Peluang di Dunia Pertelevisian dan Tantangan di Era Industri 4.0

Peluang di Dunia Pertelevisian dan Tantangan di Era Industri 4.0

Poster Web Seminar Nasional Broadcasting 2020, Tema Peluang dan Tantangan Berkarir di Bidang Pertelevisian

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DKI Jakarta bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menggelar Web Seminar Nasional (Webinar Nasional) dengan topik pembahasan “Peluang dan Tantangan Karir di Bidang Pertelevisian”. Seminar tersebut dilaksanakan melalui aplikasi Zoom, Senin (24/8).

Seminar tersebut membahas tentang strategi yang dapat dilakukan bidang penyiaran agar tidak tertinggal dan bisa memanfaatkan era digital seperti sekarang.

Berada dalam era disrupsi dan era new normal ini kita dituntut untuk memasuki dunia digital. The World is Going Digital, berdasarkan data dari Statista, Mitechnews, Merchdrope, sebanyak lebih dari 80% pengguna handphone memakai internet. Semua terkoneksi dengan dunia digital.

Pandemi Covid-19 sudah menjadi tantangan bagi bidang penyiaran untuk saat ini meskipun tidak terlalu terganggu namun Covid-19 melahirkan tantangan kesehatan dan ekonomi bagi dunia penyiaran.

Web Seminar Nasional Broadcasting 2020 yang diselenggarakan KPID DKI JAKARTA dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tidak hanya memberi tantangan, disrupsi digital sekaligus menjadi peluang baru bagi media. Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar, Retno Pinasti mengungkapkan selain memberikan tantangan, disrupsi digital melahirkan kembali kepercayaan jurnalisme media mainstream. Karena itu, untuk menimbulkan kredibilitas diharapkan mampu memproduksi konten untuk berbagai platform lainnya.

Retno Pinasti, Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar (sumber foto:kumparan)

Selain itu, ia menambahkan dalam produk jurnalistik juga perlu mempertahankan konten yang kredibel, pengemasan yang menarik seperti mengetahui format yang disukai penonton dan tentunya fokus pada konten yang ditayangkan.

Industri pertelevisian berinovasi memanfaatkan peluang dengan mengatur fokus segmentasi penyiaran, target audience, dan perlu adanya inovatif dalam penayangan. Selain itu melakukan strategi pemanfaatan multiple platform sehingga televisi tidak ditinggalkan melainkan berubah cara menontonnya.

 “Keberadaan televisi masih bisa diakses melalui konten streaming sehingga televisi masih diminati masyarakat.” Ungkap Ketua Asosiasi Televisi Swasta (ATVSI), Syafril Nasution.

Generasi muda harus mampu bersaing dan memanfaatkan peluang. Seperti yang diungkapkan oleh CEO Transmedia, Atiek Nur Wahyuni,

“…yang perlu disiapkan sebagai fresh graduated selain persyaratan khusus perusahaan, memasuki era disrupsi harus meningkatkan kualitas karena sudah masuk dunia digital. Era sudah berubah jadi harus ada penambahan knowledge atau skill tertentu.” Pungkas Atiek.

Tantangan abad ke-21 ini membutuhkan masyarakat yang berpikir kritis (out of the box). Tidak hanya ide yang dihasilkan namun juga kemampuan sumber daya manusianya yang perlu ditingkatkan agar dunia penyiaran televisi dapat terus bersaing.

Reporter: Wafa Thuroya Balqis

UIN Jakarta Habiskan 1,1 M untuk Kuota, Begini Penjelasanya.

UIN Jakarta Habiskan 1,1 M untuk Kuota, Begini Penjelasanya.

Ilustrasi rupiah (blog.e-mas.co.)

Berita yang termuat di laman IDN Times pada (23/7), tentang UIN Jakarta habiskan Rp1.1 M untuk internet mahasiswa sempat menjadi pembicaraan hangat di kalangan mahasiswa UIN Jakarta beberapa waktu belakangan ini. Berita tersebut memuat Rektor UIN Jakarta Amany Lubis menyiapkan anggaran pembelian kouta dan pulsa perdana untuk mahasiswa dalam masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Departemen Aksi dan Propaganda Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Jakarta, Sony Aldiantoro mengungkapkan kekecewannya terhadap lambatnya kebijakan pimpinan kampus menangani masalah pembelajaran jarak jauh.

“Memang sangat mengecewakan gitu, khususnya dari kemarin dari awal corona kami terus memberikan surat pernyataan, rilis sikap agar rektorat memberikan bantuan, bantuan, bantuan dan baru hari ini di terapkan,” ujarnya.

Menanggapi berita IDN Times tersebut Sony berpendapat bahwa pimpinan UIN Jakarta banyak melakukan drama, karena sampai saat ini sebagai bagian dari mahasiswa Sony mengaku tidak menerima sepeserpun untuk kouta internet tersebut, kecuali 30 GB yang hanya diperuntukkan guna membuka Academic Information System (AIS) untuk melihat nilai dan perihal akademik lainnya.

“UIN memberikan bantuan 30 GB tapi hanya untuk membuka AIS, sedangkan kami belajar tidak melalui AIS tapi melalui platform yang berbeda seperti Zoom, Google Meet, dll, itu pun membutuhkan kouta dan di sini berarti sangat merugikan sekali,” tambahnya dalam mengungkapkan kekecewaan terhadap kebijakan kampus.

Dalam mengawal kebijakan kampus DEMA UIN Jakarta baik ketika ataupun sebelum pandemi merasa pimpinan kampus belum terketuk hatinya dan merespon dengan kurang baik terhadap niat baik dari teman-teman DEMA.

“Kami juga tidak bisa leluasa memberikan sumbangsih pemikiran berdiskusi, bagaimana membantu rektorat untuk memberikan kebijakan yang memang bermanfaat untuk mahasiswa,” jawabnya sebagai keluhan dari wabah pandemi ini.

Sementara itu, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan (PK) UIN Jakarta, Khairunas mengungkapkan pihak rektorat hanya menerima revisi anggaran dari tiap fakultas terkait kegiatan yang diajukan, jumlah anggaran fakultas ini sampai kepada Rp 1.1 M tapi tidak seluruhnya untuk mahasiswa, termasuk di dalamnya juga untuk dosen dan pegawai kampus.

Persentase jumlah anggaran yang diajukan cukup beragam, tergantung kepada kebutuhan kegiatan yang diajukan oleh tiap unit di tiap fakultasnya. Hal ini sebagaimana yang tertuang dalam pedoman pengelolaan belanja selama Covid 19 terutama tentang kouta internet.

“Surat pertanggung jawabannya sudah lengkap di situ, kami akan memproses pencairan sesuai usulan-usulan masing-masing fakultas” ujar Khairunas.

Anggaran biaya kuota internet tersebut menggunakan akun anggaran Bantuan Layanan Umum (BLU) kemudian dialokasikan kepada fakultas yang memiliki anggaran kegiatan untuk direvisi nantinya. Pihak rektorat mengaku tidak memiliki alokasi anggaran pendapatan BLU tersebut, karena sepenuhnya diberikan kepada kebijakan tiap fakultas masing-masing.

 “Anggaran rupiah murni sudah dipotong oleh pemerintah, anggaran UIN yang dipotong oleh pemerintah senilai 13 miliar lebih dari dana rupiah murni dan yang kita terima hanya dana BLU, sedangkan dana BLU tersebar ke fakultas-fakultas” tambahnya.

Khairunas juga menyampaikan alur pengajuan anggaran revisi terbilang cukup sulit, tiap unit fakultas diharuskan mengajukan revisi kegiatan terlebih dahulu dari kegiatan A ke kegiatan B, kemudian pihak biro PK mengajukan revisi anggaran tersebut kepada Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan dapat dicairkan setelahnya.

“Mungkin sekarang belum terealisasikan karena revisinya belum lama keluar, prosesnya agak lama juga karena belum bisa dilakukan revisi disebabkan anggaran UIN masih ada terblokir di Kementerian Anggaran,” tukasnya.

Pihak rektorat juga berharap fakultas cepat merealisasikannya, sehingga serapan anggaran kampus dapat kembali naik, mengingat serapan anggaran UIN Jakarta masih cukup kurang dibawah 60%, dan keseluruhan uang tersebut dapat beredar sesuai dengan alokasi anggaran di masing-masing unit fakultas.

Reporter: Farhan Effer Dalimunthe

New Normal dan Tantangan Perubahan Iklim

New Normal dan Tantangan Perubahan Iklim

Sabtu Pagi, Polusi Udara Jakarta Terburuk di Dunia
Ilustrasi polusi udara Jakarta (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Perubahan iklim dapat diukur dalam bentuk statistik melalui International Panel on Climate Change. Salah satu perubahan iklim yang sering terjadi adalah bencana alam yang terkait dengan peningkatan suhu bumi. Melansir dari Lingkunganhidup.co, suhu rata-rata bumi telah meningkat sebesar 1,5 derajat Farenheit di bandingkan beberapa abad lalu. Suhu kini diperkirakan akan naik lagi seratus tahun ke depan sebesar 0,5 sampai 8,6 derajat Farenheit.

Penyebab meningkatnya suhu bumi yang kini dihadapi adalah dampak dari Gas Rumah Kaca (GRK). Konsentrasi GRK semakin meningkat membuat lapisan atmosfer semakin tebal. Penebalan lapisan atmosfer ini akhirnya menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau pemanasan global.

Direktur  Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ruandha Agung Sugardiman menyampaikan, dari sejumlah perhitungan, emisi GRK nasional cenderung menurun pada Maret hingga Mei. Namun, emisi kembali naik pada Juni dan Juli seiring dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.

Era new normal mengalihkan fokus penggunaan energi dari perkantoran, sekolah, jalan raya, dan industri, berganti ke pengunaan energi rumah tangga sehingga ada kecenderungan pemakaian energi rumah tangga lebih boros.

Diungkapkan Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jabar, Rino Gumpar Hutasoit, pada video konferensi “PLN Rangers” yang digelar Selasa, 16 Juni 2020. Konsumsi listrik golongan pelanggan rumah tangga pada periode work from home (WFH) yang berlanjut dengan kebijakan PSBB naik 13%-20% per bulan. Kontribusi alat elektronik rumah tangga, seperti TV terhadap pemakaian listrik sekitar 15%-20%, alat penerangan berkontribusi 15%-20%, sedangkan AC mencapai 60%-70%.

Penggunaan energi rumah tangga juga menyumbang emisi GRK yang berdampak pada pencemaran udara dan menimbulkan permasalahan kesehatan. Mengutip dari coaction.id, pakar epidemologi Universitas Indonesia Budi Haryanto, mengatakan, partikel halus berukuran kurang dari 10 mikrometer (PM10) juga dapat meningkatkan kematian 5%-10% jika dihirup manusia dan menyebabkan sejumlah penyakit pernapasan. Sementara itu, berdasarkan penelitian KLHK di Jakarta pada 2010, menunjukkan 57,8% penyakit yang ada di Jakarta berkaitan dengan polusi udara.

Senada dengan hal tersebut aktivis lingkungan Climate Rangers, Mitha Afrida melalui  DNKTV menjelaskan urgensi masyarakat untuk melakukan upaya hemat energi guna mengurangi emisi karbon yang berakibat pada krisis iklim dan bencana ekologis.

“Bila kita tidak cukup peduli untuk menghemat energi, maka kita harus menerima risiko bila di hari depan bukan tidak menutup kemungkinan akan ada virus vektor yang lebih berbahaya dari Covid-19. Juga satu dekade lagi menuju tahun 2030, dimana agenda dan cita-cita kita untuk tidak melampaui 1.5 derajat farenheit suhu rata-rata global, sudah sepatutnya kita panik. Sudah sepatutnya kita jorjoran dalam mengatasi krisis ini”.

Lebih dari sekadar memenuhi protokol kesehatan, layaknya membiasakan diri menggunakan masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan menjaga jarak di tengah pandemi. New normal perlu dimaknai spiritnya sebagai sebuah tindakan untuk mewujudkan lingkungan berkelanjutan dalam menghadapai krisis iklim. Mitha memaparkan upaya apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi emisi karbon dari langkah sederhana di kehidupan sehari-hari:

  1. Mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak digunakan

Menghemat energi dengan cara mematikan lampu dan peralatan elektronik di rumah selama satu jam setara dengan biaya untuk memberikan akses listrik kepada satu rumah tangga di daerah terpencil.

  • Beralih pada powerbank tenaga surya 

Penggunaan gawai sehari-hari memerlukan pengisian daya yang lumayan tinggi, kita dapat mulai beralih menggunakan powerbank tenaga surya untuk men-charge gawai.

  • Menghabiskan makanan yang kita konsumsi

Sampah makanan yang tercampur dengan materi anorganik di tempat pembuangan akhir (TPA) akan menghasilkan gas metana. Gas metana 25 kali lebih berbahaya dari gas karbondioksida yang menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca. Selain itu, bau busuk yang dihasilkan dari sampah makanan juga dapat mengganggu kestabilan ekosistem dan menjadi pencemaran pada tanah dan air.

  • Membatasi penggunaan plastik sekali pakai

Proses produksi plastik, dimulai dari ekstraski minyak bumi hingga pengolahan sampah menghasilkan emisi karbon yang sangat tinggi. Semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan, maka semakin tinggi konsentrasi gas-gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Konsentrasi gas rumah kaca yang tinggi di atmosfer menyebabkan peningkatan suhu bumi dan berujung pada krisis iklim.

Reporter: Tiara De Silvanita

Aksi #SavePulauPari Desak Pemerintah Selesaikan Konflik Lahan

Aksi #SavePulauPari Desak Pemerintah Selesaikan Konflik Lahan

Massa Aksi #SavePulauPari di Ombudsman Republik Indonesia (ORI) dan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/8/2020). (WALHI DKI Jakarta)

Warga Pulau Pari, Kepulauan Seribu bersama Koalisi Selamatkan Pulau Pari (KSPP) melakukan aksi damai mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan konflik lahan di Pulau Pari. Massa aksi membawa sejumlah spanduk bertuliskan #savepulaupari di Ombudsman Republik Indonesia (ORI) dan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Ombudsman melalui laporan Warga Pulau Pari telah melakukan penyelidikan dan menemukan adanya mal administrasi dalam penerbitan 62  Sertifikat Hak Milik (SHM) dan 14 Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) atas nama dua perusahaan, yaitu PT Bumi Pari Asri dan PT Bumi Griya Nusa.

Praktik mal administrasi tersebut telah diterbitkan di dalam Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP) Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jakarta Raya (Ombudsman Jakarta) Nomor 0314/LM/IV/2017/JKT pada tanggal 9 April 2018. LAHP tersebut menyatakan bahwa adanya temuan mal administrasi penyimpangan prosedur, penyalahgunaan wewenang dan pengabaian kewajiban hukum oleh Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Utara.

Menyikapi hal tersebut, warga Pulau Pari bersama KSPP menuntut:

1. Kepada Ombudsman Republik Indonesia, untuk segera mengeluarkan rekomendasi dari LAHP yang menyebutkan mal administrasi 14 SHGB dan 62 SHM perusahaan.

2. Kepada Gubernur DKI Jakarta, untuk segera memberikan sikap untuk melindungi warga Pulau Pari beserta ruang hidupnya melalui regulasi/kebijakan/keputusan Gubernur DKI Jakarta, sebagaimana yang telah dimandatkan oleh Putusan MK No.3/PUU-VIII/2010 serta UU No.7 Tahun 2016.

Ketua Forum Peduli Pulau Pari (FP3), Mustaghfirin mengatakan bahwa warga Pulau Pari menuntut Pemerintah Pusat dan Pemerintah DKI Jakarta untuk segera memberikan kembali hak masyarakat  yaitu kepastian pengakuan atas ruang hidup di Pulau Pari.

“Ombudsman Republik Indonesia harus segera mengeluarkan rekomendasi hasil dari LAHP yang menyebutkan bahwa 14 SHGB dan 62 SHM perusahaan adalah mal administrasi. Rekomendasi itu sangat penting untuk kami warga Pulau Pari agar kami dapat kembali hidup di ruang hidup kami (Pulau Pari) tanpa adanya ancaman dan intimidasi dari perusahaan” ungkap Mustaghfirin melaui siaran pers Pulihkan Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Pasalnya warga Pulau Pari sudah menunggu rekomendasi hasil LAHP selama dua tahun. Namun, hingga saat ini Ombudsman RI belum menerbitkannya. Proses berlarut ini disebut mengancam   warga Pulau Pari dan gagalnya pemenuhan hak konstitusional nelayan Indonesia, salah satunya adalah hak mendapatkan manfaat dari sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil.

Reporter: Tiara De Silvanita

Kelas Jurnalis Cilik, Karya DNK TV Jadi Karya Favorit AJI

Kelas Jurnalis Cilik, Karya DNK TV Jadi Karya Favorit AJI

Syamsud Ilyas, Founder Kelas Jurnalistik Cilik

Kelas Jurnalis Cilik (KJC) dari DNK TV UIN Jakarta keluar sebagai salah satu dari lima nominasi karya terbaik pada perhelatan kompetisi pers mahasiswa yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Pengumuman tersebut disampaikan  melalui website AJI pada (10/8/2020) pada pukul 16:35 WIB.

Kompetisi tersebut diikuti oleh 137 karya jurnalistik pers kampus dari berbagai daerah, diantaranya Jakarta, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar dan beberapa daerah lainnya. Produk jurnalistik yang mengikuti kompetisi ini menggunakan multi platform. Mulai dari media cetak, online, podcast dan video. Serta tema yang diangkat pun beragam, tidak hanya persoalan di dalam kampus, namun, beragam persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Seperti kontroversi undang-undang, konflik lahan, isu pendidikan, penggusuran, isu pendidikan, perampasan hak, kekerasan seksual hingga soal pandemi. Dengan kriteria patokan dalam penilaian yakni kekuatan ide,  konten dan penyajian.

Kelas jurnalis cilik sendiri merupakan sebuah komunitas pendidikan jurnalis bagi anak-anak di sekitar pantai pesisir Jakarta. Tepatnya di Cilincing, Jakarta Utara. KJC didirikan oleh Syamsudin Ilyas yang mulai mendirikanya pada 2015. Namun, karena terhambat oleh tim, KJC sendiri baru berjalan pada 2018 lalu.

Sebagai seorang anak-anak pesisir yang pernah terjun dan bergiat dalam dunia jurnalistik, ia bertekad ingin mengenalkan dunia jurnalis dan memberikan wadah dan keterampilan bagi anak-anak pesisir agar bisa bermanfaat begi orang banyak, khususnya dalam dunia jurnalistik.

Materi yang diajarkan pada KJC merupakan materi dasar jurnalistik seperti teknik penulisan dasar 5W+1H, reportase, teknik photograpy dan mengajarkan kepada mereka untuk terjun ke lapangan untuk mempraktikkan materi yang diajarkan.

Sebagai seorang inisiator, ia memiliki harapan dan pandangan ke depan agar kelas jurnalis bukan hanya ada di Pantai Pesisir Cilincing, melainkan di kemudian hari ada kelas jurnalis di pesisir-pesisir di seluruh Indonesia.

Produser karya KJC, Maesa Rani Cahyani, yang memenangi nominasi terfavorit sangat bersyukur  atas pencapaian prestasi ini.

‘’Alhamdulillahi rabbil alamin, ini bisa jadi pembelajaran ke depan untuk kita semua, DNKTV khususnya, untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik bagi karya-karya selanjutnya’’ ujarnya.

Selain itu, ia pun berharap agar KJC selalu menjadi wadah untuk anak-anak yang ingin belajar mendalami kegiatan jurnalistik, dan pemerintah sekitar lebih memberikan perhatian kepada KJC agar kegiatan tersebut dapat berlangsung lebih nyaman dan menyenangkan.

Bukan hanya menitipkan harapanya terhadap KJC, ia pun berharap, dengan prestasi ini agar teman-temannya di DNK TV dapat semakin produktif  dan sesuai apa yang dikatakan oleh AJI, pers mahasiswa masih harus setia di garis perjuangan, berpihak kepada kemanusian dan menyuarakan orang-orang yang tidak bersuara.

Reporter: Sadam Al Ghifari

LEBIH MENGENAL DAERAH TEMPAT TINGGAL MELALUI KKN-DR

LEBIH MENGENAL DAERAH TEMPAT TINGGAL MELALUI KKN-DR

Kegiatan KKN-DR Nabiella, pendampingan pembelajaran jarak jauh.

Melihat kondisi terkini yang belum sepenuhnya pulih pasca diumumkannya Covid 19 sebagai wabah nasional, Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) UIN Jakarta memberlakukan pelaksanan  kegiatan Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN DR) terhitung pada tanggal 1 Juli 2020 – 31 Agustus 2020.

Kamarusdiana Kepala Pusat PPM turut mengungkapkan tahun ini adalah tahun yang tidak ideal dalam pelaksanaan KKN secara reguler karena menghindari pertemuan fisik secara kelompok dan  tidak ada izin dari pemerintah daerah untuk melaksanakan KKN langsung mulai dari tingkat kabupaten , kecamatan ataupun kelurahan yang telah melakukan kerjasama sebelumnya.

Peserta  berjumlah 4100 mahasiswa, kini diharapkan dapat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar tempat tinggal. Mulai  dari mendeskripsikan bagaimana situasi ekonomi, situasi pendidikan dan situasi ibadah sosial keagamaan.

Peserta KKN-DR sekaligus mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum, Nabiella Aulia di Cilegon yang merupakan salah satu daerah urban dekat dengan pelabuhan merak. Merasa kesulitan menemukan program kerja yang sesuai.

“Mencari program KKN juga sebenarnya agak sulit terlebih lagi daerah saya masyarakatnya tergolong aktif sudah serba ada, kurang lebih hanya sekedar membantu, jadi kurang dapat sisi pengapdian ke masyarakatannya,” ujarnya.

Dalam video unggahan di laman YouTubePPM UIN Jakarta, menjaskan tema KKN-DR yaitu Kuliah Kerja Nyata: Upaya Pencegahan Covid-19 Berbasis Kesadaran Masyarakat dan Penanganan Dampak  yang Ditimbulkannya. Secara administratif KKN-DR dilaksanakan secara kelompok namun secara praktik dilaksanakan secara individu dilingkungan tempat tinggal masing-masing peserta.

“KKN-DR ini sedikit membantu menyadari bahwa kita di rumah sebagai mahasiswa di lingkungan sekitar belum banyak memberi kontribusi nyata kepada masyarakat (sekitar tempat tinggal) ,” Tambah Nabiella.

Reporter : Farhan Effer Dalimunthe

Moderasi Beragama di Mata Media

Moderasi Beragama di Mata Media

Web Seminar Moderasi Beragama di Mata Media (07/8)

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bekerja sama dengan Countering Violent Extremism In Indonesia (CONVEY) menggelar Webinar (Web Seminar) Series 7 bertajuk “Moderasi Beragama di Mata Media” pada Jumat (07/08). Webinar ini dihadiri oleh empat narasumber, diantaranya Makroen Sanjaya, Wakil Pemimpin Redaksi RTV, Savic Ali, Direktur NU Online dan Islami.co, Muhammad Hanifuddin, Pemimpin Redaksi Buletin Jumat Muslim Muda Indonesia, dan Ed Sepsha, Jurnalis Kyodo News untuk Kantor Berita Jepang dengan moderator Jamhari Makruf (Team Leader CONVEY Indonesia). Acara ini dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi Zoom yang dihadiri oleh peserta dari seluruh Indonesia dan disiarkan langsung di YouTube Convey Indonesia.

Seminar kali ini menitikberatkan pada moderasi beragama di media. Fokus utamanya adalah mengetahui bagaimana cara memaksimalkan media yang ada untuk menyebarkan ajaran Islam yang moderat.

Makroen Sanjaya menjelaskan bahwa pengisi acara keagamaan di televisi bersifat populis. Perspektif ekonomi media juga lebih dominan, ketimbang perspektif fungsi ideal media sebagai informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

Jika program agama dakwah Islam tersebut tidak berkiprah dan mencapai target audiens maka program tersebut akan dihapus atau diganti. Sehingga perspektif ekonomi medianya lebih dominan.  Pungkas Makroen.

Selain itu, internet menjadi platform yang menonjol dalam penyebaran dan diskusi ide-ide keagamaan, sehingga memungkinkan banyaknya gerakan agama baru memasuki ranah publik, dan mengubah cara lembaga keagamaan berinteraksi dengan komunitas mereka.

“Penutur agama tumbuh subur di media sosial. Bebas menyebarluaskan pemahaman mereka masing-masing.” Ujarnya.

Savic Ali juga menjelaskan bahwa masa depan Indonesia akan dipengaruhi oleh apa yang berlangsung di dunia online.

“Realitas 93% orang Indonesia menganggap agama sangat penting dalam hidup. Lebih tinggi dari Mesir, Malaysia dan lainnya, maka transformasi lewat jalur keagamaan sangat berperan.” Ujar Savic.

Menurut riset yang dilakukan Savic, media keislaman memiliki pembaca khususnya sendiri sehingga media yang bersifat intoleran mulai tergeser. Media umum seperti Kompas dan Tribunnews pun mulai menulis isu-isu keislaman.

Muhammad Hanifuddin menjelaskan konten islami yang ditampilkan harus fokus mengutamakan moderasi beragama. Sumber-sumbernya dengan mengombinasikan data klasik dan kekinian agar mudah diserap oleh berbagai kalangan.

“Terkait dengan konten, kita fokus mengutamakan moderasi beragama dan itu mempengaruhi narasi dan framing dari setiap berita yang kita kemas.”

Selanjutnya, Ed Sepsha menyarankan kepada media di Indonesia khususnya, agar membuat berita-berita Islam yang memberikan citra positif. Kebanyakan isu agama di media Internasional masih mengangkat tema hari besar. Tantangannya adalah bagaimana media memberitakan citra Islam di Indonesia tidak seperti di timur tengah.

“Kebanyakan liputan agama masih ceremonial, masih peristiwa, serangan. Tapi sisi-sisi humanis mengenai keagamaan belum banyak diangkat.”

Dengan adanya seminar ini diharapkan media dapat menyiarkan ajaran Islam moderat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Reporter: Erika Oktaviani

Tren Bisnis Kuliner di Tengah Pandemi

Tren Bisnis Kuliner di Tengah Pandemi

Ilustrasi e-commerce. (Istockphoto/scyther5)

Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia, termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini membuat semua orang harus lebih sering berada di rumah agar terhindar dari Covid-19. Hal ini berdampak pada terhambatnya aktivitas masyarakat dan hampir semuanya harus dilakukan secara online, termasuk pola konsumsi yang saat ini berubah. Pergi ke restaurant untuk makan bersama keluarga, teman, atau orang terdekat sudah jarang dilakukan, banyak orang memilih memesan makanan untuk dibawa pulang atau memesan melalui aplikasi ojek online.

Pemerintah mulai memberlakukan new normal terhitung sejak 1 Juni 2020, hal tersebut menuntut masyarakat untuk lebih produkti di tengah pandemi. Salah satunya adalah dengan memulai bisnis kuliner online. Banyak orang lebih kreatif dalam memasak selama dirumah saja dan menjadikannya sebagai ide bisnis kuliner online dengan berbagai macam makanan dan minuman. Bisnis kuliner online tidak hanya dilakukan oleh para ibu rumah tangga saja tetapi juga para mahasiswa. Tentu saja banyak terjadi persaingan, baik di daerah maupun kota. Karena, banyak mahasiswa yang tidak bisa beraktivitas bebas keluar rumah, maka memulai bisnis kuliner online adalah salah satu kegiatan yang bisa dilakukan ditengah pandemi, mulai dari makanan dessert, kopi kekinian, roti, dari makanan kemasan sampai makanan homemade.

Hal yang paling penting dalam memulai bisnis adalah story telling. Ada cerita dibalik produk yang dijual, dan apa yang membuat produk berbeda dari yang lain. Melakukan promosi adalah hal yang harus dilakukan secara rutin, misalnya selalu aktif mengunggah  insta story instagram atau mempublikasikan diberbagai media sosial. Ide penjualan selalu diperbarui, dan cari keunggulan produk.

Persaingan yang sangat ketat ini tentu harus melakukan hal yang inovatif untuk bertahan, seperti yang dikatakan Mentor Bisnis Kuliner, Lucy Wiryono.

“Beradaptasi di new normal ini sangat survive, contoh dari produk saya yaitu steak yang sekarang dikemas menjadi frozen food, jadi lakukan suatu hal yang beda agar produk kalian tetap bertahan dan konsumen tetap bisa menikmati.” Ungkapnya dalam web seminar  “Tren Bisnis Kuliner di tengah Pandemi” (27/8).

ilustrasibisniskuliner online. (net)

Mengutip Kompas.com (17/06/2020) menurut Owner dari Salad Point ID, Putra Siburian mengatakan pada masa pandemi penjualan salad point ID terbilang naik. Sebagai pelaku bisnis kamu harus membaca dan melihat apa yang dibutuhkan pasar.

“Kita lihat penjualnnya lagi naik, karena gaya hidup sehat juga menjadi tren saat ini. Namun hidup sehat untuk menjaga imunitas tubuh bukan untuk diet.” ungkap Putra.

Mental yang kuat juga diperlukan untuk menjadi pebisnis. Makin besar bisnis makin banyak stakeholder yang datang. Kalau sudah ada ide bisnis mulai saja terlebih dulu. Tahap critical eleven dalam berbisnis ada di tiga bulan pertama, bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk evaluasi bisnis kuliner online, mulai dari peminatnya menurun atau bahkan melonjak. Maka diperlukan konsistensi dan mental yang kuat.

Nah, ada beberapa tips dalam memulai bisnis online agar tetap bertahan dalam persaingan yang ketat. Pertama siapkan budgeting atau pendanaan yang baik sesuai kebutuhan, kedua buatlah pemasaran yang matang, ketiga konsistensi dalam berjualan adalah kunci dalam berbisnis, keempat  harus menanamkan mental baja, karena dalam berbisnis tentu saja ada masalah yang muncul baik dari konsumen yang banyak komplen, atau masalah karyawan dan sebagainya, terakhir sebagai owner harus selalu bersikap ramah kepada konsumen, dan selalu berusaha menyenangkan konsumen.

Reporter: Yelin Anisa

Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 Mempengaruhi Perubahan Perilaku Masyarakat

Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 Mempengaruhi Perubahan Perilaku Masyarakat

Diskusi Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 (5/8)

Program Studi Magister Komunikasi Penyiaran Islam atau KPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Web Seminar (Webinar) Nasional dengan tema “Komunikasi Publik dalam Penanganan Covid-19 di Era New Normal. Apakah Bisa Mengubah Perilaku Masyarakat?”. Melalui aplikasi Zoom, Rabu (5/8), acara ini diselenggarakan guna mengetahui pentingnya peran komunikasi publik dalam penanganan Covid-19 bagi perubahan perilaku masyarakat.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., dengan dimoderatori oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia, Jojo S. Nugroho. Materi yang dibahas pada acara ini disampaikan oleh 3 pembicara, yaitu Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta, Dr. Gun Gun Heryanto M.Si., Anggota Komisi III DPR RI, Johan Sapto Pribowo, dan Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati.

Topik utama dalam diskusi webinar ini terkait masalah komunikasi publik yang selama ini dilakukan, terutama oleh pemerintah guna menginformasikan kepada masyarakat mengenai kebijakan-kebijakan untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Serta bagaimana komunikasi publik yang diterima masyarakat tersebut, baik melalui media massa atau sosial dapat berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat dalam menanggapi pandemi Covid-19 ini.

Menurut Johan Budi, komunikasi publik yang dilakukan oleh pemerintah belum sepenuhnya maksimal karena sering terjadinya kendala berupa miskomunikasi yang terjadi di dalam pemerintahan saat menginformasikan mengenai Covid-19, seperti beberapa perbedaan pernyataan dan data oleh Juru Bicara Covid-19 dengan beberapa gurbernur dan Menteri Kesehatan. Hal ini pun menimbulkan keraguan pada persepsi masyarakat dalam menanggapi dan bertindak saat pandemi Covid-19 ini.

Ia pun menjelaskan mengenai manajemen komunikasi krisis yang harus dilakukan pemerintah agar masyarakat dapat menerima dengan baik dan tepat mengenai informasi Covid-19, seperti mengidentifikasikan penyebab dan dampak Covid-19 agar di dalam masyarakat tidak memunculkan hal negatif dan lelucon mengenai Covid-19, memberikan informasi dengan jelas dan merata, membangun persepsi publik melalui media massa dan sosial, mampu me-recovery keadaan krisis, mengumpulkan sumber daya, serta cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Dalam bertindak, pemerintah pun tidak hanya bekerja di depan layar namun juga giat bekerja di balik layar.

Dalam penjelasan Adita sebagai perwakilan Kementerian Perhubungan, pemerintah telah berupaya melakukan strategi komunikasi publik dalam penanganan pandemi Covid-19. Melalui arahan Presiden, pemerintah melakukan komunikasi yang partisipatif, membangun kepercayaan yang berbasis ilmu pengetahuan dan data sains guna membangkitkan partisipasi masyarakat dan memastikan kembali gerakan nasional disiplin protokol kesehatan. Pemerintah pun melibatkan berbagai pihak seperti Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK serta penyebarluasan komunikasi dalam berbagai bentuk setiap harinya di program relawan, media center (TV dan radio), media sosial, SMS blast, dll.

Mengenai tingkat pengetahuan masyarakat, Adita memaparkan data dari berbagai survei yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Covid-19 cukup tinggi. Namun hal itu berbanding terbalik dengan perilaku yang dilakukan masyarakat lebih banyak melanggar aturan. Melihat hal ini, ia pun menyarankan agar semua unsur harus bergerak bersama-sama dengan berkolaborasi dan saling mendukung agar penyebaran Covid-19 dapat terselesaikan.

Ia pun menjelaskan mengenai diksi new normal yang sudah pemerintah gantikan dengan diksi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Hal ini dikarenakan penggunaan istilah new normal dapat membingungkan masyarakat yang justru diartikan masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Dalam hal ini, menurut Gun Gun Heryanto menilai perubahan diksi new normal juga penting karena pemahaman mengenai diksi ini mengakibatkan polemik di masyarakat hingga sekarang.

Gun Gun Heryanto, Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta

Dalam kesimpulannya, Gun Gun Heriyanto menyarankan agar pemerintah memperkuat kebijakan dan komunikasi kebijakan terkait dengan adaptasi kebijakan baru dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi, menguatkan narasi komunikasi publik: kata-kata dan tindakan simbolik, handling isu media dan media sosial, dan memperkuat strategi kolaborasi.

Reporter: Laode M. Akbar H.

Uji Vaksin Virus Covid-19 di Indonesia

Uji Vaksin Virus Covid-19 di Indonesia

Sumber : HerStory

Terhitung sudah hampir lima bulan, sejak tanggal 2 Maret 2020 untuk pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia. Hingga memasuki bulan Agustus 2020, Akumulasi kasus terkonfirmasi Covid-19 terus bertambah dan belum menunjukan tanda-tanda penurunan atau bahkan berakhir. Kasus penyebaran covid-19 di Indonesia sampai pada angka 109.936 kasus. Dikutip dari situs covid-19.go.id, jumlah pasien yang sembuh tercatat sekitar 61,8 persen sedangkan jumlah pasien yang meninggal sekitar 4,7 persen dari kasus terkonfirmasi. Sementara itu, penularan Covid-19 secara keseluruhan hingga saat ini terjadi di 476 kabupaten/kota yang berada di 34 provinsi. Kondisi di atas adalah cerminan di mana sudah tidak bisa dikatakan aman dan pemerintah harus segera bergerak lebih cepat.

Biofarma dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Indonesia akan melakukan Uji Klinis Fase tiga calon vaksin Covid-19  yang berasal dari produksi Sinovac Biotech asal China. Di Indonesia, Sinovac bekerja sama dengan Bio Farma untuk   memproduksi vaksin virus Corona. Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, vaksin Covid-19 buatan perusahaan yang berbasis di Beijing ini sudah melewati uji klinis fase I dan II. Uji coba fase I dan II biasanya melakukan tes keamanan suatu vaksin sebelum memasuki tahap III yang menguji kemanjurannya.

Selama dua dekade terakhir, Sinovac telah mengembangkan dan mengomersilkan enam vaksin untuk manusia dan satu untuk hewan. Kemudian akhir Juni 2020 lalu Sinovac mulai mengembangkan calon vaksin Corona, dan sedang mempersiapkan pabrik pabrik untuk  vaksin ini.  Mendengar hal ini, banyak pihak seperti  PT besar yang mendukung kebijakan ini. Salah satunya Palang Merah Indonesia yang turut Memberi dukungan dan menyambut baik kehadiran vaksin Sinovac meski baru permulaan saja. Selain PMI, PT Pharos Tbk Hadi Kardoko juga turut serta dalam mendukung kegiatan ini.

Sumber : Gesuri.id

Pada awal Agustus 2020 ini, usai mendapat izin penelitian dari Komite Etik Penelitian Universitas Padjajaran, vaksin Sinovac akan di uji cobakan kepada 1.620 relawan warga Kota Bandung. Untuk itu pembukaan pendaftaran relawan uji klinis resmi dibuka terhitung sejak Senin (27/7/2020). Saat ini sebanyak 2.400 vaksin Sinovac telah diterima oleh pemerintah Indonesia dan sedang dipersiapkan masuk dalam tahap III.

“Masyarakat diharapkan tidak khawatir terkait vaksin yang berasal dari China ini, karena uji klinis tahap tiga dipastikan aman. Sebab, vaksin tersebut sudah melalui uji klinis tahap satu dan dua.  Vaksin yang di uji klinis hingga tahap tiga bisa dipastikan aman. Jadi kalau tidak lolos fase satu, fase dua enggak mungkin bisa lompat ke fase tiga walaupun dalam keadaan emergency.” Kata Pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono.

Terkait tempat fasilitas kesehatan di Bandung  yang akan digunakan untuk penelitian Uji Klinis yakni Rumah Sakit Pendidikan UNPAD, Balai Kesehatan UNPAD, Puskesmas Sukapakir, Puskesmas Dago, Puskesmas Ciumbuleuit, dan Puskesmas Garuda. ”Semua Faskes tersebut telah siap untuk berpartisipasi dalam penelitian Uji Klinis. Karena sebelumnya empat Puskesmas tersebut sudah memiliki pengalaman dalam hal uji vaksin.”  Ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota  Bandung, Rita Verita.

Selain itu hal ini tentu juga akan membutuhkan dana yang cukup besar. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Dany Amrul Ichdan menyebutkan dana yang harus dipersiapkan pemerintah adalah sekitar Rp 25 triliun-Rp 30 triliun untuk uji klinis vaksin Covid-19.  

Reporter: Tri Indah Seruni