Soal Larangan Reuni 212, Mahasiswa UIN Angkat Bicara

Soal Larangan Reuni 212, Mahasiswa UIN Angkat Bicara

Reporter Amalia Riskiyanti; Editor Elsa Azzahraita

Potret Reuni 212 berjalan menuju Patung Arjuna Wiwaha
Sumber : instagram-donalhusni

Aparat kepolisian menyerukan kepada massa bahwa Reuni 212 yang semula akan digelar di kawasan Patung Arjuna Wiwaha, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, tidak mendapatkan perizinan.

Seruan pembubaran disampaikan polisi melalui pengeras suara kepada ratusan massa Reuni 212 yang berada di kawasan Masjid Al Fatah atau kantor Gerajan Pemuda Jslam (GPI), Jalan Menteng raya, Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar, Endra Zulpan menuturkan kegiatan ini tidak sejalan dengan rekomendasi Satuan Tugas Covid-19 DKI Jakarta. Ia juga menegaskan akan menerapkan sanksi hukum kepada massa yang memaksa tetap menggelar kegiatan ini.

“Kita akan menerapkan ketentuan hukum berlaku pada mereka yang memaksakan kita akan persangkakan tindak pidana KUHP Pasal 212 sampai 218, khususnya mereka yang tidak mengindahkan,” tutur Zulpan yang dikutip dari Tempo.co pada Rabu (1/12).

Polisi serukan larangan berkerumun kepada massa
Sumber : instagram-donalhusni

Ratusan massa Reuni 212 sempat memblokade Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Setelah beberapa pimpinan Presidium Alumni 212 menyampaikan orasi Ketua PA 212, Slamet Maarif meminta massa reuni 212 membubarkan diri dalam keadaan damai. 

“Setelah ini kita akan kembali ke tempat kita masing-masing, kita datang untuk damai, kita disuruh pulang ya kita pulang, kita datang untuk damai, siap untuk pulang dengan tertib,” kata Slamet yang dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis (2/12).

Mochammad Taufiqurahman salah satu mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta yang pernah terlibat dalam aksi 212 menanggapi tindakan polisi yang dinilai tidak adil dalam hal ini.

“Menurut saya ada 2 perspektif, pertama tidak tepat, karena tujuan kita reuni sebenarnya hanya ingin bernostalgia di momen yang sangat langka ya, yaitu momen bersatunya umat Islam, tapi perspektif kedua tepat diambil tindakan tersebut, karena kita tau bahwa situasi saat ini masih pandemi dan mungkin kepolisian atau pihak lain masih merasa khawatir akan keramaian itu. Tetapi kalau alasan di bubarkannya karena keramaian, menurut saya ada ketidakadilan,” jelasnya.

Berbeda dengan Taufiq, Azizah Reviva mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta menilai tindakan polisi sudah tepat, mengingat situasi saat ini yang masih menghadapi pandemi Covid-19.

Pekuat Kelembagaan, Fdikom UIN Jakarta dan FDK UIN Suska Riau Jalin Kerja Sama

Pekuat Kelembagaan, Fdikom UIN Jakarta dan FDK UIN Suska Riau Jalin Kerja Sama

Reporter Jenni Rosmi Aryanti ; Editor Elsa Azzahraita

Foto bersama antara Dekanat Fdikom UIN Jakarta dengan FDK UIN Suska Riau pada Rabu (2/12).
Sumber : Naura_DNKTV

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta mendapat kunjungan kerja sama dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau yang bertempat di meeting room lantai 2 Gedung Fdikom, pada Rabu (2/12).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Dekanat Fdikom, di antaranya Wakil Dekan I Bidang Akademik Siti Napsiyah, Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum Sihabudin Noor, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawijaya. Turut hadir, Dekan FDK UIN Suska Riau Imron Rosidi beserta staff akademik FDK UIN Suska Riau,

Adapun tujuannya guna menjalin silaturahmi dan kerja sama antar kedua instansi. Imron menjelaskan kerja sama ini dilakukan guna mendukung penguatan kelembagaan.

“Penguatan kelembagaan ini berupa persiapan akreditasi, sertifikasi pembimbing manasik haji, dan sempat diskusi terkait dengan persiapan S-2 Program Studi (Prodi) Manajemen Dakwah, orientasinya ialah kedua instansi dapat maju bersama, berkolaborasi untuk meningkatkan mutu dan kualitas masing-masing lembaga secara bersama-sama,” ujar Imron.

Adapun bentuk kerja sama yang dibuat, Pertama, melakukan riset atau menulis artikel bersama. Kemudian, tindaklanjut kegiatan ini ialah sertifikasi pembimbingan haji dengan melibatkan Fdikom UIN Jakarta, dimana akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Program sertifikasi pembimbingan haji ini tentu akan melibatkan Fdikom UIN Jakarta, karena di fakultas kami belum pernah melakukan program sertifikasi haji, jadi kami berkolaborasi dengan Fdikom UIN Jakarta yang sudah pernah melakukan sertifikasi haji,” jelasnya.

Penyerahan cenderamata kepada UIN Suska Riau pada kegiatan kunjungan kerja sama.
Sumber : Naura_DNKTV

Kedua, pihak Dekanat FDK UIN Suska Riau akan meminta supervisi atau arahan dalam rangka membentuk S-2 Prodi Manajemen Dakwah. Selain itu, Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) pun sudah mulai didiskusikan.

“Termasuk Program MBKM pun itu akan kita tindak lanjuti bagaimana ke depan mahasiswa fakultas dakwah di dua instansi yang berbeda ini bisa bertukar dan belajar,” ujarnya.

Wakil Dekan I Bidang Akademik Fdikom UIN Jakarta Siti Napsiyah menjelaskan kerja sama ini dibuat dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh kedua instansi. Bentuk implementasi perpoin dari MoU tersebut dibuat dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS).

“Harapan kami dengan adanya kerja sama ini tentu kita terbangun kerja sama yang konkrit tentang pertukaran mahasiswa atau dosen atau ikut riset. Bentuk kerja sama ini akan jadi poin besar akreditasi nantinya,” ujar Wadek Napsiyah.

Mengulik Sejarah dan Simbol Pita Merah Hari AIDS Sedunia

Mengulik Sejarah dan Simbol Pita Merah Hari AIDS Sedunia

Reporter Nurdiannisya Rahmasari; Editor Farhan Mukhatami

Ilustrasi Lambang Peringatan Hari AIDS Sedunia  
Sumber: cdc.gov

Hari AIDS sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember. Hari yang menjadi pengingat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) ini memiliki perjalanan sejarah tersendiri.

Dalam sejarahnya, HIV dipercaya berasal dari Simmian Immunodeficiency Virus (SIV) yang berpindah spesies dari simpanse ke manusia. Hal ini disebabkan oleh perburuan dan konsumsi daging primata tersebut di Kongo, Afrika pada tahun 1920an.

Istilah AIDS sendiri baru diperkenalkan kepada dunia pada September 1982 beserta dengan jumlah laporan kasusnya yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebuah badan pengendalian kesehatan di Amerika Serikat.

Konsep Hari AIDS Sedunia didasarkan oleh Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Menteri Kesehatan Dunia tahun 1988. Konferensi tersebut membuat organisasi internasional sepakat untuk memperingati Hari AIDS Sedunia setiap tanggal 1 Desember.

Momentum ini pun diangkat oleh menteri kesehatan sebagai penghormatan kepada orang-orang yang telah wafat karena HIV/AIDS.

Ilustrasi Simbol Pita Merah Hari AIDS Sedunia
Sumber: Twitter-@whoindonesia

Sebagai bentuk respons atas dampak AIDS pada kelompok seniman, para profesional seni pada 1988 mendirikan sebuah kelompok di New York bernama Visual AIDS. Lalu, pada 1991 para seniman ini mendesain simbol visual untuk penyakit tersebut.

Terinspirasi dari pita kuning sebagai penghormatan kepada tentara Amerika Serikat yang bertugas di Perang Teluk, para seniman ini membuat logo berupa pita merah. Warna merah dipilih sesuai warna darah, dengan lengkungan yang melambangkan jantung hati atau cinta.

Hingga saat ini, penggunaan pita merah dilakukan sebagai simbol global terhadap kesadaran dan dukungan untuk orang-orang yang sedang berjuang melawan penyakit ini. Dengan adanya peringatan Hari AIDS sedunia, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa HIV belum hilang dari muka bumi.

Kemenparekraf Hadirkan Buku Seputar Desa Wisata Indonesia

Kemenparekraf Hadirkan Buku Seputar Desa Wisata Indonesia

Oleh Farah Nur Azizah; Editor Farhan Mukhatami

Ilustrasi Desa Wisata di Banten
Sumber: Pexels

Desa wisata menjadi salah satu tempat yang menarik perhatian wisatawan lokal bahkan asing. Dalam konteks wisata pedesaan, desa wisata sebagai aset kepariwisataan yang berbasis pada potensi pedesaan dengan segala keunikan dan daya tariknya yang dapat diberdayakan serta dikembangkan.   

Menurut Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Henky Manurung, Kemenparekraf akan mengabadikan data-data detail mengenai desa wisata berbentuk buku e-book atau hardbook.

“Kemenparekraf akan mengabadikan data-data detail mengenai desa wisata yang masuk nominasi 50 besar desa terbaik dalam Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dalam bentuk buku yang mudah dinikmati, e-book atau hardbook,” papar Henky.

Harapan dengan terselenggaranya program ini adalah dapat mewujudkan visi Indonesia sebagai negara dengan tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing serta dapat mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat.

Selain itu, Menparekraf Sandiaga Uno meyakini kalau desa wisata dapat dikelola dengan baik maka hasilnya akan tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Sudah saatnya kita berpihak pada desa wisata agar bukan Indonesia yang membangun desa wisata melainkan desa wisata yang membangun Indonesia,” ujarnya.

lustrasi Desa Wisata di Ujungkulon
Sumber: Pexels

Adapun buku yang akan dibuat, mengandung informasi yang berguna untuk masyarakat yang ingin mencari tempat tujuan wisata. Pembuatan buku yang direncanakan pun dalam waktu dekat akan dimulai.

Terdapat 1.831 peserta terdaftar dalam ADWI 2021, dinilai berdasarkan tujuh kategori (homestay, toilet, suvenir, desa digital, cleanliness health safety environment sustainability, konten kratif dan daya tarik wisata).

Kategori tersebut berdasar pula pada empat pilar pariwisata pengembangan berkelanjutan, meliputi tata kelola, ekonomi lokal, sosial budaya, dan pelestarian lingkungan.

Pada intinya semua kawasan bisa jadi desa wisata bilamana mempunyai daya tarik wisata, baik itu alam, budaya ataupun buatan, mempunyai komunitas masyarakat, potensi sumber daya manusia yang mampu terlibat dalam aktivitas pengembangan, adanya kelembagaan pengelolaan, dukungan dan peluang ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana guna mendukung kegiatan wisata.   

Maka dengan dilakukannya pengembangan desa wisata di Indonesia mampu menciptakan destinasi yang berkualitas dan berkelanjutan. Sebab warisan negara harus dijaga dan lestarikan.