Greysia-Apriyani Raih Emas Olimpiade Pertama untuk Indonesia

Greysia-Apriyani Raih Emas Olimpiade Pertama untuk Indonesia  

Reporter Khalilah Andriani; Editor Fauzah Thabibah

Selebrasi Greysia Polii-Apriyani Rahayu melaju ke babak final Olimpiade Tokyo 2020
Sumber: Instagram-@bwf.official

Ganda putri Indonesia Greysia Polii-Apriyani Rahayu melaju ke babak final Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang olah raga bulu tangkis. Mereka berhadapan dengan ganda putri unggulan dari negara Tiongkok, China yaitu Chen Qing Chen-Jia Ya Fan. Dari rekor pertemuan mereka, Greysia-Apriyani tertinggal 3-6 dalam sembilan pertemuan.

Sepanjang gelaran Olimpiade Tokyo 2020, Greysia-Apriyani tampil apik dan agresif. Mereka berhasil mengalahkan sejumlah pasangan ganda putri unggulan, yaitu Sayaka Hirota-Yuki Fukusima, Du Yue-Lin Yin Hui, dan Lee So Hee-Shin Seung Chan.

Hasil pertandingan final ganda putri Olimpiade Tokyo 2020, Greysia-Apriyani dapat menaklukkan pasangan Chen-Jia dengan skor 21-18 21-15, dengan hasil ini mendali emas diraih oleh Indonesia.

Setelah bertarung merebutkan mendali emas, Greysia-Apriyani menambah satu perolehan mendali untuk Indonesia, mereka salah satu wakil Indonesia yang menyumbangkan mendali emas di Olimpiade Tokyo 2020, sejauh ini Indonesia memiliki total 4 medali.

Pencapaian Greysia-Apriyani ini adalah sebuah prestasi dan sejarah untuk perbulutangkisan Indonesia pada ajang Olimpiade. Pasalnya Greysia-Apriyani adalah pasangan ganda putri Indonesia pertama yang mampu melaju ke babak final dan meraih mendali emas sepanjang perhelatan Olimpiade.

Greysia-Apriyani menjadi pasangan ganda putri Indonesia dimulai pada tahun 2017, dimana sebelum mereka dipasangkan, Greysia sangat kesulitan menemukan pasangan baru yang cocok, dan akhirnya pada 2017 dipasangkan dengan Apriyani dengan selisih umur yaitu 10 tahun.

Greysia-Apriyani adalah pasangan ganda putri peringkat enam dunia.  Mereka kalah delapan kali untuk menaiki peringkat satu dunia. Apriyani adalah ganda putri termuda di Olimpiade Tokyo 2020 dan pada akhirnya mereka berhasil sukses mendapatkan mendali emas Olimpiade pertama untuk diri mereka sendiri dan untuk Indonesia.

Moment Greysia Polii-Apriyani Rahayu menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sumber: Twitter-@A.Ainur Rohman

Penggemar bulu tangkis Indonesia, Farah merasa bersyukur dan bangga atas keberhasilan ganda putri Indonesia yang melaju ke babak Final dan memenangkan perlombaan.

“Masuk final pastinya kita bersyukur dan bangga akan pencapaian dari pasangan ini. Melihat final tadi pemain China banyak melakukan kesalahan yang justru menguntungkan Indonesia. Bermainnya Indonesia juga tidak terlalu terburu seperti pasangan China, walaupun ada kesalahan beberapa dari Indonesia, dengan semangat akhirnya Indonesia dapat berhasil merebut medali emas untuk pertama kalinya.”

“Harapannya semoga bisa dipertahankan prestasinya dan ada generasi-generasi baru yang akan berjuang selanjutnya, karena Greysia juga sebentar lagi akan pensiun jadi Apri juga akan mencari pengganti pasangan baru,” imbuh Farah.

Selain Farah, penggemar bulu tangkis, Dea Nurma mengatakan “Hebat banget banget banget,  apalagi ini sejarah baru buat Indonesia sendiri, ganda putri bisa masuk final di Olimpiade dan meraih mendali emas”.

“Harapannya pasti mereka bisa bawa pulang mendali emas untuk Indonesia, dan we did it! senangnya bukan main,” ungkap Dea.

Selain Greysia Polii-Apriyani Rahayu sebagai perwakilan Indonesia di ganda putri sekaligus dari cabang olahraga bulu tangkis, Indonesia juga menurunkan Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie (Tunggal Putra), Gregoria Mariska Tunjung (Tungal Putri), Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya dan Mohammad Ahsan-Hendra Setiawan (Ganda Putra), Praveen Jordan-Melati Daeva Oktavianti (Ganda Campuran).

Laptop ‘Anak Bangsa’ Tuai Kontroversi, Masyarakat Butuh Transparasi

Laptop ‘Anak Bangsa’ Tuai Kontroversi, Masyarakat Butuh Transparasi

Reporter Amin Rais; Editor Tiara De Silvanita

Pelajar  yang menggunakan laptop sebagai media pembelajaran

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud Ristek) mencanangkan proyek laptop “anak bangsa”, yaitu Laptop Merah Putih. Hal ini dipicu karena makin banyaknya produk impor teknologi  yang masuk ke Indonesia. Mengingat makin tingginya kebutuhan masyarakat akan teknologi, terutama untuk pelajar Indonesia.

Beredarnya bocoran harga satu unit laptop berkisar Rp10 juta dengan spesifikasi kurang mumpuni dari standar pasaran, memicu kontroversi di tengah warganet.

Salah satu yang disoroti adalah spesifikasi hard drive dengan kapasitas 32 GB. Pasalnya, dengan harga yang ditawarkan per unit, seharusnya bisa mendapatkan laptop dengan spesifikasi yang jauh lebih tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Perencanaan Kemendikbud Ristek M. Samsuri mengatakan ada Laptop Merah Putih berbeda dengan pengadaan laptop untuk digitalisasi sekolah yang dicanangkan Kemdikbud Ristek.

Ia juga menegaskan bahwa harga satu unit laptop bukan Rp10 juta. Berdasarkan informasi Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Paudasmen) Kemendikbud Ristek, harga satu unit laptop antara Rp5 juta-Rp6 juta dengan spesifikasi operating system (OS) tipe Chrome OS.

Mahasiswa UIN Jakarat Alfyan Irgie berpendapat bahwa spesifikasi laptop berbasis Chrome OS   dikhawatirkan tidak efisien apalagi daerah yang belum terjangkau internet.

“Spesifikasi Chromebook sebenarnya memang cocok untuk sekedar belajar karena OS nya hanya support segala aplikasi dari Google/Android melalui Play Store. Tapi mengingat infrastruktur internet Indonesia yang terbilang masih kurang memadai, Chromebook bakal gak efisien karena pada dasarnya OS buatan Google satu ini hanya akan powerful jika terhubung  internet,” terangnya, pada Minggu, (1/8).

Irgie mendukung langkah pemerintah dalam pengadaan bantuan laptop dari produsen lokal sebagai langkah awal brand laptop lokal seperti Zyrex dan Axioo naik kelas.

Walaupun tujuannya mengurangi ketergantungan impor produk teknologi dari luar. Ttransparasi dari pemerintah soal ini jelas amat diharapkan masyarakat. Agar tidak muncul spekulasi bahwa ada anggaran fiktif dalam proyek ini yang menyebabkan anggaran salah alokasi dan sia-sia.