Suara Pancasila: Menyikapi Perbedaan dalam Kedamaian

Suara Pancasila: Menyikapi Perbedaan dalam Kedamaian

Reporter Amanda Agnes Kasyfillah; Editor Farhan Mukhatami dan Tiara De Silvanita

Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas membuka acara webinar Nasional: “Damai Dalam Perbedaan” pada Rabu (27/10).
Sumber: DNK TV-Amanda Agnes

Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta menggelar webinar nasional secara hybrid bertajuk “Damai dalam Perbedaan” pada Rabu, (27/10).

Kegiatan ini merupakan salah satu dari lima agenda acara  “Suara Pancasila”  yang merupakan kolaborasi antara Dema UIN Jakarta dengan Insan Cendekia Indonesia yang akan diselenggarakan selama 3 hari.

Webinar ini dihadiri oleh  Rektor UIN Jakarta Amany Lubis dan dibuka langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Yaqut Cholil Qoumas, serta hadir pula beberapa narasumber, diantaranya Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta Arief Syubhan, Direktur Muda Bangkit Indonesia  Wahyu Fahmi Rizaldy, dan Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Kontra Radikal Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri Ajun Komisaris Besar Polisi  (AKBP) Moh. Dofir.

Dalam Islam terdapat ajaran yang memandang perbedaan bukan hal yang  tidak baik, perbedaan bukanlah mengenai siapa yang salah dan siapa yang benar. Arief Syubhan mengatakan, salah satu konsep yang diajarkan islam dalam menghadapi perbedaan ialah Konsep musyawarah.

Ia menambahkan konsep yang diajarkan dalam Al-Qur’an agar kita senantiasa bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu masalah, melihat perbedaan sebagai rahmat dan sifat tenggang rasa atau toleransi.

Pemaparan materi secara luring oleh narasumber pada Webinar Nasional: Damai dalam Perbedaan. Rabu (27/10).
Sumber: DNK TV-Amanda Agnes

Direktur Muda Bangkit Indonesia Wahyu Fahmi Rizaldy menjelaskan, tindakan yang bisa dilakukan dalam menangkal radikalisme bagi generasi muda diantaranya menjadi garda terdepan dalam menjaga Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Bersinergi melawan terorisme, radikalisme, narkoba, intoleransi, kemiskinan, kesenjangan dan tantangan bangsa lainnya, serta mulai merevolusi mental diri dengan segera bergerak dari diri sendiri, dari sekarang dengan berkarya nyata,” jelas Wahyu.

Menurut AKBP Moh. Dofir terdapat beberapa faktor yang menyebabkan proses radikalisasi berjalan, baik intoleransi, radikalisme maupun terorisme. Diantaranya, faktor domestik, kultural dan Internasional.

“Faktor tersebut di antaranya faktor domestik, faktor internasional, dan faktor kultural yang sangat terkait dengan pemahaman keagamaan yang dangkal dan penafsiran kitab suci yang sempit dan leksikal (harfiyah),” jelasnya.

Sebagai masyarakat sipil cara mencegah gerakan radikalisme, yaitu dengan sama-sama melakukan sosialisasi  empat pilar negara kepada seluruh komponen masyarakat, yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Serta membatasi ruang gerak kelompok radikal dan membatasi mereka untuk melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah atau negara.

Yuk Hindari Stres di Tengah Kuliah Daring!

Yuk Hindari Stres di Tengah Kuliah Daring!

Reporter Wafa Thuroya Balqis; Editor Ahmad Haetami dan Taufik Akbar Harefa

Ilustrasi Pembelajaran Daring
Sumber: Pixabay.com

Pandemi Covid-19 saat ini kembali membuat pembahasan mengenai kesehatan mental ramai diperbincangkan. Kesehatan mental mengacu pada kesejahteraan kognitif, emosional, hingga perilaku. Inilah yang memengaruhi kehidupan sehari-hari mulai dari hubungan sosial, hingga kesehatan fisik.

Berdasarkan penelitian, mayoritas masalah psikologis yang dialami mahasiswa selama pembelajaran daring ialah kecemasan. Angka stres pada mahasiswa di Indonesia selama perkuliahan daring rata-rata sebesar 55.1%, sedangkan angka kecemasan mahasiswa sebesar 40%.

Ketika kegiatan akademis harus dialihkan menjadi metode pembelajaran jarak jauh, perubahan ini memberi dampak peningkatan stres dan gangguan kesehatan mental pada mahasiswa. Akibatnya bisa menimbulkan  penurunan prestasi akademik, kesehatan fisik dan mental mahasiswa.

Salah satu mahasiswi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Didya Nur Salamah mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh ini memberi kejenuhan kepada mahasiswa melalui kelelahan emosi, fisik, sampai kehilangan motivasi.

“Yang jadi faktor itu banyak, ya. Bisa dari diri individu sendiri, tidak bisa mengontrol ketika menghadapi masalah baik itu tugas perkuliahan atau organisasi. Itu karena dia tidak bisa beradaptasi. Daring posisinya di depan laptop, tidak ada new vibes sehingga tidak ada perkembangan dan motivasi untuk lebih baik,” ujar Didya.

Tidak semua mahasiswa mampu beradaptasi dengan baik. Memerlukan strategi dalam memperbaiki dan menyesuaikan pembelajaran daring. “Buat to do list, supaya kita sanggup dan enjoy untuk menjalani hari-hari produktif itu, bisa mengurangi stres sih. Kita  juga harus mencari motivasi misalnya dari media sosial. Jalani saja, ini proses kita untuk jadi sukses pasti ada susahnya dulu, ya. Mendekatkan diri kepada Tuhan juga dan banyak berbagi cerita dengan orang terdekat,” pungkasnya.

Senada dengan Didya, salah satu mahasiswi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya, Thifal Rahmah mengungkapkan bahwa perkuliahan jarak jauh memiliki kelebihan dan kekurangan.

“Menurutku stresor pertama itu lingkungan, kalau lingkungannya tidak mendukung, tidak kondusif untuk belajar atau istirahat pasti jadi tidak nyaman ditambah aku ngerasanya lebih berat dan banyak tugas walaupun online. Pembelajaran daring ada plus minusnya sih,” ungkap Thifal.

Thifal menambahkan, jika biasanya pulang ke rumah untuk istirahat namun ketika perkuliahan daring semua tugas dikerjakan di rumah sehingga tenaga lebih terkuras dari biasanya.

Ilustrasi Peningkatan Stress pada Mahasiswa Pembelajaran Daring
Sumber: Pixabay.com

Dosen Psikologi UIN Jakarta Ilmi Amalia memberi kiat-kiat agar mental mahasiswa tetap dalam kondisi stabil di tengah perkuliahan daring.

“Mempertahankan interaksi sosial walaupun terbatas karena PPKM, cukupkan istirahat, makan makanan yang bergizi, lakukanlah hobi, berpikir positif, olahraga, membicarakan dengan orang lain jika mengalami rasa tidak nyaman dengan diri,” ujar Ilmi.

Bila sudah mengalami stress atau timbul kecemasan terasa semakin berat, jangan segan untuk mencari pertolongan profesional atau berbagi cerita kepada kerabat terdekat.

Tips Menjaga Kesehatan Mental dan Terhindar dari Stress bagi Mahasiswa Ketika Kuliah Daring:

1. Mengatur jadwal harian. Buatlah to do list harian kamu supaya lebih terstruktur selama kegiatan daring.

2. Lakukan pembatasan waktu menatap layar. Kalau pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar, kamu juga bisa lakukan pembatasan menatap layar. Jika sudah selesai kuliah daring, beristirahatlah menatap layar karena terlalu lama mata akan lelah.

3. Lakukan hal yang membuat bahagia. Hal ini bisa menjadi relaksasi bagimu, misalnya melakukan hobi atau berolahraga.

4. Perbaiki pola makan dan tidurmu.

5. Tetap bersosialisasi dengan keluarga ataupun teman.

6. Tanamkan pikiran yang positif. Berpikir positif bisa membuat mental yang sehat juga mengurangi kecemasan.

Mau Sampai Berapa Korban Lagi Supaya Kekerasan Berhenti

Mau Sampai Berapa Korban Lagi Supaya Kekerasan Berhenti

Oleh Cut Soraya; Editor Ahmad Haetami

Ilustrasi kekerasan
Sumber: Pixabay.com

Kasus kekerasan dalam sebuah organisasi kampus baru-baru ini mencuat kembali. Seorang mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Gilang Endi Saputra diduga tewas saat mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (diklatsar) Resimen Mahasiswa (Menwa). Melansir dari detiknews Kabid Humas Polda Jateng Kombes Iqbal Alqudusy menyatakan bahwa Polda Jateng belum menetapkan tersangka, namun berdasarkan visum memang ditemui tanda-tanda kekerasan.

Kekerasan dalam kegiatan organisasi apalagi jika berujung kematian merupakan peristiwa tragis yang tidak terampuni. Mereka mengikuti pelatihan organisasi dengan perasaan suka cita untuk menyalurkan minat dan bakat, bukan untuk dijadikan korban kekerasan apalagi jika hanya untuk balas dendam.

Pelatihan di dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) memang bertujuan agar mahasiswa menjadi lebih kuat, namun dengan adanya kekerasan yang menimbulkan dampak negatif justru sangat tidak dibenarkan.

Pelatihan yang dilakukan calon anggota organisasi saja sudah berat dan cukup membuat fisik mahasiswa berisiko kelelahan bahkan jatuh sakit, terutama bagi mereka yang memiliki stamina kurang prima.

Agar diklatsar yang menguras tenaga tidak terasa melelahkan, dibutuhkan solidaritas sesama anggota Menwa dan bukan diisi dengan aktivitas yang menunjukkan kekuatan diri bahkan dengan emosi meluap hingga dengan sadar melakukan kekerasan terhadap junior.

Kegiatan diklatsar yang tidak didampingi oleh petugas yang mewakili kampus akan membuat peluang terjadinya kekerasan antar mahasiswa makin besar. Kasus kekerasan pada calon anggota umumnya dilakukan oleh senior mereka. Maka dari itu, pihak kampus seharusnya memberikan batasan antara junior dan senior dan dimuat dalam perjanjian tertulis agar hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Ilustrasi Menwa
Sumber: Pexels.com

Calon anggota Menwa UIN Jakarta Muhammad Uswa Amrulloh yang sama-sama sedang berada dalam masa pendidikan, menyayangkan tindakan yang menelan korban jiwa dalam diklat.

“Menwa sendiri merupakan wadah yang tepat untuk mempelajari dan membuka pandangan tentang dunia militer sebab Menwa itu semimiliter, ya. Dalam masa pendidikan, biasa yang saya dapatkan hanya sebatas kekerasan berupa sanksi fisik yang menurut saya ada manfaat lebih untuk diri sendiri, seperti lari atau push up. Miris sekali ya mendengar banyak kasus yang sampai meninggal saat pendidikan itu, tindakan atau hal apapun yang merugikan individu atau kelompok harus secepatnya dievaluasi agar kedepannya tidak terulang. Kami kehilangan rekan (keluar) saat masa pendidikan saja sudah sangat disayangkan, apalagi kehilangan rekan (sampai meregang nyawa), tidak bisa membayangkan.”

Kejadian mengenaskan ini tentu harus menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara pendidikan di lembaga pendidikan pada umumnya. Pihak kampus perlu merenungkan dan mengevaluasi kasus tentang alokasi diklatsar Menwa agar dilakukan di kampus, sehingga dosen dan petugas kampus dapat memantau pelatihan.

Setelah diklat berakhir dan semua anggota junior dinyatakan lulus, istilah junior dan senior perlu dihilangkan, sehingga mahasiswa memiliki posisi yang setara dalam organisasi dan kekerasan pun bisa berhenti.

Pengembangan Sinergitas, Fdikom Jalin Kerja Sama dengan IAIN Ponorogo

Pengembangan Sinergitas, Fdikom Jalin Kerja Sama dengan IAIN Ponorogo

Reporter Dani Zahra Anjaswari; Editor Ainun Kusumaningrum

Pemaparan materi mengenai kebijakan SKPI.
Sumber: DNKTV – Muhammad Zidane Murtado

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta mendapat kunjungan studi banding dari Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Ponorogo. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FUAD IAIN Ponorogo beserta Staf Akademik yang bertempat di meeting room lantai 2 gedung Fdikom, Senin (25/10).

Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar sesama Fakultas Dakwah serta melakukan kerja sama antara Fdikom UIN Jakarta dengan FUAD IAIN Ponorogo. Kerja sama yang dibangun adalah Tridarma Perguruan Tinggi, agar bisa saling melengkapi kekurangan yang ada dan menjadi lebih baik untuk ke depannya.

Penyerahan cendera mata untuk FUAD IAIN Ponorogo.
Sumber: DNKTV – Muhammad Zidane Murtado

Kegiatan studi banding ini merupakan implementasi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) yang akan dilakukan seperti pertukaran kegiatan mahasiswa jurusan Jurnalistik UIN Jakarta dengan IAIN Ponorogo.

Dekan FUAD IAIN Ponorogo, Ahmad Munir mengatakan bahwa program MBKM ini perlu sintegritas, “Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka merupakan salah satu program kerja dari IAIN Ponogoro dalam penerapan program tersebut membutuhkan sinergitas oleh karena itu kami melakukan silaturahmi dan kerja sama dengan UIN Jakarta baik dari antar fakultas maupun dosen,” jelasnya.

Wakil Dekan Fdikom UIN Jakarta, Cecep Castrawijaya mengatakan selama berlangsungnya kegiatan ini ada beberapa materi yang menjadi pokok pembahasan, mulai dari contoh kurikulum yang baik, kebijakan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), praktik MBKM, pengenalan prestasi mahasiswa hingga kerja sama.

“Beberapa materi yang disampaikan menjadi pokok pembahasan yang didiskusikan oleh Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta dengan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Ponorogo,” ungkapnya.

Dekan IAIN Ponorogo, Ahmad Munir berharap kegiatan ini menjadi batu loncatan yang positif terhadapa kerja sama antara UIN Jakarta dan IAIN Ponorogo.

“Kami akan memiliki teman dan pengalaman baru dari UIN Jakarta dan sekaligus menjadi penerapan baru dari berbagai aspek untuk menjadi kampus yang lebih baik ke depannya.”

Animal Abuse Berdalih Wisata Halal, Dosen: Tidak Bisa Dibenarkan

Animal Abuse Berdalih Wisata Halal, Dosen: Tidak Bisa Dibenarkan

Oleh M. Rizza Nur Fauzi; Editor Ainun Kusumaningrum

Potret anjing bernama Canon pada saat masih hidup.
Sumber: Instagram-@rosayeoh

Akhir-akhir ini, media sosial sedang diramaikan oleh foto dan video seekor anjing bernama Canon. Anjing tersebut harus mati karena ulah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang membungkusnya dengan lakban dan karung, yang terjadi pada Selasa (19/10).

Dalam foto dan video yang telah tersebar luas di media sosial itu, disebutkan bahwa anjing tersebut mati setelah ditangkap untuk dipindahkan dari Pulau Banyak, Aceh Singkil. Anjing itu ditangkap Satpol PP Aceh Singkil dengan dalih wisata halal dan permintaan warga.

Pada Kamis (21/10), akun instagram @rosayeoh yang merupakan pemilik anjing bernama Canon tersebut menjelaskan, bahwa Canon mati setelah ditangkap oleh Satpol PP ketika menunggu kepulangannya. Salah satu petugas di antaranya membawa ranting panjang dan mengarahkannya ke rantai tempat Canon diikat.

Salah satu petugas Satpol PP yang mengarahkan ranting panjang ke rantai Canon.
Sumber: Instagram-@rosayeoh

Ia menyebut anjing tersebut kemudian dimasukkan ke keranjang kecil, lalu dibawa pergi. Tak hanya itu, Canon juga dimasukkan ke dalam karung terpal dan diikat. Ia menyebut anjing itu tak bisa bernapas hingga terbujur kaku, lalu mati.

Berita ini mengundang banyak komentar dari netizen, khususnya para pecinta hewan. Kebanyakan warga Indonesia ikut kesal dan angkat resah atas kejadian ini, tak sedikit juga dari mereka yang curhat dengan pengalaman serupa.

Dosen Fdikom UIN Jakarta, Taslimun Dirjam berpendapat bahwasanya wisata halal itu bukan berarti menghalalkan juga untuk membantai hewan haram seperti anjing, karena itu tidak termasuk ke dalam sesuatu yang ma’ruf.

“Halal itu bukan berarti harus membantai juga kan, termasuk membantai hewan haram seperti anjing, karena ini tidak termasuk ke dalam sesuatu yang ma’ruf. Yang dimaksud wisata halal di sini, yaitu dengan meluruskan kalau tempat wisata ini terbebas dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah seperti mabuk-mabukan, prostitusi, dan lain sebagainya yang biasa dilakukan di tempat-tempat wisata pada umumnya,” jelasnya pada Senin (25/10).

Di samping itu, ia juga mengimbau bahwa kita pun harus hati-hati dalam merespon berita seperti ini, ada grand issue yang jadi muatan lain dari pemberitaan ini.

“Namun kita juga harus hati-hati, jangan terbawa isu yang ingin menyudutkan pemerintah daerah dalam rangka mengarahkan ikhtiar ke arah kebaikan. Yang salah bukan wisata halal. Peristiwa pembantaian anjing itu juga harus diklarifikasi di TKP bagaimana yang terjadi, saksi-saksi di lapangan bagaimana. Intinya tabayyun dulu,” sambungnya.

Mahasiswa UIN Jakarta, Trisna Yudistira juga berpendapat bahwa ia tidak membenarkan atas kasus pembunuhan yang terjadi pada anjing ini dengan dalih wisata halal dengan alasannya tersendiri.

“Menurut saya kasus ini cukup rumit, dalam artian jika kondisi orang yang agak anti aparat pasti langsung mengklaim bahwa perbuatan Satpol PP ini salah, dan mereka juga tidak percaya atas pengakuan Satpol PP yang mengatakan bahwa perlakuannya itu tidak termasuk ke dalam penyiksaan terhadap hewan. Namun di sisi lain, sudah jelas bahwa penyiksaan terhadap hewan itu tidak bisa dibenarkan.”

Ia juga menyebutkan Mesir sebagai salah satu sampel daerah Islam yang terdapat banyak anjing, namun tidak sampai terjadi kekerasan atau pembunuhan terhadapnya.

“Menurut saya, pembunuhan terhadap hewan termasuk anjing jelas merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan. Soalnya, di Mesir atau daerah Islam lain yang terdapat banyak Anjing juga, meskipun anjing itu terkadang masuk ke dalam Mesjid, tidak sampai terjadi yang namanya kekerasan atau pembunuhan terhadapnya. Bahkan dalam hukum fiqh pun hal ini menjadi rukhshoh atau keringanan, meskipun anjingnya berstatus najis. Bahkan kalau tidak salah, menurut ustadz yang pernah tinggal di Mesir bahwa anjing di sana itu sudah biasa melangkahi sejadah di mesjid, seperti halnya kucing,” jelas Trisna lagi.

Hari Santri sebagai Perwujudan Perjuangan Santri Masa Kini

Hari Santri sebagai Perwujudan Perjuangan Santri Masa Kini

Reporter AriqahAlifia;  Editor Farhan Mukhatami dan Aulia Gusma Hendra

Hidayat Nur Wahid menyampaikan materinya secara virtual, Sabtu (23/10).
Sumber: DNK TV-Ariqah Alifia

Bidang Keislaman Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta menyelenggarakan Webinar Hari santri yang bertajuk “Mengintensifkan Peran Santri di Era Disrupsif Digital” secara virtual, Sabtu (23/10).

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor bidang kemahasiswaan UIN Jakarta Arief Subhan, Wakil ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag RI Hilman Latief, Ketua PCNU Tangerang Selatan, Didin Nur Rosidin serta Pimpinan Pondok Pesantren Madinah Al-Hijrah, Zainal Solihin sebagai narasumber yang memaparkan materi.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memperingati hari santri secara nasional, sebagai bentuk apresiasi atas eksistensi santri dalam berperan aktif membangun dan memajukan bangsa. Santri juga ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Didin Nur Rosidin menyampaikan materinya secara virtual, Sabtu (23/10).
Sumber: DNK TV-Ariqah Alifia 

Ketua PCNU Tangerang Selatan Didin Nur Rosidin, dalam penyampaiannya memaknai tema dalam webinar hari santri tersebut. Ia mengatakan,  distruptif yang secara umum diartikan sebagai perubahan secara radikal (maju dalam berpikir atau bertindak), perlu menjadi target santri dalam perwujudan inovasi yang radikal, berubah dari teknologi lama ke yang baru, dan pola interaksi berbeda, tentunya ke arah yang lebih baik.

Didin juga mengatakan, beberapa problematika santri yang akan dihadapi setelah lulus dari pondok pesantren, diantaranya ialah keidentikan dengan komunalisme.

“Santri akan diidentikan dengan komunalisme, hal ini memaksa santri untuk lebih bisa memahami era saat ini, yang dominan bersifat pada individualitas”ujarnya.

Wakil ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengemukakan, santri itu bisa beradaptasi dalam keadaan apapun, maka dengan itu, santri tentu bisa turut andil berkontribusi untuk Negara.

“Sejak dari tradisinya, santri dan kyainya didisiplinkan untuk bisa beradaptasi dalam keadaan apapun. Maka dari itu, tentu bisa berkontribusi untuk negaranya,” ungkapnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Madinah Al-Hijrah Zainal Solihin berkata, peran santri adalah agen yang berani menegakkan Amar ma’ruf nahyi munkar. Titik bukan hanya berorientasi pada dunia, tetapi juga seimbang antara dunia dan akhirat dengan ilmu yang didapatinya dan tentu dapat lebih unggul.

“Segala sesuatu yang ada di pondok, belum tentu ada di sekolah dan segala sesuatu yang ada di sekolah, tentu ada di pondok,”ujarnya.

Zainal juga mengapresiasi pesantren yang dapat membentangkan sayapnya, dengan maksud dapat menjangkau santri dari seluruh wilayah di Indonesia, serta menghasilkan generasi-generasi unggul yang siap ditempa.

Perwujudan diselenggarakannya hari Santri ini diharap, santri bisa menjadi ujung tombak kemajuan generasi muda dan masa depan bangsa secara nasional maupun internasional.

Santri Siaga Jiwa Raga, Bangkitkan Semangat Bangsa Indonesia

Santri Siaga Jiwa Raga, Bangkitkan Semangat Bangsa Indonesia

Reporter Prayoga Adya Putra; Editor Tiara Juliyanti Putri dan Aulia Gusma Hendra

Hari Santri Nasional, Sejarahnya Berawal dari Resolusi Jihad NU
Sumber: iStockphoto

Di Indonesia hari santri merupakan hari bersejarah. Di mana santri tidak akan pernah memberikan celah masuknya ancaman ideologi yang dapat merusak pemikiran dan komitmen terhadap persatuan dan kesatuan Indonesia.

Ini sebagai bentuk pernyataan sikap santri Indonesia agar selalu siap siaga menyerahkan jiwa dan raga untuk membela tanah air, mempertahankan persatuan Indonesia, dan mewujudkan perdamaian dunia.

Dikutip dari laman kemenag.go.id, Kamis (21/10) Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan siaga jiwa raga merupakan komitmen seumur hidup santri.

“Siaga Jiwa Raga juga merupakan komitmen seumur hidup santri untuk membela tanah air yang lahir dari sifat santun, rendah hati, pengalaman, dan tempaan santri selama di pesantren,”.

Yaqut juga menjelaskan bahwa siaga jiwa bermakna bahwa santri tidak lengah menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah, nilai, dan ajaran islam rahmatan lil’alamin serta tradisi luhur bangsa Indonesia.

Ilustrasi Santri Mengaji
Sumber: Pexels.com

Pada tahun 2021 ini, hari santri mengkat tema “Santri Siaga, Jiwa Raga” yang mempunyai filosofi bahwa para kaum santri senantiasa berserah diri kepada tuhan sebagai puncak dari kekuatan jiwa dan raga.

Siaga jiwa berarti santri tidak lengah menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah serta tradisi luhur bangsa Indonesia.

Hari santri merupakan momen yang sakral, dimana jutaan santri selalu merindukan kemeriahannya. Santri tidak selalu dengan rohani, namun juga semangat pantang menyerah dan selalu siaga dalam menghadapi musibah

Hari santri juga bukan hanya sekedar perayaan, tiap hari santri adalah perjuangan untuk memerdekakan bangsa Indonesia, perjuangan untuk mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang menumbuhkan saling hormat dan bukan saling menyalahkan.

Oleh karena itu, hari santri salah satu momen atau hari yang sangat diistimewakan, karena dari seorang santri melahirkan anak-anak bangsa yang menjunjung tinggi nilai pancasila dan agama.

Kaum santri dapat menjadi aset bangsa yang luar biasa karena kemampuannya dalam menjaga karakter bangsa serta menjalankan transformasi untuk memainkan peran dalam pembangunan dan kemajuan bangsa.

Generasi Muda Harus Berani Melestarikan Warisan Budaya Batik

Generasi Muda Harus Berani Melestarikan Warisan Budaya Batik

Reporter Khalillah Andriani; Editor Tiara Juliyanti Putri

Kain Batik
Sumber : DNK TV – Khalilah Andriani

Sejak zaman dahulu kebudayaan batik sudah muncul di Indonesia yaitu pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa tepatnya pada masa Kerajaan Majapahit. Sampai sekarang batik terus berkembang, pada zaman dahulu batik hanya dipakai khusus untuk keluarga kerajaan. Namun, kini batik dapat dipakai untuk semua kalangan.

Masa ke masa batik semakin mendunia, banyaknya masyarakat Indonesia yang berani memakai batik bahkan dalam pertemuan resmi Internasional. Kini batik bukan hanya sebagai pakaian resmi yang dipakai masyarakat Indonesia, namun menjadi inovasi fashion dunia.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk lisan dan non-bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) asal Indonesia serta menjadi bukti pengakuan dunia bahwa batik berasal dari Indonesia.
Salah satu unggahan instagram Miss World Malaysia 2021 Lavanya Sivaji mengekleim bahwa batik berasal dari Malaysia. Hal tersebut seketika menimbulkan kontroversi. Kemudian Sivaji mengubah keterangan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf lewat unggahan barunya.

Fashion batik
Sumber : Instagram – @ivan_gunawan

Generasi penerus bangsa sepatutnya berani bertanggung jawab dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya, salah satunya ialah warisan budaya batik.

Beberapa cara kita untuk melestarikannya ialah yang pertama kita harus mengubah sudut pandang bahwa batik hanya cocok dipakai di acara resmi oleh kalangan tua saja. Namun, pada kenyataannya batik dapat digunakan oleh semua kalangan. Inovasi semakin berkembang, kini batik didesain dengan model yang kekinian, santai, dan dapat dipakai oleh kalangan muda.

Kedua, tumbuhkan rasa bangga dan cinta saat mengunakan batik. Sering-seringlah memakai batik secara langsung atau kita dapat menggunggah foto saat mengenakan batik di media sosial, cara tersebut salah satu rasa cinta dan bangga kita saat mengenakan batik.

Ketiga, generasi muda berani belajar dalam proses pembuatan batik. Kita ketahui batik banyak diproduksi atau dibuat langsung oleh kalangan-kalangan tua yang sudah berumur, bila tidak ada regenerasi dari generasi muda, maka tidak akan ada penerusnya. Maka dari itu generasi muda harus berani belajar membuat batik.

Keempat, dukung pelaku bisnis batik. Produsen, distributor dan juga pedagang batik memiliki peran penting dalam proses pengadaa  batik, mereka butuh dukungan dari semua pihak. Salah satu cara ialah membantu memasarkan produk batik ke mancanegara, dengan begitu batik dapat dikenal secara global dan kita dapat melestarikan keberadaan batik.

Seruan Aksi Mahasiswa, Evaluasi Dua Tahun Jokowi-Ma’ruf

Seruan Aksi Mahasiswa, Evaluasi Dua Tahun Jokowi-Ma’ruf

Reporter Ilham Balindra; Editor Syaifa Zuhrina

Joanes Joko, Tenaga Ahli Utama Staf Kepresidenan melakulan dialog dengan mahasiswa terkait audiensi Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko.
Sumber: DNK TV-Ilham Balindra

Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan aksi demonstrasi di depan Patung Kuda, Monumen Nasional (Monas) pada Kamis (21/10).

Kegiatan ini digelar guna menyuarakan evaluasi kinerja dua tahun Presiden Joko Widodo. Penyampaian pendapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari orasi mahasiswa, aksi teatrikal, menyanyikan lagu dan audiensi dengan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko.

Salah seorang Koordinator aksi, Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Leon Alvinda mengatakan banyaknya kasus kekerasan yang dirasakan saat melakukan aspirasi.

“Dalam kebebasan berpendapat, banyak kasus kekerasan yang dirasakan saat melakukan aspirasi, terkait isu lingkungan adanya UU Omnibuslaw Ciptaker yang tidak berpihak kepada lingkungan dan ada tuntutan lain seperti pelanggaran HAM, terkait Reforma Agraria dan terkait penanganan Pandemi Covid,”ujarnya.

Ia menambahkan perlu adanya perbaikan total terkait masa jabatan Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf kedepannya.

 “Bahwa harus ada perbaikan total di Pemerintahan Jokowi Ma’ruf kedepannya, karena dalam 2 tahun terakhir yang terjadi bukan kabinet Indonesia maju, melainkan kabinet Indonesia mundur, tidak ada kemajuan signifikan terkait isu-isu yang kami bawa,”tegasnya.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan apresiasinya terhadap sikap kritis dan pemikiran mahasiswa. Ia juga mengajak perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan tuntutannya dengan datang ke kantor KNP dan melakukan diskusi.

Poster Seruan Aksi Aliansi Mahasiswa UIN Jakarta
Sumber: Instagram-@aliansimahasiswauinjkt

Salah satu Mahasiswa UIN Jakarta yang turut berkontribusi dalam aksi ini dengan mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa UIN Jakarta sekaligus koordinator lapangan, Ahmad Dzulfikar menyebut bahwa keterlibatan ini guna membangkitkan gairah kritis Mahasiswa.

“Aksi diadakan supaya mampu membangkitkan gairah kritis dan pergerakan Mahasiswa UIN Jakarta kembali dan tuntutan yang dibuat biasa didengar,”ujarnya.

Salah seorang mahasiswa UIN Jakarta Tubagus Agnia mengatakan, “Kita lihat saat ini UIN Jakarta mulai minim akan aspirasinya khususnya kepada Pemerintah saat ini,”.

Gelar Penghargaan Mahasiswa Berprestasi, Dorongan Untuk Mahasiswa Fdikom

Gelar Penghargaan Mahasiswa Berprestasi, Dorongan Untuk Mahasiswa Fdikom

Reporter Kireina Yuki; Editor Syaifa Zuhrina

Mahasiswa Berprestasi Menerima Penghargaan dari Pihak Fdikom
Sumber: Dokumentasi Kegiatan

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan acara penyerahan penghargaan bagi mahasiswa berprestasi di Meeting Room lantai 2  Fdikom UIN Jakarta, Kamis (21/10).

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya mengucapkan selamat dan mengapresiasi Mahasiswa/Mahasiswi Fdikom yang telah meraih prestasi dan berharap kegiatan ini dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa lainnya.

 “Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi mengucapkan selamat dan sangat mengapresiasi Mahasiswa dan Mahasiswi yang sudah berprestasi baik di tingkat lokal dan nasional, juga kami berharap dengan adanya penghargaan seperti ini dapat menjadi dorongan kepada mahasiswa dan mahasiswi untuk berprestasi baik di bidang akademik maupun non akademik,” ujarnya.

Beliau juga menambahkan bahwa terdapat 9 mahasiswa berprestasi yang diberi penghargan, namun hanya 5 orang yang dapat hadir.

“Mahasiswa berprestasi yang akan diberi penghargaan ada 9 orang, tapi yang datang tadi hanya 5 orang disebabkan memang suasana yang sekarang ini ditengah pandemi, teman-teman mahasiswa  ada juga yang berada di lokasi yang berbeda. Namun tetap menerima penghargaan,” pungkasnya.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Cecep Castrawijaya
Sumber: DNK TV-Kireina Yuki

Salah satu Mahasiswa KPI yang meraih  juara 1 lomba video sustainable fishing di Universitas Hasanuddin Makassar, juara 2 dan favorit lomba short movie di UNP PGRI Kediri, serta juara 1 lomba Startup Smart it Fest Quantum di Universitas Sebelas Maret, Taufik Nur Rohman mengucapkan terimakasih dan berharap agar mahasiswa dapat lebih semangat lagi.

 “Tentunya dari acara ini kita sebagai mahasiswa patut berterima kasih. Semoga kedepannya mahasiswa Fdikom dapat lebih semangat lagi. Karena sejatinya dunia kampus tidak hanya memperjuangkan mata kuliah di kelas saja, tapi berprestasi, menjaga nama baik dan mengharumkan nama kampus juga,” ucapnya.

Mahasiswa berprestasi lainnya, Muhammad Firda Azil yang merupakan mahasiswa jurusan Jurnalistik juga berterimakasih kepada fakultas atas apresiasi dan bentuk dukungan dari pihak kampus.

 “Menurut aku penting juga untuk validasi prestasi mahasiswa dan diketahui oleh fakultas, dan acara tadi merupakan bentuk dari aktualisasi hal tersebut supaya kita juga merasa bahwa apa yang kita lakukan ternyata didukung oleh pihak kampus. Saya berharap acara ini dapat memotivasi para mahasiswa lainnya untuk berprestasi di luar sana karena perlu yang kita ketahui nantinya bahwa yang dilihat bukan hanya sekedar hitam diatas putih, namun juga diperlukan tambahan atau mungkin kemampuan tambahan di luar sana yang harus kita miliki untuk membaca kita bersaing di masa depan,” jelasnya.