Tahap Interview MDP 12 DNK TV: Mampu Melahirkan Insan Adaptif

Tahap Interview MDP 12 DNK TV: Mampu Melahirkan Insan Adaptif

Reporter Farah Nur Azizah; Editor Fauzah Thabibah

Proses Interview calon anggota DNK TV oleh anggota penuh DNK TV
Sumber: Divisi Publikasi MDP 12-DNK TV

Dakwah dan Komunikasi Televisi atau biasa dikenal dengan sebutan DNK TV merupakan lembaga penyiaran komunitas dibawah nauangan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta yang bergerak dibidang broadcasting.

Salah satu acara tahunan DNK TV ialah menyelenggrakan perekrutan anggota baru atau biasa disebut Media Development Program (MDP) 12, diperuntukan bagi mahasiswa Fdikom semester 1 dan 3 yang memiliki minat didunia broadcasting.

Saat ini, rangkaian acara MDP 12 telah memasuk tahap wawancara, yang dilakukan setelah penutupan Open Recruitment pada (27/11) sampai (18/12). Adapun jumlah peserta MDP 12 terdaftar sebanyak 115 yang terdiri dari mahasiswa Fdikom.

Tahapan wawancara ini dilaksanakan selama dua hari secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting mengingat situasi yang masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

“Wawancara ini dilakukan secara virtual melalui zoom meeting karena mengingat kegiatan kita dilaksanakan pada saat pandemi. Namun, alasan lain pula kita membuat wawancara via onlien untuk tetap menjaga kualitas dari interview tersebut. Dimana kita juga ingin menilai secara objektif pada saat interview,” papar Organizing Committe MDP 12, Muhammad Nazar Gunawan.

Pada hari pertama proses wawancara, sebanyak 75 peserta yang diwawancarai. Selanjutnya pada hari kedua berjumlah 40 peserta, yang dimulai pada pukul 09.30-14.00 WIB.

Saat proses interview berlangsung melalui Zoom Cloud Meeting pada Senin (20/12)
Sumber: Divisi Publikasi MDP 12-DNK TV

Station Manager DNK TV 2021, Rian Fahardhi Risyad mengatakan MDP 12 tahun ini terdapat banyak perbedaan mengenai kriteria penerimaan anggota baru. Terutama di era saat ini yang dituntut untuk dapat adaptif dengan teknologi. Maka kriteria yang diharapkan bagi calon anggota DNK TV ialah adaptif yaitu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.

“Kita mau anggota DNK yang baru ini bisa beradaptasi dengan semua soft skill ataupun kemampuan yang ada. Jadi yang benar-benar kita terima kualitas-kualitas mahasiswa Fdikom yang memang punya kemauan untuk belajar, menerima, dan tentunya menghasilkan pemikiran yang kritis, kreatif, dan membawa marwah sebagai mahasiswa,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Nazar menambahkan bahwa kriteria Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan DNK TV yaitu mahasiswa yang penuh semangat aktif dalam belajar mengenai dunia penyiaran.

“SDM yang dibutuhkan di DNK TV itu ya militan, karena di DNK TV membutuhkan orang-orang yang penuh semangat aktif dan penuh gairah. Dalam artian bisa menciptakan kreatifitas dalam bidang broadcasting guna menghadirkan generasi yang lebih berkualitas.”

Adapun tanggapan dari peserta MDP 12, Qois Ali Humam merasa dengan adanya tahap interview ini sangat baik guna melihat sejauh mana niat dan kesiapan sebagai peserta dalam mengikuti pelatihan MDP 12.

“Pertanyaan yang diberikan ketika interview tadi seputar pengetahuan kita dalam dunia broadcasting, tanggapan kita seputar DNK TV, seberapa besar kesiapan dan komitmen kita ketika tergabung menjadi anggota DNK TV, dan pertanyaan lainnya. Menurut saya Interview yang tadi saya jalani sangat baik untuk kita sebagai peserta MDP 12. Untuk melihat sejauh mana niat dan kesiapan kita dalam mengikuti pelatihan MDP 12 ini,” ucap Qois.

Maka dengan adanya pelatihan MDP 12 ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang lebih baik, berkomitmen, bertanggung jawab, serta menghasilkan pemikiran yang kreatif dan kritis. Sebab di DNK TV kita akan belajar banyak bagaimana profesionalitas itu diterapkan ketika melaksanakan tugas.

Kurangi Pemanasan Global: Yuk Dimulai dari Diri Sendiri

Kurangi Pemanasan Global: Yuk Dimulai dari Diri Sendiri

Oleh Khalilah Andriani; Editor Aulia Gusma Hendra

Ilustrasi Pemanasan Global
Sumber: karyapemuda.com

Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Penyebab pemanasan global erat kaitannya dengan pencemaran udara di dunia saat ini.

Kondisi bumi saat ini  semakin buruk karena ulah manusia yang kerap merusak alam. Diantaranya  banyaknya penebangan liar, meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi dan aktivitas manusia lainnya yang membuat efek rumah kaca semakin parah, hal tersebut menjadi penyebab adanya pemanasan global.

Dibalik itu, upaya untuk mengurangi pemanasan global sampai saat ini masih terus dilakukan. Sebab, efek dari pemanasan global dapat merugikan beberapa wilayah di dunia, salah satunya adalah perubahan iklim yang ekstrem.

Meskipun pemanasan global sering dibicarakan dalam isu lingkungan, tetapi sampai saat ini masih saja terjadi. Maka dari itu perlu kerjasama dari beberapa pihak terutama masyarakat untuk ikut serta mengurangi adanya pemanasan global.

Ilustrasi Upaya Mengurangi Pemanasan Global
Sumber: Medium.com

Berikut beberapa cara untuk mengurangi adanya pemanasan global :

1. Bersihkan Email

Sebulan sekali lakukan pembersihan email yang sekiranya tidak kamu butuhkan. Seperti hapus sampah yang terdapat pada email, matikan notifikasi yang berkaitan dengan email dan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan email.

Tidak diketahui banyak orang, jika penggunaan email dan penumpukan data email dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Karena email dapat menghasilkan emisi CO2. Emisi CO2 adalah jumlah total emisi gas rumah kaca yang berasal dari produksi, penggunaan, hingga pembuangan akhir suatu produk atau layanan.

2. Mengurangi Penyisaan Makanan yang Berlebihan

Pemanasan global bisa di akibatkan karena banyaknya limbah makanan di dunia. Maka dari itu, adapun upaya untuk mengurangi limbah makanan bisa dimulai dari mengubah pola makan keluarga, jenis makanan, dan masaklah makanan secukupnya agar tidak menghasilkan sisa makanan yang akan menjadi limbah makanan.

Tidak banyak diketahui bahwa limbah makanan mengandung CO2 dan CH4 yang akan mengakibatkan perubahan iklim karena timbulnya pemanasan global. Selain itu, limbah makanan yang berada di tempat pembuangan menghasilkan zat metane dalam jumlah yang besar. Zat ini lebih berdampak pada pemanasan global dibandingkan dengan CO2.

3. Hemat Energi

Upaya untuk mengurangi pemasan global yang pertama adalah hemat energi. Jika pada siang hari alat elektronik tidak digunakan, lebih baik matikan dan gunakan alat elektronik jika diperlukan saja.

4. Menggunakan Transportasi Umum

Banyaknya penduduk yang ada di dunia, menyebabkan meningkatnya kendaraan pribadi. Akibat dari banyaknya kendaraan pribadi membuat timbulnya efek rumah kaca. Sebab kendaraan mengeluarkan asap yang mengandung gas karbon monoksida. Gas tersebut sangat berbahaya bagi lingkungan karena dapat menjadi penghalang pemantulan panas bumi.

5. Reduce, Reuse, Recycle (3 R)

Tak asing lagi dengan ketiga upaya menjaga lingkungan yaitu Reduce, Reuse, Recycle (3 R).

Reduce adalah upaya mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah. Barang reduce yang dimaksud meliputi, baju, aksesoris, dll.

Sedangkan reuse adalah upaya penggunaan ulang. Pilihlah wadah, kantong atau benda yang dapat digunakan beberapa kali atau berulang-ulang.

Sementara recycle adalah bentuk daur ulang yang berkaitan dengan proses produksi.

6. Menanam Pohon

Penghijauan dan reboisasi sangat dibutuhkan dalam menjaga lingkungan. Dampak dari penghijauan dan reboisasi ini sangat menguntungkan karena proses fotosintesis pohon dan tanaman mampu menyerap karbon dioksida serta menghasilkan oksigen.

Tanaman menjadi sebuah bagian dari siklus pertukaran atmosfer alami. Beberapa jenis tanaman juga mampu melawan peningkatan karbon dioksida yang bisa disebabkan oleh kendaraan, pabrik, serta kegiatan manusia lainnya.

Penanaman pohon tidak hanya dilakukan di hutan saja, tetapi juga di lahan-lahan kosong agar nantinya tanah di bawahnya bisa menahan dan menyimpan air.

7. Mengurangi Penggunaan Peralatan yang Mengandung CFC (Chlorofluorocarbon)

Mengurangi penggunaan yang mengandung CFC ini dapat mengurangi pemanasan global, contoh peralatan yanb mengandung CFC adalah deodoran, hairspray, semprotan nyamuk. Kandungan CFC berkontribusi terhadap penipisan ozon, yang dapat menimbulkan efek paling merusak.

Cara di atas adalah beberapa upaya untuk mengurangi pemanasan global, upaya tersebut dapat dimulai dari diri sendiri. Sayangi bumi dengan ikut berperan aktif dalam mengurangi pemanasan global.

Peduli Disabel melalui Pendidikan Inklusi

Peduli Disabel melalui Pendidikan Inklusi

ReporterJenni Rosmi Aryanti; Editor Taufik Akbar Harefa

Suasana peluncuran DZAKI Foundation secara virtual Jumat (17/12).

Yayasan Disabel Zahirah Khoiri Indonesia (DZAKI Foundation) menyelenggarakan ajang peluncuran DZAKI Foundation secara resmi sekaligus Webinar bertajuk “Penguatan dan Tantangan Pendidikan Inklusi”. Berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (17/12).

Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) sekaligus Penasihat DZAKI Foundation Suyitno, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ulfiah, Founder DZAKI Foundation Rusdi Ahmad, Direktur DZAKI Foundation Yopi Kusmiati dan diikuti lebih dari 200 peserta. 

Dalam sambutannya, Direktur PTKI Kemenag RI sekaligus Penasihat DZAKI Foundation Suyitno mengatakan, siap mendukung penuh bersama komitmen dalam pengelolaan pendidikan Inklusi harus lebih spesifik dengan pendekatan akademis profesional.

“Di kementrian Agama sendiri kita  dari mulai jenjang dasar Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, bahkan perguruan tinggi kita juga memberikan layanan dengan sebaik-baiknya, memang belum maksimal, namun kita berusaha terus berikan yang terbaik,” ujar Suyitno. 

Direktur PTKI Kemenag RI Suyitno, saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan launching dan webinar DZAKI Foundation Jumat (17/12).

Dalam Sesi Webinar, yang dipandu oleh moderator Erba Rozalina Yulianti Dosen FTIK UIN Jakarta, Ulfiah sebagai narasumber menjelaskan pendidikan inklusi merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak pada umumnya untuk belajar bersama.

“Tantangan dalam pendidikan inklusi itu terutama di Indonesia yaitu belum memiliki persepsi yang sama. Maka, melalui pendidikan ini, orang-orang utamanya seorang pendidik tidak membedakan status sosial satu sama lain, dan kita memandang orang dengan lebih adil atau lebih berimbang,” ujar Ulfiah.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ulfiah saat memaparkan materi mengenai pendidikan inklusi.

Menurut Ulfiah, harapan dari adanya pendidikan inklusi yang ingin dicapai adalah bagaimana orang tua, guru, dan masyarakat memiliki tanggung jawab, komitmen kebersamaan, kemitraan, serta memberikan layanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. 

“Pendidikan inklusi berbeda dengan Sekolah Luar Biasa (SLB), pendidikan inklusi lebih efektif dan lebih mengembangkan apresiasi karena tiap orang memiliki keunikan. Jika pendidikan inklusi dapat diterapkan dengan baik dan masyarakat memiliki pandangan yang sama mengenai pendidikan inklusi, maka hasilnya akan baik.” jelas Ulfiah. 

Salah satu peserta webinar Elsa Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta, mengaku sangat tertarik dan senang dengan kehadiran DZAKI Foundation yang senantiasa menjadi contoh gerakan kebaikan terhadap disabel yang dapat menginspirasi khalayak.

“Memberikan layanan terbaik untuk orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus, webinar ini benar-benar membuka pola pikir kita bahwa kita harus lebih memperhatikan dunia sekitar agar teman-teman disabilitas itu mendapatkan pelayanan dan haknya,” ujar Elsa. 

Perkuat SIMDAK, Fidkom UIN Bandung Lakukan Studi Banding dengan Fdikom UIN Jakarta

Perkuat SIMDAK, Fidkom UIN Bandung Lakukan Studi Banding dengan Fdikom UIN Jakarta

Reporter Kireina Yuki; Editor Elsa Azzahraita

Foto bersama pasca studi banding SIMDAK Fidkom UIN Bandung dengan Fdikom UIN Jakarta.
Sumber: DNK TV_Farhan

Sistem Informasi Manajemen Administrasi Akademik (SIMDAK) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom) UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan kunjungan studi banding dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta pada Kamis (16/12), bertempat di meeting room lantai 2 Gedung Fdikom.

Turut hadir Dekan Fdikom UIN Jakarta Suparto, Wakil Dekan II Bidang Adkum Sihabuddin Noor, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawijaya, Ketua SIMDAK Fidkom UIN Bandung, Hajir Tajiri dan jajaran lainnya.

Ketua SIMDAK Fidkom UIN Bandung, Hajir Tajiri mengatakan kunjungan studi banding ini dilakukan guna mendapatkan pengetahuan yang lebih terutama dalam pengolahan SIMDAK.

“Tentu dasar dilaksanakan studi banding ini untuk mendapatkan pengetahuan yang berguna terkait pengolahan SIMDAK UIN Bandung agar ke depan lebih baik, itu yang kami harapkan, ” ujar Hajir.

Rangkaian acara dalam kunjungan ini tidak jauh dari pertemuan hangat antara kedua belah pihak dan pengunjungan beberapa ruangan fakultas.

Pembahasan mengenai implementasi SIMPERDAKOM milik Fdikom UIN Jakarta.
Sumber : DNKTV_Farhan

Salah satu fokus utama yang dibahas yakni mengenai implementasi SIMPERDAKOM, yang merupakan sistem persuratan yang dimiliki Fdikom UIN Jakarta. Bukan hanya pengenalan, namun juga membahas bagaimana sistem tersebut disimulasikan.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fdikom UIN Jakarta Cecep Castrawijaya menyambut baik kunjungan studi banding ini. Ia mengatakan bahwa ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masing-masing pihak, terutama dalam pengelolaan dan pengembangan sistem informasi akademik di Fakultas.

“Terimakasih hari ini salah satu universitas di Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berkunjung ke Fdikom UIN Jakarta. Kunjungan ini tentu akan menjadi pembelajaran bagi masing-masing pihak,” tutur Cecep.

Indonesia Darurat Bencana: Apa Kabar RUU Penaggulangan Bencana?

Indonesia Darurat Bencana: Apa Kabar RUU Penaggulangan Bencana?

Reporter Amelia Putri; Editor Tiara De Silvanita

Puluhan warga ille boleng Adonara tewas, NTT berduka
Sumber: Antara – Syafika Lamawuran

Kejadian bencana alam akhir- akhir ini kian terjadi pasalnya bukan hanya banjir yang menjadi langganan di setiap tahunnya, tetapi kali ini gempa bumi dan prediksi tsunami yang akan menimpa tanah air Indonesia.

Gertakan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur yang terjadi pada selasa (14/12) berkekuatan magnitudo 7,4 yang sempat memiliki potensi tsunami. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sempat merilis pemberitahuan untuk segera melakukan evakuasi.

Berkenaan dengan hal tersebut, Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai Penanggulangan Bencana (PB) cakupannya masih belum menemui titik temu. Wakil ketua komisaris VIII DPR RI Ace Hasan mengatakan kini masih merumuskan perihal isu kelembagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Belum ada titik temu antara Panja (Panitia Kerja) DPR RI dengan Pemerintah mengenai nomenklatur kelembagaan BNPB maupun anggaran penanggulangan bencana,” ucapnya.

Hal ini telah lama menjadi pembicaraan serius melihat bencana alam yang sering terjadi namun pemerintah belum sigap menemukan cara penanggulangan yang efisien.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mengkoreksi adanya kejanggalan dalam membuat RUU PB dan menanggapi bantuan untuk korban dari bencana tersebut.

Menurut LBH Jakarta pemerintah kerap kali menyalahkan dan beralasan “faktor alam” sebagai penyebabnya. Padahal jika melihat bencana banjir tentu dapat diminimalisir penyebabnya.

Dalam RUU  PB juga tidak dapat menjawab setiap persoalan bencana yang datang.  Masyarakat yang terdampak banyak menghadapi permasalahan, mulai dari kesulitan akses, kerusakan infrastruktur dan nihilnya ganti kerugian yang layak.

Rapat Kerja Komisi VII DPR soal RUU Penanggulangan Bencana
Sumber: Antara – Rahel

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta Desra, yang juga merupakan divisi disaster management Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Batuttah (KLMPHK Ranita) beranggapan bahwa pemerintah dalam memgedukasi masyarakat perihal tanggap darurat tidak menjadi fokus di masa bencana saat ini.

“Pentingnya literasi kebencanaan, mitigasi, dan kesiapsiagaan masyarakat yang sadar akan ancaman di wilayahnya, sehingga ketika terjadi bencana masyarakat cepat bertindak dari dampak bencana tersebut,” terangnya melalui DNK TV, pada Rabu, (15/12).

Selain itu, pentingnya penanganan usai bencana terjadi melalui tahap rekonstruksi dan rehabilitasi yang dilakukan pemerintah agar masyarakat cepat pulih dari keadaan terpuruk setelah terjadi bencana juga perlu digalakkan.

Efektivitas Fitur Baru Instagram, Permudah Penggunanya

Efektivitas Fitur Baru Instagram, Permudah Penggunanya

Oleh Anggita Fitri Chairunisa; Editor Taufik Akbar Harefa

Aplikasi Media Sosial Instagram
Sumber: freepik.com

Di tahun 2021 ini instagram banyak meluncurkan fitur-fitur baru. Di antaranya adalah fitur ­add yours, fitur playback, fitur hapus foto carousel, fitur Take a Break, hingga yang terbaru ada fitur Visual Replies.

Fitur Add Yours, Fitur ini merupakan stiker interaktif di Instastory yang memungkinkan penggunanya membuat atau mengikuti tren topik tertentu. Fitur Add Yours merupakan cara terbaru Instagram untuk meningkatkan keterlibatan atau engagement pengguna. Selain itu, fitur ini juga dapat membuat pengguna.

Fitur Playback, fitur ini mampu menampilkan rangkuman aktivitas yang pernah dibuat pengguna sepanjang 2021. Pengguna juga dapat memilih momen dari Instagram stories yang pernah dibuat untuk dibagikan.

Fitur hapus foto Carousel, Carousel adalah unggahan gambar di feed Instagram yang terdiri dari beberapa foto dalam satu postingan. Selama ini, pengguna Instagram tidak dapat menghapus salah satu foto apabila ingin menghapusnya. Namun baru-baru ini Instagram mengizinkan penggunanya untuk dapat menghapus salah satu dari postingan foto carousel yang telah diunggah.

Fitur Take a Break, Instagram merilis fitur ini untuk mengingatkan pengguna untuk istirahat sejenak. Fitur kontrol ini dapat diatur sesuai keinginan pengguna. Cocok digunakan oleh pengguna yang suka kecanduan bermain media sosial Instagram.

Fitur Visual Replies Instagram
Sumber: Instagram

Yang terakhir adalah Fitur Visual Replies, fitur terbaru yang dirilis oleh Instagram ini memungkinkan pengguna untuk membalas komentar yang terdapat pada sebuah Reels. Pengguna akan disuguhkan opsi untuk membalas dengan membuat balasan video lewat tombol Reels. Balasan video tersebut akan muncul sebagai stiker.

Sebelumnya, platform media sosial TikTok sudah lebih dahulu meluncurkan fitur yang serupa dengan Visual Replies. TikTok meluncurkan fitur ini untuk memberikan pengguna lebih banyak konteks tentang video mereka dengan cara menjawab pertanyaan.

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta, Aslinniarni Restina menilai bahwa Instagram kurang inovatif dalam membuat suatu fitur.

“Fitur Visual Replies di Instagram menurut Saya sama persis seperti pada aplikasi TikTok, hal ini menurut Saya Instagram seperti menampung segala fitur yang ada pada aplikasi lain menjadi satu aplikasi (Instagram). Dan ini kurang inovasi, seharusnya Instagram mampu menciptakan fitur yang berbeda dari aplikasi yang lain, bukan hanya menjiplak,” tuturnya.

Meskipun dinilai kurang inovatif, Restina menyatakan bahwa fitur ini cukup efisien bagi para kreator untuk membalas komentar dari para pemirsanya.

“Tentunya fitur ini berguna untuk bisa memberikan kejelasan dalam me-replies komentar dan efisien,” Jelasnya.

Tidak hanya di tahun 2021, Instagram telah menyiapkan sederet fitur baru yang akan semakin memudahkan dan memanjakan penggunanya pada tahun 2022 nanti.

UIN Jakarta Menyabet Anugerah ADIKTIS 2021 Terbanyak

UIN Jakarta Menyabet Anugerah ADIKTIS 2021 Terbanyak

Reporter Wafa Thuroya Balqis; Editor Taufik Akbar Harefa

Malam Anugerah Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS)
Sumber: kemenag.go.id

UIN Jakarta berhasil menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang meraih terbanyak anugerah Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS) ke-2.

Kementerian Agama (Kemenag) melalui  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mengumumkan Madrasah Award dan Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS) 2021 yang digelar Mercure Hotel Ancol, Jakarta. Acara ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat dan disiarkan secara langsung melalui kanal youtube DIKTIS TV, Jumat (10/12).

Gelaran ini juga dihadiri  Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani, Direktur Pendidikan Tinggi Keislaman (DIKTIS) Suyitno.

UIN Jakarta menyabet lima penghargaan dari 16 kategori prestasi PTKI melalui seleksi tim Pendidikan Tinggi Kemenag. Kategori prestasi PTKI yang diraih diantaranya PTKI dengan Jumlah Akreditasi Program Studi A atau Unggul Terbanyak, PTKI dengan Jumlah Profesor Terbanyak, PTKIN dengan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Internasional Terbanyak, PTKI dengan Pemilik Paten Terbanyak, dan PTKI dengan Jurnal Terindeks Scopus Terbanyak.

Dirjen Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani mengungkapkan bahwa untuk pelaku  pendidikan terus mencari inspirasi, memiliki kekuatan daya tanding dan sanding juga mampu melakukan upaya extraordinary, “Apabila kita melakukan sesuatu hanya rata-rata maka kita akan habis ditelan masa, maka kita harus melakukan upaya extraordinary. Saat ini kita tidak hanya harus berpikir out of the box, tetapi harus without the box.” ungkapnya.

Sambutan Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani dalam malam anugerah Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS).
Sumber: kemenag.go.id

Berkenaan dengan itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keislaman (DIKTIS) Suyitno berharap kampus PTKI yang berhasil mencetak prestasi mampu menginspirasi PTKI lainnya.

”Teruslah menginspirasi, bekerja keras, bekerja cerdas, dan selalu bekerja mengedepankan nilai-nilai ketangguhan, kekuatan dan nilai keunggulan.” terang Suyitno.

Mendengar hal ini, Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Hafidz Ramadhan berharap UIN Jakarta tetap mampu memaksimalkan kualitasnya. “Congratulations untuk UIN Jakarta atas 5 penghargaan yang diterima, UIN Jakarta berhasil menciptakan konstruksi sosial masyarakat dengan nilai yang luar biasa atas apresiasi tersebut. Hal itu tentu menjadi kelebihan sekaligus tantangan, dimana harus memaksimalkan kuantitas yang dimiliki menjadi kualitas untuk menyejahterakan masyarakat. Teruslah menjadi role model untuk pendidikan yang berkualitas,” ungkapnya.

Sejalan dengan Hafidz, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Annisa Permatasari juga mengungkapkan selamat kepada UIN Jakarta dan berharap agar hak mahasiswa kembali diperhatikan. 

“Selamat untuk UIN Jakarta atas pencapaiannya selama ini, semoga terus maju menjadi kampus yang terintegrasi, karena dengan pencapaian ini tidak lepas dari mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi, maka lebih perhatikan hak-hak untuk mahasiswa demi menyongsong kampus yang lebih maju,” pungkasnya.

Hari Nusantara 13 Desember: Tingkatkan Rasa Cinta terhadap Indonesia

Hari Nusantara 13 Desember: Tingkatkan Rasa Cinta terhadap Indonesia

Reporter M. Rizza Nur Fauzi

Iluatrasi Bhinneka Tunggal Ika.
Sumber: Freepic

Hari Nusantara diperingati setiap tanggal 13 Desember untuk meningkatkan rasa cinta masyarakat kepada bangsa di seluruh Indonesia. Pada tahun ini, Hari Nusantara jatuh pada Senin (13/12), tepat yang ke-64 tahunnya.

Dilansir dari kkp.go.id, makna Hari Nusantara bagi bangsa Indonesia bukan hanya tentang memperluasnya wilayah kesatuan Republik Indonesia, tetapi untuk memberikan pemahaman kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa lautan yang ada di antara Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas hingga pulau Rote, menjadi penghubung daratan dan pemersatu bangsa. Keanekaragaman pakaian adatnya kemudian melebur menjadi Indonesia yang satu, Bhinneka Tunggal Ika.

Dilansir dari Tirto.id, Sejarah penetapan Hari Nusantara sebagai Hari Nasional erat kaitannya dengan peristiwa “Deklarasi Juanda” pada tanggal 13 Desember 1957 yang bertujuan untuk menegaskan kembali batas-batas wilayah perairan Indonesia setelah kemerdekaan.

Isi dari deklarasi tersebut adalah sebagai berikut:

“Bahwa semua perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang masuk daratan NKRI adalah bagian-bagian yang tak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi Republik Indonesia.”

Setelah Indonesia merdeka, wilayah perairan negara ditentukan berdasarkan produk hukum Hindia Belanda Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Peraturan tersebut hanya mengatur bahwa batas wilayah laut Indonesia hanya berjarak 3 mil dari garis pantai.

Iluatrasi Lautan Indonesia.
Sumber: Freepic

Dengan disahkannya Deklarasi Juanda dalam UU No. 4/PRP/1960, luas laut Indonesia yang semula 1 juta kilometer persegi menjadi 3,1 juta kilometer persegi.

Namun, Deklarasi Juanda tidak mudah diakui oleh negara lain. Dilansir dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kkp.go.id, Indonesia butuh beberapa tahun hingga pernyataan tersebut diterima dunia internasional.

Indonesia mengusulkan deklarasi ini dalam konvensi PBB pertama pada Februari 1958 dan konvensi PBB kedua pada April 1960, tetapi ditolak. Meski tidak diterima oleh kedua konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemerintah Indonesia mengesahkan deklarasi tersebut dalam Undang-Undang Nomor 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia.

Akhirnya, Deklarasi Juanda disahkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB yang ketiga (United Nations Convention On The Law of The Sea/ 1982. Sejauh ini, luas wilayah Indonesia telah meningkat menjadi 5,8 juta kilometer persegi. Luas wilayah tersbut terdiri dari laut teritorial, perairan pedalaman, dan Zona Ekonomi Ekslusif seluas 2 juta kilometer persegi.

Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta, Ridho Hatmanto menyampaikan, Hari Nusantara ini patut diperingati oleh masyarakat Indonesia sebagai bentuk toleransi yang pastinya memiliki dampak yang positif.

“Tanggapan saya mengenai peringatan tersebut adalah patut diperingati karena Indonesia memang negara beragam sehingga kita sebagai masyarakat sadar untuk mengembangkan seluruh elemen dengan cara toleransi peringatan ini memiliki dampak positif karena kita bisa mewujudkan pribadi yang sadar akan toleransi, sikap menghargai satu sama lain, damai dan tentram,” ujarnya.

Ia menambahkan, peringatan Hari Nusantara ini juga memiliki makna untuk mempersatukan masyarakat dari berbagai macam latar belakang.

“Lalu maknanya adalah untuk mempersatukan masyarakat dari berbagai macam latar belakang dan mencegah adanya konflik atau perpecahan serta menimbulkan jiwa yang suka gotong royong,” sambungnya.

FDK UIN Semarang Sambangi Fdikom UIN Jakarta

FDK UIN Semarang Sambangi Fdikom UIN Jakarta

Reporter Annisa Nahwan; Editor Fauzah Thabibah

Berlangsungnya kunjungan FDK UIN Walisongo Semarang ke Fdikom UIN Jakarta pada Senin (13/12).
Sumber: DNK TV-Maulana Fajri

Kunjungan studi banding Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang pada hari Senin (13/12) merupakan bentuk kunjungan balasan dari UIN Walisongo Semarang kepada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta tahun 2020 lalu.

Kegiatan ini tujuan untuk meningkatkan dan memperkuat kerja sama yang terjalin antara keduanya. Selain itu, studi banding ini juga bertujuan untuk pengusulan bahan adopsi pengembangan FDK UIN Walisongo Semarang, serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk kerja sama yang lebih konkret di tahun 2022 seperti yang dijelaskan oleh Dekan FDK UIN Walisongo Semarang, Ilyas Supena.

“Memberikan wawasan untuk tim kami mengenai pengelolaan, sarpras (sarana dan prasarana), dan manajemen pengelolaan lainnya di Fdikom UIN Jakarta. Untuk menambah sesuatu yang kurang dan melengkapi sesuatu yang sudah ada agar ke depannya semakin maju.” Ungkap dekan FDK UIN Walisongo Semarang.

Potret Dekan FDK UIN Walisongo Semarang, Ilyas Supena saat memberikan sambutan.
Sumber: DNK TV-Maulana Fajri

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh niat mempererat tali silaturahmi untuk berproses membangun dan memperkuat jaringan (networking), terutama perencanaan untuk pengembangan laboratorium FDK UIN Walisongo Semarang. Adanya hal tersebut

sebab UIN Jakarta telah menjadi salah satu referensi laboratorium FDK UIN Walisongo Semarang.

Harapan dengan diadakannya kunjungan ini selain untuk mempererat silaturahmi antar PTKIN juga untuk bekerja sama dalam bidang publikasi jurnal.

Dekan Fdikom UIN Jakarta, Suparto mengatakan bahwa dirinya menyambut dengan hangat dan menyampaikan dengan adanya pertemuan ini diharapkan bisa memberikan kualitas yang bagus di antara keduanya agar semakin berkembang dan maju.

“Pertemuan ini tidak hanya sekedar kunjungan dan perjanjian saja, namun juga diharapkan bisa memberikan kualitas yang bagus antara Fdikom UIN Jakarta dan FDK UIN Walisongo Semarang,” ujar Dekan pada wawancara langsung pada saat kunjungan telah usai.

Harapan dari kedua Instansi agar bisa berkembang dan maju dalam bidang teknologi serta manajemen dalam suatu program studi yang memiliki kesamaan diantar keduanya. Hal itu juga di ungkapkan oleh Dekan dari Fdikom UIN Jakarta dan FDK UIN Semarang.

Kedua belah pihak menyampaikan akan bekerja sama untuk perkembangan diera revolusi 4.0.

“Dengan kemajuan jaman teknologi serta kemampuan Fdikom UIN Jakarta yang membuat kami berkunjung untuk bekerja sama.” Kata Dekan FDK UIN Walisongo Semarang saat berkunjung ke studio DNK TV Fdikom UIN Jakarta.

Grand Opening IBF UI: Momentum Temukan Identitas Diri

Grand Opening IBF UI: Momentum Temukan Identitas Diri 

Reporter Taufik Akbar Harefa; Editor Nur Arisyah Syafani

Suasana Grand Opening IBF UI ke-7 tahun 2021 (12/12).

Nuansa Islam Mahasiswa Indonesia (Salam) Universitas Indonesia (UI) kembali menggelar acara festival buku terbesar atau UI Islamic Book Fair (IBF) ke-7 dengan mengusung tema “Discover Your Identity Through the Bost Worlds: From the Fantasy and Reality” yang dilaksanakan mulai hari ini 12 Desember, hingga 26 Desember 2021 mendatang. 

Adapun rentetan kegiatan acara ini di antaranya seminar dan talkshow, workshop, bedah buku, serta berbagai perlombaan. 

Grand Opening UI IBF bertajuk “Being Open Minded as A Muslim: A Threat or Necessity in Shaping Identity” , dihadiri oleh Ketua Salam UI Ilham Prakoso, Ketua Ikatan Alumni UI Andre Rahadian, Influencer Millenial dan Tokoh Muda Nasional Sherly Annavita Rahmi, serta dimeriahkan oleh Penyanyi Pop Religi Tiara Al Fayza. Kegiatan ini berlangsung secara virtual pada Minggu (12/12).

Project Officer UI IBF Dinda Asfarul, mengatakan bahwa UI IBF hadir berawal dari keresahan mengenai tingkat literasi masyarakat Indonesia yang rendah. Melalui tema ini kiranya dapat meningkatkan minat literasi, khususnya peningkatan identitas diri. 

“Dalam berliterasi tentunya bukan hanya informasi begitu saja yang kita harapkan, tapi juga informasi yang bermanfaat untuk keberlangsungan hidup manusia. Sebuah pencarian makna diri, sebuah pencarian tentang kehidupan yang ada dalam diri kita, bagaimana kita menemukan identitas diri, melalui informasi entah itu yang datang dari pola pikir kita imajinasi kita, ataupun dari sebuah realitas yang sudah kita hadapi di dunia ini,” ujar Dinda.

Ia juga berharap acara ini dapat menjadi langkah untuk menemukan versi terbaik dalam diri.

“Harapannya Kegiatan ini dapat menjadi wadah, tempat, juga media untuk menemukan jati diri sehingga individu tersebut dapat menuju versi terbaik dalam dirinya, sebagai seorang muslim yang merasa bangga dan keren dengan identitas yang dimilikinya, terkhusus sebagai seorang muslim,” tambahnya. 

Narasumber Sherly saat menyampaikan materinya dalam Grand Opening IBF UI ke-7.

Dalam materinya, Sherly menyampaikan bahwa angka literasi Indonesia saat ini menurut PISA adalah 60 dari 61 negara. Ia juga menyampaikan harapannya kepada anak muda untuk dapat memberi kontribusi meningkatkan angka literasi Indonesia.  

“10 sampai 15 tahun kedepan kita pengen angka itu naik peringkatnya menjadi 15 atau 20 peringkat, gimana caranya? kita sudah terhubung dengan mayoritas anak muda se-Indonesia, kita mulai merangkul kawan-kawan kita khususnya yang berada di kawasan 3 T umur 6-7 tahun untuk mulai bisa membaca, dan bukan hanya sekedar membaca bahasa, tapi juga membaca dalam konteks. Kita pengen lihat angka buta huruf di Indonesia yang saat ini juga masih tergolong tinggi, yang mempengaruhi tingkat literasi kita, ini juga pelan-pelan membaik. Setidaknya hadirnya kita memberikan kontribusi membuat berkurang 10-15 persen,” Tutur Sherly.

Dilain sesi, Grand Opening UI IBF juga menggelar talkshow dengan tema “Muslim and Proud of It” dimoderatori oleh Kepala Departemen Sosial Masyarakat BEM FISIP UI Rahma Maghfira, bersama narasumber penulis buku “Rahasia Melepaskan” dan founder Teman Cerita Kartini F. Astuti. 

Narasumber Kartini F. Astuti saat menyampaikan materinya dalam Grand Opening IBF UI ke-7.

Sebagai Muslim, kita sepatutnya mempertanyakan “Haruskah aku bangga dengan muslim?” dalam diskusinya Kartini menjelaskan segala aspek yang harus diketahui oleh seorang muslim mulai dari pengenalan apa itu muslim, apa urgensinya muslim, hingga apakah aku layak menjadi seorang muslim. 

Di antara poin yang disampaikan, menjadi jati diri muslim yang sebenarnya harus patuh dan tunduk kepada Allah Tuhan Semesta Alam, sebagaimana dalam Syahadat yang memiliki arti sangat dalam.  

“Nah berarti posisi Syahadat itu dalam sekali, bahwa kita itu diminta untuk membersihkan hati kita, dari apa-apa selain Allah Kata Allah dalam surat Al-Bayyinah “Mukhlisiina Lahuddiin”  kita diminta untuk mukhlis, memurnikan ketaatan, artinya tidak ada campuran lain di hati kita selain hanya dan hanya Allah,” tegas Kartini. 


Dengan adanya sesi talkshow ini semakin menarik antusias peserta yang hadir, dengan  menerima afirmasi positif yang membuat semakin tersadar dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Annisa Dwi Aprilia mahasiswa Universitas Mulawarman, sekaligus penggemar Kartini F. Astuti mengaku sangat tertarik dengan acara ini. “Sangat tertarik karena temanya ini sagat sesuai banget yang aku lagi butuhin untuk ngembangi diri aku sendiri, semoga bisa menginspirasi orang-orang yang ada disini untuk menjadi pribadi lebih baik kedepannya,” ujar Annisa.