Bentuk Satgas Prokes, Indonesia Siap Berdampingan dengan Covid-19

Bentuk Satgas Prokes, Indonesia Siap Berdampingan dengan Covid-19

Reporter Diatma Luthfi; Editor Aulia Gusma Hendra

Ketua Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Sumber : covid19.go.id

Ketua Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito meminta masyarakat untuk bersiap diri mulai hidup berdampingan dengan Covid-19. Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengeluarkan Surat Edaran No 19 Tahun 2021 tentang Pembentukan dan Optimalisasi Satuan Tugas Protokol Kesehatan Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci tangan Fasilitas Publik Dalam Rangka Penanganan Pandemi Covid-19. Surat Edaran ini berlaku efektif mulai 1 September 2021.

“Satgas Prokes 3M Fasilitas Publik ini dibentuk untuk menunjang pencapaian masyarakat produktif aman Covid-19. Kita tahu bahwa peluang penularan Covid-19 dapat terjadi di mana saja: di dalam rumah, saat di perjalanan, maupun saat beraktivitas di luar rumah. Oleh karena itu diharapkan kegiatan di fasilitas publik yang ada pun mampu memberi andil juga pada upaya mengurangi peluang penularan Covid-19 di masyarakat,” ujar Juru Bicara Satgas Wiku Adisasmito, Selasa (31/8/21).

Sebagai upaya menjaga kasus Covid-19 tetap terkendali, Wiku mengatakan setiap institusi maupun pengelola fasilitas publik perlu melakukan pengawasan dan bertanggung jawab atas penerapan protokol kesehatan di tempatnya masing-masing.

Wiku mengatakan, Satgas Prokes 3M Faspub (fasilitas publik) diharapkan dibentuk pada sebelas kelompok aktivitas masyarakat yaitu aktivitas ekonomi dan belanja, aktivitas hiburan dan olahraga, aktivitas penyediaan akomodasi.

Protokol kesehatan
Sumber : covid19.go.id

Pemantauan dan evaluasi Satgas Prokes 3M Fasilitas Publik secara kinerja dilakukan oleh Satgas Covid-19 Daerah (kabupaten/kota, kecamatan, atau desa/kelurahan) dan pembinaan dilakukan oleh kodim dan polrestabes/polresta/polres, koramil, polsek atau Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Pemberian sanksi yang ditetapkan pemerintah daerah dan asosiasi atau ikatan pengelola fasilitas publik kepada pelanggar protokol kesehatan di fasilitas publik dengan penerapan prinsip sanksi berjenjang atau peningkatan sanksi apabila unsur fasilitas publik mengulangi pelanggaran protokol kesehatan.

Mahasiswi UIN Jakarta, Reinita Tri Cahyani mengatakan bahwa pemerintah RI membentuk satgas protokol kesehatan adalah cara yang tepat untuk bisa mengawasi dan mengedukasi masyarakat indonesia terkait pentingnya melawan Covid-19 dengan prokes yang benar.

“Banyak dari masyarakat awam yang masih belum terlalu memperdulikan pentingnya prokes untuk diri sendiri dan orang lain disekitarnya. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat yang awam perlu tau cara melawan Covid-19 dengan benar, kita juga butuh digandeng pemerintah dan di beri edukasi agar kita bisa melakukan prokes dengan baik sesuai anjuran pemerintah,” ujarnya.

Reinita juga mengatakan sangat setuju dibentuknya satgas prokes ini di era PPKM agar masyarakat lebih sadar akan bahaya melanggar prokes. Harapan nya melalui di bentuk nya satgas prokes ini pastinya agar nilai Covid-19 di indonesia menurun dan masyarakat bisa menjalankan kegiatan nya sedia kala.

Wacana Kuliah Tatap Muka, Bagaimana Realisasinya?

Wacana Kuliah Tatap Muka,  Bagaimana Realisasinya?

Reporter Ainun Kusumaningrum & Syaifa Zuhrina; Editor Aulia Gusma Hendra

Ilustrasi pembelajaran tatap muka
Sumber: Youtube-DNK TV UIN Jakarta

Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim meminta beberapa perguruan tinggi untuk segera menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas melalui keterangan tertulis, pada Sabtu (28/8). Hal ini diwacanakan digelar pada September 2021 pada daerah-daerah yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1-3.

“Kami mendorong kampus-kampus yang berada di wilayah PPKM  level satu sampai tiga untuk segera pertemuan tatap muka terbatas kepada mahasiswa”, ujarnya.

Meskipun begitu, Nadiem menyarankan agar mahasiswa yang mengikuti PTM terbatas tetap menjaga protokol kesehatan. Kegiatan PTM terbatas juga mengacu pada SKB Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Mendikbudristek, Nadiem Makarim
Sumber: Instagram-@nadiemmakarim

Dimana isi SKB tersebut yakni hal-hal yang harus dilakukan semua warga satuan pendidikan selama melaksanakan PTM terbatas, khususnya protokol kesehatan. Beberapa di antaranya, yaitu selalu memakai masker selama berada di satuan pendidikan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, menjaga jarak, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

Salah satu Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, William Anwar mengaku setuju dengan adanya wacana pembelajaran tatap muka ini, setelah sekian lama berkurangnya kualitas dan efektivitas dari sektor pendidikan akibat adanya kegiatan pembelajaran online.

“Sebagai mahasiswa, saya kategorikan wacana ini merupakan wacana yang cukup baik sih. Ditinjau dari segi peta sebaran covid 19 di lokasi-lokasi level 2 dan 3 ini sudah mulai landai. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk kita memasuki pembelajaran tatap muka,” ucapnya.

Salah satu tenaga pendidik, Siti Nuraziza mengatakan wacana ini memiliki faktor yang sangat urgensi dilaksanakan.

“Menurut pendapat saya sebagai seorang tenaga pendidik ini wacana yang sangat ditunggu karena beberapa faktor yakni   pembelajaran tatap muka lebih efektif, ”jelasnya.

Mahasiswa UIN Jakarta lainnya, Ari Subagyo berpendapat, PTM di masa pandemi ini cukup rawan. Mengingat vaksinasi belum mencapai target sepenuhnya.

“Kondisi di tiap satuan pendidikan bisa berbeda-beda. Dalam contoh UIN Jakarta, mungkin kampus bisa mengadakan survei dahulu tentang kesiapan mahasiswanya untuk PTM, juga pemantauan progres vaksinasi mahasiswanya,” ujarnya.

Sekolah Tatap Muka Dimulai, Bagaimana dengan Perguruan Tinggi?

Sekolah Tatap Muka Dimulai, Bagaimana dengan Perguruan Tinggi?

Reporter Ani Nur Iqrimah; Editor Fauzah Thabibah dan Nur Arisyah Syafani

Suasana kelas pembelajaran tatap muka.
Sumber: puslapdik.kemendikbud.go.id

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikannya resmi melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai hari ini, Senin (30/8). Tercatat ada sekitar 610 sekolah di Jakarta yang menggelar PTM terbatas hari ini, setelah status PPKM Jakarta turun ke level 3. Meski protokol kesehatan ketat telah diberlakukan, namun tetap ada kekhawatiran dari orang tua murid.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria menjelaskan bahwa 610 sekolah yang akan melakukan PTM merupakan sekolah yang sudah diuji coba pada bulan sebelumnya.

“Insyaallah Pembelajaran Tatap Muka akan dimulai tanggal 30 Agustus nanti secara bertahap,” ujar Ariza dalam unggahan Instagramnya (28/8).

Salah satu sekolah yang menggelar PTM terbatas adalah SMAN 65 Jakarta. Para tenaga pendidik, pengawas sekolah, dan orang tua siswa menyiapkan siswa mereka serta sarana-prasarana. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Sarana-Prasana

Muhammad Gunawan menjelaskan bahwa sekolah telah melakukan koordinasi sejak Jumat, dengan para tenaga pengajar, pengawas, dan orang tua.

“Kita memastikan para siswa bisa melaksakan sekolah tatap muka terbatas dengan lancar hari ini. Koordinasi dengan RT/RW, kelurahan, dan puskesmas juga,” ujar Gunawan.

PTM terbatas dilaksanakan sesuai dengan aturan. Para siswa diwajibkan menyerahkan surat keterangan orang tua yang mengizinkan anaknya untuk mengikuti PTM terbatas. Diwajibkan mengenakan masker dan menerapkan protokol kesehatan ketat dari rumah untuk belajar hingga pulang seperti, menerapkan cuci tangan menggunakan sabun di area pekarangan sekolah, sebelum masuk gedung. Fasilitas cuci tangan juga disediakan di depan kelas, untuk digunakan sebelum dan setelah meninggalkan kelas.

Salah satu siswa tahun ketiga, Nadya Rahma, mengaku telah menerapkan protokol kesehatan sejak perjalanan menuju ke sekolah.

“Iya, pakai masker sejak dari rumah, berangkat naik sepeda motor. Lalu cek suhu tubuh di depan gerbang sebelum masuk, cuci tangan sebelum masuk gedung, dan pemeriksaan surat keterangan izin orang tua. Diizinkan sama orang tua ke sekolah,” tuturnya.

Sementara itu, pelaksanaan perkuliahan semester ganjil dibanyak universitas negeri maupun swasta akan segera dimulai pada awal bulan September 2021.

Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim meminta perguruan tinggi yang masuk wilayah PPKM level 1 hingga 3 untuk segera menggelar PTM terbatas. Sementara kampus yang masuk wilayah PPKM level 4 masih harus tetap menggelar pembelajaran jarak jauh (PJJ).

UIN Jakarta yang berdomisili di Ciputat, Tangerang Selatan masuk ke dalam wilayah PPKM level 3, akan melaksanakan perkuliahan secara blended learning. Perkuliahan semester ganjil sendiri akan dilaksanakan pada 1 September 2021.

Surat edaran kegiatan akademik dan non akademik semester ganjil tahun akademik 2021/2022 UIN Jakarta
Sumber: Rektorat UIN Jakarta

Hasil rapat Pimpinan UIN Jakarta, yang disampaikan melalui surat edaran Nomor: B-3270/R/HK.00.7/08/2021, menyatakan UIN Jakarta berencana menerapkan blended learning dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), yaitu menggabungkan sistem pembelajaran luring dan daring.

Dalam surat edaran yang ditandatangani pada Selasa (24/8) itu, perkuliahan yang dilakukan secara luring atau bauran adalah mata kuliah yang pencapaian kompetensinya tidak dapat dicapai secara maksimal dengan pembelajaran daring.

Salah satu mahasiswa UIN Jakarta juga menanggapi rencana UIN Jakarta yang akan menyelenggarakan PTM menggunakan sistem blended learning.

Mahasiswa UIN Jakarta, Mohammad Fahrezi mengatakan rencana PTM dengan menerapkan sistem blended learning sudah sangat bagus, mengingat kurang efektifnya pembelajaran jarak jauh dan komunikasi antar mahasiswa dan dosen, UIN Jakarta juga harus siap akan sarana-prasana serta syarat dan ketentuan untuk mahasiswa yang hadir luring.

“Rencana blended learning ini sangat bagus, mengingat kurang efektifnya pembelajaran jarak jauh yang saya rasakan, juga komunikasi antar mahasiswa dan dosen yang sangat tidak efektif apabila tidak bertemu langsung, dan jangan lupa, kampus juga harus menyiapkan sarana-prasananya juga, serta aturan protokol kesehatan yang ketat,” ujar mahasiswa asal Bangka Belitung itu.

“Maling, Rampok, Garong Uang Rakyat” Sebutan Baru Koruptor

“Maling, Rampok, Garong Uang Rakyat” Sebutan Baru Koruptor

Reporter Wafa Thuroya Balqis; Editor Fauzah Thabibah

170 media di bawah Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) resmi mengganti diksi Koruptor dengan Maling, Rampok, atau Garong uang rakyat.
Sumber: Instagram-@pikiranrakyat

Forum Pemimpin Redaksi (Pimred) Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) mengambil sikap dengan tegas mengkritik penamaan “Penyintas Korupsi” yang diwacanakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sikap yang diambil didasari karena diksi korupsi maupun penyintas korupsi dianggap tidak mempermalukan pelaku sama sekali.

Ketua Forum Pimred PRMN, Dadang Hermawan memberikan keterangannya melalui pers yang diterima PublikTanggamus.com bahwa ia tidak sepakat dengan wacana tersebut dan telah mengambil sikap, Minggu (29/8). “Mulai hari ini diterapkan. Total 170 media yang berada di bawah naungan Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) resmi akan mengganti diksi Koruptor dengan semestinya disebut Maling, Rampok, atau Garong uang rakyat,” jelas Dadang.

Melalui kanal Twitternya, Novel Baswedan mengungkapkan istilah “Penyintas Korupsi” ini juga dinilai terlalu halus.  “Salah satu pemberantasan korupsi adalah untuk timbulkan efek jera. Ketika korupsi menjadi hal yang memalukan dan kita tidak memberikan pemakluman terhadap pelaku atau hasil korupsi, mestinya akan membuat orang takut berbuat korupsi. Diksinya terlalu halus.” Tulis Novel melalui cuitannya di Twitter.

Sebelumnya diksi “Maling” tersebut sudah digunakan Pemimpin Redaksi Kompas.com, Wisnu Nugroho dalam artikelnya yang berjudul “Komplotan Lima Maling yang Dipimpin Seorang Menteri”.

Ilustrasi Bantuan Dana Sosial (BANSOS), masyarakat diminta laporkan permasalahan bansos yang diterima atau diketahui.
Sumber: kpk.go.id

Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menyebut penggunaan istilah “Penyintas Korupsi” karena para koruptor telah menjalani masa hukuman yang dianggap bisa memberi pelajaran yang nantinya bisa disebarluaskan kepada masyarakat. 

Adapun mahasiswi asal Universitas Brawijaya Fakultas Hukum, Damar Sanubari, memberi tanggapan bahwa istilah “Penyintas Korupsi” dirasa kurang tepat karena perbuatan tersebut dilakukan dengan niat, akal sehat, dan kesadaran yang penuh.

“Pada dasarnya perbuatan koruptor sama seperti ‘maling’ yang merampas harta milik orang lain. Bedanya koruptor ini diisi oleh orang-orang yang berpendidikan dan berkuasa. Pengubahan sebutan koruptor itu bentuk gertakan hebat dari masyarakat yang lelah dengan kondisi Indonesia saat ini. Selain menunjukkan bahwa tidak ada ampun dan tidak ada ruang bagi koruptor di masyarakat, diharapkan sebutan itu mampu membuat koruptor malu,” ujarnya.

Pendapat lain juga diungkapkan salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta, Nuno Artama, ia mengaku lebih setuju dengan sebutan ‘Koruptor’ dibanding ‘Penyintas Korupsi’.

“Kalau ‘Penyintas Korupsi’ enggak setuju, lebih setuju dengan diksi ‘Koruptor’ karena jelas sesuai dengan apa yang dia lakukan yaitu korupsi. Harus lihat dulu landasan diubah sebutan koruptor itu apa, nanti malah dijadikan kesempatan buat para koruptor yang katanya sudah cukup disiksa dan dibully masyarakat kan, malah jadi kesempatan lagi untuk mereka dianggap ‘dibully’ oleh media dan masyarakat. Sepertinya enggak perlu diubah sih, dan sebutan koruptor itu sudah buruk karena lebih dari maling atau rampok.” Ungkapnya.

Selain itu mahasiswa juga berharap bahwa para pejabat yang memegang bangku kekuasaan dapat memiliki rasa empati dan tanggung jawab juga lebih bijaksana dalam menggunakan kekuasaan dan mengambil kebijakan.

“Lebih bijaksana dalam menggunakan kekuasaan dan mengambil kebijakan. Setiap kebijakan dan tindakan dari pejabat negara memengaruhi hajat hidup seluruh masyarakat Indonesia. Penting bagi pejabat negara untuk meluruskan niatnya, saat menduduki kursi kekuasaan adalah untuk memenuhi hak rakyat bukan merampas hak rakyat.” Tambah Damar.

Inovasi PBAK Jurnalistik Melalui Slogan “Beraksi Gapai Kreasi”

Inovasi PBAK Jurnalistik  Melalui Slogan “Beraksi Gapai Kreasi”

Reporter Putri Anjeli; Editor Tiara De Silvanita

Penyampaian materi pengenalan mengenai Prodi Jurnalistikoleh Kholis Ridho selaku Ketua Prodi Jurnalistik, Jumat, (27/8).   
Sumber: DNK TV_Putri Anjeli

Program studi (prodi)  Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN  Jakarta mengadakan kegiatan tahunan yaitu Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang merupakan tahun kedua dilaksanakan secara online pada Jumat, (27/8). Tema yang diusung tahun ini adalah “Being Fast, Accurate and Limitless at the Role of the Era”. Dengan harapan sebagai jurnalis harus menjadi pribadi yang tepat, akurat dan tidak terbataskan ruang dan waktu.

Dalam sambutannya William Anwar selaku Ketua pelaksana PBAK prodi Jurnalistik menyampaikan makna slogan “Beraksi Gapai Kreasi”.

“Diam tidak selamanya emas namun dengan beraksi kita bisa menjalankan reaksi dan kita juga bisa mengapai suatu aksi.”

Kemudian acara dilanjutkan sambutan sekaligus membuka acara PBAK Jurnalistik oleh Bapak Kholis Ridho selaku Kepala Prodi (Kaprodi) Jurnalistik. Dilanjutkan sambutan dari Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi (HMPS) Jurnalistik  Sulthony Hasanudin

Dalam materi pengenalan prodi Jurnalistik, Kaprodi Jurnalistik Kholis Ridho menjelaskan mengenai pemetaan mata kuliah, Profil Lulusan, juga dokumentasi potret kerja alumni. Beliau menjelaskan bagaimana cara beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai mahasiswa. Tak lupa beliau menyampaikan bahwasannya menjadi mahasiswa harus memiliki tujuan atau pencapaian, dan target waktu yang jelas.

”Menjadi mahasiswa harus memiliki goal atau pencapaian, tujuan yang sudah ditargetkan dan usaha yang relevan dan memiliki batas waktu yang jelas. eksistensi sebagai mahasiswa dilihat dari kontribusi yang kita berikan, eksistensi tanpa kontribusi itu percuma saja” ujar Kholis Ridho

PBAK Program Studi Jurnalsitik tahun 2021, Jumat, (27/8).
Sumber: DNK TV_Putri Anjeli

.

Setelah sesi prodi, acara PBAK juga dimeriahkan dengan sharing session alumni Jurnalistik Sururoh Tullah Adedoin Uthman, yang meyampaikan tentang public speaking yang saling berkaitan dengan jurnalistik.

Salah satu peserta PBAK prodi Jurnalistik, Muhammad Damar Ramadhan, mengungkapkan senang mengikuti PBAK Jurnalistik.

“Tadi ada sesinya, ada sesi pemateri public speaking dan kewartawanan. Narasumber dengan kita (mahasiswa baru) tek-toknya asyik dan tidak bikin ngantuk dan ada lucunya juga,” tuturnya.

Serangkaian kegiatan yang dihadirkan dalam PBAK prodi Jurnalistik menambah inovasi dalam membuka wawasan mahasiswa baru meskipun kegiatan PBAK dilakukan secara virtual.

Kongres Apsi: Urgensi Pembangunan Sosial

Kongres Apsi: Urgensi Pembangunan Sosial

Reporter Latifahtul Jannah; Editor Tiara De Silvanita

Penjelasan Materi Oleh Presiden Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD)  Manohar Pawar. Pada Jumat, (27/8).
Sumber: YouTube_DNK TV UIN Jakarta

Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) menghimpun para praktisi dan penggiat disiplin ilmu social development atau pembangunan sosial untuk berpikir, berdiskusi, dan menyuarakan pada Jumat (27/8). Para anggotanya berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UIN  Jakarta.

Tema pertemuan kali ini yaitu “Kontribusi Pembangunan Sosial dalam Restorasi Ekosistem Berkelanjutan” dengan pembicara Presiden Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD), Manohar Pawar, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), Suparto, dan Ketua APSI, Janianton Damanik.

Sambutan oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta Suparto.
Sumber: YouTube_DNK TV UIN Jakarta

Dekan Fdikom Suparto memaknai arti dakwah lebih luas dari masyarakat umumnya.

“Jika dakwah biasanya identik dengan penebaran agama, Namun Fdikom UIN Jakarta dengan semua program studi, mulai dari Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Jurnalistik, Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Manajemen Dakwah (MD), Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), dan Kesejahteraan Sosial (Kessos) merefleksikan aktivitas dakwah lebih luas, yang nantinya bermuara pada pengembangan masyarakat,” ucap Suparto pada Jumat, (27/8).

Ketua Apsi Junianto Damanik menyatakan  tekad dan eksistensi APSI sudah sangat jelas dan strategis, misalnya riset bersama institusi, dan penyetaraan penajaman kurikulum bersama.

“APSI semakin ditantang eksistensinya dalam memantapkan institusi pendidikan, penemuan model-model inovasi kebijakan, maupun pemberdayaan komunitas kesejahteraan yang berkeadilan sosial.”  tegas Damanik

APSI berusaha untuk membantu pemerintah menghadapi sejumlah masalah nasional yang mendasar. Dengan kata lain, keilmuan yang mereka miliki tidak melulu bergulir dan semarak dalam lingkungan kampus, juga dalam kelas-kelas perkuliahan semata, melainkan bisa berdampak konkret dalam kehidupan masyarakat.

Monohar Pawar, Presiden ICSD, menyampaikan tentang berbagai permasalahan sosial yang terjadi di negara berkembang maupun negara maju.

“Isu-isu pembangunan sosial saat ini dan yang muncul kemiskinan, pengangguran, gender, distribusi, ketimpangan, peran teknologi, dan keberlanjutan.” ucap Manohar Pawar.

Terlebih ketika pandemi melanda seluruh dunia, pemikiran tentang pembangunan sosial tidak kalah penting dengan pembangunan ekonomi yang sudah seharusnya menjadi prioritas berbagai kalangan.

Gegap Gempita PBAK Program Studi di Tengah Pandemi

Gegap Gempita PBAK Program Studi di Tengah Pandemi

Reporter Ahmad Haetami; Editor Tiara De Silvanita

Pengenalan Budaya Akademik (PBAK) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi secara daring pada Jumat, 27 Agustus 2021.
Sumber : DNK_Kevin Phillips

Hari keempat pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Jakarta tahun akademik 2021/2022 yang merupakan hari terakhir PBAK diisi dengan pengenalan program studi (prodi) secara virtual, pada Jumat (27/8).

Pengenalan Progam Studi tersebut dilaksanakan oleh masing-masing Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) di UIN Jakarta, tak terkecuali Program Studi di bawah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom).

Meskipun dilaksanakan secara virtual panitia PBAK berupaya mempersiapkan acara dengan matang untuk meminimalisir kesalahan teknis. Salah satunya, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) mengusung tema “Meneguhkan Prestasi Akademik Mahasiswa yang Berintegritas dalam Moderasi Beragama di Era Transformasi Digital”

 “Berbicara  PBAK online ini harus butuh persiapan yang lebih karena situasinya tidak bisa diperkirakan, seperti kendala jaringan maupun permasalahan teknis,” tutur Ketua HMPS KPI, Mochamad Farhan Nasrudin.

Di sisi lain, PBAK prodi Kesejahteraan Sosial (Kessos) tahun ini mengusung tema “Merancang Mahasiswa Kesejahteraan Sosial yang Memiliki Integritas, Intelektual, dan Semangat Jiwa Sosial”. Dalam rangkaian acaranya menghadirkan pembicara Co-Founder PT Jakarsa Mandiri Internasional, Reza Dwi Pangestu.

Pelaksanaan PBAK oleh Prodi Kesejahteraan Sosial
Sumber: DNK TV_Kevin Phillips

Prodi Kessos juga mengusung inovasi yang memikat banyak antusiasme mahasiswa baru, yaitu dengan menghadirkan video tur kampus.

“Kita juga punya video tur kampus agar mahasiswa baru angkatan 2021 tahu keadaan kampus seperti apa. Para mahasiswa baru antusias sekali, mereka mau tanya dan tahu apa itu PBAK dan apa saja yang ada di UIN Jakarta, terutama di prodi Kessos. Kami berharap mahasiswa baru tetap semangat karena bakal ada hal-hal keren lainnya dari Kessos,” tutur Ayunda Putri selaku Panitia PBAK prodi Kessos

Salah satu peserta PBAK prodi Jurnalistik, Muhammad Damar Ramadhan, mengungkapkan kesenangannya mengikuti PBAK Jurnalistik.

“Tadi ada sesinya, ada sesi pemateri public speaking dan kewartawanan. Narasumber dengan kita (mahasiswa baru) tek-toknya asyik dan tidak bikin ngantuk dan ada lucunya juga,” tuturnya.

Kegiatan PBAK pada hari ini menutup rangkaian yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru UIN Jakarta sebelum mengikuti perkuliahan. Para panitia PBAK berharap mahasiswa baru dapat mengenal kampusnya dengan baik.

PBAK Fdikom UIN Jakarta 2021, Wawasan Anti Korupsi Jadi Topik Utama

PBAK Fdikom UIN Jakarta 2021, Wawasan Anti Korupsi Jadi Topik Utama

Reporter Taufik Nur Rohman; Editor Elsa Azzahraita

Pengenalan Budaya Akademik (PBAK) Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi secara daring pada Kamis 26 Agustus 2021.
Sumber : DNK_Taufik Nur Rohman

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) untuk mahasiswa baru program studi 1 Fdikom UIN Jakarta tahun ajaran 2021/2022 secara virtual, pada Kamis (26/8).

Kali ini, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) sebagai penyelenggara mengangkat tema “Membangun Budaya Akademik, Intelektual, dan Religius menuju Mahasiswa Produktif, dan Inovatif di Era Digital”.

Narasumber dalam kegiatan ini diantaranya, Wakil Dekan 1 Bidang Akademik Fdikom UIN Jakarta Siti Napsiyah, Ketua DPD Askopis Se Jabodetabek – Banten Sihabudin Noor, Penyidik KPK Harun Al-Rasyid, dan Ketua DEMA UIN Jakarta 2019 Sultan Rivandi.

Turut hadir Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan Cecep Castrawijaya, Ketua Pelaksana Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan, Ketua Pelaksana PBAK Muhammad Frizal Al-Fajar, Ketua DEMA Fdikom UIN Jakarta Aji Juasal Mahendra, Ketua SEMA Fdikom UIN Jakarta Syafira Febby Ayu dan para peserta PBAK 2021.

Salah satu materi utama dalam kegiatan ini yaitu mengenai Wawasan tentang Anti Korupsi. Tujuannya agar mahasiswa UIN Jakarta terutama mahasiswa Fdikom dapat lebih terbuka untuk menolak secara utuh penyelewengan kekuasaan, terutama korupsi yang berdampak secara luas.

“Termasuk nanti mahasiswa Fdikom UIN Jakarta mempunyai pengetahuan seluas-luasnya tentang korupsi, agar bisa dibabat habis dari bumi negara kita ini,”  tegas Cecep dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, moderasi beragama juga menjadi sorotan karena berkaitan dengan keutuhan nilai-nilai kebangsaan. Tujuannya agar tidak terjadi pemahaman-pemahaman yang bertentangan dengan keagamaan.

“Materi yang diemban oleh fakultas ialah salah satunya yaitu moderasi beragama, dengan tujuan mahasiswa agar memahami dan memiliki kompetensi ideologi dan keagamaan, ” sambung Cecep.

Salah satu peserta PBAK, Atsal Prasetyo berharap para mahasiswa baru dapat menyerap materi yang disampaikan dengan sebaik mungkin, agar dapat mengetahui secara mendalam tentang dunia kampus.

“Acara ini merupakan gerbang awal kita sebelum masuk ke dunia perkuliahan, alangkah baiknya kita sebagai mahasiswa baru memaksimalkan materi yang sudah di berikan, agar nantinya bisa memperluas relasi, saling berbagi literasi dengan yang lainnya” ujarnya.

Pembangunan Jakarta Internasional Stadium Capai 68 Persen

Pembangunan Jakarta Internasional Stadium Capai 68 Persen

Reporter M. Rizza Nur Fauzi; Editor Taufik Akbar Harefa dan Nur Arisyah Syafani

Tampak  pembangunan Jakarta International Stadium, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Sumber : Instagram -@Jakartainternationalstadium

Project Manager PT Jakpro Arry Wibowo mengatakan, proyek pembangunan Jakarta Internasional Stadium (JIS), Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga pekan ke-103 ini sudah mencapai 68 persen.

“Kita untuk konstruksi sudah berjalan sampai minggu ke 103, sekarang progers akumulatif mencapai 68 persen,” ungkap Arry, dilansir dari Kompas, Selasa (24/08).

Arry menjelaskan, pengerjaan utama proyek JIS saat ini antara lain akselerasi pekerjaan struktur stadion dan instalasi precast tribun yang nantinya mampu menampung 82.000 penonton.

“Sekarang pengerjaan utama kita memang akselarasi untuk pekerjaan struktur, memang stadium utama JIS didominasi pekerja struktur jadi pengecoran, struktur, lantai itu masih dikerjakan, Kemudian instalasi precast tribun, karena ini jumlah penonton 82.000 jadi saat ini masih dalam tahap instalasi precast tribun,” tutur Arry.

Selain itu, lapangan utama pun kini sudah memasuki tahap pembangunan. Mulai dengan pengerukan, instalasi drainase, menaburkan lapisan koral dan lainnya.

Arry berharap, lapangan utama ini sudah dapat digunakan pada Desember mendatang.

Desain Stadion modern yang dirancang sedemikian rupa itu membuat jarak tribun dan lapangan lebih dekat dengan tiga tingkatan, yaitu lower tribun, middle tribun, dan upper tribun.

JIS juga telah meraih tiga rekor dari MURI yaitu lifting struktur atap stadion dengan bobot terberat, stadion pertama di Indonesia yang menggunakan sistem atap buka-tutup, dan stadion green building dengan sertifikasi platinum pertama.

Jakarta International Stadium merupakan stadion berstandar FIFA yang dibangun dengan konsep green building pertama di Indonesia.

JIS telah memperoleh skor greenship platinum grade untuk design and build dari lembaga sertifikasi Green Building Council Indonesia (GBCI). Corporate Communications Manager PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Melisa Sjach, dilansir dari merdeka.com mengatakan bahwa tujuan Green Building sendiri secara umum untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan manusia yang menempati suatu bangunan.

Mahasiswa UIN Jakarta, Fadlil Chairillah berpendapat, Proyek Pembangunan stadium tersebut merupakan suatu tindakan positif dari pemerintah. Ia berharap, sarana tersebut ke depannya dapat difungsikan dengan baik.

“Menurut saya, proyek pembangunan stadium tersebut merupakan suatu tindakan positif dari pemerintah secara infrastuktur guna memberikan kemajuan dalam bidang teknologi maupun di bidang olahraga. Dengan memakai beberapa kecanggihan teknologi yg luar biasa dalam perancangannya, tentu saja itu akan jadi sarana yg kedepannya patut dibanggakan”, ujar Fadlil.

Fadil berharap agar JIS kedepannya harus difungsikan sebagai sarana dengan baik. Serta mampu mendongkrak aspek-aspek yang terkait dengan fungsi utamanya yaitu bidang olahraga, guna memajukan olahraga Indonesia.

Wisuda ke-121, Fdikom Lepas 229 Wisudawan/Wisudawati

Wisuda ke-121, Fdikom Lepas 229 Wisudawan/Wisudawati

Reporter Nisrina Fathin; Editor Taufik Akbar Harefa

Pelepasan Wisudawan/wati Fdikom ke 121

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Jakarta kembali melepas  Wisudawan/Wisudawati ke-121 Pada Rabu, (25/8).

Acara ini dilaksanakan secara virtual melalui Zoom meeting, dihadiri oleh Ketua Panitia Noer Bekti Negoro, Dekan Fdikom Suparto, beserta jajarannya, Alumni Fdikom, para Dosen, serta Wisudawan dan Wisudawati.

Sebanyak 229 wisudawan/wati  yang terdiri dari 75 wisudawan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), 38 wisudawan Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), 51 wisudawan Program Studi Manajemen Dakwah (MD), 14 wisudawan Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), 30 wisudawan Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kessos), 9 wisudawan Program Studi Jurnalistik, dan 8 wisudawan Program S2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

Ketua pelaksana Noer Bekti Negoro mengatakan, Jumlah wisudawan tahun ini ada 229 para mahasiswa yang dilepas dari 34 Provinsi, pada program S1 dan S2.

“Bahwa wisuda kali ini diikuti 229 peserta yaitu dari 221 Prodi S1 dan 8 dari Prodi S2” ujarnya.

Dalam sambutannya, Dekan Fdikom Suparto, berharap agar mahasiswa yang telah menjadi alumni dapat menjadi orang yang bermanfaat dan mampu memberikan kontribusi demi kebangkitan bangsa.

Dekan Fdikom Suparto saat pelepasan wisudawan Fdikom ke 121

Peserta Wisuda Fdikom ke 121 Aulia Ramadhani, berharap Fakultas kedepannya dapat melahirkan alumni yang dapat bersaing didunia kerja dan tetap dalam wawasan keislaman. “Menciptakan lulusan yang mampu bersaing di luar, bukan hanya materi, implementasi teori, tetapi juga dalam pemantapan nilai-nilai keislaman, sehingga mencerminkan mahasiswa dakwah yang berakhlakul karimah”, ujar Aulia.