Perkuliahan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Tetap Dilakukan Secara Daring

Perkuliahan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Tetap Dilakukan Secara Daring

Siaran Langsung Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademin Baru di Masa Pandemi Covid-19 melalui YouTube Kemendikbud (15/6)

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementrian Agama (Kemenag), Kementrian Kesehatan (Kemenkes), Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), mengumumkan Surat Keputusan Bersama terkait Panduan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19, Senin (15/6).

Tidak ada perubahan dalam kalender akademik, hanya saja pola pembelajaran tatap muka masih belum diperbolehkan. Tahun akademik perguruan tinggi 2020/2021 tetap dimulai pada Agustus 2020, dan tahun akademik perguruan tinggi keagamaan 2020/2021 pada September 2020.

Melalui konferensi pers di laman Youtube resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, pembelajaran di perguruan tinggi pada semua zona masih wajib dilaksanakan secara daring hingga ada kebijakan lebih lanjut. Prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat.

“Karena keselamatan adalah nomor satu, saat ini perguruan tinggi masih melakukan secara online sampai ke depannya mungkin kebijakan berubah. Tapi, sampai saat ini belum berubah, jadi masih melakukan secara daring. Itu adalah keputusan dari kemendikbud saat ini,” terang nadim.

Nadiem menyarankan untuk mata kuliah yang tidak dapat dilaksanakan secara daring untuk meletakannya di bagian akhir semester.

Sedangkan aktivitas prioritas yang mempengaruhi kelulusan mahasiswa seperti penelitian laboratorium untuk skripsi, tesis, dan disertasi, maka pemimpin perguruan tinggi boleh mengizinkan mahasiswa untuk ke kampus.

“Kalau ini aktivitas prioritas yang berdampak pada kelulusan, masing-masing pemimpin perguruan tinggi bisa mengizinkan aktivitas mahasiswa ke kampus hanya untuk itu,” ujarny.

Kendati demikian aktivitas tersebut harus tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

Reporter: Endy Ulul Azmi

Tantangan dan Kesempatan Dakwah Melalui Media Sosial

Tantangan dan Kesempatan Dakwah Melalui Media Sosial

Presiden Sayeda Khadija Centre, Toronto, Canada, Hamid Slimi (16/6)

Perkembangan media sosial belakangan ini mengambil peran besar dalam berbagai bidang kehidupan, begitu juga pada bidang dakwah dan komunikasi. Untuk itu Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Pusat Layanan Kerjasama Internasional (PLKI) dan Asosiasi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (ASKOPIS) Se-Jabodetabek menyelenggarakan Webinar (Web Seminar) Internasional yang kedua kalinya, dengan tema “Islamic Communication in the Era of Social Media: Challenges and Opportunities” guna mengedukasi masyarakat terutama mahasiswa mengenai tantangan dan kesempatan dakwah melalui media sosial.

Menggunakan aplikasi Zoom sebagai ruang temu diskusi dan disiarkan langsung melalui youtube DNK TV, acara ini dimulai pukul 20.00-23.00 WIB pada Jum’at (16/6) dan diikuti oleh 500 peserta dari beberapa negara seperti Indonesia, Kanada, USA, Nigeria, dan lainnya.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan welcoming address dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis diskusi ini turut menghadirkan enam narasumber yang kompeten dalam bidang Dakwah dan Komunikasi Internasional, diantaranya; Profesor Universitas & Direktur Pendiri Prince Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding, Direktur The Bridge Initiative ICC 260, Georgetown University Washington, USA, John L. Esposito; Ketua dan Guru besar Canadian Centre for Deen Studies, Imam dan Presiden Sayeda Khadija Centre, Toronto, Canada, Hamid Slimi; Fakultas Komunikasi dan Dekan Sekolah Studi Pascasarjana, Bayero University, Kano, Nigeria, Direktur Orbicom, Umar A Pate; Direktur/Imam di Jamaica Muslim Center New York, Presiden Yayasan Nusantara Amerika, Presiden Yayasan Muslim, Amerika, dan Pendiri Pondok Pesantren Nur Inka Nusantara Madani, Connecticut, AS, Muhammad Shamsi Ali; Profesor Komunikasi dan Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Pengembangan Kelembagaan, UIN Jakarta, Andi Faisal Bakti dan Direktur Nursi Research Center, International Islamic University Malaysia, Yusuf Kara.

            Di moderator oleh Dekan Fidikom, Suparto dan Ketua PLKI, Dadi Darmadi. Diskusi ini memberikan asupan pengetahuan baru dengan sub-topik yang beragam, dintaranya; Representasi Islam di Media Barat, Pemberitaan Media Sosial Islam di Kanada, Lembaga Media Islam di Afrika: Kasus Nigeria, Komunikasi Dakwah di US, Dakwah Virtual: Pelajar Aktif dan Mandiri Adalah Pesan Islam, serta Dakwah dan Media Sosial: Menyebar Luaskan Pemikiran Sa’id Nursi’s di Malaysia.

Konsep dari dakwah adalah berbagi informasi penting atau mengajak kepada semua hal yang baik. Dahulu dakwah tradisional menggunakan beberapa teknik dalam penyebaran syiar-nya seperti pidato, one on one, menulis bahan dakwah, role modeling , persahabatan dan  pertemuan harian. Namun seiring perkembangan zaman, dakwah modern mengambil alih dengan subliminal dakwah, pop culture, internet dan media sosial, social work/community development seperti dompet duafa, volunteer, dialog antaragama, dan philantrophy.

Dalam presentasinya Hamid Slimi menjelaskan bahwa teknologi informasi modern  memungkinkan kita menyelesaikan lebih banyak tugas dalam waktu singkat, dan menghasilkan produktivitas yang lebih besar dengan upaya sedikit. Menurutya media sosial adalah teknologi berbasis komputer yang memfasilitasi pertukaran ide, pemikiran, dan informasi yang dianggap membangun jaringan dan komunitas virtual. Media sosial memang berpeluang bagi dakwah dan komunikasi Islam selama hal tersebut mengikuti pedoman Islam yang esensial dan metodologi yang ditentukan. Namun, media sosial bisa menjadi sangat merusak, tidak adil, tidak profesional, dan tidak seimbang dalam pemberitaan jika jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, karena media memiliki kekuatan yang besar dalam hal menggiring opini masyarakat.

“…media sosial memiliki kekuatan untuk membawa pesan besar ke platform tertentu atau mengubah ide atau pemikiran” ujar Slimi.

Perkembangan media menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para da’i dalam menyampaikan dakwahnya. Banyak isu negatif yang memang seolah menjadi bagian yang normal dalam kehidupan umat, terutama di negara bagian barat. Seperti ketidakadilan berkedok Islam, teroris, pencemaran nama baik Islam dan hal negatif lainnya yang menimbulkan islamophobia (rasa takut dan benci terhadap Islam).

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi umat muslim dalam dakwahnya, tantangan tersebut hadir bersama peluang. Islamophobia hadir bersama dengan globalisasi, ketika orang-orang berpikiran islam itu keras, islam mengandung hal-hal negatif lain karena adanya globalisasi, maka disitulah peran dan peluang kita sebagai seorang muslim untuk mengoreksinya. Hal lain mengenai tantangan dan peluang adalah ketika islam dihadapkan dengan kekurangan sumber daya, maka kemajuan teknologi, alat dan tempat pendidikan menjadi peluang untuk mengembangkan sumber daya.

Menambahkan tentang masalah globalisasi, Shamsi Ali mengatakan bahwa pada dasarnya ajaran Islam adalah yang paling siap untuk menghadapi globalisasi.

“Islam pada dasarnya yang paling siap menghadapi globalisasi, dan saya pikir itu bisa dimulai dengan melihat ke dalam ajaran islam yang sangat universal di alam ini, konteksnya adalah Rabbul ‘alamin, rabbunnas, malikinnas, ilahinnas, kita mungkin muslim lokal tetapi pola pikir kita haruslah global.” Ujar Ali.

Ali menambahkan bahwa untuk berdakwah da’i harus memerhatikan beberapa hal diantaranya; kepercayaan diri, pandangan positif pada setiap manusia, pendekatan rasional, mengedepankan kesamaan dari pada perbedaan, serta kata-kata dan tindakan yang sesuai.

Solusi praktis dari besarnya tantangan dakwah di era media sosial ini adalah dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip tradisional komunikasi Islam dengan kedamaian, akhlak, kebijaksanaan, dan pengetahuan, melakukan moderenisasi dan pemutakhiran alat, mengubah tantangan menjadi peluang dan melakukan strategi media sosial seperti menyampaikan pesan positif melalui story telling, menjadi bagian yang penting di industri media dan pop culture dalam rangka berdakwah, dan lain sebagainya.

Reporter: Assyifa Mardiani

Tahun Ajaran Baru Sekolah di Zona Hijau akan Dibuka

Tahun Ajaran Baru Sekolah di Zona Hijau akan Dibuka

Menteri Pendidikan dan kebudayaan RI, Nadiem Makarim dalam Keterangan Pers: Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran dan Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 di laman YouTube resmi Kemendikbud RI (15/6)

Melalui konferensi pers di laman YouTube resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atau Kemendikbud RI, bersama dengan Kementrian Kesehatan, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri dan sejumlah instansi pemerintahan lainya, mengumumkan  Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran dan Akademik Baru di masa pandemi Covid-19 untuk sekolah, Senin (15/6).

Rencananya, tahun ajaran baru akan tetap dimulai pada Juli 2020. Hanya sekolah di zona hijau yang akan diperbolehkan untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Saat ini, zona hijau hanya ada 85 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Sedangkan, 429 Kabupatan dan Kota berada pada zona merah,  zona orange dan zona kuning masih harus melakukan pembelajaran secara daring.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyampaikan, aturan pembukaan sekolah di masa transisi ini akan dibuka selama dua bulan dengan mengedepankan keselamatan dan kesehatan siswa serta pengajar. Penyelenggaraan sekolah tatap muka akan dilakukan secara dinamis. Jika daerah zona hijau berganti status menjadi zona kuning, orange hingga merah. Sekolah tersebut akan kembali ditutup,  dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar secara daring.

Masa transisi akan diawali dengan pembukaan sekolah SMA/SMK/sederajat dan  SMP/MTS/ sederajat. Dua bulan berikutnya akan dibuka untuk SD/MI/sederajat. Lalu menyusul, pembukaan TK/PAUD/sederajat buka dua bulan setelahnya.

‘’Pelaksanaan nantinya akan sangat dinamis. Jika daerah tersebut (zona hijau) berubah (menjadi zona kuning,orange dan merah) maka sekolah akan ditutup. Meskipun sekolah di zona hijau boleh dibuka, tetapi bila orang tua murid belum memperbolehkan masuk ke sekolah, maka diperbolehkan untuk belajar dari rumah’’ ujar Nadiem Makarim.

Sederet protokol kesehatan wajib dipatuhi selama pembukaan kembali sekolah di zona hijau. Diantaranya, baik siswa maupun tenaga pengajar wajib menggunakan masker, menjaga jarak 1,5-2 meter antar siswa, pembatasan isi ruang kelas maksimal 18 orang siswa,  dan memfasilitasi sanitasi kesehatan dan kebersihan.  Selain itu, kegiatan ekstrakulikuler dan kantin sekolah pun ditiadakan.

Reporter : Sadam Al Ghifari

Merebut Kendali Arus Informasi ditengah Pandemi dan Infodemic

Merebut Kendali Arus Informasi ditengah Pandemi dan Infodemic

Penulis: Rian Fahardi Risyad

Informasi Peta Sebaran Covid-19 di Indonesia hingga 14/06/20, melalui situs informasi resmi kasus Covid-19 di Indonesia (Covid19.go.id)

Perang melawan Covid-19 tidak mudah untuk dimenangkan karena yang kita hadapi bersama ini adalah lawan yang tidak kelihatan. Dibutuhkan komunikasi yang baik dan kerja kolektif yang tidak setengah – setengah. Kedisiplinan warga negara jelas sangat dibutukan di situasi seperti ini, inisiatif kita dengan saling menjaga juga sangat menentukan tetapi negara lah yang punya kapasitas paling maksimal dan cuma pemerintah yang bisa menggerakkan dengan optimal.

Indonesia saat ini di uji oleh pandemi, Virus Covid -19 yang terus tersebar dengan angka – angka yang terus bertambah di berbagai daerah. Pandemi ini bukan hanya persoalan kesehatan tetapi juga menyangkut banyak sendi kehidupan. Beragam masalah yang muncul, mulai dari data yang dipermasalahkan hingga komunikasi publik yang tidak optimal dan tarik ulur keputusan yang membingungkan publik, rentan menjadi kepanikan. Kesiapan ketahanan ekonomi dan sosial juga menjadi pertanyaan besar bagi publik bagaimana pemerintah atau negara berupaya dalam  menghadapi pandemi akibat wabah Covid -19 yang telah menjadi krisis di setiap belahan dunia.

Pada Tahun 1918 – 1919 juga terjadi wabah pandemi influenza, atau flu Spanyol, yang diperkirakan telah menginfeksi 500 Juta orang di seluruh dunia dan mengakibatkan lebih dari 20 juta kematian, sebelum virus Covid-19 menyerang sudah banyak peristiwa – peristiwa yang memicu terjadinya krisis, baik itu krisis – krisis besar maupun kecil yang disebabkan oleh alam dan manusia, hal ini memang tidak dapat dihindari.

 Namun pada kenyataanya, banyak ahli menunjukkan bahwa kejadian – kejadian seperti ini bisa terjadi dengan frekuensi lebih sering dan dapat menyebabkan bahaya yang leih besar. Meskipun tidak mungkin untuk menghindari semua krisis dan bencana seperti wabah ini, beberapa cara maupun langkah – langkah dapat dikelola dan dilakukan secara efektif untuk meminimalisir dampak bencana dengan cara menerapkan strategi Komunikasi Publik yang efektif, baik itu komunikasi, integrasi, koordinasi dan kerja – sama sangat penting untuk dilakukan

Esensi Probelm dan Tantangan Singlecodes dan Multicodes akibat Pandemi

Esensi problem yang belum sepenuhnya dipahami merupakan tantangan besar bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi krisis akibat wabah yang telah  menjadi pandemi ini  sehingga menjadikan banyak ketidakpastian dalam meresponnya. Berbagai negara menunjukkan respon yang terkesan “tidak siap” mengenai bagaimana menghandle problem ini.

Jika diposisikan sebuah “kode – informasi” Covid -19 – esensinya adalah kode kesehatan; namun sebagai sebuah “pandemi” kode informasinya mengalami karakter multicodes yang menyebabkan pemrosesan informasinya yang berdimensi ganda sehingga harus ditemukan formula yang tepat dalam pemrosesan informasi yang bersifat multikode tersebut.

Dari sisi komunikasi, kita bisa melihat bagaimana konstruksi realitas tentang Covid-19 ini, jika kita masuk pengkodingan dalam teori proses informasi, maka Covid -19 adalah esensi kode kesehatan. Kemudian setelah menjadi pandemi menjadi multicodes (kode ganda ) yang menyebabkan pemrosesan informasinya bermakna ganda

Karakter pemrosesan informasi yang multidimensi sangat menentang sehingga dalam fokus problemnya tetap harus menjadi primer, namun di sisi lain perlu mendorong resonansi dari banyak sistem untuk memberikan respon yang tepat untuk dilakukan oleh pemerintah.

Meskipun dengan fokus problem kesehatan, tetapi resonansi sistem lain secara tepat merupakan tantangan yang sangat nyata seperti halnya ekonomi, sosial, budaya,yang juga menjadi sangat penting karena terdampak langsung dan bersamaan di saat – saat seperti ini sehingga menjadikan pemerintah sebagai pemilik otoritas harus bekerja secara maksimal dan berani mengambil risiko demi kepentingan publik.

Jika Pemrosesan skenarionya menggunakan Skenario Single Code, maka pandemi covid-19 akan di respon dalam code – code yang clear dunia sains , ekonomi, politik , sosial dan budaya. Semuanya dibayangkan akan mengeroyok pandemi covid-19 ini. Tetapi kemudian kalau kita melihat Indonesia dari awal munculnya krisis, kita memaknai Covid-19 ini dalam kode ganda ( double – codes). Dengan kode ganda ini jika diterapkan dengan optimal maka dua aspek akan terselamatkan yaitu ekonomi dan kesehatan tetapi dengan resiko yang sangat besar yaitu kehilangan fokus primer atau fokus utamanya.

Nampaknya Pemerintah ingin mengambil double codes artinya kode kesehatan dan kode ekonomi. Dengan kode kesehatan seperti secara Infrastruktur penunjang RS, tenaga medis, APD, dan obat – obatan dan edukasi perilaku masyarakat yang tepat secara klinis sedangkan kode ekonomi yaitu meminimalisasi disrupsi sosial , proteksi pekerjaan, tourism, dan penyelematan warga yang terdampak.

Upaya Dalam Menangani Covid 19 melalui Strategi Komunikasi Publik

Dua – dua nya tentu memiliki resiko masing – masing,  jika berbicara dengan karakter komunikasi publik yang dibutuhkan dalam situasi pandemi ini ada tiga cara yaitu yang  pertama Komunikasi resiko, kemudian komunikasi Krisis dan Komunikasi Emergency.

Komunikasi Resiko artinya Pemerintah atau negara sebelum krisis terjadi telah mempersiapkan semacam respon yang cepat, transparan, dan mudah diakses sehingga dapat meredam  infodemic berupa informasi – informasi terkait pandemi yang kebenarannya masih dipertanyakan tetapi telah tersebar luas ditengah masyarakat luas melalui media sosial.

 Sementara komunikasi krisis memiliki karakter  komunikasi untuk memanage secara strategis dan membingkai persepsi publik pada apa yang dihadapkan untuk diikuti dengan sifatnya yang jujur, akurat, kemudian keakuratan data yang tepat tanpa menyembunyikan fakta sehingga krisis akibat pandemi ini bisa di control dengan baik.

Terakhir ada Komunikasi Emergency yaitu  bagaimana menjamin publik tetap terinformasikan dalam resonansi publik terhadap kemampuan organisasi atau pemerintah yang relevan sehingga mampu menghandle problem – problem yang terjadi di situasi krisis ini.

Sayangnya 3 Hal ini harus dilakukan secara bersaamaan dalam menghadapi situasi pandemi yang terjadi di Indonesia pada saat ini, dan pada situasi yang bersamaan kita menghadapi sesuatu yang selalu berkembang di masa Unsetter yaitu problem Infodemic yang artinya jumlah informasi yang luar biasa memborbardir masyarakat, sehingga kita menjadi sulit dalam mengidentifikasi mana yang benar dan mana yang bisa memberikan tawaran solutif atau tidak. Yang terkadang lebih mengerikan dari virusnya itu tersendiri.

Komunikasi merupakan poin penting dalam setiap kegiatan  dalam menjaga citra positif lembaga pemerintah di mata masyarakat terutama dalam kondisi krisis pada saat ini. Komunikasi yang tidak baik akan menimbulkan hubungan yang tidak baik pula antara humas pemerintah dengan masyarakat.

Pengambilan keputusan pasti memerlukan pemrosesan informasi dan langkah berani untuk meminimalkan akibat yang tidak diinginkan. Contohnya ditengah krisis yang terjadi akibat pandemi ini keakuratan data dan informasi menjadi sangat penting untuk menjaga kondusifitas di tengah krisis.

Komunikasi karakter yang harus dikembangkan adalah komunikasi yang meminimalkan rumor dan kesalahpahaman yang berpotensi bisa menjauhkan dari respon yang seharusnya. Hal ini merupakan realita yang terjadi pada masa krisis akibat pandemi covid-19.

Sebenarnya WHO pada tanggal 19 Maret 2020 sudah memberikan terkait SOP yang biasa dilakukann jika terjadi sebuah pandemi dan kata kunci yang dipakai dalam kasus covid-19 ini adalah risk communication dan community enggagements atau komunikasi risiko dan pelibatan komunitas.

Komunikasi harus dilakukan secara pro aktif seperti memberikan informasi mengenai apa yang sudah diketahui dan bahkan apa yang tidak diketahui sehingga dapat melibatkan masyarakat secara luas hingga terbesik dalam pikiran masyarakat bahwa kita sama – sama menghadapi masalah ini. Pelibatan publik secara luas ini baik publik makro maupun publik yang beresiko, kemudian dengan komunikasi resiko dan pelibatan publik yang optimal bisa mengurangi reduksi infodemic.

Peran Media Dalam Menangkal Infodemic

Media dapat berperan sebagai observer – pengamat yang tajam, tetapi media tetap harus berpijak dalam menjaga logika publik dalam menghadapi masa krisis dan menemani masyarakat untuk keluar dari masa – masa sulit

Tetapi tantangan bagi Indonesia tidak mudah karena sistem komunikasi publik yang lemah, dominasi media baru ( new media ) khususnya media sosial yang cenderung sangat terbuka dengan keragaman informasi yang kurang akurat tetapi cenderung dapat dipercaya oleh publik sebagai sumber informasi utama.

Bagaimana media membingkai respon yang sangat beragam dalam masyarakat perlu ditautkan dengan integrasi antara Komunikasi Krisis dan Komunikasi Resiko pada level Emergency

Banyak media yang saat ini memanfaatkan situasi krisis ini untuk meraup berbagai macam keuntungan salah satunya dengan kegenitan media membuat berita – berita click bait dengan judul – judul yang provokatif sebenarnya sangat membahayakan bagi publik dalam kondisi krisis seperti ini akan sangat beresiko pada pemahaman publik secara luas pada apa yang sebenarnya terjadi.

Sehingga, peran media mainstream  di Indonesia sebagai clearing house untuk kebenaran peristiwa seharusnya berperan penuh dalam merebut kendali arus informasi yang masih simpang siur yang telah memborbardir masyarakat.

Kesimpulan

Pada akhirnya strategi komunikasi publik yang baik penting agar pemerintah tidak mengambil keputusan yang salah sehingga dapat memperburuk keadaan di tengah pandemi, dari case  yang saat ini terjadi, strategi komunikasi Pubik harus dilakukan secara efektif dan melalui protokol yang jelas sehingga tidak membuat ruang publik menjadi bingung ataupun strategi  komunikasi krisis yang kurang begitu dipahami dan kurangnya pengetahuan tentang krisis belum ada

Tiga strategi yang harus bisa dilakukan pertama yaitu yaitu mengidentifikasi sumber – sumber informasi,  mengumpulkan informasi, dan menganalisis informasi. Artinya Pemerintah yang memiliki otoritas terkait hal ini sebelum memutuskan tindakan/langkah yang di ambil harus mempunyai data atau informasi yang benar benar valid sehingga penanganan wabah Covid -19 dapat diminimalisir. Pemerintah, dimanapun, tak akan mampu mencapai tujuan – tujuan kebijakanya tanpa memiliki sebuah perencanaan dan eksekusi komunikasi yang efektif. (PR Proffesional)

Tapi, Slogan ini juga bisa dibalik: Tanpa perumusan tujuan dan miskinnya perencanaan kebijakan , pemerintah tak akan mampu untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif. (PR “Doubters”)

Tantangan dan Peluang Wirausaha di Era New Normal

Tantangan dan Peluang Wirausaha di Era New Normal

Menteri Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartanto dalam Webinar Peluang dan Tantangan Wirausaha di Era New Normal

Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak serta Perkumpulan Ahli Manajemen Dakwah Indonesia (PAMDI) menggelar Web Seminar (Webinar) Diskusi dengan tema “Manajemen Soft Skill Kewirausahaan Pada Era New Normal” secara virtual bersama civitas akademika yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom dan dapat disaksikan melalui Live Streaming Youtube DNK TV dan FUAD IAIN Pontianak, pada Jum’at (12/06).

Acara ini secara resmi dibuka oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dengan dimoderatori oleh Muamar Aditya, serta sambutan dari Dekan Fidikom UIN Jakarta, Suparto dan Dekan FUAD IAIN Pontianak, Ismail Ruslan. Materi webinar diskusi ini disampaikan oleh empat narasumber, diantaranya Guru Besar FEB dan Ketua Pengelola Usaha UNJ Jakarta, Dedi Purwana, Guru Besar Afiliasi Dosen dari Fakultas Komputer dan Teknologi Informasi Rabigh King Abdul Aziz University, Anton Satria Prabuwono, Founder Advanced Simulator and Innovative Technology, Rivira Yuana, dan Dosen Manajemen Dakwah FUAD IAIN Pontianak, Cucu.

Pandemi Covid-19 memberikan efek domino pada aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi di berbagai negara. Jika ditinjau dari aspek ekonomi, maka terjadi sebuah tekanan perekonomian baik dari sisi permintaan maupun penawaran yang membuat perekonomian di sebuah negara menurun. Menko Perekonomian, Airlangga Hartanto menyampaikan bahwa penerapan kebijakan normal baru oleh pemerintah Indonesia ini dilakukan guna menyelamatkan perekonomian nasional.

“Upaya pemerintah dalam memitigasi dampak pandemi Covid-19 dan membangkitkan ekonomi nasional ialah menerapkan kebijakan new normal agar perekonomian nasional dapat dipertahankan. Dengan memberikan dukungan fiskal dalam APBN 2020 dan program strategis penanganan Covid-19 (PEN).” ujar Airlangga.

Kegiatan perekonomian di era normal baru ini tidak hanya dilakukan secara manual tetapi juga dapat dilakukan secara digital. Anton Satrio Prabuwono menyampaikan cara meningkatkan produktivitas dengan menggunakan teknologi dan digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

“Tiga mekanisme dayaguna digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas, yakni transformasi melalui peningkatan keterampilan dan pelatihan, digitalisasi melalui penyebaran atau pembauran (Digital Diffusion), dan re-invention melalui strategi yang tepat.” ujar Anton.

Dedi Purwana menyampaikan beberapa hal mengenai tipe konsumen generasi milenial dan minat menjadi seorang entrepreneur. Survei membuktikan bahwa 70% generasi milenial memilki minat sebagai entrepreneur. Dedi menyampaikan beberapa kiat yang dapat dilakukan generasi milenial yang ingin merintis usaha di era new normal ini.

“Generasi milenial jika ingin merintis usaha jangan diluar kompetensi yang dimiliki, lalu tentukan segementasi target pemasaran yang sekiranya mampu dan kalau sudah start up baru dikembangkan lagi ke target yang lebih luas, dan untuk mengasah soft skil dibutuhkan yang bersifat jangka panjang.” ujar Dedi.

Rivira Yuana juga berpendapat sama dengan Anton dan Dedi bahwa teknologi, digitalisasi, inovasi, dan soft skill sangat diperlukan untuk mengembangkan perekonomian baru di era new normal ini.

“Rasanya sangat setuju dengan yang disampaikan Profesor Anton dan Profesor Dedi sebelumnya, memasuki era distrupsi yang mana ditandai dengan turbulensi atau gelojak yang sangat tinggi. Perubahan yang sangat cepat dan sering terjadi sehingga dibutuhkan inovasi terbuka yang dapat dibagikan melalui teknologi,” ujarnya.

Di samping itu, ada hal lain yang tidak bisa dilupakan yakni syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berwirausaha. Cucu berpesan bahwa tren belanja online merupakan salah satu usaha yang dapat dikembangkan namun dalam menjalankannya harus sesuai dengan ajaran Islam.

“Saat ini belanja online sudah menjadi tren di tengah pandemi, ini dapat kita manfaatkan sebagai peluang untuk berwirausaha. Akan tetapi, jangan sampai kita berwirausaha dengan melupakan syariat-syariat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Reporter: Amalia Riskiyanti

Malam Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Zakaria, M.Ag.  Kajian ini disampaikan dalam program JENDELA ISLAM DNK TV.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah wassolatuwasalam ala Rasullillahi Muhammadibdi Abdullah Amma ba’du Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan kepada kita untuk mencari, untuk meraih malam Lailatul Qadr.

تَحَرَّوْا ليلة القدرِ في الوِتْرِ، من العشرِ الأواخرِ من رمض

(Tahharru lailatal qodri fil witri min ashril awakhiri min romadhon)

“Raihlah malam Lailatul Qadr di malam-malam ganjil, di 10 malam yang terkahir dari pada bulan Ramadan. “

Setidaknya Ada 5 keutamaan malam Lailatul Qadr. Yang pertama, malam diturunkannya Al Quran. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Ad – Dukhon ayat yang ke-3 :

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn

sungguh kami menurunkan Al-Quran di malam yang penuh dengan barokah, malam yang penuh barokah itu adalah malam Lailatul Qadr.

 ( اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (Al-Qadr: 1)

Keutaman yang kedua, malam Lailatul Qadr itu adalah malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. ( لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ) (Al-qadr : 3) malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Jika kita menegakan sholat di malam itu membaca Quran, berdzikir, bersedekah, maka pahalanya lebih baik dari pada seribu bulan, yaitu kurang lebih 84 tahun.

Keutamaan yang ketiga, malam itu malam yang penuh dengan Rahmat karena malam itu turun jutaan, turun milyaran, turun triliyunan malaikat-malaikat Allah sampai dengan terbitnya fajar ( تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ) (Al-Qadr : 4)

Keutamaan yang keempat, malam Lailatul Qadr itu ialah malam Allah SWT mengapunkan dosa-dosa hambanya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda “Man qoma lailatal qadri imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbih” siapa yang bangun malam menegakkan sholat di malam Lailatul Qadr karena Iman kepada Allah SWT, di ampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.

Dan yang kelima, keutamaan malam lailatul qodr itu ditetapkannya perkara-perkara manusia, ditetapkannya takdir-takdir tahunan  manusia. Sebagaimana Allah berfirman di dalam surat ad-dukhon ayat yang ke-4 :

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Fīhā yufraqu kullu amrin ḥakīm

“Malam itu ditetapkan urusan manusia oleh Allah dengan penuh hikmat.” (Q.S Ad-dukhon ayat 4) Mudah-mudahan  tahun ini Allah SWT takdirkan kepada kita untuk memperoleh untuk Mendapatkan malam Lailatul Qadr yang penuh dengan kemuliaan, yang penuh dengan kebarokahan.

Simak penjelasan selengkapnya di Instagram @dnktv

Instagram DNK TV UIN Jakarta

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal

Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal

Live streaming Webinar Diskusi & Halal bi Halal Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (3/6)

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Web Seminar (Webinar) Diskusi dengan topik “Strategi Dakwah dalam Menghadapi Era New Normal” dan Halalbihalal secara virtual bersama civitas akademika yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom,  Rabu (03/06).

Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fidikom Suparto dengan dimoderatori oleh Wakil Dekan Fidkom Sitii Napsiyah, serta sambutan dari Rektor UIN Jakarta Amany Lubis. Materi pembahasan webinar diskusi ini disampaikan oleh dua narasumber, yakni Wakil Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Jamhari Makruf dan Guru Besar Fidikom UIN Jakarta, Prof. Murodi.

Pemaparan Materi Diskusi Strategi Dakwah dalam Era New Normal (3/6)

Setelah beberapa bulan pemerintah menerapkan kebijakan PSSB, pemerintah menerapkan kebijakan new normal. Kebijakan ini melonggarkan kembali berbagai macam kegiatan secara normal namun tetap mengikuti protokol kesehatan. Kebijakan new normal ini pun berdampak pada strategi berdakwah yang sebaiknya dilakukan pada masa new normal.

Murodi menjelaskan bahwa berdakwah, baik pada masa PSSB maupun new normal tidaklah mengalami perubahan. Menurutnya, berdakwah masa pandemi Covid-19 ini lebih baik dilakukan melalui media massa atau media sosial guna mencegah penyebaran virus Covid-19, baik itu dilakukan secara lisan maupun tulisan.

“Dakwah melalui tabligh akbar di masa sekarang akan mengumpulkan orang dengan jumlah yang banyak sehingga dihindari dulu karena masih dalam masa pandemi, oleh karena itu strategi dakwah yang terbaik bisa melalui Youtube, karena ada peluang untuk berdiskusi disitu.” ujarnya.

Murodi juga menjelaskan bahwa ada beberapa problematika dalam berdakwah melalui media digital seperti yang sering ditemukan yaitu minimnya penguasaan teknologi para da’i, terutama para da’i yang sudah berusia tidak muda lagi. Dan juga pesan-pesan dan dampak negatif yang marak beredar di era digital. Problematika seperti itu harus segera diatasi.

Sementara itu, narasumber lain Jamhari menyebut, menurut beberapa survei, banyak dari ustadz dan ustadzah seperti Mamah Dedeh dan Ust. Yusuf Mansyur memiliki kepopuleran yang tinggi di masyarakat karena menggunakan media massa dan media sosial dalam berdakwah.

Mengenai dakwah digital di Indonesia, Jamhari menjelaskan bahwa tidak ada negara lain yang memiliki keunikan dakwah melalui media sosial dan media massa kecuali di Indonesia. Sehingga dakwah-dakwah di Indonesia bisa memiliki kemampuan ke kancah internasional dan menjadikan dakwah di Indonesia memiliki keunikan dan keunggulan.

“Sayangnya belum banyak yang menulis dan melakukan risetnya, bahkan risetnya dilakukan oleh orang lain. Sehingga yang seharusnya riset itu dilakukan oleh para da’i-da’i di Indonesia namun malah orang luar yang melakukannya.”ujarnya.

Peserta Diskusi Strategi Dakwah dalam Era New Normal (3/6)

Sehingga ia pun berpesan untuk seluruh civitas Fidikom agar tidak hanya berdakwah dalam ceramah dan tulisan, namun juga melakukan riset dakwah guna mengetahui strategi dakwah yang up-to-date. Kemudian, kurikulum di Fidikom juga harus link and match dengan yang sedang terjadi di masyarakat sehingga mahasiswa dapat mengetahui dan memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang ini. Mahasiswa Fidikom juga harus menguasai teknologi dan informasi serta memiliki networking atau kerjasamayang baik dengan berbagai lembaga guna memudahkannya dalam berdakwah yang lebih efektif.

“Orang yang tidak melakukan riset akan ketinggalan jaman sehingga tidak akan dipakai, orang yang tidak melakukan kerjasama akan terkucil karena sekarang ini tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan sendirian, semuanya harus berkoordinasi, lintas ilmu, dan lintas pengetahuan untuk mempunyai media dalam mempromosikan dakwahnya.” imbuhnya.

Reporter : Laode Akbar

Paradigma Baru Integrasi Keilmuan Dakwah dan Komunikasi

Paradigma Baru Integrasi Keilmuan Dakwah dan Komunikasi

Poster Diskusi Islamic Communication “Paradigma Baru Integrasi Keilmuan Dakwah dan Komunikasi” (2/6)

Dalam rangka seminar bulanan, Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Jakarta menggelar Web Seminar Nasional (Webinar Nasional) dengan topik pembahasan Paradigma Baru Integrasi Keilmuan Dakwah dan Komunikasi yang dilaksanakan melalui aplikasi Video Teleconfrence dan Live Streaming Instagram pada hari Selasa (2/6).

Web Seminar Nasional yang dihadiri oleh para civitas akademika berbagai daerah

Guru Besar Ilmu Komunikasi dan Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Jakarta Andi Faisal Bakti menjadi narasumber pada webinar ini, dengan moderator Deden Mauli Darajat (Direktur Eksekutif P2KM UIN Jakarta). Selain itu, peserta yang mengikuti acara bukan hanya dari civitas akademika UIN Jakarta saja, melainkan dari berbagai kampus dan berbagai institusi daerah, antara lain Kementrian Agama Lombok, IAIN Madura, hingga Bengkulu.

Webinar ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Jakarta Amany Lubis. Ia menjelaskan bahwa knowledge integration ini kita mendialogkan ilmu agama dengan ilmu yang lain dengan memberi nuansa, pandangan, nilai, perspektif kedalam ilmu umum dari perspektif agama, sehingga akan menjadi lebih kaya.

FIDIKOM awalnya bernama Fakultas Dakwah, pada tahun 2000 IAIN berubah menjadi UIN dan Fakultas Dakwah mengusung integrasi keilmuan dakwah dan komunikasi, maka berubah nama menjadi FDK, kemudian menjadi FIDIKOM. Perubahan ini merupakan implementasi dari integrasi ilmu dakwah dan ilmu komunikasi memiliki irisan yang sama sebagai ilmu yang secara teoritis dan praksis penyampaian pesan kepada individu lain atau sekelompok orang, pesan dakwah mengandung nilai-nilai ajaran Islam, komunikasi mengandung pesan nilai-nilai sosial dalam satu kondisi keduanya bisa berisi pesan yang sama. Maka ketika integrasi terjadi, bentuknya adalah komunikasi Islam atau dakwah. Dan saat ini perkembangannya mengikuti kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Guru Besar Ilmu Komunikasi FIDIKOM UIN Jakarta Andi Faisal Bakti menjelaskan tentang prinsip-prinsip utama integrasi ilmu dakwah dan ilmu komunikasi. Ia mendialogkan kedua ilmu tersebut dalam bentuk pandangan Al-Qur’an, hadist, ulama dan disandingkan dengan pandangan teoritisi dari ilmu komunikasi. Ada empat teori besar yang biasa dianggap paradigma yang ada dalam ilmu komunikasi yaitu information, change, development, dan civil society.

Andi Faisal Bakti- Guru Besar Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Ilmu komunikasi merupakan salah satu ilmu yang mendapat pengaruh besar dari perubahan zaman. Semakin majunya teknologi dengan ditandainya era digital saat ini, ilmu komunikasi dapat melahirkan disiplin ilmu yang baru. Sebagai contoh kemajuan teknologi komunikasi, di tengah situasi Covid-19 ini untuk menunjang segala kegiatan bekerja dan belajar dilakukan dari rumah, tak terkecuali kegiatan berdakwah dapat dilaksanakan dengan mudah menggunakan media yang ada.

Maka dari itu sebagai civitas akademika dan pendakwah diharapkan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan baik sebagai media dalam mengembangkan ilmu komunikasi dalam mengkaji kehidupan sosial dan agama.

Reporter: Siti Nurhalizah

DNK TV dan RDK FM Gelar Halal Bihalal Virtual

DNK TV dan RDK FM Gelar Halal Bihalal Virtual

Halal Bihalal Secara Virtual DNK TV dan RDK FM (29/05/20)

DNK TV dan RDK FM Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar tradisi halal bihalal secara virtual. Kegiatan daring ini dihadiri oleh General Manager, Stasion Manager, alumni serta anggota DNKTV dan RDKFM, Jumat (29/05).

Halal Bihalal berlangsung melalui aplikasi Google meeting ini bertujuan untuk menjaga tali silaturahim antara DNK TV dan RDK FM, walaupun berada dalam situasi Work From Home.

Kegiatan dibuka dengan kalam ilahi serta sambutan dari General Manager Dedi Fahrudin dan  Stasion Manager DNKvTV dan RDKvFM. Halal bihalal dilanjutkan dengan ucapan saling bermaaf-maafan antar seluruh anggota.

“Walaupun dalam kondisi work from home, tidak menghentikan kita untuk bersilaturahim dan tetap produktif” ungkap Dedi Fahrudin selaku General Manager DNK TV dan RDK FM dalam sambutannya.

Kegiatan halal bihalal virtual ini ditutup dengan diskusi terkait kegiatan kolaborasi DNK TV dan RDK FM untuk lebih produktif selama masa pandemi Covid-19.

Reporter: Ida Ruspita