Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. di Masa Pandemi

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. di Masa Pandemi

Ilustrasi Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. sebelum masa pandemi Covid-19 (sumber: okezone.com)

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu hari besar Islam yang dirayakan oleh umat Muslim. Pada bulan Rabiul Awal ini Maulid Nabi jatuh pada tanggal 29 Oktober 2020. Perayaan Maulid Nabi di Indonesia biasanya dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti mengadakan pengajian dengan kelompok besar dalam satu tempat atau melakukan tradisi lainnya. Perayaan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Namun pada tahun ini, perayaan Maulid Nabi tidak bisa dilakukan seperti biasanya karena pandemi Covid 19. Dilansir dari Tirto.id Satgas Penanganan Covid-19 menghimbau agar peringatan Maulid Nabi di masa pandemi ini hendaknya dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan sesuai isi surat edaran Menteri Agama RI tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan Rumah Ibadah dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid 19.

Hal tersebut dikatakan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, yang meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) dan satuan tugas di daerah untuk memastikan kegiatan perayaan Maulid Nabi berpedoman dengan protokol kesehatan 3M yaitu mencuci tangan dengan sabur dan air mengalir, memakai masker, serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan demi menekan angka penyebaran COVID-19.

“Pemda harus berkomunikasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda),”  ucap Wiku saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (27/10/2020).

Meskipun perayaan Maulid dilakukan secara terbatas, namun tidak menghilangkan esensi dan tujuan dari peringatan dan perayaan Maulid Nabi itu sendiri.  Perayaan Maulid Nabi di masa pandemi bisa dilaksanakan dengan memanfaatkan media teknologi seperti internet. Selain itu, seorang muslim juga bisa merayakan dan memperingati Maulid Nabi SAW dengan cara memperbanyak zikir, shalawat dan membaca buku atau kitab-kitab tentang sejarah Nabi Muhammad SAW.

Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Khaeron Sirin berpesan dalam perayaan Maulid Nabi ini,  umat Muslim senantiasa meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad dan menerapkan ajaran-ajarannya dalam praktik kehidupan sehari-hari meskipun dalam kondisi yang serba terbatas.

“Esensi peringatan dan perayaan Maulid Nabi SAW bukan hanya di masjid, musholla, majelis taklim, ataupun tempat-tempat keramaian, tetapi esensinya berada di hati kita masing-masing. Selama kita mau bersyukur kepada Allah, membaca shalawat, dan menghayati juga meneladani sifat-sifat dan perbuatan Nabi SAW, sejatinya kita sudah ikut memperingati dan merayakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW.”

Reporter: Aulia Gusma

Sumpah Pemuda Momen Menumbuhkan Nasionalisme

Sumpah Pemuda Momen Menumbuhkan Nasionalisme

 Free Training Online ESQ, Sumpah Pemuda, Pancasila Untuk Milenial, bersama Ary Ginanjar Agustian, secara virtual, Rabu (28/10). (Foto: Dok. DNKTV)

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2020) sekitar 4000 generasi muda mendapatkan pembekalan materi bertajuk “Sumpah Pemuda, Pancasila Untuk Milenial”. Tim Emotional Spiritual Quotient (ESQ) menggagas training interaktif ini secara cuma-cuma sebagai upaya menumbuhkan rasa cinta tanah air dan patriotisme di kalangan milenial.

Hadir secara virtual Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo membuka acara sekaligus memberikan kata sambutan. Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet memaparkan bahwa banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa generasi milenial sudah makin asing dengan Pancasila. 

“Survey yang dilakukan akhir Mei 2020 oleh Komunitas Pancasila Muda, tercatat hanya 61 persen responden merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka,” papar Bamsoet.

Sedangkan 19,5 persen bersikap netral, dan 19,5 persen lainnya menganggap Pancasila hanya sekadar nama yang tidak dipahami maknanya.

Bamsoet menambahkan bahwa survei Lembaga survey Indonesi (LSI) pada 2018 juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun, masyarakat pro-Pancasila telah mengalami penurunan sebanayk 10% dari 85,2 persen pada tahun 2005, menjadi 75,3 persen pada tahun 2018.

Penemu ESQ, Ary Ginanjar mengibaratkan bangsa Indonesai layaknya bangunan dengan Pancasila sebagai pondasi, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sebagai dua pilar yang kokoh, dan UUD 1945 sebagai atap.

Dia juga menjelaskan empat misi kebangsaan Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi harus kita pelihara dan dijalankan sesuai keahlian dan profesi.

“Sebagaimana saya sebagai seorang guru, saya sudah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Anak saya membangun bisnis katering, dengan ini dia membangun kesejahteraan umum. Atau kamu seorang tentara? Maka kamu sudah melindungi segenap tumpah darah Indonesia.” tutur Ary.

Ary menjelaskan pentingnya anak muda juga fokus kepada pengembangan kepribadian, kepemimpinan dengan tujuan membentuk karakter tangguh dan memadukan konsep kecerdasan intelektual (IQ), Kecerdasan spiritual (SQ) secara terintegrasi secara optimal untuk membangun sumber daya manusia bangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter: Tiara De Silvanita

Kiat Sukses Menjadi Mahasiswa Prestasi

Kiat Sukses Menjadi Mahasiswa Prestasi

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) menggelar Web Seminar dengan tema pembahasan “Kiat Sukses Menjadi Mahasiswa Prestasi” yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube Channel DNK TV UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Rabu (21/10).

Acara ini resmi dibuka oleh Wakil Dekan III (Wadek III), Cecep Castrawijaya dengan dimoderatori Hilda Trianutami. Webminar ini mengundang empat narasumber mahasiswi berprestasi dari Fdikom, diantaranya Dewi Laras Lestari jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (2017), Bazlin Fadilah jurusan Kesejahteraan Sosial (2017), Zahra Nur Afifah jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (2017), dan Syifani Wirianisa jurusan Manajemen Dakwah (2017). 

Pada pembukaan acara Wadek III, Cecep Castrawijaya menyampaikan harapannya yakni dengan diadakannya webminar ini dapat bermanfaat dan memotivasi agar semua mahasiswa Fdikom dapat berprestasi dan dapat lulus dengan tepat waktu.

 “…Semoga dengan diadakannya webminar ini dapat memberi manfaat dan memotivasi semua mahasiswa Fdikom. Agar dapat meraih prestasi baik secara akademik maupun non akademik dan dapat lulus dengan tepat waktu, jangan lebih dari 8 semester ya”

Sejatinya, setiap mahasiswa memiliki keinginan untuk berprestasi baik akademik/non-akademik dan aktif berorganisasi. Tetapi sering kali terkendala oleh beberapa hal yang menghambat pencapaian keinginan tersebut. Dewi Laras Lestari menyampaikan beberapa kiat sukses berprestasi yang dapat kita implementasikan.

“Pertama, manajemen waktu yang baik selama menjadi mahasiswa, jangan sampai menyesal di akhir perkuliahan nanti. Kedua, memperluas wawasan dengan ikut dalam organisasi, seminar, event student exchange, membantu proyek dosen, dan kegiatan positif lain. Terakhir, manajemen stres diri ini penting karena banyak mahasiswa mati bunuh diri karena capek skripsi” ujar Dewi,

Bagi sebagian mahasiswa mungkin berasumsi bahwa prestasi itu persoalan tentang unggul dalam akademik, memenangkan suatu perlombaan, dan sebagainya. Tetapi berbeda dengan Bazlin Fadilah yang menyampaikan pendapatnya tentang arti prestasi bagi dirinya.

“Berbicara mengenai prestasi, aku mengklasifikasi dan mengkategorikan prestasi itu dalam banyak hal baik dalam  events, aktif organisasi, kegiatan social volunteering, mengorganisasikan events, menang award dan sebagainya itu aku kategorikan sebagai sebuah prestasi semua aku kategorikan yang sudah aku lakukan itu menjadi sebuah prestasi karena aku mencapainya dengan usaha yang perlu diapresiasi” ujar Bazlin,

Bazlin juga menambahkan pentingnya prestasi sesuai dengan pengalaman pribadinya.

“Prestasi itu penting karena itu bisa membuat kita berproses untuk mengembangkan diri (personal growth), prestasi juga sangat penting untuk nilai di masa depan karena saat ini yang dilihat bukan hanya akademik tapi pengalaman dan prestasi yang dapat meningkatkan self confidence di depan banyak orang. Menjadi berbeda dalam hal yang positif dengan berprestasi sesuai potensi yang kita miliki” pungkas Bazlin,

Adapun kiat-kiat lain yang kadangkala terlupakan padahal hal yang terlupakan ini termasuk bagian yang sangat berperan dalam kesuksesan mahasiswa yakni, ridho orang tua. Selain itu, menjaga hubungan kepada Allah dan sesama manusia.

“Hal yang paling utama, ridho orang tua. Ketika kita mau melakukan segala kegiatan jangan lupa untuk minta ridho orang tua walaupun tidak bisa terucap. Kemudian mulailah berkomitmen pada diri sendiri dan Allah. Dan jangan lupa untuk ‘Ngewongke wong’ atau memanusiakan manusia” ujar Zahra,

Syifani Wirianisa menyampaikan bahwa kegagalan bukan hal buruk. Ia juga menyarankan mahasiswa untuk membuat skala prioritas dan target ke depan.

“Selama  menjadi mahasiswa habiskan saja jatah kegagalan kita dan kegagalan itu bukan hal yang buruk. Dari sebuah kegagalan kita mulai belajar dan bisa lebih menata tujuan kita kedepannya. Buat skala prioritas dan target yang tidak biasa-biasa saja agar merasa tertantang” ujar Syifani,

Pada akhir acara webminar Dekan Fdikom, Suparto berpesan bahwa tidak ada sukses yang sifatnya instan dan semangat perubahan itu penting.

“Sukses itu ibarat kita menanam sebuah benih, yang kita harus menyiraminya, kita harus menjaganya, sabar menunggu menjadi pohon dan berbuah. Karena tidak ada sukses yang sifatnya instan” pungkas Suparto.

Reporter: Amalia Riskiyanti

Penutupan Program Pelatihan Peningkatan Kualitas Bahasa Prancis: Skill Peserta Diakui Meningkat

Penutupan Program Pelatihan Peningkatan Kualitas Bahasa Prancis: Skill Peserta Diakui Meningkat

Penutupan Program Pelatihan Peningkatan Kualitas Bahasa Prancis. (16/10)

Pelatihan Peningkatan Kualitas Bahasa Prancis, program kerjasama antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Institut Francais Indonesia (IFI), yang dilaksanakan selama sebulan sejak Selasa (15/9) melalui aplikasi Zoom resmi berakhir (16/10).

Selain Atase Kerjasama Linguistik IFI, Philippe Grange, Kepala Cabangi IFI Wijaya, Syarah Andriani, dan para peserta, acara penutupan ini juga dihadiri oleh sejumlah pimpinan UIN Jakarta seperti Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Masri Mansoer, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kelembagaan, Andi Faisal Bakti, Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Kerjasama, Jaenuddin, Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni, Ikhwan, serta Ketua Lembaga Penjaminan Mutu, Muhammad Zuhdi.

Syarah Andriani memberikan pendapatnya mengenai program ini.

Terdapat 20 mahasiswa calon alumni UIN Jakarta yang telah diseleksi menjadi peserta dalam program, satu diantaranya berasal dari pendidikan pascasarjana. Menurut Syarah Andriani, pelatihan yang dilaksanakan selama 60 jam pembelajaran ini terselenggara dengan baik.

“Alhamdulillah, peserta berhasil memperkenalkan diri dalam Bahasa Prancis. Saya melihat bagaimana para peserta berusaha untuk memperkenalkan diri dan berbicara mengenai siapa mereka dalam Bahasa Prancis. Menurut saya itu sangat luar biasa”, ujarnya.

Philippe Grange mengakui merasa bangga dan senang atas upaya peserta untuk belajar Bahasa Prancis. Ia selaku Atase Kerjasama Linguistik IFI sangat mendukung upaya UIN Jakarta secara umum dan upaya mahasiswa secara khusus untuk melanjutkan belajar Bahasa Prancis.

Selain itu, kemampuan berkomunikasi dengan Bahasa Prancis dianggap penting oleh Masri Mansoer.

Penyerahan sertifikat oleh Wakil Rektor Bidang Kemahaiswaan, Masri Mansoer kepada peserta program

“Dengan mampu berkomunikasi, berarti mampu membangun jaringan, mampu membangun kerjasama. Khususnya dalam Bahasa Prancis. Karena itu, apa yang sudah didapatkan dari pelatihan ini diterapkan dan juga perlu ditingkatkan di masa yang akan mendatang” ujar Mansoer.

Lebih lanjut dia berharap ada peningkatan kerjasama dengan Kedutaan Besar Prancis sehingga program ini kedepannya bisa diadakan dan diikuti oleh mahasiwa setiap tahun.

Selain penyerahan sertifikat, masing-masing peserta diminta untuk memberikan testimoni, kesan, dan harapan pada Program Pelatihan Peningkatan Kualitas Bahasa Prancis. Ilafi Ulfa, salah satu peserta program, memberikan testimoninya.

“Alhamdulillah saya sudah bisa memperkenalkan diri dengan Bahasa Prancis, mengenal alfabet Bahasa Prancis yang ternyata tidak jauh berbeda dengan Bahasa indonesia. Lalu saya juga Alhamdulillah bisa mengetahui angka-angka, membuat kalimat dan dialog, bertanya dalam Bahasa Prancis, dan masih banyak lagi yang lainnya”, ujarnya.

Ulfa merasa beruntung terpilih menjadi peserta program. Ia berharap program ini bisa terus berlanjut hingga tingkat selanjutnya.

Reporter : Shafina Madanisa

Bergesernya Tiktok Menjadi Sumber Informasi

Bergesernya Tiktok Menjadi Sumber Informasi

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar Pekan Literasi dengan menggagas tema Literasi Visual dan Literasi Baca. Merupakan program tahunan yang diadakan oleh HMJ KPI bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatur, memahami, dan menganalisa informasi, serta memperkuat nilai-nilai katakter pada pemuda khususnya bagi kalangan akademisi.

Dihadiri lebih dari 150 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mengusung tema “Bergesernya Tiktok Menjadi Sumber Informasi”, acara ini membahas tentang aplikasi Tiktok yang lambat laun kian menjadi sumber informasi.  Menghadirkan dua narasumber, Station Manger DNK TV, Irlan Istchori, dan Conten Creator Tiktok, Junar Asunyi. Dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting, Jumat (16/10).

Di era milenial saat ini tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya media sosial baik dikalangan anak muda hingga orang tua. Media sosial pada umumnya digunakan untuk menyebarkan informasi, dan bersosialisasi satu sama lain  secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Irlan Istichori menuturkan bahwa saat ini adalah era keberlimpahan komunikasi, dan sebagai penggiat sosial media, untuk terus menyebar hal-hal positif dengan tujuan mengembangkan potensi diri.


Narasumber Irlan Istichori dalam Webinar : Bergesernya Tiktok Menjadi Sumber Informasi. (16/10/2020)

“Saat ini era keberlimpahan komunikasi, yang mana informasi yang ada itu tidak tertandingi, tak terhingga terus dalam satu detik bahkan ada ribuan informasi yang baru. Maka bagi seorang penggiat sosial media, jadilah pengguna yang baik, dan terus sebarkan hal-hal baik di dalam media sosial tersebut. Untuk tujuan perkembangan diri, potensi diri, karna apapun itu yang tujuannya baik akan mendapatkan hasil yang baik.” Tutur Irlan.

Junar Asunyi menambahkan untuk memulai sebuah konten langung ke eksekusi, jangan memikirkan komentar orang lain, karena hal tersebut akan menghambat diri kita dalam berekspresi, dan berkreasi.

Tiktok sebagai sumber informasi, tak bisa dipungkiri bahwa tidak lepas dari sisi negatif, disinilah peran kaum muda untuk memberikan hal-hal yang positif.

Narasumber Junar Asunyi dalam Webinar : Bergesernya Tiktok Menjadi Sumber Informasi. (16/10/2020)

”Sebagai conten creator langsung mulai dengan eksekusi, dan jangan takut cibiran orang. Tiktok memang banyak yang negatif tapi sudah menjadi tugas kita sebagai conten creator dan kaum muda untuk sharing hal-hal yang positif, kalau yang lain negatif kita tidak usah ikutan negatif, coba untuk menjadi yang terbaik, beri hal positif  yang dibutuhkan oleh orang banyak.” Pungkas conten creator itu.

Dengan diadakannya kegitan ini diharapkan generasi muda lebih meningkatkan kualitas bakat, potensi, dan mengembangkan kreatifitas, terlebih di era digital serta tetap santun dan bijak dalam bermedia sosial. 

Reporter : M Adam Salsabil

Dia yang Dianaktirikan Tuanya

Dia yang Dianaktirikan Tuanya

Penulis : Rian Fahardhi

sumber: ngopibareng.id

“Baja membara ditempa, oleh tangan kuat tegap. Penat payah tak dirasakan, mandi keringat tak dihiraukan, itulah dia buruh. Tapi ia punya cita – cita selalu harapkan perbaikan, selalu yakini perjuangan. Tetap kerja giat walau menderita, karena punya cita, karena keyakinan, karena hari depan yang bahagia.”

– Dia Buruh, Soemiata

Tulisan ini terekam di lembar kebudayaan Harian Rakjat sepanjang 15 tahun ( 1950 – 1965 ). Dia Buruh, merupakan salah satu dari 450 judul puisi yang ditulis oleh 111 penyair Lekra, Gugur merah merupakan sebuah kumpulan puisi, dalam tradisi kesusastraan Lekra, di Lekra puisi menempati tempat yang istimewa.

Berbeda dengan penguasa yang menempatkan puisi sebagai senda gurau, begitupun hidup buruh senda gurau bagi nya. Buruh juga punya cita – cita, punya keyakinan, makanya ia selalu harapkan perbaikan melalui perjuangan. Walau menderita ia tetap bekerja, bekerja dengan giat walau menderita.

Buruh melalui puisi nya Soemiata digambarkan sebagai sosok yang sangat kuat tetapi selalu diabaikan. Setiap buruh punya cita – cita besar dan harapan, tapi selalu dikecewakan. Kepentingan buruh selalu di nomor duakan, bahkan diabaikan. Mereka sedih, sayangnya mereka merasa tak tahu harus berbuat apa.

Berbicara soal buruh hingga detik ini masih menjadi persoalan tiada henti. Seolah – olah menjadi sebuah objek kajian yang tidak akan pernah usai untuk dibahas. Persoalan – persoalan seperti kesejahteraan, upah buruh ( UMR), sistem kontrak, outsourcing dan PHK sudah menjadi benang yang sudah sangat kusut.

Jangan memandang remeh persoalan ini. Karena seorang buruh juga menginginkan upahnya sesuai dengan kewajiban yang telah dikerjakan. Upah yang jauh di kata normal yang terpaksa mereka terima minim dan sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan per harinya.

Jangan sampai pemerintah memangkas hak – hak buruh. Dan bertingkah tak berpihak kepada mereka. Kita tau upah yang diterima buruh bukan hanya untuk dirinya, namun demi menghidupi anak istrinya. Tentu sangat kontradiktif dengan pemikiran modal yang berpendapat bahwa laba dan keuntungan ( profit ) adalah menjadi sebuah tujuan akhir yang utama.

Sebuah tirani kebebasan yang terjadi telah menodai negeri ini. Ketika ekonomi pasar menjadi sebuah sandaran dan hukum menjadi sebuah pedoman. Lihatlah betapa banyaknya aturan yang dikeluarkan kemudian dikemas sedemikian rupa yang maksudnya seolah – olah untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan.

Omnibus Law menjadi Sejarah Pengkhianatan Penguasa kepada Buruh

Tanggal 5 Oktober tahun 2020 menjadi sebuah sejarah matinya demokrasi negeri ini. Sejarah bagi buruh dan rakyat kecil, yang suaranya sama sekali tidak diindahkan. Hari itu sejumlah aturan dan Undang – undang yang disebut sebagai sapu jagat di sahkan melalui ketok palu wakil rakyat.

Bukan sesuatu yang biasa, sebab rancangan undang – undang ini dibentuk dengan menggunakan metode Omnibus Law yang masih sangat asing di telinga masyarakat Indonesia.

Menurut Barbara Sinclair (2012) menjelaskan omnibus bill merupakan proses pembuatan peraturan yang bersifat kompleks dan penyelesaiannya memakan waktu lama karena mengandung banyak materi meskipun subjek, isu, dan programnya tidak selalu terkait.

Nyatanya di Indonesia proses penyusunan rancangan Undang – undang ini dibuat dengan secepat kilat, seolah – olah akan terjadi kiamat jika tidak disahkan dan di selesaikan dengan cepat.

Istilah omnibus law mulai muncul ketika presiden Joko Widodo berpidato setelah dilantik sebagai Presiden RI untuk kedua kalinya, Minggu ( 20/10/2019).

Tidak bisa dipungkiri kalau orang yang pertama kali yang merencanakan susunan aturan ini adalah beliau. Secara keseluruhan, ada 11 klaster yang menjadi pembahasan dalam omnibus law RUU Cipta Kerja, Yaitu penyederhanaan izin tanah, persyaratan investasi, ketenagakerjaan, kemudahan dan perlindungan UMKM, kemudahan berusaha, dukungan riset dan inovasi, administrasi pemerintahan, pengenaan sanksi, pengendalian lahan, kemudahan proyek pemerintah, dan kawasan ekonomi khusus.

Sementara itu, UU Cipta kerja, yang baru disahkan, terdiri dari 15 bab dan 174 pasal. Di dalamnya mengatur berbagai hal, mulai dari ketenagakerjaan hingga lingkungan hidup.

Rancangan undang – undang ini disusun dengan secepat kilat, entah apa yang memburu mereka. Mereka mengklaim ini demi kemudahan investasi di Indonesia.

Sidang – sidang yang dilakukan oleh wakil rakyat ini dilakukan hingga dalam kurun beberapa hari, siang malam hingga larut malam. Meskipun di bahas di tengah masa reses dan pandemi. Rancangan undang – undang ini tetap menjadi yang terpenting.

Beberapa pasal yang disusun dinilai tidak pro kepada rakyat, hal ini merespon banyak pihak untuk menolak. Tidak terkecuali para buruh, dengan tegas menolak. Bahwa aturan ini tak masuk di akal.

Dalam penyusunan nya pun, elemen buruh tak diikut sertakan. Di anak tirikan. Bahasan RUU yang berlangsung tertutup dan terburu – buru telah dikatakan melanggar aturan perundang – undangan yang berlaku.

Beberapa klaim mengatakan telah melakukan dialog kepada beberapa elemen masyarakat, tapi sampai sekarang tidak ada kata sepakat. Respon yang diberikan oleh pemerintah juga bias.

Penderitaan buruh dengan disahkannya RUU Cipta kerja ini makin lengkap. Ketika pandemi belum usai menggerogoti daging ekonomi negara membuat para buruh rentan kehilangan pekerjaan. Belum lagi masa reses yang saat ini sedang menghantui perekonomian negeri.

Penderitaan Buruh Hingga Hari Ini

Imbas corona, ada jutaan buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan mencapai 3,5 juta lebih. Pandemi menyebabkan tantangan pembangunan ketenagakerjaan menjadi lebih kompleks. Dampak perekonomian yang disebabkan oleh pandemi pada akhirnya juga berimbas kepada para pekerja.

Terutama yang berada di 4 sektor utama perekonomian Indonesia yaitu pariwisata, perdagangan, manufaktur, dan pertanian.

Omnibus law dibuat untuk mengejar investasi asing melalui janji kemakmuran yang ditebar. Ladang – ladang kekayaan alam siap untuk di jarah, dirampas dan diambil paksa. Hukum katanya menjamin untuk mengoperasikan itu semua. Hukum telah melindungi semua kegiatan yang punya maksud bawa laba.

Maka, terjadilah fenomena yang kerap terterjadi semasa kolonial: penghancuran dan penataan. Hancurkan semua milik rakyat yang belum jelas status hukumnya.

Bukankah kita sudah menderita? Jangan ditambah lagi penderitaan ini. Tiaka, Bangai, Freeport di papua, dan Bombana di Sulawesi tengah, Meranti dan Suluk bongkal di Riau, Ongan Komering Ilir di Sumatera selatan, Kebumen di Jawa Tengah, Sidoarjo di Jawa timur, kemudian Mesuji di Lampung.

Deretan itu hanya beberapa, di luar sana masih banyak lagi. Di sana, rakyat seperti pada masa kumpeni. Diambil  tanah mereka dan dibuatlah ladang tambang di rumah mereka. Pencemaran dan kekerasan bercampur aduk. Pembunuhan dan penindasan silih berganti, orang biasa sebutnya tragedi.

Eksploitasi hingga dikuras semua milik alam guna memupuk keuntungan. Investor asing adalah prioritas pilihan. Ditaklukkan semua kursi politik demi mengamankan kepentingan. Seluruh potensi daerah diringkus dan diberi nama kemakmuran. Predikat ini biasanya dicirikan dengan kemudahan membuat izin usaha dan keamanan investasi.

Sudahlah, Buruh dan rakyat kecil sudah lama menderita. Kenapa pemerintah selalu mencari persoalan dengan rakyatnya?

Bukan salah buruh ketika mereka memutuskan untuk mogok kerja dan turun ke jalan demi menuntut keadilan. Karena sejak awal, buruh punya harapan untuk adanya perbaikan, dengan hal ini mereka selalu meyakini perjuangan.

Tetapi hingga detik ini, perjuangan buruh selalu disepelekan. Ribuan buruh dari berbagai daerah di seluruh pelosok negeri menolak omnibus law dengan keras. Bukan hanya dalam taraf nasional. Perserikatan buruh Internasional juga menyurat menolak kepada Presiden Jokowi Pasca disahkannya RUU Cipta kerja.

Pengesahan RUU Cipta kerja belakangan ini menjadi sebuah kado manis dari rezim yang saat ini berkuasa. Rezim yang isinya persatuan dari elit politik juga menandakan bahwa Indonesia saat ini hanya dikuasai oleh oligarki – oligarki yang saling berbagi jatah proyek ekonomi dengan jalan menguasai arena politik sambil berteriak membela rakyat.

Padahal sesungguhnya mereka lah yang menjual kepala rakyat Indonesia kepada pemilik modal yang merupakan tuan mereka sendiri.

Sehingga mereka terus dapat menikmati kekayaan hasil dari merampok sumber daya alam ( SDA), menjilat korporasi asing dan memeras keringat buruh. Hingga dibuat peraturan yang mempersulit gerakan rakyat untuk berjuang dan bertarung dalam arena politik dan sampai sekarang mempersempit ruang demokrasi dengan pembungkaman – pembungkaman aksi yang dilakukan dengan cara – cara kekerasan layaknya Orde Baru jilid baru.

Perjuangan untuk melakukan perbaikan selalu menjadi fokus utama buruh. Ketika buruh hari ini memutuskan untuk turun kejalan dan menolak kebijakan pemerintah karena merasa tidak dilibatkan dan potensi dirugikan yang sangat besar akibat RUU Cipta kerja ini. Pilihannya adalah Buruh harus tetap bersatu.

Ketika kaum buruh bersatu dan sepakat untuk bersuara menolak. Harusnya menjadi alarm tanda bahaya bagi pemerintah. Ada jutaan buruh di Indonesia dan ketika mereka semua sepakat untuk bersatu untuk mogok kerja sehari saja, pemodal hingga konglomerat pasti sudah kocar kacir.

Refleksi Perjuangan dan Persatuan Buruh Oleh Soemita

Butuh satu orang buruh saja untuk menggerakkan masyarakat Jawa di Amerika Selatan pada tahun 1925. Orang itu adalah Iding Soemita, seorang buruh kelahiran Tasikmalaya mampu mempengaruhi Suriname, Amerika Selatan.

Dalam majalah Historia Soekapoera, vol 1, no 2, 2013, dipaparkan pada 25 Oktober 1925 Soemita menginjakkan kakinya di Suriname, daerah jajahan Belanda, untuk menjadi buruh. Kuli kontrak.

Ia bisa menggerakkan kaum buruh untuk melawan kesewenang – wenangan kolonial Belanda. Gerakan itu dilatarbelakangi oleh ingkar janjinya pemerintah kolonial yang akan memulangkan para buruh setelah masa kontrak selesai.

Keberhasilan Iding Soemita dalam mengorganisir dana pemakaman rupanya berkembang menjadi sebuah wacana progresif mengenai semangat pergerakan. Ia berhasil membangkitkan kesadaran bangsa Jawa Suriname, mengenai Gotong royong, toleransi, dan kebersamaan.

Perjuangan Soemita bisa menjadi refleksi kaum buruh di tanah air. Ketika saat ini perjuangan buruh untuk menuntut keadilan selalu di sepelekan dan di pandang sebelah mata. Buruh hari ini harus bersatu untuk melawan.

Perjuangan Soemita berbuah manis. Tanda – tanda yang menggembirakan sudah dirasakan, saat pemerintah Belanda bersama beberapa wakil dari Suriname menandatangani sebuah memorandum yang isinya rencana pengakhiran penjajahan.

Bisa kita lihat, seorang buruh menjadi berpengaruh ketika bersatu menolak ketidakadilan. Melalui gerakan Kaoem Tani Persatoean Indonesia ( KTPI)  Pada 25 November 1975, Suriname berdaulat.

Kuncinya kaum buruh harus bersatu untuk merespon ketidakadilan yang secara praktik sudah dilakukan oleh penguasa dan pemerintah. Melalui RUU Cipta kerja, ketidakadilan yang dipertontonkan secara jelas mulai dari penyusunan hingga substansi dari rancangan itu, jelas jelas ketidakadilan yang akan dipertontonkan.

Sementara itu para elit politik yang bertikai sudah menyusun konsolidasi kekuatan. Gerakan rakyat di Indonesia masih terseret – seret menjadi kekuatan kecil yang belum mampu berhimpun menggabungkan kekuatan dan mentransformasikan menjadi kekuatan.

Buruh dan rakyat harus membangun kekuatan. Entah melalui partai yang menjadi antitesa dan alternatif yang berkebalikan dengan partai yang saat ini dikuasai oleh para politik busuk serta para pemodal.

Membangun budaya yang demokratis dan partisipasi tentu merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Proses ini harus memastikan bahwa setiap unsur dari tingkat dn teritori yang terkecil harus ikut terlibat dalam proses pembangunan alat politik. Mengorganisir massa, menyatukan perspektif massa, menyamakan langgam gerak massa adalah proses yang tidak boleh dilewati.

Maka, partisipasi menjadi penting. Bukan hanya soal pemanis belaka. Kesabaran yang revolusioner adalah modal utama. Itulah yang menjadi pembeda dengan membangun alat alternatif politik dengan sekadar taktik politik dukung mendukung yang tidak memperdulikan aspirasi tingkat bawah dan juga sejarah pengkhianatan rakyat yang dilakukan oleh elit politik berkali – kali. Buruh dan rakyat kecil yang saat ini tertindas harus membuktikan kepada rezim bahwa rakyat bisa menentukan nasibnya sendiri.

Webinar dan Launching Pusat Kajian Integrasi Ilmu

Webinar dan Launching Pusat Kajian Integrasi Ilmu

Poster Web Seminar Nasional Broadcasting 2020, Tema Integrasi Ilmu dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (15/10)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Web Seminar Nasional (Webinar Nasional) dengan topik pembahasan “Integrasi Ilmu dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah” serta turut meresmikan Pusat Kajian Integrasi Ilmu yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube Channel DNK TV UIN Jakarta dan Berita UIN Jakarta,  Kamis (15/10).

Seminar ini diawali dengan Welcoming Address oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis dan diakhiri dengan Closing Statement dari Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Kelembagaan UIN Jakarta,  Andi Faisal Bakti. Kemudian hadir pula ketiga narasumber diantaranya, M. Amin Abdullah, Zaid Ahmad, dan Rd. Mulyadhi Kartanegara serta dipandu oleh Moderator, Dadi Darmadi dan Host, Dzikri Rahmat Romadhon.

Narasumber dan Peserta Web Seminar Nasional Broadcasting 2020, Tema Integrasi Ilmu dan Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (15/10)

Pusat kajian ini bertujuan untuk memusatkan segala kegiatan integrasi ilmu agar bisa didiskusikan dan bekerja sama dengan fakultas. Amany Lubis menuturkan bahwa integrasi tidak hanya dalam bidang ilmu, namun terdapat beberapa aspek yang dapat diintegrasikan yaitu integrasi objek, ilmu agama, ilmu umum, integrasi sumber ilmu, metode ilmiah, pengalaman manusia, penjelasan ilmiah, dan lainnya.

“Ilmu-ilmu agama akan kita padu, selaraskan dan serasikan bersama dengan ilmu pengetahuan yang lain. Demikian pula ilmu pengetahuan dan teknologi bisa berjalan dengan ilmu agama dengan spiritualitas dengan norma dan nilai agama Islam yang bersifat universal.” Ujar Amany Lubis yang diakhiri dengan peresmian Pusat Kajian Integrasi Ilmu.

Zaid Ahmad memaparkan bahwa ilmu memberi kesejahteraan hidup bagi manusia. Tiap ilmu yang dipelajari melalui definisi,  itulah yang diperkenalkan dahulu agar konteks dari ilmu mampu dipahami.

“Isu keutamaan mengenai ilmu ini menjadi isu yang besar. Ada dua fungsi ilmu, pertama, untuk memenuhi keperluan manusia, kemudian yang kedua ilmu sebagai soft human problem atau menyelesaikan masalah manusia.”

Amin Abdullah mengungkapkan bahwa ilmiah tidak sama dengan saintific karena ilmiah berhubungan dengan ilmu. Di dalam Islam, ilmu tidak hanya bersifat fisik tetapi juga bersifat non-fisik sehingga keduanya harus diintegrasikan.

“.. Kalau sains hanya dibatasi objek yang fisik lalu bagaimana dengan objek-objek yang non-fisik yang dipercaya muslim sebagai ada. Kalau hanya konsen dengan yang fisikal atau empiris maka bagian besar dalam ilmu agama akan ditinggalkan dan implikasinya bahwa ilmu yang non-empiris tidak diakui status ilmiahnya.”

Mulyadhi Kartanegara berpesan agar semua pihak dapat mendukung adanya Pusat Kajian Integrasi Islam ini agar dapat membangun integrasi yang diharapkan.

“..,pusat kajian ini tidak akan bisa survive kalau tidak didukung oleh berbagai pihak dan keahlian sehingga bekerja sama di antara fakultas bisa membangun integrasi yang kita harapkan.” Pungkas Mulyadhi Kartanegara

Konsep tentang integrasi pusat kajian ini akan disosialisasikan supaya fakultas umum melakukan kajian terhadap tradisi Ilmiah Islam. Sehingga mengenal tradisi bukan hanya budaya barat saja namun dua peradaban yaitu barat dan Islam.

Reporter: Wafa Thuroya Balqis

Talkshow Acara Puncak Roffair RDK FM 2020

Talkshow Acara Puncak Roffair RDK FM 2020

Radio Dakwah dan Komunikasi (RDK FM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar Roffair atau RDK Off Air. Merupakan acara tahunan yang memiliki dua rangkaian acara, terdiri dari lomba podcast dan talkshow. Roffair tahun ini menggagas tema “Anatomi” yang melambangkan kesatuan RDK FM sebagai satu tubuh yang saling terhubung satu dengan yang lainnya.

Di penghujung kegiatan, RDK FM menggelar talkshow sekaligus puncak dari acara Roffair 2020. Dilaksanakan secara virtual melalui zoom cloud meeting, Rabu (14/10).

Dihadiri lebih dari 250 peserta yang tersebar diseluruh Indonesia. Dengan mengusung tema “The Art of Self Improvement in Media Creative”. Acara ini membahas tentang self improvement atau bagaimana cara mengenali diri sendiri, dan menggali potensi, di era saat ini. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu komunikasi (Fidikom) UIN Jakarta, Suparto, kedua narasumber Creative Director of Froyonion, Arie Je, dan Co Founder The Heart of Menjadi Manusia, Adam Abednego.

Dalam sambutannya, Dekan Fidikom sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berterima kasih kepada seluruh panitia, peserta, juga narasumber yang hadir dalam acara tersebut. 

“Saya turut memberi applause dan terima kasih kepada seluruh panitia atas terselenggaranya acara ini,  juga bintang tamu yang sudah bersedia hadir dan berbagi ilmu dalam kegitan malam ini.” ungkap Suparto.

Arie Je menuturkan agar tetap maju dan berani dalam berekspresi, tidak perlu takut terhadap omongan orang lain, karena setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda.

Narasumber Arie Je dalam talkshow : The Art of Self Improvement in Media Creative. (14/10/2020)

“Yang namanya hidup dijalani saja, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. jadi harus tetap bebas bereksprsi asal tidak merugikan orang lain, tidak apa-apa. Dalam berkarir tidak usah takut, mengkotak-kotakan mana yang benar mana yang salah karena setiap manusia memiliki perspektif yang berbeda-beda.” Ungkap Arie.

Adam Abednego menambahkan, pengembangan diri tidak akan berhenti. Menjadi manusia sangat penting mengembangkan diri agar dapat berkontribusi kepada sekeliling kita, karena itulah tujuan utamanya. Dengan mengetahui diri, bertemu dengan orang lain, melakukan peningkatan serta evaluasi.

Narasumber Adam Abednego dalam talkshow : The Art of Self Improvement in Media Creative. (14/10/2020)

“Menjadi manusia sangat penting untuk melakukan pengembangan diri, karena itu tidak akan pernah berhenti, tapi dengan alasan kita ingin menjadi lebih baik untuk diri sendiri, bukan karena orang lain. Belajar hidup bukan hanya dengan sekedar belajar, tapi juga dengan pengalaman. 3 steps to be come a decent human being : Acknowledge, Connect, and Develop. 3 langkah untuk menjadi manusia yang layak : Akui, Terhubung dengan orang lain, dan Kembangkan.” Pungkas Adam.

Dengan diadakannya talkshow ini diharapkan generasi muda lebih memeningkatkan kesadaran dan identitas diri, mengembangkan bakat dan potensi, meningkatkan kualitas hidup dan memberikan kontribusi dalam mewujudkan impian dan cita-cita.

Reporter : Taufik Akbar Harefa

CBX 2020 : Creatalk “Digital Era : Think it, Make it, Get it!”

CBX 2020 : Creatalk “Digital Era: Think it, Make it, Get it!”

Host Citra (kiri) dan Narasumber Rana Rayendra (kanan), dalam Creatalk: Think it, Make it, Get it. (11/10/2020)

Campus Broadcasting Expo (CBX) merupakan acara tahunan Dakwah dan Komunikasi Televisi (DNK TV) UIN Jakarta yang memiliki rangkaian acara mulai dari perlombaan, seminar hingga talkshow. Creatalk merupakan talkshow sekaligus rangkaian puncak dari perhelatan CBX 2020. Creatalk dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting , Minggu (11/10).

Dihadiri oleh lebih dari 300 peserta dari seluruh Indonesia. Dengan mengusung tema “Digital Era : Think it, Make it, Get it!”, acara ini membahas tips sukses berkarya di era digital bersama dua narasumber, Co Founder & CEO Bicara Project serta Creative Digital Content , Rana Rayendra, dan Content Creator sekaligusYoutuber, Aulion.

Rana Rayendra menuturkan bahwa tanpa kita sadari setiap hari kita membuat sebuah konten, mulai dari skala kecil seperti story Instagram, karena setiap yang kita mengunggah ke sosial media, itu adalah konten. Melalui unggahan cerita, kita sendiri sudah membangun personal branding diri untuk pengikut di sosial media.

Personal Branding bukan menjadi orang lain tapi kita create diri kita agar bisa berdampak bagi orang lain, maka jadilah anak muda yang berdampak positif dan bermanfaat.” Tutur Rana Rayendra.

Content creator, Aulion memaparkan bahwa untuk memulai sebuah konten yang bagus, maka harus dimulai dari konten yang beruhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, karena segala aktifitas mulai dari kita bangun tidur hingga tidur lagi bisa menjadi sebuah konten. Aulion juga berpesan bahwa salah satu yang bisa dilakukan seorang content creator untuk Indonesia adalah dengan memberikan sebuah konten yang bermanfaat.

Host Citra (kiri) dan Narasumber Aulion (kanan), dalam Creatalk: Think it, Make it, Get it, (11/10/2020).

“Gak usah banyak teori, langsung aja praktek, ketika kita mulai kurang konsisten dalam membuat sebuah konten, coba berkaca aja dari kegiatan di sekitar kita, banyak ko inspirasi yang bisa kita angkat jadi konten. Dan jangan pernah lupa visi kita diawal buat konten untuk apa” Ujar Aulion menyampaikan tips suksesnya.

Di penghujung acara, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Suparto, mengatakan bahwa setiap era memiliki warna-warni tersendiri. Hal ini untuk menunjang kreativitas di setiap zaman. Suparto juga memberikan apresiasi terhadap acara CBX 2020 yang tetap berjalan meski di tengan pandemi Covid-19 dengan melakukan inovasi kegiatan melalui media daring.

Reporter: Rahmatul Hidayat

Bedah buku Jungkir Balik Pers dan Webinar Nasional : “Jurnalisme di Masa Pandemi Covid-19″

Bedah buku Jungkir Balik Pers dan Webinar Nasional : “Jurnalisme di Masa Pandemi Covid-19″

Gun Gun Heryanto, Dewan Pembina P2KM & Dosen Komunikasi Politik Fidikom UIN Jakarta dalam “Bedah Buku Jungkir Balik Pers

Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan diskusi ketiga bertajuk “Bedah buku Jungkir Balik Pers dan Webinar Nasional : Jurnalisme di Masa Pandemi Covid-19” pada Kamis, (7/10/2020). Webinar ini dihadiri oleh tiga narasumber diantaranya Penulis Buku & Pemimpin Redaksi Republika 2010-2016, Nasihin Masha, Pakar Komunikasi Politik, Dewan Pembina P2KM & Dosen FIDIKOM UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto , Presiden KJB Indonesia & Public Speaker, Nikmatus Sholikah. Juga ada sambutan dari Guru Besar Ilmu Komunikasi sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Jakarta, Andi Faisal Bakti, Dekan Fidikom UIN Jakarta, Suparto, dan General Manager Republika Penerbit, Syahruddin El Fikri yang dipandu oleh host Deden Mauli Drajat serta moderator Dedi Fahrudin.

Syahrudin El Fikri mengatakan bahwa buku Jungkir Balik Pers ini sudah terbit sejak bulan September kemarin. Konten di dalamnya sangat memberikan gambaran bagaimana perjalanan jurnalis dan pers di Indonesia.

Selanjutnya, Andi Faisal Bakti sangat merekomendasikan buku ini kepada mahasiswa komunikasi. Dimana buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah untuk dipahami.

“…Agaknya buku ini mencoba untuk menelusuri perjalanan pers utamanya di Indonesia. Pers sebagai sumber informasi, kemudian pada masa disrupsi, masa informasi pers digital, kemudian ada transformasi dalam mencari informasi di kalangan publik yang lalu berlangganan koran sebagai sumber informasi, kemudian berubah orang untuk mencari sumber informasi selain koran. Saya pikir ini juga mewarnai jungkir balik pers.” Ungkap Suparto

Selanjutnya, masuk pada sesi diskusi bedah buku yang di awali oleh Penulis Buku & Pemimpin Redaksi Republika 2010-2016, Nasihin Masha mengatakan bahwa tema pada diskusi ini menjadi sebuah perspektif dari salah satu sisi dalam buku ini.

“Pers pada masa corona ini setidaknya ada empat isu yang bisa di diskusikan oleh mahasiswa. Dari sisi konten itu sendiri bagaimana pers melihat corona ini menulis apa saja atau meliput apa saja, lalu bagaimana sudut pandang politik pemberitaannya, lalu isu yang diangkat itu jelas antara  economy first  atau public safety first , bagaimana dampak pandemik terhadap isu-isu pers tersebut secara ekonomi…” Ungkap Nasihin

Selanjutnya, Dewan Pembina P2KM & Dosen Fidikom UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto mengungkapkan dalam buku ini menyodorkan bahwa media itu bukan ruang hampa, memberikan perspektif ruang pergulatan wacana media yang kompleks. “Konteks dinamis pers dalam membaca tema kali ini menurut saya ada empat, demokrasi semakin terbuka yang kemudian setiap orang memanfaatkan freedom ini dengan caranya

masing-masing, kemudian yang kedua konvergensi media multi-platform yang kemudian sangat signifikan pengaruhnya, kemudian konsentrasi media terutama adanya konglomerasi, kemudian yang terakhir ada persoalan yang berkaitan dengan bencana non alam yaitu pandemi.” Ungkap Gun Gun.

Media itu turut memberikan sosialisasi nilai, peradaban, kemudian dalam beberapa hal menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat. Di sisi lain media berperan sebagai aktor politik, yang mana media adalah infrastruktur. Salah satu yang menjadi penggerak perubahan di dunia adalah media.

“…Tradisi membaca koran mulai tergerus, melihat time per day spent using internet Indonesia hampir 7 jam, yang sangat mengubah banyak hal dalam proses konsumsi informasi, Jangan sampai di tengah pandemi ini media sebagai bagian mata rantai sumber hoax. Peran pers harus menjadi partisipan demokratis..” Ujar Gun Gun.

Selanjutnya, Presiden KJB Indonesia & Public Speaker, Nikmatus Sholikah mengungkapkan di tengah pandemi ini jurnalis sebagai titik nadi informasi publik.

Permasalahan yang terjadi pada jurnalis di masa Covid-19 ini adanya tekanan psikologis jurnalis. Dilansir dari Center of Economy Development Study (CEDS) 45,92% wartawan mengalami gejala depresi dan 57,14% wartawan mengalami kejenuhan umum, Angle berita yang monoton, ketimpangan informasi, dan ancaman PHK.

“… Jadi jurnalis ini sebuah pekerjaan sekaligus amanah yang luar biasa dengan berbagai kondisi mereka tetap harus melakukan peliputan, garda terdepan bukan hanya seorang di bidang kesehatan, jurnalis juga perlu diberi atensi di mana pentingnya jurnalis di masa pandemi.” Ungkap Nikmatus

Pers sebagai pihak yang penting dalam memberi suara, yang memberi penerang dalam proses kehidupan masyarakat. Posisi pers menjadi sangat signifikan dalam kondisi saat ini melawan banyaknya berita hoax. Diharapkan Pers tetap harus memegang teguh sebagai teman dalam perjalanan peradaban manusia.

Repoter: Safitri Handayani