Menjadi Content Creator yang Berkualitas Ala Nunuzoo

Menjadi Content Creator yang Berkualitas Ala Nunuzoo

Reporter Latifahtul Jannah; Editor Elsa Azzahraita

Nurul Azka mengisi materi dalam kegiatan ngobrol inspiratif.
Sumber: DNK TV-Latifahtul

Dinas Pemuda dan Olahraga Tangerang Selatan menggandeng DNK TV untuk mengadakan Tangsel Youth Fest 2021, dimana salah satu acaranya adalah “ngobrol inspiratif” bertema How to be Inspiring Content Creator secara virtual, pada Sabtu (2/10).

Acara ini diisi oleh Content Creator inspiratif, Nurul Azka atau biasa dikenal degan Nunuzoo. Ia menjelaskan bahwa konten bukan sekedar basa-basi namun merupakan informasi dan tersedia melalui media.

“Konten adalah informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik, kata kunci nya adalah informasi, jika berbicara media, media juga sangat luas, ada media lama dan media baru, media lama seperti koran, dan media baru seperti sosial media,” jelas Nurul.

Menurutnya, membuat konten yang berkualitas memang tidak mudah, diperlukan niat, tekad, dan komitmen yang terarah.

“Cara membuat konten berkualitas menurut saya adalah pertama luruskan niat dan tujuan, temukan inpirasi dari keresahan diri sendiri dan sekitar, dari keresahan tersebut berikan solusi baik dalam bentuk motivasi ataupun hiburan, dan paling penting adalah aksi dan tidak berhenti,” lanjut Nurul.

Cara membuat konten berkualitas versi Nurul Azka.
Sumber: DNK TV – Latifahtul

Nurul mengatakan, terkadang dalam memulai sesuatu kita terjepit dengan keadaan serba sempit, alat yang seadanya menjadi alasan yang utama.

“Jangan jadikan alat sebagai hambatan, Karena saya yakin dalam membuat konten bukan alat yang utama melainkan ide yang menjadi kunci utama,” tegas Nurul.

“Sekarang era sudah canggih, jika ga bisa editing atau lainnya manfaatkan youtube dan teknologi itu sendiri,” sambungnya.

Nurul juga menjelaskan proses pembuatan video ada pra produksi, produksi dan pasca produksi. Pra produksi seperi penentuan ide, membuat script dan naskah, produksi seperti melakukan shooting, pasca produksi seperti mengedit.

Salah satu peserta yang merupakan mahasiswa UIN Jakarta, Maulana Fajri menjelaskan jika acara tersebut sangat menarik dan bermanfaat. .

“Saya pribadi sangat puas dengan acara tersebut karena narasumber yang dihadirkan ahli, sehingga materi pembahasan menjadi menarik bahkan diajarkan implementasi yang baik juga,” ucap fajri

Diharapkan dengan adanya acara ini, dapat menambah wawasan dan motivasi untuk seluruh masyarakat, khususnya mahasiswa agar terus semangat dalam melahirkan konten-konten yang bermanfaat di era digital saat ini.

Mengenal Jurnalistik melalui Media

Mengenal Jurnalistik melalui Media

Reporter Jenni Rosmi Aryanti; Editor Elsa Azzahraita

Penyampaian materi oleh Pepih Nugraha pada Webinar J-Expo Sabtu (2/10)

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Jurnalistik UIN Jakarta menggelar Webinar Jurnalistik Expo (J-Expo) bertajuk “Cultural Odyssey Through Unexplored Realm of Journalism” pada Sabtu (2/10) secara virtual melalui zoom meeting.  

Webinar diisi oleh dua narasumber yang berkecimpung di dunia jurnalistik yaitu Founder Kompasiana, Pepih Nugraha dan Reporter Kompas TV, Isye Naisila Zulmi. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawijaya.

Dalam materinya, Pepih memaparkan perkembangan media jurnalistik mulai dari media cetak hingga media sosial.

“Perkembangan media tentu dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya internet. Seperti yang kita ketahui bahwa konvergensi media menggabungkan berbagai jenis media yang sebelumnya dianggap terpisah dan berbeda ke dalam media tunggal menggunakan jaringan internet,” pungkas Pepih.

Menurut Pepih, untuk menggabungkan komputasi, komunikasi, dan konten pada zaman sekarang masyarakat cukup  menggunakan smartphone.

“Ada tiga tipe penggunaan media sosial yang perlu diperhatikan. pertama, open social yaitu menggunakan tombol berbagi melalui situs web. Kedua, close social yaitu menggunakan tombol berbagi pesan pribadi, dan yang perlu diwaspadai ialah dark social, yaitu menyalin dan mem-paste tautan ke media tertutup seperti WhatsApp.” jelas Pepih.

Tidak hanya materi mengenai media, ada juga pengenalan Program Studi (Prodi) Jurnalistik yang dipaparkan oleh Isye yang merupakan alumni Prodi Jurnalistik mulai dari sejarah hingga prospek kerja.

“Pada awalnya konsentrasi jurnalistik berada di bawah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KI). Namun, pada tahun 2015 mulai diajukan menjadi program studi. Adapun mata kuliah yang didapat pada semester awal biasanya tentang ilmu keislaman. Tapi, tenang saja tentu kita diajarkan dasar-dasar dan praktek jurnalistik juga.” jelas Isye.

Penyampaian materi oleh Isye Naisila Zulmi pada webinar J-Expo Sabtu (2/10)

Webinar J-Expo merupakan kegiatan pertama dari rangkaian acara Jurnalistik Fair (J-Fair) 2021. Ridho Hatmanto selaku panitia menjelaskan tujuan diselenggarakannya webinar ini.

“Jurnalistik itu merupakan bidang yang luas dan menarik untuk didalami tentunya memiliki prospek yang baik kedepannya. Adapun sasaran peserta yaitu anak-anak SMA sederajat terutama tahun terakhir yang sedang memutuskan untuk memilih jurusan ke jenjang selanjutnya (perguruan tinggi).” ujar Ridho.

Ridho berharap dari kegiatan ini dunia jurnalistik dapat lebih dikenal secara dekat oleh para pelajar maupun umum, agar terciptanya minat atau ketertarikan pada dunia industri kreatif khususnya jurnalistik.

Communication Festival (Comfest) 2021: Media and Youth Collaboration

Communication Festival (Comfest) 2021: Media and Youth Collaboration

Reporter Siti Nurhalizah; Editor Syaifa Zuhrina

Pembukaan Webinar Nasional Communication (Comfest) Festival 2021
Sumber: DNK TV-M.Zidane Murtado

Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Jakarta menyelenggarakan acara tahunan Communication Festival (Comfest) yang dibuka melalui webinar nasional bertajuk “Media and Youth Collaboration” melalui virtual zoom meeting, pada Kamis (30/9).

Kegiatan ini dihadiri lebih dari 350 peserta. Dibuka dengan sambutan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) Cecep Castrawijaya, dan dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Armawati Arbi.

Turut hadir beberapa narasumber, diantaranya, Ketua KPI Pusat Yuliandre Darwis, Wakil Presiden Marketing Public Relation Trans 7 Anita Prasojo, Social Media Strategist Eno Bening serta Koordinator Audio Visual dan Media Sosial Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Dimas Aditya Nugraha.

Moderator Webinar Nasional Communication (Comfest) Festival 2021
Sumber: DNK TV-M.Zidane Murtado

Dalam paparannya, Yuliandre Darwis mengatakan industri penyiaran saat ini membutuhkan konten-konten yang dinamis serta ide berlian.

“Apa gunanya infrastruktur begitu canggih, teman-teman khususnya di Comfest hanya merasakan menggunakan sebagai konsumtif, tidak pernah membuat konten yang lebih kreatif, yang lebih menarik. Ini menjadi salah satu tantangan ke depan bahwa ada platform baru, industri penyiaran membutuhkan konten-konten yang dinamis dan ide-ide berlian seperti drama Korea,” ujarnya.

Selain itu, Anita Prasojo juga menyampaikan materi yang berfokus pada bagaimana media menjadi teman bagi generasi milenial saat ini.

“Kita jangan hanya sampai konsumtif menggunakan media, tetapi kita juga bagaimana kita kreatif dalam memanfaatkan media,” ujarnya.

Webinar ini disambut baik dengan antusiasme peserta yang terbilang cukup banyak, karena fokus utama pada acara ini memang untuk mengedukasi para generasi milenial khususnya mahasiswa dalam memanfaatkan media dan teknologi sebagai wadah untuk berkreasi dan berinovasi.

Salah satu peserta sekaligus Mahasiswa UIN Jakarta Nafilah Putri Samhah sangat mengapresiasi acara ini.

“Acaranya sangat menarik, narasumbernya juga keren-keren banget. Setelah mengikuti webinar ini, saya jadi lebih mengetahui bahwa teknologi sangat berperan penting saat ini. Namun perlu diingat, kita harus bijak mengendalikan diri bersosial media, manfaatkan sebaik-baiknya contohnya dengan membuat konten menarik dan bermanfaat,” jelasnya.

Pembukaan PON XX 2021 Berdayakan Masyarakat Asli Papua

Pembukaan PON XX 2021 Berdayakan Masyarakat Asli Papua

Reporter Hasna Nur Azizah;  Editor Tiara Juliyanti Putri, Aulia Gusma Hendra

E-poster PON XX Papua 2021
Sumber: kominfo.go.id

Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 akan menampilkan keindahan bumi Cenderawasih melalui upacara pembukaan pada 2 Oktober di Stadion Lukas Enember. Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Ade Lukman menjelaskan, tema alam Papua akan ditampilkan melalui pertunjukan tari oleh ratusan penari asli Papua.

Selain pertunjukan tari, acara pembukaan PON Papua 2021 juga akan menampilkan berbagai hiburan menarik lainnya, seperti konser musik yang dibawakan oleh musisi Papua.

 Selanjutnya, Ade menyatakan bahwa seluruh segmen pembukaan nanti hanya melibatkan masyarakat asli Papua dan dipastikan tidak adanya artis ibu kota.

Muhammad Iqbal Fathurrahman mahasiswa UIN Jakarta, mengatakan bahwa tidak adanya artis ibu kota yang tampil di sana merupakan salah satu bentuk penghormatan untuk masyarakat Papua.

“Karena perlu diketahui bahwa artis yang berasal dari masyarakat Papua juga memiliki kualitas yang tak kalah bagus dengan artis ibu kota,” ujarnya pada Jumat (1/10).

Rapat koordinasi PON Mimika
Sumber: ponxx2021papua.com

Upacara pembukaan akan tetap dijalankan sesuai prosedur dan aturan seperti multievent olahraga lainnya, mulai dari, pembacaan janji atlet, parade defile kontingen, hingga penyalaan kaldron.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali memastikan bahwa Presiden Joko Widodo akan membuka langsung PON Papua 2021 di Stadion Lukas Enembe. Menurutnya, panitia penyelenggara, TNI, Polri dan unsur terkait memastikan upacara pembukaan akan berlangsung dengan aman dan tanpa hambatan.

Mengenai kehadiran penonton, pemerintah telah menetapkan maksimal hanya 25 persen dari total kapasitas stadion 40.000 orang yang diizinkan untuk hadir. Jumlah tersebut termasuk atlet, ofisial, dan staf pendukung lainnya. Selain itu, masyarakat yang ingin menonton harus sudah mendapat dua dosis vaksin Covid-19.

Mahasiswa UIN Jakarta Mohamad Fahrezi memberikan tanggapannya mengenai prosedur pelaksaan upacara pembukaan tesebut. Menurutnya, jumlah tersebut cukup untuk mendukung para atlet.

“Jika prosedurnya memang seperti itu, ikuti saja. 40.000 penonton menurut saya cukup untuk mendukung para atlet yang sedang berlomba,” jelasnya.

Hari Kesaktian Pancasila : Semangat Bangkit di Masa Pandemi

Hari Kesaktian Pancasila : Semangat Bangkit di Masa Pandemi

Oleh Khalilah Andriani; Editor Tiara Juliyanti Putri

Ucapan Hari Kesaktian Pancasila
Sumber: twitter @jokowi

Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober selalu diperingati oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 55 Tahun lalu bersamaan dengan tragedi G30S/PKI tahun 1965 Soeharto resmi menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Nama Kesaktian Pancasila ini dilatar belakangi oleh tragedi G30S/PKI yang berhasil diredam oleh Tentara Nasional Indonesia. Dalam tragedi tersebut  terdapat 6 Jendral serta 1 Pewira TNI yang menjadi korban pembantaian. Sekarang mereka dikenal sebagai Pahlawan Revolusi, yang dibunuh oleh PKI lalu dibuang kesumur tua berada di kawasan hutan karet Lubang Buaya, Jakarta Timur. tempat tersebut sekarang dikenal sebagai Monumen Kesaktian Pancasila Lubang Buaya.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila mulanya hanya diperingati oleh Tentara Negara Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang diatur dalam Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat bernomor Kep.977/9/1966 tertanggal 17 September 1966.

Surat keputusan tersebut menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila yang harus diperingati oleh TNI AD. Namun, selang beberapa hari setelah penerbitan surat keputusan tersebut, Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan, menerbitkan kembali surat keputusan nomor Kep/B/134/1966 tertanggal 29 September 1966.

Dalam surat keputusan yang baru terbit tersebut berisikan perintah agar Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya diperingati oleh kalangan TNI AD saja, tetapi Angkatan Bersenjata lainnya serta seluruh masyarakat Indonesia. Untuk pertama kali 1 Oktober 1966 peringatan  Hari Kesaktian Pancasila dilakukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Komandan Upacara Hari Kesaktian Pancasila
Sumber: Youtube KEMENDIKBUD RI

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2021 ini dijadikan momentum untuk kebangkitan masyarakat Indonesia terhadap Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 1,5 tahun lamanya.

Menghadapi pandemi yang sudah berlangsung lama, nilai-nilai Pancasila seharusnya hadir ditengah-tengah masyarakat untuk membangun kesatuan serta persatuan bangsa agar memiliki semangat juang untuk bangkit dari keadaan.

Pancasila menjadi pengikat dalam kehidupan bermasyarakat. Dari segala tantangan dan kesulitan yang terjadi. Nilai-nilai pancasila menjadi pondasi untuk bertahan hidup dalam menghadapi situasi pandemi.

Kecendrungan sikap individualisme yang muncul akibat Pandemi ini menumbuhkan nilai-nilai yang ada pada Pancasila seperti empati, gotong royong, saling menghargai serta merajut kerukunan dalam keberagaman, hal tersebut termasuk bagian usaha kita untuk memaknai kesaktian Pancasila.

Hari Kesaktian Pancasila menjadi salah satu momen untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air sehingga kita dapat mewujudkan Indonesia yang tangguh.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim mengatakan dalam pidato hari Kesaktian Pancasila di siaran YouTube Kemendikbud, Jumat (1/10).

  “Setelah 1,5 tahun bersama menghadapi segala tantangan, hari ini kita memperingati hari kesaktian Pancasila di tengah upaya menggalang kekuatan agar bisa bangkit dan pulih kembali. Pancasila juga harus menjadi kekuatan dan pengingat masyarakat Indonesia  di tengah situasi dan kondisi seperti ini, jadi kedaulatan Indonesia berdasarkan keadilan sosial dan persatuan lapisan masyarakat.” Ujarnya.

Lanjutnya, peringatan ini juga dapat dijadikan momentum untuk membuat Indonesia menjadi negara unggul dan tangguh serta dapat merefleksikan, agar bisa menjadikan Indonesia sebagai bangsa tangguh di masa kini dan mendatang yang nantinya Pancasila sebagai titik berangkat. Lalu, Pancasila juga sebagai tujuan pembangunan bangsa dan negara kita.” Ungkapnya.

Peringatan Kesaktian Pancasila tidak hanya mengenang peristiwa kelam yang terjadi di Indonesia, momentum ini juga dapat menumbuhkan semangat bangkit di masa pandemi dan memperkuat kedaulatan negara.