleh para pihak secara sendiri-sendiri atau bersama-sama paling kurang satu kali setahun sebagai bahan pertimbangan terhadap pelaksanaan kerja sama selanjutnya.

Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Hasil Penelitian PPIM sebagai Rujukan Pesantren Respon Pandemi

Reporter Belva Carolina; Editor Fauzah Thabibah

Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” yang dipaparkan oleh Penyaji Laifa Annisa Hendarmin, Koordinator Penelitian Pesantren & Pandemi.
Sumber: DNKTV-Belva Carolina

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui CONVEY Indonesia mengadakan Peluncuran Hasil Penelitian dengan Tema “Pesantren dan Pandemi: Bertahan di Tengah Kerentanan” pada Rabu (19/01).

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Profesor Ismatu Ropi menuturkan dalam sambutannya bahwa tujuan yang ingin dicapai yaitu mendapatkan data yang komprehensif bagaimana pesantren berusaha keluar dari problem yang dihadapi sejak pandemi muncul.

“Pesantren sangat rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19 dan ingin melihat kebijakan apa yang diambil oleh pesantren, melihat kaitan pandemi dengan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah, serta menyoroti pula peran Kiai dalam mempromosikan prokes, meluruskan hoaks atau konspirasi, dan menyelesaikan problem Covid-19,” tuturnya.

Hasil studi penelitian diperoleh dari 15 pesantren yang memiliki sekolah menengah atas di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat terkait dengan kerentanan dan ketahanan Pesantren. Sumber pandemi dilihat dari aspek kesehatan, pendidikan, sosial keagamaan, dan politik serta peran Nyai dan pemimpin perempuan di pesantren selama masa pandemi dengan metodologi penelitian yaitu Convergent Mixed Method Study yang dilakukan sejak bulan Januari sampai Oktober 2021.

Kemampuan pesantren sebagai institusi untuk merespon dan memitigasi pandemik yang terjadi untuk tetap memiliki siklus kinerja institusional yang baik, dalam hal ini pelayanan pendidikan dan pengasuhan di pesantren.

Berdasarkan penyampaian Team Leader CONVEY Indonesia, Profesor Jamhari Makruf bahwa dengan kapasitas dan pengetahuan kesehatan yang terbatas pesantren dapat bertahan bahkan dijadikan contoh pendidikan umum lainnya.

“Dampak positifnya membuka kesadaran pesantren untuk meningkatkan aspek kesehatan dan kebersihan menjadi bagian hidup pesantren serta mengadaptasi dunia digital sebagai kebutuhan santri saat di luar pesantren, serta harapan adanya uluran tangan pemerintah,” ucap Jamhari.

Pesantren saat pandemi mendapatkan penanganan langsung dari Kemenag dengan adanya program Gugus Tugas Covid-19, Edukasi Penanganan Covid-19, Sosialisasi SKB 4 Menteri, Bantuan langsung, Buku Pesantren Tanggap Bencana Covid-19, dan Program Pesantren Tangguh Covid – 19.

Namun semua itu realitanya tidak membendung adanya klaster penyebaran Covid-19 pada lingkungan pesantren. Dapat dilihat dalam media dan riset yang dihasilkan yaitu terdapat 605 Kyai dan Ibu Nyai yang meninggal terinfeksi Covid-19 serta 67 pondok pesantren dengan 4328 santri terinfeksi Covid-19 di 13 provinsi di Indonesia.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur mengatakan bahwa pesantren mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

“Kyai dan Bu Nyai bersama-sama dan bergotong-royong melindungi santri tetap sehat. Hasil survei dalam data kami lingkungan pesantren relatif mengikuti protokol kesehatan, hanya saja keterbatasan banyak hal seperti informasi hoaks dari eksternal pesantren,” tegasnya.

Adapun dalam riset penelitian yaitu pengetahuan santri dan guru dalam merespon pandemi sudah cukup namun terdapat beberapa aspek yang masih minim seperti edukasi dan infodemik serta sikap santri dan guru dalam merespon pandemi yaitu tidak ingin orang lain tahu jika terkena Covid-19 dan masih setuju orang tua untuk berkunjung selama pademi.

Hasil Kajian Dampak dan Ketahanan Institusi PLTA di 15 pesantren Jakarta, Banten, dan Jawa Barat saat Krisis Pandemi Covid – 19 yang dikemukakan oleh Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari.
Sumber: DNK TV-Belva Carolina

Kepala Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, UGM, Profesor Yayi Suryo Prabandari menerangkan manfaat penelitian ialah meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku yang positif terhadap protokol, mendapatkan perhatian serta pengetahuan tentang pencegahan dan sikap terhadap respon pemerintah, serta memberikan pemahaman yang terus-menerus melalui para Kyai dan Nyai mengenai persepsi terhadap vaksin.

“Adapun perilaku pencegahan dan pengendalian secara individu seperti pencarian sumber kesehatan yang kredibel, adanya etika saat batuk atau bersin, dan pola hidup sehat, serta secara kelompok yaitu literasi kesehatan, pelaksanaan protokol kesehatan dalam berbagai kegiatan kelompok seperti tracing, test, dan treatment kemudian pengendalian dan komunikasi risiko.”

Anggota DPR-RI Komisi VIII, Ace Hasan Syadzily sebagai wakil rakyat dalam berbagai kesempatan selalu menyampaikan bahwa Covid-19 bukanlah konspirasi dan kewajiban kita semua memastikan agar anggapan seperti ini tidak muncul di masyarakat.

“Intinya adalah salah satu hal yang sangat penting dapat menjelaskan mengenai Covid-19 kepada masyarakat terutama dalam lingkungan pesantren agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Alangkah baiknya sampel riset ini dapat diperbanyak sehingga dapat menggambarkan kondisi pesantren pada masa pandemi, serta perlunya evaluasi dari kalangan pesantren apakah penanganan Covid-19 ini sudah tepat atau belum.

Harapan darinya pemerintah pusat dan daerah tidak saling melempar tanggung jawab dalam penanganan Covid-19.

Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIO) Jakarta, Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm, menganalisis peran Kyai dan Nyai di beberapa pesantren yang sangat dinamis dan jika ingin membidik relasi keadilan atau relasi Nyai dan Kyai yang setara mengukurnya dengan lensa keadilan hakiki untuk melihat pergulatan bagaimana peran gender yang konvensional dalam relasi suami-istri itu juga mempengaruhi pembagian peran antara Kyai dan Nyai.

Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Gus Romzi Ahmad memaparkan bahwa riset yang dilakukan PPIM perlu direspon dengan baik dan dapat dijadikan rujukan oleh pondok pesantren.

“Perlu adanya penerimaan sebuah riset secara terbuka, mulai belajar auto kritik dan memperbaiki banyak hal dari dalam agar di kemudian hari pondok pesantren bisa jauh lebih baik, mapan, dan efektif menangani masalah krisis terutama yang berkaitan dengan krisis sosial,” tegasnya.

Status vaksinasi Covid-19 dalam lingkungan pesantren terdapat 70,5 persen responden telah di vaksin, 36% masih ragu dan tidak berminat dalam melaksanakan vaksinasi serta 5% menolak vaksin karena agama. Hal tersebut beriringan dengan pemahaman fikih pandemi yang masih minim.

Sertifikasi Haji dan Umrah: Upaya Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Pelayanan Ibadah di Tanah Suci

Sertifikasi Haji dan Umrah: Upaya Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Pelayanan Ibadah di Tanah Suci

Reporter Tiara De Silvanita

Direktur Jenderal PHU Kemenag RI Hilmam Latief saat menyampaikan sambutan pembukaan.
Sumber: DNK TV – Fajar Khairifais

Pembukaan Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Angkatan ke VI Tahun 2022 merupakan kerjasama antara Ditjen PHU Kementrian Agama Republik Indonesia, Forum Komunikasi (FK) KBIHU DPW Provinsi DKI Jakarta , dan UIN Jakarta. Acara dilaksanakan pada Rabu, (19/01) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.

Kegiatan diawali registrasi peserta pada pukul 08.00 WIB kemudian dilanjutkan pre-test sebagai alat ukur pengetahuan dasar mengenai materi haji dan umrah. Acara ini dihadiri oleh Direktur Jenderal PHU Kemenag RI Hilmam Latief, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Cecep Choirul Anwar, Ketua FK KBIHU M.Machmud, Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto.

Direktur Jenderal PHU Kemenag RI Hilmam Latief mengatakan agar jemaah haji dan pelayanan jamaah haji bisa meningkat, maka perlu mencetak pembimbing-pembimbing yang profesional dengan kualifikasi tertentu dalam segi wawasan, keterampilan, dan kepemimpinan untuk dapat terus didorong

“Kita tahu bahwa kebutuhan calon jamaah haji bukan hanya pada saat mereka akan berangkat, bukan hanya materi tentang ibadah haji tapi kita juga perlu memikirkan materi-materi keislaman lainnya,” terang Hilman Latief.

Pembukaan Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Angkatan ke VI Tahun 2022.
Sumber: DNK TV – Fajar Khairifais

Rektor UIN Jakarta Amany Lubis berharap agar pembimbing haji dan umrah menguasai secara komprehensif serta mengetahui budaya Indonesia dan Timur Tengah.

“Penting sekali para pembimbing haji dan umrah baik laki-laki maupun perempuan untuk menguasai betul materi-materi dari pelatihan ini”

Acara sertifikasi ini merupakan upaya untuk mendukung rekognisi peran Fdikom UIN Jakarta dalam menyukseskan program pemerintah, yang tidak hanya fokus pada akademik semata namun juga non akademik.

Pro Kontra Penamaan Ibu Kota Negara menjadi Nusantara

Pro Kontra Penamaan Ibu Kota Negara menjadi Nusantara

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Taufik Akbar Harefa

Menteri PPN, Suharso Monoarfa.
Sumber : bapenas.go.id

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Suharso Monoarfa mengumumkan penamaan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur dengan nama Nusantara.

Nama ini dipilih oleh Presiden Joko Widodo dari 80 nama yang diusulkan, di antaranya Negara Jaya, Nusantara Jaya, Nusa Karya, Nusa Jaya, Pertiwipura, Warnapura, Cakrawalapura, Kertanegara dan lain sebagainya.

Dikutip dari kanal resmi Parlemen Channel, Suharso menjelaskan Presiden Jokowi telah mengonfirmasi nama IKN tersebut pada Jumat (14/01).

“Saya baru mendapatkan konfirmasi dan perintah langsung dari Bapak Presiden itu pada Jumat lalu, dan beliau mengatakan ibu kota negara ini namanya Nusantara,” kata Suharso dalam Rapat Pansus RUU IKN di Jakarta, Senin (17/01).

Suharso menjelaskan pemberian nama IKN menjadi Nusantara dikarenakan nama tersebut telah dikenal oleh masyarakat luas sejak dahulu, baik domestik maupun global, sehingga menjadi ikon bagi Indonesia.

Pradesain Istana Negara Ibu Kota Baru – Kalimantan Timur Sumber : YouTube–Presiden Joko Widodo

Penetapan Nusantara sebagai nama ibu kota negara baru, mendapat respons beragam dari berbagai kalangan.

Pansus RUU IKN Ahmad Doli Kurnia meyakini, penetapan ini telah melewati pertimbangan yang matang oleh pemerintah sendiri.

“Kita sepakati bahwa nama Nusantara itu kita beri apresiasi tinggi, tentu kita menganggap bahwa sampai putus nama Nusantara itu dengan pertimbangan matang, ada aspek historis, sosiologis kemudian filosofis,” kata Doli, Senin (17/01).

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai nama Nusantara kurang cocok untuk dijadikan sebagai nama ibu kota baru di Kalimantan Timur. Menurutnya, nama Nusantara memiliki makna tersendiri, terlebih nama ini sudah menjadi istilah untuk Wawasan Nusantara.

“Nusantara kurang cocok jadi nama ibu kota baru. Nusantara punya pengertian sendiri sebagai wilayah Indonesia, belum lagi ada istilah Wawancara Nusantara,” cuitannya di akun Twitter @fadlizon.

Cuitan Fadli Zon terkait Penamaan Ibu Kota Baru dengan nama Nusantara
Sumber : Twitter-@Fadlizon

Ia juga mengusulkan penamaan ibu kota memakai nama Jokowi, mengingat ibu kota Kazakhstan pun menggunakan nama presidennya sebagai nama ibu kota.

“Usul saya nama ibu kota langsung saja ‘Jokowi’. Sama dengan ibu kota Kazakhstan ‘Nursultan’ (dari nama Presiden Nursultan Nazarbayev)” imbuh Fadli dalam cuitannya.

Tak senada dengan cuitan Fadli Zon, Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Jakarta, La Ode Muh Djasmin justru menyetujui penetapan nama Nusantara sebagai nama ibu kota baru. Menurutnya, nama Nusantara mewakili seluruh perbedaan yang ada di Indonesia.

“Tanggapan saya mengenai ibu kota baru yang dinamai Nusantara itu, saya setuju. Karena nama Nusantara itu bagi saya adalah nama yang mewakili seluruh atau berbagai macam perbedaan,” ungkapnya pada jurnalis DNK TV.

Ia juga mengungkapkan nama Nusantara ini justru cocok dijadikan sebagai nama ibu kota baru karena Nusantara merupakan kata penyatu yang diharapkan nantinya dapat menyatukan segala macam perbedaan dan memberi warna baru bagi Indonesia.

“Justru kata Nusantara ini yang cocok menjadi nama ibu kota baru karena bagi saya kata ‘Nusantara’ itu penyatu sehingga apabila dinamakan Nusantara maka kita berharap ibu kota baru ini dapat menyatukan berbagai macam perbedaan di Indonesia dan memberikan warna baru” pungkasnya.

Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris UIN Jakarta, Andi Aspian Nur Apsari pun ikut buka suara terkait hal ini. Ia merasa pemilihan nama Nusantara sebagai ibu kota baru merupakan cerminan dari pembentukan Indonesia.

“Saya rasa untuk pemilihan nusantara sebagai nama ibu kota baru ada cerminan dari bagaimana negara Indonesia itu dibentuk” katanya.

Menurut Aspian, dilihat dari segi historis nama Nusantara tidak tepat untuk dijadikan nama ibu kota. Namun, jika pemerintah sudah menyiapkan dan memilih matang-matang nama ini, maka ia menerima keputusan tersebut.

“Ketika menilik dari segi historis nama tersebut tidak tepat untuk dijadikan nama ibu kota. Namun, kalau memang pemerintah sudah siap dan memilih dengan matang, saya sih terima-terima saja,” kata Aspian.

Peresmian Safari Dakwah Prodi BPI sebagai Wadah Belajar

Peresmian Safari Dakwah Prodi BPI sebagai Wadah Belajar

Reporter Ahmad Haetami

Sambutan Opening Safari Dakwah oleh Panitia Pelaksana.
Sumber: Dokumentasi panitia Safdak

Program Studi (Prodi) Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Opening Safari Dakwah (Safdak), peresmian sebuah program tahunan rutin yang diikuti oleh mahasiswa BPI, di Desa Cibitung, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada Selasa (18/1).

Peresmian Safdak yang dilaksanakan tahun ke-26 dengan tema “Melangkah dengan Cita untuk Merajut Ukhuwah dalam Bingkai Keberagaman” ini dilakukan setelah berjalannya kegiatan pelepasan di UIN Jakarta dan anjangsana, yakni kunjungan peserta ke rumah warga untuk bersilaturahmi dan menginformasikan kegiatan acara yang akan dilakukan nanti.

Sebelum pembukaan simbolis dengan pemukulan gong, Kepala Desa Cibitung mengatakan bahwa Safdak ini menjadi tantangan mahasiswa.

“Melihat tema yang diusung, konteks keberagamaan itu tidak bisa dipisahkan oleh konteks sosial, karena manusia hanya punya dua tujuan persoalan dalam hidup, yaitu agama dan sosial. Oleh karena itu, peran dari Safdak harapannya mahasiswa bisa menyukseskan dua tujuan hidup manusia tersebut. Ini tantangan bagi mahasiswa. Selesai Safari Dakwah, kualitas masyarakat bisa meningkat dari sebelumnya.”

Peresmian Safdak oleh Kepala Desa Cibitung.
Sumber: Dokumentasi panitia Safdak

Setelah acara Opening Safdak ini, ada banyak kegiatan yang nantinya akan dilakukan oleh mahasiswa. Di antaranya seminar sosial tentang pemilahan sampah, seminar agama yang dikemas melalui talk show, serta seminar kesehatan tentang pencegahan narkotika dan HIV. Selain seminar-seminar, ada juga cek kesehatan, pengobatan gratis, dan donor darah.

Selain hal-hal tersebut, akan dilaksanakan juga Safdak Champion Day, pembuatan saung baca, homestay, keputrian, dan akan ditutup dengan tablig akbar.

Ketua Pelaksana Safdak, Achmad Perdiansyah mengatakan acara Safdak merupakan bentuk peningkatan mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Safdak ini memiliki tujuan guna meningkatkan mutu aplikatif dari Tri Dharma Perguruan Tinggi poin ke-3, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat, di mana pengabdian ini menjadi wadah kita untuk belajar dalam memberikan suatu problem solving di bidang sosial, pendidikan, agama, dan berbagai kegiatan lainnya. Kami berharap Safdak ke-26 ini mampu mendorong masyarakat untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.